dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for October, 2008


Lemah….

Rabbi… ijinkan aku mengadu kepadaMu
Ampunilah hamba yang lemah dan lalai ini…
Aku pasrahkan semua urusan ini kepadaMu…
Berikan apa yang terbaik untuk ummat ini, lalu hamba….

Rabbi… sungguh hanya Engkaulah pemilik hati setiap makhlukmu….
Maka persatukan hati ini hanya kepada pejuang-pejuangMu
Kumpulkanlah kami semua dalam jalan dakwah dan jihad
dan BUKAN YANG LAIN….

Rabbi jangan biarkan hati ini bergetar dikala yang lain tegar
Jangan biarkan jiwa ini luruh ketika yang lain bergemuruh
Pertautkanlah jiwa ini dengan jiwa yang ikhlas mengharap ridhaMu,
Yang tak lelah menapaki jalanMu,
Yang tak berputus asa meski dunia tak ditangannya.

Sungguh Tiada daya upaya sedikitpun dari diri ini
Melainkan Engkau berkehendak atasnya
Rabbi, hamba pasrahkan semua urusan ini hanya kepadaMu
Hamba pasrahkan semua urusan ini hanya kepadaMu…

Rabbi beri ummat ini yang terbaik…
berikan dia yang terbaik…
berikan kami yang terbaik…
berikan hamba yang terbaik,

Jangan ijinkan air mata ini kan mengalir lagi…
Jangan biarkan kami terserak ketika yang lain bergerak
Rabbi, hamba serahkan urusan ini kepadaMu…
Berikan kami keputusan yang terbaik, dariMu…

dalam butiran bening dan bercahaya
Malang 29 Oktober 2008

Kembalikan Sahid Kepadaku!!! (bagian 3 - habis)

Kau, Kau, lalu AKU!!

***

Tertunduk aku di sebuah sudut senja yang manja, ada butir-butir sesak di dada, lalu benih-benih rindu yang kemudian menyeruak. Kerinduan tentang masa laluku, masa lalumu, masa lalu kita, dan masa-masa lalu siapapun.

Beberapa hari aku mengasingkan diri, dalam gua di rimba peradaban. Mencoba menggali-menggali dan terus menggali kembali harta karun yang telah sekian lama terkubur aktifitas luar biasa sibuknya. Hidup seolah sudah terasa layaknya mesin. Yang terus saja berputar meski tiada daya yang mendukungnya. Dan kini ia butuh sejenak berhenti.

Hingga sore itu pun aku terpaku, di sisi masjid megah namun lengang dari orang berjamaah. Ada suara-suara yang bergetar, ada suara-suara terisak. Desah nafas yang berat beserta wajah tertunduk. Mata sembab namun tiada sempat setetes pun tuk luruh turun basahi alur-alurnya.

Lalu tiba-tiba tangis itu pecah. Tak terdengar telinga manusia, namun hati siapapun yang peka, pastilah kan menutup telinga hatinya. Tak sekedar tangisan, namun juga jeritan, teriakan, layaknya yel-yel tanpa irama. Tanpa terasa, mata mulai lebih lembab dari biasanya. Nafas berat pun terulur naik. Ingin aku luapkan dalam denyut-denyut tangisan nyata, namun tak kunjung bisa. Entah kenapa, jiwa sedari tadi menangis, namun ada sebuah sekat membuntu antara jiwa dan air mata. Maka Sungguh, benteng kokoh itu kini telah tergetar.

Bukan karena musuh yang menyerang, namun karena aktifitasnya, karena suasananya yang memang tak lagi layak kita sebut sebagai benteng. Tak ada kenyamanan, tak ada keamanan, tak ada privacy.

Perenungan adalah sebuah telaga kekuatan bagi ku. Kekuatannya dahsyat bagai nuklir, karena memang itulah kekuatan inti bagi jiwaku. Ketika goyah, maka penjara pengasingan menjadi tempat perenungan yang mengasyikkan. Bukankah orang-orang besar dahulu melahirkan karya-karya besarnya dalam pengasingan?

Merenung.. Menangis..
Merenung.. Air Mata..
Isak tangis.. Merenung..

Bagai menyaksikan seluruh episode kehidupanku, kutatap lekat video dokumentasi itu. Tiba tiba aku seolah menemukan diriku kembali. dan tiba-tiba saja, layaknya kaset handycam yang jenuh merekam, semua-nya ter-reset ke titik nol.
Semangat itu kembali
Ruh itu Hidup Lagi..!!

***

Aku masih punya mimpi!
tentang negeri ini!
dan semesta
maka ijinkan AKU
HARI INI untuk KEMBALI!
untuk melanjutkan karya kita
MIPA,Indonesia,dan dunia!

***
Ada sebuah bingkai besar menunggu untuk kita lukisi dengan kuasan-kuasan pena kita. Untuk kita lukis dengan sejarah cerdas cerah nan bercahaya. Sejarah bernama peradaban madani.

Kita tak akan takut karena terik cahaya kan buat warnanya pudar, atau atap bocor rumah kita dikala hujan kan lunturkan warnanya. Karena kita melukisnya dengan warna-warni jiwa, yang tak kan lapuk dan tak kan lekang meski ribuan senjata terkokang mengacung kepadanya. Dengan tegar ia kan berkata! ”Aku hanya merindu Surga”.

Kami tahu bahwa kemarin telah tiada, bahwa masa tak bisa diputar sesuai kehendak kita. Hanya hari ini yang tersisa, untuk kita isi, gunakan, manfaatkan, lalu persiapkan untuk keesokan hari.

Dan biarkan arus masa yang deras menentukan dimana hilir kita. Akan kemana kita akan bermuara. aku hanya bisa mengayuh menyusuri aliran arus agar tak hempas karena batu, tak tumpah karena ceruk, ataupun tak berhenti karena telah sampai muara samudera

Ia tetap bergerak, meski yang lain diam. Dalam bentuk arus atau sekedar uap siklus, ia tetap bergerak. Adakalanya ketika cukup, jadilah riak itu menjadi gelombang. Gelombang yang menggerakkan, menggetarkan, dan menghempas kedzaliman.

Kini Ia Siap,

Saudaraku…
Maaf membuatmu menanti
Kini Aku Sudah Kembali…

Malang, 11 September 2008 – 05:34 pagi hari
Sahid REFURBISHED
seperti yang kau kenal dulu
Insya Allah..

Kembalikan Sahid kepadaku!! (bagian 2)

Ingatkah kau ketika jauh kau sebelum itu, kau tak lebih dari seorang pemuda lugu. Kau baik hati, tapi kau tak punya nyali. Ketika ditantang berkelahi, kau justru lebih banyak mundur. ”Saya tak mau kekerasan”, begitu caramu tutupi jiwamu yang pengecut kala itu.

Masa remaja-mu dahulu, Tanpa jiwa tanpa ruh kau bergerak. Seolah kau akan hidup selamanya, kau lupa pada akhiratmu, pada siapa penciptamu, pada siapa tuhanmu, ah bahkan kau pun mungkin lupa bahwa kelak kau akan mati? Kau boleh jadi pintar, cerdas, punya teman yang baik dan sholeh, tapi kau tak ubahnya seekor bebek. Ketika kau sendiri? Ah…

Dahulu ketika ibu-mu menyuruhmu untuk Sholat Fardhu, kau hanya berkata nanti-nanti, dan nanti. Tanpa ada sebait wujud nyata, dan tiba-tiba waktu itu sudah habis, dan tanpa penyesalan kau pun pergi bermain, sembunyi-sembunyi menghabiskan uang untuk Playstation. ke temanmu nonton VCD, atau entah kemana.

Hingga ingatkah kau ketika sebaris kalimat mendobrak benteng jahiliahmu? Membabat habis rasa malas-mu selama ini. Runtuh, jatuh, terbakar, dan berkobar. Lalu kau dapati kau kini ditengah reruntuhan.

Diantara puing-puing itu kau bertekad untuk berubah. Ya, itulah sebaris kalimat untukmu dari seseorang yang tak kau kenal. Dan itulah kunci titik balik kehidupanmu. Tiba-tiba kau menjadi sangat benci pada jahiliah. Tiba-tiba kau ingin untuk berubah. Tiba-tiba saja kau tinggalkan panggung teater masa lalumu, berpindah dari alam drama ke alam nyata. Lalu, inilah kau membangun istana diatas padang reruntuhan kejahiliahan.

Lalu di jenjang berikutnya kau pun memang benar-benar berubah. Kembalilah ia kepada fitrah yang bersih, yang suci, yang tenang. Kau tak lagi bergemuruh keruh, layaknya tsunami yang kau saksikan di Televisi.

Tak lama, datanglah tangan-tangan luar biasa itu menyentuhmu, membuat dirimu kian berarti. Dari seorang pemuda yang penakut, menjadi sosok pemberani. Dari seorang tak berkarakter kini mulai berbentuk, spesial. Maka menularlah ke-luar biasa-annya kepadamu.

Dan Umar baru itu pun lahir..
Sahabat, masih ingatkah kau?
Sahabat..??

***
Malang, 11 September 2008 - 00.57 pagi

Dulu kau tak lebih sebongkah batu tak berbentuk
Lalu datanglah tangan-tangan hidayah menyentuhmu
Mencetakmu  tuk jadikan pualam berkilau
Lalu datanglah tangan-tangan para arsitek dakwah
Menyusunmu tuk hiasi di dinding istana- nya
Tuk jadikan ia megah, bersama pualam di sekitarmu.

Lalu seiring jaman,angin, debu, dan badai
Secorak  pualam itu kini kusam berdebu
Ijinkanku, tuk kembalikan kemilaunya
Agar ia layak bersanding bersama kemilaumu
Hiasi istana dakwah kita bersama
Ijinkanku sejenak berhenti, bersihkan pualam itu