dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

mencari sebuah rumah …


assalammualaikum wr.wb.

dicari kontrakan, lokasi di malang,
1-2 kamar,
lokasi tak terlalu jauh (max 30 menit dengan sepeda motor dari kampus UB).
pricing antara 1-2 jt-an
gak usah mewah-mewah
gak usah besar-besar
sederhana saja sudah cukup
jika katemu hubungi sahid di nomor 08175404373 atau 0341 8160333
atas bantuannya kami ucapkan terimakasih sebelumnya,
semoga antum sukses..
syukran jazakallah khairan katsir,

Wassalamualaikum Wr Wb.

Sahid Recharging…

LAGI-LAGI IP


Tak lama yang lalu, ada seorang aktvis dakwah. Beliau, aktif, sangat aktif sekali, aku pun cukup salut pada beliau. Tak heran, jika ia menjadi salah seorang lumayan penting dalam lembaga dakwah di kampus kami. Keberadaannya pun menjadi “rebutan” bagi wajihah-wajihah dakwah.  Namun ia kemudian bermasalah dalam semesternya kali ini. Dan alangkah terkejutnya aku ketika ia berkata, ia ingin “berkonsentrasi kuliahnya”. Sebuah istilah lain untuk berkata, “ana ingin mundur”. Ini memang bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya pun sudah pernah terjadi seperti ini.

“Ana hanya ingin membahagiakan orang tua akh!”
dalam hati aku bergumam, “apakah HANYA dengan IP kita bisa membahagiakan orang tua kita? Alangkah minim sekali standart itu?” terkadang kita begitu terlalu sempit membatasi semua standar ktia. Atau jawaban-jawaban klise lain.

“Ana kekampus ini untuk kuliah akh!”
“Lha iya sama, ana juga kuliah, bukan jualan es kacang ijo, atau jadi cleaning service”. Ujarku dalam hati.

Ah seandainya IP kita yang bagus, semakin mendekatkan kita ke Jannah-Nya…
seandainya saja…

Lagi-lagi kasus ini terulang lagi, dan lagi-lagi keterbatasan dan keterpurukan IP, seringkali membuat kita menyalahkan aktivitas dakwah kita. Kita pun seolah menuding pada aktivitas dakwah yang seabrek, pada ini, pada itu, dan kita pun meminta pengurangan amanah, bahkan yang terburuk, kita mundur dari sebuah amal dakwah. Masya Allah…

Sambil berkelit kita berkata, “Ah, bukankah saya masih tetap berdakwah, meski dalam bentuk yang berbeda?”, tanpa mau sedikitpun kita tersadar, kita telah membuat sebuah kekuatan menjadi lemah karena salah satu tiangnya pergi. Tanpa sadar bahwa kita membuat tiang-tiang lain, kemudian menerima beban atap yang kita tinggalkan, padahal dalam sebuah kenyataan IP mereka lebih buruk daripada kita…

Allahu Akbar!! Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan menghilangkan sikap egois-egois kita.

Ya Allah, jadikanlah kami malu kepada rasulMu, kepada Umar, sang khalifah tanpa istana karena untuk ummat-lah miliknya semuanya.

Jadikanlah kami malu kepada Mushab, selebritis Mekkah yang meninggalkan gemerlap dunianya untuk bergabung menjadi pemuda dakwah, yang di akhir Uhud, syahid dengan baju yang sangat sedikit.

Jadikanlah kami malu kepada Sumayyah, bukan sekedar IP atau harta mereka berkorban, namun dengan jiwa dan darah mereka persembahkan.

Jadikanlah kami malu kepada Al Khansa, bukan sekedar IP atau harta ia korbankan, namun keseluruhan putra-putra terbaiknya yang ia persembahkan.

Teringat aku tentang awal-awal di kampus dahulu, semester 1, kegiatan kampus sangatlah sibuk. Praktikum, laporan, belum lagi kegiatan-kegiatan Forkalam dan organisasi-organisasi lainnya. Namun aneh bin ajaib, IP saya perfect waktu itu. Berbeda di semester dua dimana kegiatan tak banyak memeras, waktu longgar-pun lebih banyak, namun justru IP jatuh bebas.

Sungguh segenap alasan, bisa kita lontarkan saat ini, sebagaimana Ka’ab bin Malik yang tak ikut tabuk-pun tentulah akan mampu untuk menjawab mahkamah Rasulullah. Sebagaimana yang dilakukan 80 orang sebelumnya. Namun ia tahu, bahwa Allah Maha Tahu segalanya. Bahwa kita bisa jadi akan berjuta alasan di dunia, dan orang-orang pun dengan ikhlas akan menerima. Namun kita pun terkadang lupa, Akankah kita bisa menjawab hal yang sama di akhirat? Ketika ki ta disodorkan, “bukankah sudah  disampaikan dalam Al Maidah 54, bukankah sudah kami sampaikan dalam Ash Shaf, dalam ini dalam itu?”

Sungguh, melemah dalam perjalanan, adalah lebih baik daripada kalah dan berbalik arah
dan sungguh kekuatan dalam perjalanan, akan lebih disukai. Karena mukmin yang kuat, lebih disukai daripada mukmin yang lemah.

Ya Allah, jangan biarkan kami berkata, “ini Hidupku, ini pilihanku”
Padahal dalam setiap sholat kami, kami berkata, “inna sholaati wanusuki wa mahyaya, wamamaati lillahi robbil ‘alamin”

Ya Rabb, luaskanlah hati kami, luaskanlah cara pandang kami, agar ketika kami menunjuk menyalahkan dakwah, maka 4 jari ini tetap menunjuk kepada diri kami, berkata, “Bukankah kita sendiri yang malas?”

Ya Rabb, jangan jadikan “pilihan untuk mundur dari perjalanan”, ada dalam lembar kehidupan kami. Bukakanlah pikiran dan jiwa kami, jauhkanlah syaithan dari kelemahan jiwa dari amal-amal keputusan kami. Jadikan agar kami merubah cara belajar kami, bukan merubah amanah dakwah kami. Jadikanlah agar kami tetap berkarya meski dalam keterbatasan jiwa.

Ya Rabb, kokohkanlah kami di jalan-Mu, jalan para Nabi, jalan para Syuhada dan Dai-dai yang ikhlas di jalan-Mu. Ya Rabb, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu, hingga akhir hayat kami.

Amin…

Untuk Sebuah Jiwa


Untuk Sebuah Jiwa

Ketika lisan mulai berkeluh kesah
tentang fisik yang lelah
dan pikiran yang kalah, membuncah
maka saatnya kita bertanya
bermuhasabah…
atas jiwa yang mulai lemah

bukan raga yang lelah
bukan pula akal yang kalah
namun semua bermula dari jiwa
mungkin kita sudah lupa
atas berapa jiwa yang bersimbah darah
tertumpah,
dan pecah…

atau mungkin kita sudah lupa
atas berapa tangan yang menengadah
sambil berkata, “kami terpaksa meminta sedekah…”
padahal di tetangga sebelah
beragam makanan mewah menjadi sampah
mudahnya berkata, “ini hasil kami jerih payah”

jutaan ummat berharap, menengadah
menoleh, dengan raut penuh harap, berkata
“wahai pemuda, keluar keluarlah
kami yang terdzalimi adalah lemah.
bantu kami, untuk akhirat kalian
kelak kami kan menjadi saksimu
untuk sebuah jannah…”
insya Allah

Aku Malu Untuk Mengeluh


Untuk apa kau mengeluh pada teriknya matahari
jika kau mengharap hangatnya  di pagi hari

Untuk apa kau mengeluh pada air yang dingin di pagi hari
jika kau mengharap segarnya di siang hari

untuk apa kau mengeluh pada kesepian panjang
jika kau mengharap sepi diantara perenunganmu?

Untuk apa kau mengeluh pada keramaian yang meriah
jika kau pun mengharapkannya diantara sepi kesendirianmu

dan…..

untuk apa kau mengeluh pada laptop yang dicuri
jika akalmu, kesehatanmu, dan IMAN mu masih melekat didirimu?

***

Belakangan saya mendapat musibah, laptop yang saya cintai, hilang dicuri orang. Padahal tahu sendiri, saya seorang programmer. Apa jadinya seorang komputeris tanpa komputernya? tak ubahnya seorang penyanyi tanpa pita suaranya.. Secara fisik, harga laptop itu memang mahal, namun secara data-data didalamnya, nilainya tentu tak terukur.

Dan aku merasa Aneh…
Ketika orang-orang banyak bersimpati kepadaku tentang kehilangan laptop, aku sendiri justru terlihat biasa. sangat biasa sekali. Aku masih tertawa canda dengan teman-temanku, aku masih kesana kemari bersenda gurau.

aku juga heran, seolah aku tidak merasa sedih atas kehilangan barang yang sangat mahal itu…

Ketika orang-orang banyak bergema, "Innalillahi wa inna ilaihi raajiun atas laptopnya akhi", "Yang sabar ya akh", "Allah pasti akan menggantinya", dan kalimat-kalimat empati lainnya…

Aku justru berkata "Alhamdulillah…" titipan itu sudah diambil oleh Allah.

Hei, bukankah Laptop, sepeda motor, dan orang-orang tercinta disekitar kita, mereka hanya titipan dari Allah. Ketika pemilik sebenarnya mengambilnya, pantaskah kita untuk bersedih?
Sungguh sekedar untuk bersedih pun aku jadi malu…
Ya Allah aku malu…

==============

dan inilah aku…
yang masih bisa tertawa, tersenyum.. dan tak sebutir air matapun menetes meski Laptop tercinta telah hilang dicuri..

Aku justru malu untuk bersedih
aku malu untuk mengeluh
Seperti kata seorang saudaraku,
"karena masih terlalu banyak nikmat yang perlu kita syukuri dibanding musibah ini yang kecil tak berarti."

nikmat atas karunia akal yang sehat
nikmat atas kesehatan hari ini
nikmat atas IMAN dan ISLAM
nikmat atas ……
Ya Allah terlalu banyak nikmat yang telah Kau berikan kepada kami…

Ah tak salah memang perkataan seorang saudaraku lainnya, "JIka ikhlas memang lebih nikmat ya?"

Aku malu untuk mengeluh…
seperti apa yang pernah disampaikan Ustadz Arif Alamsyah, seorang trainer di Malang

Daripada berkata….
"Ya Allah, aku punya masalah besar"
Maka berkatalah,
"Wahai Masalah, aku punya ALLAH yang Maha besar"….

Dunia bukan dimensi ku
Dunia bukan parameter koordinat kehidupanku…

*****

tapi btw, tahu nggak apa hal yang bisa bikin seorang Sahid jadi sedih?

Aku tidak ingin menangis karena laptop yang hilang…
Namun aku menangis atas ummat ini

Atas umat yang tertindas, yang tak bisa tidur nyenyak khawatir esok mereka terdzalimi penguasa mereka…
Atas umat yang tak terperhatikan kesejahteraannya yang tak tahu besok harus makan apa.

Atas umat yang tak bisa membeli keadilan karena ditodong kartel dunia hukum, "bapaknya punya berapa juta?"

Aku menangis atas para penguasa yang sibuk memperkaya diri, sementara ummat justru tak bertambah kesejahteraannya. Bahkan minus!!

Ya Allah, hadirkanlah kedua "Umar"-Mu diantara kami…

Biar ia cambuk gubernur-gubernur, walikota, bupati, bahkan RW yang menyimpang…

Biar ia bawa KEADILAN dan KESEJAHTERAAN untuk umat ini…
Biar ia rebut Al Quds kami, sebagaimana ia sendiri yang keluar Madinah hanya untuk menerima kunci Al Quds..

Biar namanya buat Bush, dan seluruh koalisi Zionist Yahudi bergetar tulang-tulangnya serasa berlepas, sebagaimana ketika namanya disebut didepan Heraklius penguasa Konstantin

Biar ia robohkan Bush, "Rustum" Amerika umat ini.. sebagaimana ia bebaskan peradaban Persia dari kejahiliahan.

Allahumma aizzal islaama wal musliimin
Allahumma aizzal islaama wal musliimin
Allahumma aizzal islaama wal musliimin
Amin…

karena aku hanya ingin menjagamu


Terus terang, tak bisa dipungkiri bahwa lawan jenis adalah makhluk
yang bisa ana katakan "lebih berbahaya dari harimau". Maklum,
seberbahaya-bahaya nya harimau ia hanya bisa membuat kita mati
terbunuh, namun lawan jenis bisa lebih dari itu, membawa kita neraka..
Hii… tentu bila tidak pada tempat yang halal.

Entah kenapa belakangan ini di kalangan ikhwan di tempat ana berada
jadi sering ngomongin UUN. UUN alias Ujung-ujungnya Nikah. ada saja
ceritanya, mulai dari guyonan seputar Mitsaqon Gholido (ikatan yang
agung), atau sekedar apalah, yang jelas tak tahu kenapa jadi sering
bicarakan masalah nikah. Entah itu di kalangan ikhwan-ikhwan SKI,
ataupun di akhir-akhir halaqah pun sempat mendiskusikan masalah itu
pula, membuat suasana malam yang sudah mengantuk menjadi semangat
kembali. Tapi untunglah, semua pembicaraan masih seputar hal-hal
syari. Selain itu bagiku ini termasuk wajar, pikirku, mengingat
belakangan ada saja teman-temanku yang nikah, belum lagi efek film
Ayat-Ayat Cinta ataupun beberapa kajian yang tak usai-usainya membahas
masalah itu. Setidaknya tak ada seputar pembicaraan tentang akhwat
idaman, atau hal-hal aneh yang mengkhawatirkan lainnya. Semua konkrit,
tak asal bicara, dan Insya Allah syar’i.

Namun tetap saja aku rada-rada sensitif dengan masalah-masalah ini.
Meski kadang tak jarang aku ikut nimbrung, namun terkadang aku lebih
memilih untuk tidak "meriahkan" pembicaraan. Sederhana, karena semakin
bicara ini semakin aku tertekan. pasalnya, aku mengazzamkan baru
segera menikah setelah amanah terberatku di kampus sekarang ini
selesai. Seorang sahabat berkata, "akh jangan sampai antum beralasan
atas amanah ini, menghalangi antum dari "amanah" selanjutnya". (tahu
kan maksudnya?). Namun setidaknya aku luruskan, bahwa dengan amanah
yang sekarang saja ana seolah sudah tak punya waktu senggang, yang
praktikum, yang urusan rohis, PKM, tugas kuliah, yang ini itu, dan
lain lain… urusan maisyah pun sampai terbengkalai dan
tertunda-tundah, dah segini masak mau ditambah lagi dengan "amanah"
tambahan? siapa yang mau ngurus? bisa-bisa malah ana yang jadi tambah
kurus.

Terus terang, akhwat adalah godaan terbesar buat ana. Itulah kenapa
ana ingin mensegerakan untuk menikah agar lebih bisa menahan pandangan
dan  menjaga kesucian. Kalau ustadz Rahmat Abdullah pernah berkata,
bahwa kita akan diuji di TITIK TERLEMAH kita. Dan kita akan terus
diuji hingga kita mampu memperbaiki kelemahan tersebut. Dan bagi ana,
memperbaiki kelemahan yang satu ini ya dengan nikah, bukan yang lain.

Ngomong-ngomong tentang akhwat, ada satu hal yang ingin saya ceritakan disini.
Saya orangnya boleh dibilang punya masa lalu yang agak berbahaya dalam
hal hubungan ikhwan akhwat. Entah ini sampai VMJ atau tidak, ana juga
kurang tahu. Yang jelas dulu, sekali lagi-dulu, di awal-awal kehidupan
maba di kampus, ana orangnya termasuk orang yang suka TP-TP. Mencoba
untuk merebut dan mendapatkan hati akhwat-akhwat. Kriterianya cukup
sederhana, asalkan dia akhwat, berjilbab lebar, berkaus kaki, dan dia
punya tampang yang lumayan, maka jangan heran jika ia masuk dalam
target list ana.

Maka tak heran jika ana pun teermasuk orang yang suka GR sendiri waktu
itu., sering TP-TP, melakukan pendekatan personal, dan lain-lain.
Untung saja waktu itu ana sedang ada masalah dengan seseorang,
sehingga aktivitas baik TP-TP, ataupun pen-target-an seorang akhwat
tidak ana lakukan.

Ana tidak bisa membayangkan jika ana benar-benar melakukannya ke
orang-orang yang ana target waktu itu, mungkin sudah benar-benar
banyak akhwat yang jatuh hati ke ana, andai saja ana mau. Maklum, ilmu
psikologi terkait masalah ini, bukan masalah yang rumit. siapapun bisa
melakukan untuk mendapatkan siapapun. Tak peduli target kita wanita
dengan busana ketat, atau bahkan sudah sampai pakai cadar sekalipun.

Kenapa ana waktu itu masih melakukannya? sederhana, karena ana
berpikir tak ada satu pun dalil yang ana temukan waktu itu, yang
melarang untuk membuat orang lain jatuh cinta ke kita. Sangat
sederhana pemikiran ana waktu itu.  Lebih tepatnya tak ada dalil
eksplisit yang melarang kita jatuh cinta, ataupun menset agar orang
lain pun jatuh cinta ke kita.

Namun tidak sampai lama, Allah menunjukkan jalanNya kepada ana. Allah
maha tahu atas gharizah hambaNya. Untuk masalah dalil tak mempan, maka
Allah mendekatkan pemahaman untuk ana melalui jalur pemikiran.

Waktu itu yang menyampaikan Murobbi ana disela-sela halaqahnya. Kali
itu agendanya bukan penyampaian materi, melainkan diskusi tentang satu
tema yang sudah kita bawa dan persiapkan sebelumnya.

Diskusi dimulai dengan sebuah pertanyaan, sebuah pertanyaan sederhana.
‘Seandainya kita diberi pilihan, dua orang akhwat, satu masih gadis
perawan, satunya lagi masih janda, mana yang akan kita pilih?’.
spontan kami pun menjawab apa yang memang menjadi kecenderungan kami,
yakni yang gadis.

Dari situ, maka mulailah satu diskusi, dan hasilnya didapat, bahwa
untuk apa kita melakukannya? untuk apa kita coba-coba membuat akhwat
lain jatuh cinta ke kita? hanya untuk main-main? atau untuk ‘tabungan’
jaga-jaga jika suatu saat kita aka menikah? semoga bukan… perawan
tak hanya secara fisiknya, tapi juga tentu kita ingin orang yang masih
perawan pula hatinya.

Dan dari situlah muncul salah satu prinsip yang selalu coba ana pegang
hingga saat ini. Kurang lebih logikanya begini : Tak ada yang menjamin
bahwa orang yang ana sedang target, ia akan menjadi istri ana kelak.
Tak satupun!!! Bahkan kasarnya seandainya kita mengkhitbah, dan besok
adalah walimah, maka tak ada yang menjamin bahwa kita pun akan hidup
hingga besok.

Lantas sebagaimana aku yang tak suka mendapatkan barang ’sisa’ maka
wajar jika aku pun tak mau memberi saudaraku sesama muslim, seorang
akhwat yang hatinya pernah aku kotori dengan perasaan suka kepadaku.
Ah biarlah… aku hanya ingin menjaga hati dan perasaan akhwat-akhwat
tersebut. Kalaupun ada rasa yang terpendam disini, atau di hati-hati
mereka, maka biarlah. Yang jelas aku tak ingin ikut ambil andil dalam
proses munculnya perasaan dari seseorang kepada seseorang lain
tersebut.

Begitulah : maka ketika terkadang ana mulai tergoyahkan oleh seorang
akhwat, maka satu hal yang coba ana tekankan ialah, luruskan
niat!!jangan sampai kemudian ana tergoda untuk mentarget beliau dengan
cara apapun!!!  Dan dari sini pula, maka benar-benar ana rasakan,
betapa logika tersebut setidaknya mampu menjadi satu diantara
benteng-benteng ana yang lain, benteng-benteng untuk menjaga hati ini,
dan menjaga hati-hati yang akan menjadi milik dari saudara-saudaraku
yang lainnya.

Maka sejak saat ini, ketika ada akhwat yang entah benar atau tidak
mencoba mendekat, maka aku ingin sekali mengatakan kepadanya, ‘afwan,
bukan berarti ana tak suka, atau ana tak mau, namun satu hal, ana
tidak ingin membuat saudara ana cemburu… Karena aku hanya ingin
menjagamu… menjaga hati dan perasaanmu agar tetap bersih.’

malang…
senin 17 maret 2007

Untuk Apa…


Untuk apa kau mengeluh pada teriknya matahari
jika kau mengharap hangatnya  di pagi hari

Untuk apa kau mengeluh pada air yang dingin di pagi hari
jika kau mengharap segarnya di siang hari

untuk apa kau mengeluh pada kesepian panjang
jika kau mengharap sepi diantara perenunganmu?

untuk apa kau mengeluh pada keramaian yang meriah
jika kau pun mengharap diantara kesendirianmu

dan…..

untuk apa kau mengeluh pada kesepian tanpa laptop
jika kau pun masih punya sahabat-sahabat terbaikmu
yang menyemangati dan bisa membuatmu senantiasa tersenyum?
merekalah teman-teman sejatimu!

untuk apa kau mengeluh pada laptopmu yang rusak
jika kau pun masih memiliki komputer terbaik di dalam dirimu?
komputer paling sempurna di muka bumi ini,
yakni akal dan jiwa kita….

mari bersyukur atas segala sesuatu….
agar kita masih bisa tersenyum, sesedih apapun

Laa tahzan, Innallahu ma’ana

syukran buat antum yang telah menyemangati….
mohon doanya untuk zahra tercinta…
moga bisa lekas sembuh, atau mendapat ganti yang lebih baik …
amin.

ponorogo, 22 maret 2007
ketika zahra masih koma setelah kecelakaan

nb:zahra - laptopku

[curhat] a Busy Weeks….


Belakangan menjadi hari-hari yang betul-betul sibuk, wallhu alam. Sampai sempat dua malam ana nggak tidur hingga pukul 02.30 pagi, dan pukul 01.30 pagi hanya karena mengerjakan tugas-tugas amanah ini…..

banyak sekali tugas2 dari teman-teman  yang belum terselesaikan hingga detik ini, atau pun jika terselesaikan, maka kesannya asal-asalan…

maka iseng-iseng ana pun coba-coba untuk melist… sebenarnya seberapa banyak sih tanggungan ana? berikut sedikit dari hasilnya diantara sederet rangkaian tanggungan ana yang masih ingat…

  1. Yang pertama, yang terberat, dan yang paling ana takutkan, amanah sebagai ketua umum Forkalam. sampai detik ini, ini tanggungan terbesar ana yang betul-betul paling menyita waktu…. pikiran, uang, dan terlebih sering terkadang membuat ana takut dan setengah menangis…..
  2. Yang kedua, sebagai mahasiswa Ilmu Komputer angkatan 2005 yang harus mampu memberikan prestasi terbaiknya untuk kedua orang tua ana..
  3. Memegang setidaknya dua binaan dan dua kelas mentoring, so harus betul2 ekstra ketat…
  4. Proyek PKM ana yang keterima, padahal ana sebagai main person disana, sukses tidaknya Proyek PKM tergantung besar pada ana, maklum bersama anak peternakan dan proyeknya (meski open source) tentang software, so mau nggak mau untuk orang utamanya ya ana yang harus bikin….
  5. Kuliah Kerja Dakwah di kecamatan Klojen, demi kemenangan dakwah eksekutif menuju Malang 1
  6. Diamanahi tugas  untuk membuat web  PILKADA Malang untuk calon pak Ahmad Subchan, calon dari PKS. Proyek sukarela, untuk keperluan dakwah, so jangan harap ada gaji….. but yang penting nggak tombok, yang penting bisa sambil tambah pengalaman…
  7. mysoftory.com, perusahaan Software yang ana buat dalam naungan induk perusahaan IT "AnS project" (Adib n Sahid), yang mana sampai sekarang tak terlalu banyak kontribusi ana (afwan ya dib) cos terus terang, betul2 sibuk… but antum ana curi2kan waktu kok…. tenang aja, max  april nt dah dapat order..
  8. PJ IT untuk blog dan mailing list IKMAL (alumni ikatan rohis SMA dulu) yang tugasnya always keep up to date setiap perkembangan terbaru di milis, di IKMAL…
  9. Proyek membuat script film islami, bersama beberapa teman FLP,
  10. Panitia kajian Ahad Pagi MRP yang ana jadi kasihan ma koordinator ana cos sering ana tinggal…. afwan akh ya….
  11. Proyek membuat buku bersama temen ana Adib, pemrogaman untuk betul2 pemula,
  12. Asisten Praktikum setidaknya untuk TIGA KELAS PRAKTIKUM

ana semester ini sudah ambil 19 sks, maklum semenjak menjadi ketum, ana tidak mau ambil banyak-banyak, namun terus terang, amanah-amanah diatas… betul-betul ana rasakan menguras energi ana semester ini… yah setidaknya sampai Mei…

awal Mei insya ALlah amanah terbesar diatas, ketum Forkalam akan turun (semoga nggak jadi yang lebih tinggi lagi dulu, cos dah janji murobbi setelah lengser jadi ketum akan segera ngajukan proposal insya ALlah.. kalau bisa max sebelum idul Fitri tahun ini), proyek PKM sudah akan selesai, website pak Subhan pun tentu sudah jadi Insya Allah…

sekarang, boleh jadi waktu tidur ana tinggal sedikit
badan capek, dimarahin atasan, teman-teman, partner kerja, ma teman satu kelompok kuliah, dll… dan tak kalahnya, ana pun terkadang jadi stres
andai tak ada pertemuan pekanan bersama ikhwan kostrad, mungkin ana jadi betul2 sumpek stress…. ah mulai lagi masa-masa sibuk seperti semester 2-3 kemarin,

Hingga terkadang, cuci-cuci tak sempat, masak tak lagi sempat, bahkan sms ke orang tua pun seolah kadang tak sempat….. sms tauih-taujih ke temen2 pun jadi agak mandek….. jadi ingat kata sahabat sma ana dulu, "amanah kita tak terbatas, tapi waktu kita terbatas"… ah untung saja tak seperti beberapa pekan sebelumnya, banyak sekali  SMS ana waktu itu…  untung sekarang untuk sementara tak lagi…. meski tak lagi terhibur seperti waktu itu, but biarlah, ana hanya belum ingin terlalu jauh…. ada waktunya untuk itu….

so Semangat Hid!!!
biarkan waktu itu kan melaju, kau akan tetap berada ditempatmu sekarang!!
biarlah meski kau akan kalah, namun seperti apa yang dikatakan Ahmad bin Hanbal
Kemenangan itu adalah ketika kau masih tetap berada dalam kebenaran…
Banyak orang yang putus karena amanah, entah itu mereka terlalu melebur, atau entah pula mereka -dengan kemalasannya- tergoda untuk berhenti dari amal panjang ini….

tapi akan aku azamkan, pada diriku sendiri
I’LL STAND HERE…….
berdiri di jalan dakwah dan jihad yang panjang dan melelahkan ini……
meski sepi, sendiri, atau bahkan termaki….. meski dengan antum, atau tanpa antum…
biarlah…. aku akan tetap disini…

Ya Allah, kuatkanlah hamba menempuh amanah-amanah ini…

Malang 13 Maret 2008
-disela-sela kesibukan hijrah distro Fedora ke SuSe..-

My Dreams…


Andai kaki ini dah tak lagi melangkah
mata ini tak lagi melihat, tertutup seiring hilangnya detak jantung

Kuingin di bumiku - di tempat aku pernah berdiri -
telah terdapat penduduk yang beriman, beramal shaleh
telah berdiri sebuah peradaban, dimana iman adalah pemersatunya
Al Quran adalah pedomannya, dan Syariat adalah hukum-huumnya.
Wajah mereka bercahaya, ucapannya menyejukkan, dan perilakunya terjaga.

Maka sungguh jiwa ini akan ridho ketika pergi dengan meninggalkan masyarakat seperti itu.

Malang
12 Maret 2008

Nyanyian Tengah Malam


Nyanyian Tengah Malam

Semenjak SMA aku sudah mulai sering bepergian jauh sendirian. Ya, tak sendirian dalam arti sebenarnya, namun setidaknya dalam perjalananku tak lagi didampingi bersama orang tua. Ada saja perjalanan yang aku lakukan, entah karena harus lomba ke Yogya, Surabaya, bahkan pulang sendirian dari Jakarta pun aku sudah pernah aku alami. Berkat seringnya melakukan perjalanan jauh ini, aku yang dulunya sering mabuk perjalanan setiap naik bus, kini menjadi seolah kebal dan sembuh dari penyakit tersebut.

Beranjak di waktu kuliah, karena lokasi kampus yang di luar kota, otomatis membuatku lebih sering melakukan perjalanan. Ponorogo-Malang, via jalur Surabaya. Dari hampir keseluruhan perjalanan tersebut, aku paling sering melakukan perjalanan di malam hari. Sederhana, untuk efisiensi waktu, begitu pikirku. Waktu siang cenderung bisa aku gunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Sehingga dengan melakukan perjalanan malam, setidaknya aku bisa menghemat waktu. Perjalanan pulang, sekaligus memanfaatkannya untuk tidur, sehingga di lokasi, pagi harinya bisa langsung beraktifitas.

Maka tak jarang, aku pulang dan sampai rumah pun malam hari. Jam 10, atau jam 12 sudah biasa. Bahkan belakangan pun kadang seringkali aku pulang pukul 2 atau 3 pagi, maklum dari Malang aku berangkat habis Isya’, perjalanan 6 jam, belum lagi sulitnya menunggu bis malam ke kotaku terkadang membuatku baru sampai dini hari.

Selain itu, mungkin ada satu lagi alasan sekunder, kenapa aku lebih suka melakukan perjalanan malam hari. Pengamen jalanan! Ya, orang-orang yang mencari nafkah dengan hiburan jalanan-nya. Bukan masalah suka atau tidak suka dengan orang-orang ini, namun karena aku lebih sering tak tega terhadap mereka.

Jika ada yang berkata bahwa menjadi pengamen itu cara mudah untuk mencari uang, kini agaknya aku sudah berubah pikiran. Siapa bilang mencari uang dengan mengamen itu mudah? Kini orang lebih “tega” untuk melambaikan tangannya daripada sekedar mengeluarkan uang seratus atau dua ratus dari saku mereka. Jumlah uang yang aku yakin tak akan membuat mereka jatuh miskin.

Ah pengamen-pengamen itu, mereka hanya korban dari ketakberdayaan mereka sendiri. Pemerintah yang tak mampu menyediakan lapangan kerja memang boleh disalahkan, namun sikap menyerah para pengamen tersebut dan filosofi “daripada menganggur mending ngamen” yang terlanjur melekat, sudah seharusnya mereka sadari dan ubah.

Ya, untuk masalah pengamen ini sering kadang aku banyak tak tega-nya. Karena selain sulitnya orang mengeluarkan sekedar receh, namun juga karena semakin banyak saja jumlah pengamen di negeri kita. Pernah aku coba menghitung, perjalanan 4 jam Ponorogo-Surabaya, dan aku hampir takjub melihat angka 9-10 di tanganku. Ya… ada sekitar 10 pengamen selama perjalananku, setiap satu pengamen turun di satu perempatan, kadang pengamen lain langsung naik dari perempatan yang sama pula. Tak heran orang-orang pun mulai malas untuk sekedar merogoh recehan mereka lagi.

***

Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 12 malam. Bis Restu yang aku tumpangi melaju pelan, mulai ke terminal kota Nganjuk. Saat itu aku tengah melakukan perjalanan malam untuk pulang ke kota Ponorogo seperti biasa.  Mataku setengah mengantuk, maklum ini perjalanan malam, Seperti biasa, bis kami langsung diserbu sederet pedagang asongan terminal Nganjuk. Andai ini siang hari, tentulah pedagang asongan itu akan lebih banyak lagi.

Aku yang setengah mengantuk tak banyak menghiraukan mereka. Sempat terbersit ingin membeli sekedar jajan cemilan, namun kuurungkan keinginanku. Selain karena aku sedang ingin berhemat, aku sedang dalam kondisi sangat mengantuk-mengantuknya.

Seperti biasa, pemberhentian di terminal Nganjuk dari arah Surabaya memang selalu lebih lama dibanding terminal lainnya . Entah karena menunggu bus jurusan sama datang terlebih dahulu, atau mungkin menunggu penumpang transit dari kediri.

Begitu para pedagang asongan mulai sepi, sempat terpikir untuk melanjutkan saja tidurku. Toh perjalananku masih sekitar 2 jam lagi. Namun tak berselang lama, ada dua orang laki-laki naik yang kontan membuyarkan rasa kantukku. Aku tahu, mereka pengamen!, tapi jam segini? Kulirik jamku menunjukkan pukul setengah satu malam! Dan tak berselang lama, meluncurlah sederet suara khas pengamen jalanan. Jangan harap menemukan suara selevel Cat Steven, Sami Yusuf, ataupun Gito Rollies, karena untuk level penyisihan Indonesian Idol aja aku optimis mereka tak akan lolos. 

Aku tak bisa mendengar jelas apa yang mereka nyanyikan. Bukan karena deru mesin bus, namun karena suara pengamen itu yang memang tak jelas. Entah mungkin serak karena sudah malam, dan mengantuk, atau entah suara aslinya memang seperti itu. Tak seperti kebanyakan pengamen bus yang rata-rata menyanyikan dua lagu, mereka hanya menyanyikan satu lagu, dan itupun dengan suara yang tak jelas sama sekali. Dan seperti biasa, selesai menyanyi seorang dari mereka berjalan mendatangi satu persatu penumpang untuk mengumpulkan koin-koin receh dari penumpang.

Sempat terbersit untuk tidak memberi, namun Ah jarang-jarang aku menemui pengamen yang berani seperti mereka. Berani karena tentu mereka tahu dalam jam-jam segini banyak penumpang yang sedang mengantuk-mengantuknya. Aku pun juga kasihan, penumpang bus tak banyak seperti perjalanan siang hari, tak banyak tentu yang memberi. Kurogoh sekeping uang 200 kembalian dari peron di Surabaya tadi dan kuberikan ke mereka. Namun untunglah, tak hanya aku yang memberi, beberapa penumpang yang masih terjaga pun juga ikut memberi. Mungkin karena pengamen ini satu-satunya pengamen yang ada di perjalanan malam kami semua, tak seperti siang hari yang hampir 20menit sekali seorang pengamen naik. 

Tak berselang lama, bus yang kutumpangi mulai berangkat, melaju pelan keluar terminal. Sempat kulihat  kedua pengamen tadi menghitung perolehan mereka. Tentu tak banyak, jangan harap dapat uang 5-10ribu seperti pengamen dulu-dulu. Setidaknya cukup untuk sekedar membeli kopi hangar agar tak mengantuk. Dan aku tersenyum ketika melihat salah seorang dari mereka memang membeli segelas kecil kopi. Mungkin sekedar untuk menjaga stamina sebelum menyanyi di bus berikutnya.

Dalam hati aku bergumam, Ya Allah, hanya untuk mencari uang, hanya untuk menafkahi diri dan keluarganya saja seseorang sampai rela be”kerja” hingga larut malam seperti ini. Tak hanya pengamen itu saja, namun juga para pedagang asongan itu, mbok penjual kopi di terminal itu, dan sederet manusia yang menggantungkan nafkahnya dari hiruk pikuk dunia transportasi ini.

Waktu malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat makhluk-makhlukNya, waktu untuk mengumpulkan energi lagi untuk keesokan harinya, kenapa seperti ini? Sempat pula terbersit Andai saat ini Umar yang menjadi pemimpin negeri, dan tahu di kota ini ada orang-orang seperti pengamen tengah malam tadi, aku tak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan kepada Bupati, atau bahkan Gubernur Propinsi.

Malam semakin larut, bus mulai melaju cepat, menyusuri jalan raya malam yang sepi. Meski tak urung pengamen-pengamen tadi mengganggu pikiranku, namun toh biarlah, setiap orang punya rejekinya sendiri-sendiri. Semoga kedepan tak ada lagi banyak pengamen seperti sekarang, bukan karena digusur atau dilarang, namun karena negeri ini semakin adil dan sejahtera, sehingga orang tak perlu lagi mengamen untuk mencari nafkah. Dan semoga, tak ada lagi nyanyian-nyanyian tengah malam seperti yang aku dengar malam itu… Insya Allah.

Malang awal Maret 2008

Air Mata Cinta dari Ibunda


artikel ini sebenarnya adalah artikel lama.. artikel beberapa blan lalu yang baru ana berani untuk menyelesaikannya belakangan kemarin2…
ada beberapa artikel lain yang bukan tidakberani, tapi belum sempat ana posting… masih dalam bentuk hardcopy, tunggu tanggal mainnya ya…

selamat menikmati….

===================================


Jangan Menangis Ibu

 

Semenjak aku SD hingga mahasiswa, sekalipun belum pernah
kulihat ibu menangis.Menangis hingga keluar air mata, atau setidaknya suara
yang menjadi berat dan serak. Tak pernah sekalipun! Jangankan melihat, mendengarnya terisak di
dalam kamar pun aku tak pernah. Entah karena ibu yang memang tak pernah
menangis ataukah karena ibu yang tak mau putra putrinya melihatnya menangis.

 

Ketika ayah dan Ibu bertengkar pun, biasanya hanya terjadi
aksi saling diam selama satu hari. Dan jika sudah begitu, biasanya beliau hanya
akan mengeluh tentang adik-adik Ayah yang lama tak mencicil hutangnya, atau
bercerita tentang bagaimana dulu ketika Ayah kena kasus, dan Ibu-lah yang
paling berjasa menanggung ekonomi keluarga. Aku hanya maklum, sebuah pelampiasan
emosi yang memang wajar, dan aku pun hanya mendengarkan tanpa banyak
berkomentar.

 

Tapi biasanya hanya seperti itu saja, sudah selesai dan
tanpa ada sebuah tangisan sedikitpun disana. Bahkan ketika itu terjadi , tak
tampak sedikitpun raut kesedihan diwajah beliau.

 

Namun beberapa bulan belakangan ini, setelah Ibu terkena
sakit kemarin, sakit yang membuatnya tak bisa kemana-mana selain di tempat
tidurnya, ibuku tak lagi seceria dahulu.

 

“Hiburan mama hanya kalian berdua”, ujar beliau di telepon
suatu hari. Aku hampir menangis mendengar kata-kata tersebut.

 

Tapi aku yakin bukan itu, Ibu tak lagi ceria karena beliau
tak lagi bisa mengirim tambahan uang untuk putra-putrinya. Ketika Ibu masih
sehat, dan semenjak Ayah didzalimi oleh kantornya dengan hukuman skorsing yang
tak kunjung ada kejelasannya, gaji beliau berkurang banyak. Ketika enam bulan
hukuman resmi, gaji beliau hampir membuatku menangis,karena bahkan untuk hidup
satu orang selama satu bulan pun tak cukup. Selama itu, sekali lagi, Ibulah
yang paling banyak berjasa untuk keluarga.

 

Ibu membuat jajan yang dititipkan ke toko milik tetangga.
Beliau juga menerima pesanan entah itu kue atau nasi kotak dari rekan-rekannya.
Alhamdulillah, dari situlah beliau bisa mengirimi putra-putrinya uang setiap
bulannya.

 

Namun itu tak berlangsung lama, ketika suatu waktu Ibu
terkena penyakit tersebut. Entah kenapa, saat itu beliau masih bisa tersenyum,
meski tubuhnya tak berdaya apa-apa. Layaknya seorang bayi, apa-apa harus
dilayani. Makan, minum, mandi, dan lain-lain masih butuh bantuan orang ketiga.
Ah untung saja Ayah terkena skorsing sehingga ia bisa merawat Ibu di rumah.
Andai tidak, maka siapa yang akan merawat beliau?

 

Dan sekali lagi, Aku pun hampir menangis melihat tubuh yang
lemah terbaring di tempat tidur itu, tubuh yang biasanya aktif datang ke
pengajian-pengajian, tubuh yang biasanya membuat kue dan nasi kotak untuk
membiayai kehidupan keluarga, kini otomatis tubuh itu tak bisa berbuat apa-apa.
Dan aku pun menangis jika mengingat ibu terkena sakit tersebut hanya karena
kecapekan membuat kue pesanan, yang jelas hasilnya itu untuk dikirimkan ke aku
dan kakakku.

 

Di awal-awal sakit beliau, saat itu, syukurlah ibuku
setidaknya masih bisa sedikit ceria. Pasalnya di awal-awal masa sakitnya, masih
banyak dari teman-teman Ayah dan Ibu yang datang menjenguk. Dan terlebih lagi
karena aku pun masih menyempatkan diri di sela-sela kepanitiaan Ospek kampus
untuk pulang membantu Ayah. Namun seiring waktu, yang berkunjung semakin
sedikit[1],
dan karena tugas aku pun juga harus segera balik ke Malang, ibuku mulai
kesepian. Andai tak ada tetangga yang baik hati, tentulah rumah kami sangat
sepi. Meski ada TV disediakan di depan tempat tidur beliau, namun ibuku
bukanlah tipikal orang yang suka menonton televisi. Waktu kesehariannya biasa
ia gunakan membuat pesanan kue atau nasi, ya karena memang itulah hobinya. Dan
sungguh bisa dibayangkan bagaimana seseorang yang sangat aktif seperti ibuku
tiba-tiba harus berhenti total dari kegiatannya.

 

Kecintaannya terhadap putra-putrinya, keinginannya untuk
segera beraktivitas, ditambah motivasi spiritual yang beliau miliki telah
berbuah sesuatu hal. Dan, biidznillah sebuah keajaiban terjadi, tak sampai dua bulan ibuku sudah bisa
berjalan dengan normal. Waktu yang bahkan sangat mengherankan dokter-dokter
beliau. Ketika di hari sebelumnya beliau masih harus dibopong ke Rumah sakit,
sebulan setelahnya, beliau sendiri yang berjalan ke ruang dokter tersebut. Ya,
meskipun tangan dan tubuh beliau masih agak lemah, namun ini sungguh kemajuan
yang luar biasa.

 

Kami tak henti-hentinya berucap Syukur atas anugerah
cepatnya kemajuan penyembuhan beliau. Namun kesembuhannya tak spontan membuat
ibu ceria, di sisi lain, beliau sadar bahwa ketika keluarga menumpukan ekonomi
terbesar pada pesanan kue yang diterima oleh ibu, dan kini beliau tak mampu
berdaya apa-apa. Bukan hanya beliau terlalu lemah untuk membuat makanan-makanan
itu, namun juga karena pesanan-pesanan kue itu kini tak lagi datang. Maklum,
orang yang biasa memesan itu adalah rekan-rekan Ibu sendiri. Mengetahui kondisi
Ibu seperti ini, mana tega mereka memesan kue-kue itu ke Ibu?

 

Kondisi Ibu yang semakin membaik, tak membuat ekonomi
keluarga menjadi pulih. “Maafin mama, belum bisa membahagiakan Tegar dan Lia”,
ujarnya satu waktu. “Mama sebenarnya
ingin mengontrakkan kalian rumah di Malang, kirimannya cukup, bisa mengunjungi
Lia dan Tegar setiap bulan”

Aku hanya bisa menghiburnya, “Tidak perlu seperti itu Ma,
kita sudah cukup dengan kondisi ini”

Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar suara Ibuku
menangis di telepon. Aku tak kuasa berkata apa-apa, ini pertama kali aku
mendengar wanita yang aku cintai menangis.

 

Ketika suatu hari aku menyempatkan untuk pulang, ibuku
bercerita, “Mama itu sering terpikir, apa kiriman mama disana nanti kurang,
kalau anak-anak Mama kelaparan disana nanti bagaimana?” sampai disini, baru
kali ini kulihat air mata mulai menetes dari sudut matanya. Ibuku Menangis!!!
“Gimana Tegar di Malang, makannya apa cukup, gimana uang-uangnya, dan
lain-lainnya”. Tak sampai terisak memang, namun baru kali ini kulihat air mata
itu meluncur dari sudut matanya. Suaranya pun menjadi seolah sangat berat, dan
agaknya tangis seperti ini pun berulang lagi dalam waktu-waktu lainnya.

 

Agaknya ujian terberat bagi Ibuku bukanlah tentang
penyakitnya, melainkan ketika ia tak bisa berbuat apa-apa untuk putra-putrinya.
Tak ada pesanan berarti tak ada pemasukan, dan tak ada pemasukan berarti pula
tak ada uang saku untuk putra putrinya. Sungguh wajar ketika Ibu pun sering
menangis, memikirkan apa yang bisa dimakan oleh putra-putrinya.

 

Pernah suatu ketika, aku dan sahabatku di kampus menang
dalam sebuah lomba yang mengharuskan kami untuk berangkat ke Jakarta. Uang
hadiah yang didapat memang bisa aku bilang cukup besar, namun sayang seluruh
ongkos transport, dll harus kami tanggung sendiri. Namun untung saja sahabatku
ini mau untuk meminjamkan uangnya sebagai ganti ongkos sampai hadiah kami
terima. Ibu sebenarnya tahu akan hal ini, namun menjelang keberangkatanku,
beliau tetap mengirimkan uang sejumlah 300 ribu. “Untuk uang saku”, begitu kata
beliau. Saat itu aku tak sempat berpikir apapun tentang uang saku. Jaminan
transpor dari temanku ditambah tambahan uang saku dari fakultas tentulah lebih
dari cukup. Aku pun juga tak sempat berpikir, darimana ibuku dapat uang
tersebut. Dan sepulang dari Jakarta, aku pun antara marah dan menangis
mengetahui uang 300ribu tersebut dari pinjaman ke tetangga kami. Ya, antara
marah dan menangis. Menangis dan marah karena hanya agar tak khawatir ada
apa-apa denganku di Jakarta, ibu hingga rela meminjam uang ke tetangga. Sungguh seumur-umur, belum pernah keluarga
kami meminjam uang ke orang yang tak ada hubungan darah dengan kami untuk
masalah-masalah seperti ini.

 

Namun Alhamdulillah, Allah memberikan badai, namun ia juga
memberikan mentari indah beserta pelangi sesudahnya. Allah memberikan tetes air
mata, namun ia juga memberi kita senyum yang cerah. Kondisi tersebut tak
terlalu lama. Seiring membaiknya Ibu, ekonomi keluarga pun akhirnya membaik.
Beberapa bulan setelah Ibu mulai bisa berjalan, ayah mulai dikembalikan ke
pekerjaannya, Kini Ibu sudah bisa dikatakan lumayan jauh lebih sehat, dan
ketika Ayah pun sudah mulai bekerja lagi meski tanpa sebuah jabatan, kini
senyum itu mulai sesekali kulihat ada. Senyum itu mulai ada ketika Ibu mulai
mendapatkan hiburannya lagi dengan televisi, dengan kedatangan putra-putrinya,
atau setidaknya bagaimana ia bisa ikut melantunkan bait-bait syair nasyid
kesukaannya, “Rembulan di Langit Hatiku” setiap aku memutarkan untuknya. Senyum
yang sama ketika Ibu mulai bisa beraktivitas, dalam arisan, dalam pengajian
rutin pekanan di perumahan, dan sederet aktivitas lainnya. Meski senyum itu tak lagi secerah dahulu
sebelum sakit, setidaknya senyum itu mulai ada lagi.

 

Meski demikian tak jarang, Ibu jadi bersikap berlebihan dalam segala sesuatu. Bagaimana
beliau memberi nasihat yang bagiku kadang berlebihan, Terkadang pula beliau
sering mengulang apa yang sudah beliau ceritakan sebelumnya. Terkadang pula

 

Ah Ibu, sosok manusia yang bagiku sungguh luar biasa.
Amatlah wajar jika Islam menempatkan bahwa Syurga ada di telapak kaki Ibu, amat
wajar pulalah jika durhaka pada orang tua tergolong dalam dosa terbesar kedua
setelah syirik.

 

Ibu, maafkan aku. Ketika engkau menangis didepanku, aku tak
kuasa untuk ikut menangis. Ketika air mata itu keluar dari pelupuk matamu, aku
justru coba untuk tetap tegar tersenyum meski dalam hati aku menangis. Tegar
sebagaimana engkau memberiku nama itu. Semata-mata agar kau tak tambah sedih
melihat putramu juga ikut menangis.

Namun sungguh ibu, ketahuilah bahwa ketika aku berada disini
dekat denganmu, ataupun ketika aku jauh darimu, aku senantiasa mengangis
untukmu.

Ibu, aku berjanji akan memberikan segala hal yang terbaik
untukmu, Aku tak ingin mengecewakanmu, aku tak ingin membuatmu bersedih.
Semata-mata agar aku setidaknya bisa berkata –meski lirih,meski dalam hati–
“Jangan Menangis, Ibu!!”

 

Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha luas ampunanMu, maka
ampunilah segala dosa dan kesalahan kedua orang tuaku, Kasihilah dan Sayangilah
mereka sebagaimana mereka menyayangi hamba ketika masih kecil.

Ya Allah, jadikanlah agar matiku sebagai mati Syahid,
sebagai seorang yang mati dalam Jihad di jalanMu, sehingga aku bisa memberikan
syafaat bagi kedua orang tuaku.

Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang mengabulkan doa-doa
hambaMu, dan hanya kepadaMu lah kami memohon, maka kabulkanlah doa-doa kami.

Amin…

 

 

diantara isak tangis, Ponorogo, 11 Februari 2008

–Akhirnya berani juga aku selesaikan, artikel ini–

 

 


[1] Itulah kenapa saya sarankan Anda untuk
mengunjungi orang sakit, dan itu jangan hanya sekali. Setidaknya sampai beliau
sembuh.