Kembalikan Sahid Kepadaku!!!
Normal
0
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}
Kembalikan
Sahid kepadaku!!
(bagian 1)
Masih
ingatkah kau sore itu, di depan staf-staf-mu, di hadapan kader-kader-mu, ada
sebuah senyum cerah. Kata-kata
yang menggugah, membuat siapapun mau tak mau harus membalasnya dengan ramah. Meski
terkadang suara kerasmu membuat sebagian orang takut, namun karena memang itulah
karaktermu. Kau keras, kau tegas, kau tak ingin lembek dalam kebenaran.
Ah, kemana
pula malam-malam itu? Malam-malam dimana kau bangun, di tengah dinginnya air
wudhu kau sapu mukamu. Sholat malam, meski terkadang hanya 2 rakaat dan satu
witir. Lalu kau sambung dengan tilawah, dengan belajar, dan terkadang pula
merenung. Lalu kau lanjutkan subuh berjamaah. Di saat jalan-jalan sunyi dari
manusia. Ah, masih ingatkah kau ketika di rumah nenekmu, kau berebut tempat
dengan paman-pamanmu agar bisa shalat malam? Atau ketika kau qiyamul lail
bersama ikhwan-ikhwan itu di tengah dinginnya malam pegunungan Batu?
Atau ketika
disela-sela menunggu kuliah, kau buka mushaf-mu. Meski selembar dua lembar,
sambil menunggu kau baca ayat demi ayat. Satu persatu. Terkadang kau juga
menghafal beberapa diantaranya.
Dulu kau
sangat suka membaca. Buku-buku menjadi makananmu. Setiap bulan kau sempatkan
untuk sekedar membeli buku, meski terkadang ia hanya menumpuk di sudut rumahmu.
Tak segan kau membaca, bahkan meminjamkannya meski kau tahu kemungkinan besar
buku itu tak kan kembali. Setidaknya ia bermanfaat bagi ia, begitu katamu. Ah
tak perlu kiranya ku ingatkan betapa kau suka ke perpustakaan. Kau betah
berjam-jam disana.
Kau pun
orang yang sangat up to date. Meski tak ada TV, namun radio, dan internet
benar-benar membuatmu tahu tentang berita terbaru. Koran-pun kau baca, majalah
kau pun beli. Detik.com, MyQuran, eramuslim, arrahmah, ah bukankah itu
situs-situs kesukaanmu? Bukan
Friendster dan Facebook.
Lalu di
majelis-majelis masjid, ada suara-suara tilawah, ceramah, meski kau sambil
terkantuk, atau tak konsentrasi karena sms-sms yang membanjir, atau bahkan
sedang teringat hal-hal kuliahmu yang tak teratur, namun setidaknya tubuh itu
hadir, datang, sambil sesekali melontarkan pertanyaan. Ada jiwa disana, ada
kekuatan disana, dan kau pun merasakan ukhuwah. Ah, perlukah aku ingatkan?
Betapa kau malam itu menyusuri jalan-jalan kampus yang gelap, terkadang
pikiran-pikiran konyol-mu melintas, ”Jangan-jangan nanti ketemu Hantu?”. Ah,
kau susuri jalan-jalan gelap itu, jalan kaki!! Ya, Jalan kaki!! Semata-mata
agar bisa ikut sebuah kajian.
Ah, kau saat itu
sangat aktif tuk meng-upgrade dirimu.
Sahabat, mungkin
kau masih ingat, ketika di tengah perjalanan bersama, aksi-aksi dijalan raya.
Atau sekedar diskusi-diskusi panas di rapat-rapat eksekutif, ketika kau
dihujat, didzalimi, hingga menangis, namun kau tetap mendoakan , ”Semoga Allah
membuka pintu hati mereka”. Disitu kau tetap ada, tetap berkarya, tetap tegak
tuk mengubah mudharat menjadi manfaat, tuk mengubah maksiat menjadi syariat,
dan kau pun tetap ada disana, meski beberapa saudaramu memandangmu sinis ”untuk
apa kau terjun di Sistem Politik itu?”. Ah perlukah aku ingatkan betapa kau
suka ikut dalam aksi-aksi itu? Bersama sebuah partai dakwah kau melenggang ke
gedung dewan. Kau berbaris bersama orang-orang yang memegang bendera
kebanggaan, sambil menyenandungkan nasyid-nasyid perjuangan. Sambil sesekali
kau pun teriak, ”Allahu Akbar!!”, dan aku suka wajahmu waktu itu. Meski wajah
letih, meski wajah penuh keringat, namun ada semangat cerah disana.
Atau bahkan ketika
sebagian saudaramu, rekan dakwahmu, tiba tiba berbalik arah membelakangimu. Mereka yang dulu melangkah bersama, kemudian
berbalik menghambat langkah kita. Kau tetap lantang, kau tetap Tegar, kau tetap
mampu berkata, ”Haadza Sabiluna”. ”Ini jalan kami!”, dan kau pun ber-azzam akan menjalaninya meski sendiri,
meski sepi. Ah perlukah aku ingatkan betapa kuat azzam-mu waktu itu? Betapa
geram-nya kau waktu saudaramu menyampaikan fitnah-fitnahnya tentang gerakan-mu?
Ketika
syuro-syuro terkadang kau hadir lebih dulu. Karena kau tak ingin mendzalimi
saudaramu, begitu katamu. Di syuro pun kau sangat aktif, bahkan terkadang
terlalu aktif hingga mas’ul pun perlu menegurmu. Satu syuro, dua syuro, tiga, atau berapa pun
kau tetap semangat. Tak peduli di dini hari yang cerah, atau berawan, disaat
mahasiswa-mahasiswa lain tengah memilih menarik kembali selimutnya, kau
berjalan ke kampus lebih pagi dari seorang tukang parkir. Atau terkadang kau datang
malam-malam dengan kantuk, bahkan tertidur diantara ikhwan-ikhwan yang –entah-
seolah tak punya kantuk. Demi untuk
ummat, begitu katamu. Maka kau pun hadir, dan aktif.
Malam-malam jam
11 malam kau memasang pamflet untuk agenda ummat. Bahkan hingga jam 2 pagi kau
tetap memaksakan diri tuk pasang spanduk. Kau waktu itu begitu semangat, tak
ingin pulang hingga semua selesai, atau pulang bersama-sama.
Masih ingatkah
kau, ketika hingga tengah malam, kau dan ikhwan-ikhwan itu sibuk memasang rafia
untuk sholat Idul Adha esok hari. Dan waktu itu meski wajah-wajah lelah tampak
sangat, kau pun tetap memaksakan diri. Ah ingatkah kau momen-momen itu? Tak ada
kopi hangat, sekedar sebungkus gorengan pun andai kata tak ada, kau takkan
mengeluh.
Atau ketika sore
itu kau membonceng ustadz favoritmu, menuju sebuah perkampungan di bukit Malang
Selatan. Kau tak berhenti sekali-pun di dua jam perjalanan dengan motormu –
yang tak bisa cepat-. Hujan lebat pun tak kau pedulikan, asal ustadz sampai
ditempat di waktu yang tepat. Dan itu-lah kau, membonceng ustadz-mu, menembus
hujan lebat, dan tanpa jas hujan!! Atau ketika malam itu pula, kau harus
mengantar ustadz untuk pulang, jam 10 malam. Jam dimana warga lokal pun
khawatir keluar karena ada begal. Ah, lupakah kau ketika Ustadz memberimu
tausyiah tentang perjuangan ikhwah Aceh? Lalu kau pun tiba-tiba begitu
semangat, begitu tawakkal, meski pada akhirnya kau pun –lagi-lagi- basah kuyup kehujanan.
Ah, Sahabat,
tahukah kau? Aku benar-benar rindu padamu…
Aku Rindu pada
Sahid yang sebenarnya..
Aku Rindu pada
Sahid yang dulu..
Kembalikan
Sahid-ku…!! Kepada-ku…!! Sekarang!!
Malang, Ramadhan
2008
ketika Sahid masih di repair