dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for November, 2008


Beasiswa Keinginan dan Beasiswa Kebutuhan

Beasiswa dan Kemewahan

Beberapa waktu lalu ada pemandangan yang cukup menarik perhatianku. Saat itu Senin sore, ketika aku sedang akan UTS matakuliah Riset Dasar Ilmu Komputer. Di sebelah ruang kelasku tampak berkerumun sekumpulan mahasiswa. Seperti biasa, paling sedang akan kuliah, begitu pikirku. Sedang menunggu dosen yang belum datang atau mungkin menunggu kelas yang masih dipakai. Biasa, pikirku.

Namun mau tak mau, aku pun jadi heran, ketika yang hadir tambah banyak, dan dari berbagai jurusan. Ada fisika, ada matematika, ada kimia, dan ilmu komputer juga. Tak pernah ada mata kuliah gabungan seheterogen ini di fakultasku. Maka aku pun coba bertanya ke salah seorang adik angkatanku, ”Ada apa akh, antum ada kuliah disini?”, karena dia dari ilmu komputer, aku pikir juga akan kuliah sore itu.

”Oh nggak ada, Ini akh, pembagian beasiswa”, jelasnya.

”Ooo.. ”, aku pun jadi manggut-manggut sendiri. Pantas saja, ada dari banyak jurusan yang berkumpul.

Aku tak sempat memperhatikan mereka lebih jauh, karena aku sambil mempersiapkan UTS, sedang baca-baca dari laptop, hingga akhirnya dosen pun masuk. Ujian tak berlangsung lama, karena memang bukan mata kuliah yang menuntut hafalan (saya paling susah menghafal), hanya pelajaran yang butuh banyak menulis dan ber-imajinasi, dan itu kesukaan saya.

Setelah presensi, dan menumpuk lembar ujian, aku pun keluar. Di sebelah kelasku, sekumpulan mahasiswa itu masih tampak berkerumun. Hanya saja bedanya kini mereka kebanyakan ada di dalam kelas, menunggu satu persatu dipanggil oleh Mas Heri, staf kemahasiswaan.

Aku tak ambil pusing, aku pun hanya berdiri di luar, sambil menunggu sahabatku yang tak terlalu suka menulis. Sesekali kulihat mahasiswa-mahasiswa itu, tampaknya tak ada yang memasang wajah sedih, semuanya tampak sumringah. Maklum, sore ini mereka ”gajian” pikirku.

Sambil menunggu, sayup-sayup aku mendengar suara itu, ”Kalau 500 ribu per bulan, ntar buat apa ya?”, aku hanya tersenyum mendengar itu. Aku coba mengintip ke dalam ruang kelas pembagian yang terbuka itu, barangkali saja ada sahabat yang memang kukenal agak kekurangan hadir disana. Namun yang kucari ternyata tak ada di dalam sana.

Saat itu, aku tak sempat berpikir lebih jauh karena sahabat yang ku tunggu akhirnya keluar. Kami pun segera beranjak, karena saat itu memang kami janjian akan mensetting komputer di warnet perpus untuk pelatihan esok hari.

Hingga pagi ini tadi aku merenung. Kini aku pun jadi berpikir, kira-kira apa yang akan mereka lakukan dari uang beasiswa mereka ya? Dengan nominal yang bervariasi, namun menurutku sepertinya minimal 250ribu per bulan, atau bahkan bisa jadi ada yang 500ribu per bulan. Tentu tergantung beasiswa apa yang beliau dapat.

Terlebih pembayaran beasiswa, biasanya tidaklah dibayarkan setiap bulan, melainkan langsung per-6 bulan. Sehingga jika seorang mahasiswa mendapatkan uang 250ribu/bulan, maka dia akan langsung menerima uang 1,5juta cash and carry. Jika beliau mendapat yang 500ribu/bulan, maka ia akan mendapatkan 3juta, cash and carry.

Kalau mereka dapat beasiswa kurang mampu, mungkin untuk kuliah, untuk makan dan keperluan sehari-hari, barangkali? Ah semoga saja memang mereka untuk itu. Kalau untuk beasiswa prestasi, aku memang tak terlalu memperdulikan, karena itu semacam kontraprestasi atas jerih payah prestasi mereka. Untuk peningkatan akademik, beli buku, atau langganan internet, mungkin masih wajar.

Namun melihat sebagian besar dari mereka, aku pun jadi berpikir, mereka kebanyakan bukan orang-orang yang ”kurang mampu”. Saya yakin sebagian diantara mereka, HPnya lebih bagus daripada HP saya, motornya lebih baru daripada motor saya, ataupun kosannya pun lebih mahal daripada kosan saya dahulu.

Saya pun yakin, orang-orang ini sehari-harinya tentulah tidak pernah kekurangan makan. Setidaknya tiga hari sekali itu sudah biasa. Ada memang dari mereka yang kekurangan, namun sebagian besar dari mereka? Tampaknya bukan sebagian besar. Semoga mereka bukan orang-orang yang men-tidak mampukan- diri agar mendapat beasiswa, seperti beberapa orang-orang menengah keatas berebut GAKIN agar bisa berobat gratis, atau berebut gelar miskin agar mendapat BLT, atau apalah.

Sudahlah, bagi saya kemudian yang terpenting adalah akan digunakan untuk apa uang mereka. Jadi teringat akan dua teman saya yang langsung beli HP begitu uang beasiswa itu turun. HP yang bagiku cukup mahal untuk ukuran beliau.

Bagiku mahal itu bukan pada berapa harganya, melainkan pada berapa harganya jika dibandingkan dengan FASILITAS/FITUR dan KEBUTUHANnya. HP saya 775ribu, bagi sebagian orang ini mahal, namun bagi saya saya memang membutuhkan fitur-fitur HP ini untuk mobilitas saya. Mulai dari kemampuan USB Storage, hingga GPRSnya.. Bagi sebagian orang, laptop itu mahal, namun bagi seorang ilmu komputer yang super mobile seperti saya, maka itu menjadi barang yang semi wajib.

Namun melihat kebijakan dua sahabat saya dengan uang beasiswanya, membuat saya jadi sedikit kecewa. Satu teman saya sayangkan karena membeli HP yang bagus (600ribuan) padahal kebutuhan utama beliau paling hanya untuk sms dan telepon. Namun yang ini setidaknya masih bisa saya maklumi, karena HP sebelumnya memang sudah sangat tidak layak pakai. Dalam artian ia memang benar-benar memerlukan HP.

Namun yang membuat saya tak kalah agak sedih lagi, pada teman saya yang satunya. Beliau sudah punya HP, namun kali ini membeli lagi untuk nomer satunya lagi. Jadilah ia punya 2 HP. Seandainya HP yang baru adalah HP CDMA, maka tak masalah, wajar karena beda teknologi, beda tarif, beda keperluan. Namun dua HP ini sama-sama GSM-nya, hanya saja untuk nomor GSM satunya, mengingat katanya partner utamanya kebanyakan pakai nomor operator tersebut.  Aku pun berpikir, apa ganti kartu ketika akan telepon menjadi begitu sulit?

Jika HP second, atau baru yang agak murah sih wajar menurutku, tapi ini tidak, ketika melihat HP beliau HP yang baru, dengan fitur-fitur yang saya yakin, beliau tidak terlalu membutuhkan selain untuk telepon dan SMS. Dan lengkaplah sudah kekecewaanku ketika melihat merk yang dibeli sang ikhwah adalah Nokia, Merk yang seharusnya diboikot karena menyumbangkan untuk Israel menjajah negeri Palestina. Padahal untuk kelas kebutuhan dan fitur yang sama, HP keluaran negeri Korea (macam LG, atau Samsung) tak kalah bagusnya, bahkan untuk harga yang lebih miring.

Entahlah, aku hanya berhusnudzon, tentulah beliau punya pertimbangan tersendiri untuk hal ini. Semoga bukan termasuk dalam kegiatan berlebih-lebihan. Mungkin beliau punya pertimbangan yang lebih matang untuk hal ini.

Jadi teringat bahwa ada seorang kader SKI yang sudah di perantauan, namun kiriman tak sampai 300ribu sebulan, Itu belum untuk membayar kost seharga 80ribu. Belum keperluan lainnya. Jadi ingat pula ada kader yang makan sehari sekali itu sudah biasa. Atau kalaupun makan, lauk telur itu sangat mewah, karena sehari-hari hanya nasi dengan krupuk satu, atau gorengan seribu. Jadi teringat pula ada seorang adik angkatan yang beli makan sambil memakai SARUNG dan berSEPATU hanya karena tak punya sandal, agar tetap bisa makan. Jadi teringat pula bahwa SKI sedang butuh komputer, butuh printer, jadi ingat pula … Ah…sudahlah, ana yakin beliau orang yang bijak, termasuk dalam hal ini. Ah, aku jadi malu pada diri ku sendiri…..

Aku memang tidak mengajukan beasiswa, baik prestasi ataupun tak mampu. Bagiku, berdiri diatas keringat sendiri lebih mulia daripada mereka yang menurunkan status menjadi tak mampu untuk uang 1-3 juta persemesternya. Terlebih masih banyak yang lebih berhak atas beasiswa-beasiswa itu daripada saya.

Kini aku hanya bisa berharap, semoga mereka yang baru saja mendapat beasiswa mampu menggunakannya untuk KEBUTUHAN yang lebih bijak, dan bukan semata-mata KEINGINAN mereka. Bagi yang menerima beasiswa prestasi, semoga dengan beasiswa itu lebih meningkatlah prestasi mereka. Dan bagi beasiswa yang kurang mampu, semoga digunakan untuk mencukupi kebutuhan mereka. Sehingga tak lagi perlu kuliah sambil berpikir bahwa uang di tangan tinggal 5ribu sementara kiriman tak akan datang.

Semoga…..

Malang, 12 November 2008 ,

Pagi, sebelum berangkat bekerja