Sahid Nikah…!!
Sahid Nikah…
“Ha..?? kabar darimana itu?” Aku terkejut ketika di sela-sela KKN ditelepon oleh seorang sahabat kemudian ditanya, “Hid, katanya kamu dah nikah ya?”
"Walah mas, kabar apa lagi ini? ana lho lagi KKN", jawabku/.
"dari akh ini", sahabat ini menyebut sebuah nama.
Wallahu’alam saya tak tahu darimana kabar tersebut berasal, namun begitu saya “turun gunung” dari rimba KKN, segera kabar tersebut saya telusuri. Alhamdulillah, sanad dari kabar tersebut sudah kemudian terdeteksi dan tertabayunkan segera. Ikhwan yang menyebarkan itu pun meminta maaf kepada saya.
Namun tetap saja tak urung, setiap bertemu dengan ikhwan-ikhwan itu, pertanyaan yang ditujukan kepadaku selalu saja tak lepas dari topik nikah. Bahkan ketika saya bertanya-tanya tentang kontrakan sekalipun (sahid memang sedang mencari kontrakan) pun dikaitkan dengan nikah pula, bahkan oleh seorang akhwat sekelas, malah langsung tunjuk, “sama itu ya?”. Wallahu’alam, memang karena selama 2 bulan terakhir memang saya broadcast kemana-mana tentang kontrakan, dan meminta tolong ke orang-orang yang saya pikir “tahu”. Dan orang yang ditunjuk sama ukhti tadi pun juga saya mintai tolong. Sama siapapun, saya sering minta, carikan kontrakan, termasuk kepada tukang jual lalapan, dan tukang sate ayam Ponorogo bahkan.
Terlebih, dengan ikhwan-ikhwan seperjuangan yang seamanah, atau pernah se-amanah, Ketika bertemu, ketika ngobrol, ketika apapun, asalkan beberapa lama tak ketemu, pertanyaannya “Antum mau nikah ya akh?”. Aku biasanya hanya menanggapinya dengan bercanda, “Lah mang antum gak mau?”. Sambil biasanya saya sambung, “Antum itu jangan ngomong thok, akh, yang konkrit gitu lho!!”. Dan kami pun tertawa bersama. Sudah beres, begitu pikirku.
Atau ketika saya mulai banyak bergaul dengan dunia sastra, mulai berbicara dengan memperbanyak rima, dan tata bahasa. Ada seorang ikhwan yang “nyeletuk” di milis, “Waduh mas sahid jadi pujangga, kayak orang lagi jatuh cinta saja”. Wallahu’alam, padahal puitis tidaknya saya, sebenarnya tidak terikat oleh hal ini. Dari dulu pun saya sudah suka dengan sastra. Puisi ataupun novel karya sastra lama. Meski tak dalam, namun setidaknya saya suka dengan sastra. Dan puncaknya ketika ada sebuah acara Ngopi Bareng TI (Taufik Ismail), mulailah bagian sastra saya tumbuh. Sehingga tak jarang mulai banyak berpuisi, meski kebanyakan memang hanya untuk konsumsi sendiri
Kata sahabat ana, “Hati-hati antum akh, banyak fitnah di masa-masa seperti ini”.
Dan memang ana rasakan ada banyak pandangan-pandangan dan kabar-kabar negatif di masa-masa seperti ini. Wallahu’alam. Apalagi ana terkenal punya track record yang dikatakan banyak masalah dalam hal ini. Dulu ketika di tahun kedua kuliah pun, ana sering disidang oleh MR terkait banyak isu yang beredar antara ana dan seorang akhwat. Padahal waktu itu memang urusan kuliah dengan kami banyak terjadi, karena memang satu kelompok dalam kuliah bersama dengan teman-teman lainnya. Belakangan pun terdeteksi lagi beberapa kabar, hingga diinterogasi oleh sahabat sendiri bahkan. Padahal hanya masalah HP.
Wallahu’alam… Ah Sahid memang bermasalah…
***
Seandainya pertanyaan-pertanyaan ini hanya beredar di satu fakultas pun saya tak masalah. Mengingat pernah saya menyampaikan dalam sebuah forum di sela-sela PILAR 2 Batu, tentang rencana saya yang memang berencana nikah semasa masih kuliah, Kurang lebih yaaa antara semester 3 hingga semester 7 (artinya semester ini terakhir), begitu saya memberi rentang waktu itu. Namun masalahnya adalah ikhwan-ikhwan fakultas lain, tak peduli teknik, atau bahkan fakultas ekonomi entah darimana juga tahu. Saya pun heran, selama dia orang yang kenal cukup dekat dengan saya, pertanyaannya mang berputar di masalah ini “Katanya mau nikah Hid?”. Terlebih di kawan-kawan satu halaqah, mengingat pernah dalam suatu forum, kami bergiliran ditanya oleh MR, “kapan antum mau nikah?”, dan ketika jawaban-jawaban akhi-akhi yang lain kebanyakan “setelah umur 24”, atau “ketika sudah lulus”, dan hal-hal semacamnya, jawaban ana yang paling berbeda, “ketika ana sudah ‘turun’ dari ketua umum Forkalam akh”. Dan ketika sekarang saya sudah benar-benar turun dari jabatan tersebut (Alhamdulillah), saya pun tak urung ditagih. Malah ada seorang akhi yang sudah pesan, “Akh, ana jadi kapelnya saja”. Gubraks!!!
Tapi ada suatu kejadian, yang ini lebih hebat lagi menurut saya. Jika ikhwan-ikhwan yang bertanya “katanya antum mau nikah ya?” bagi saya itu sudah biasa. Namun beberapa waktu yang lalu, saya sempat chat dengan salah seorang teman lama yang jarang kontak. Dia perempuan biasa, bukan seseorang yang biasa disebut “akhwat” karena seingatku-pun beliau belum menutup hijabnya dengan jilbab.
Beliau teman saya dulu seperjuangan di BEM MIPA selama periode 2005-2006. Dalam beberapa kepanitiaan ketika saya menjadi co.pubdekdok, biasanya beliau menjadi co yang lain. Dan memang selama satu tahun belakangan, semenjak BEM dipegang oleh presiden yang tak lagi amanah (maaf), dan semenjak saya di tunjuk oleh teman-teman untuk menerima amanah sebagai ketua umum Forkalam, kami pun jarang bertemu. Namun sungguh mengejutkan bagi saya ketika suatu saat, kebetulan saya Onlinde, dan beliau pun kemudian juga Online beliau bertanya, “Hid, katanya kamu mau nikah ya?”.
Allahu Akbar!!! saya pun heran sendiri, darimana kabar tentang ini begitu tersebar cepat.
***
Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan saja beberapa hal. Sebelumnya ijinkan saya untuk sedikit bertutur. Ada banyak orang yang tertarik dengan orang lain. Istilahkan – jatuh cinta- atau semacamnya. Teman-teman saya di kelas ilkomp pun saya yakin juga ada perasaan seperti itu. Tak usahlah sampai ke mahasiswa, karena ketika saya KKN di Ngaglik Blitar beberapa waktu lalu –pun, beberapa anak SD pembicaraannya sudah ke arah ini.
Namun masalahnya, tak banyak yang kemudian memaknai cinta-nya dengan benar. Ada seseorang yang jatuh cinta, kemudian malah berlanjut untuk ke arah pacaran, bukan pernikahan seperti yang diajarkan oleh Islam. Kalau kata ikhwan se-kontrakan saya, kalau pacaran itu gak ada bangga-bangganya blas mas, anak kecil, anak SD saja lho juga bisa. Dan saya memang setuju dengan ikhwan tersebut, bahwa jika memang kau mengaku cinta pada seseorang, maka kau harus berani menikahinya.
Maka ijinkan saya agak berkata keras, bahwa saya akan berkata PENGECUT BESAR, kepada orang-orang yang berkata “aku jatuh cinta”, atau “i love you” atau kata-kata sejenis, namun ketika diminta menikahi, sejuta alasan ia beri. Allahu Akbar!! Berani berbuat, berani berkata, harus berani pula bertanggung jawab. Maka PENGECUT BESAR dengan hormat akan saya sematkan kepada orang-orang yang mengaku kagum, mengaku cinta, mengaku suka, namun tidak mau menikahi dengan sejuta alasan.
Tentang ini, saya sampai sekarang pun salut dengan sahabat sekelas saya di ilkomp. Meski saya tak sedikitpun salut dengan pacaran diawalnya, namun setidaknya keberanian beliau menikahi, membuat saya mau tak mau mengacungkan jempol –salut-.
Ketika diberitahu seorang sahabat, bahwa Sahid itu banyak yang nge-fans, dengan tegas saya katakan kepada beliau. Saya tidak butuh Fans. Fans cenderung parsial, menyukai seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak diluarnya, kelebihannya, dan bias saya istilahkan fans adalah orang yang ter-fanatik-kan. Bukan atas dasar pemahaman, dan penerimaan kelebihan dan kekurangan. Jadi kepada sahabat tersebut saya katakan, “saya tak butuh fans, tapi saya butuh istri”. Kurang lebih seperti itu.
Namun by the way, Memangnya Sahid sudah siap nikah? Hemm… gimana ya… Wallahu’alam, yang jelas orang tua sudah ACC untuk menikah waktu kuliah. Dan ini sudah menjadi urusan antara saya dengan MR saya sekarang.
Jadi jangan tanyakan kepada saya dengan siapa. Karena toh jodoh itu adalah hal yang ghoib bukan? Dan saatnya bagi saya dan Anda semua untuk tawakkal. Tentang ini jadi teringat ust anis matta, “kita tak butuh pasangan yang terbaik, tapi kita butuh pasangan yang tepat.” Duh kok jadi ngelantur ke mana-mana, intinya jangan Tanya saya “nikah ma siapa Hid?”, karena ya sekali lagi saya bilang, masih misteri, ghaib. Bisa jadi dengan seseorang un jauh di palestina sana, atau ternyata malah pembaca?
Tapi ketika sampai pada level seperti hal kabar-kabar diatas, dimana desas-desus “Sahid nikah” sudah tersebar begitu luas, justru itu hal yang tidak saya suka. Saya tidak suka dibesar-besarkan karena toh tubuh saya sendiri pun sudah besar
.Jadi afwan, bagi siapapun antum yang masih membicarakan hal-hal seperti diatas kepada temannya –tentang sahid mau nikah dll-, maka saya katakan, SAYA TIDAK SUKA. Sudahlah sahabatku, jangan dibesar-besarkan. Toh ini adalah perkara ghaib, kita hanya bisa berikhtiar. Selebihnya, serahkan semua urusan kita kepada Allah.
Jadi jika sampai ada dari pembaca yang setelah membaca ini kemudian bercerita kepada teman/saudaranya tentang hal diatas, maka saya katakan, hati-hati lho, bahwa Anda –afwan- bisa jadi telah ber-GHIBAH. Ntar saja jika mang jadi nikah, baru tolong disebarluaskan. Tapi jika dalam proses –yang kata MR ana sangat amniyah- seperti ini, maka sekali lagi saya tak suka. So… buat kamu-kamu yang telah menjadi penyebar desas-desus, saya sudah mengatakan Anda untuk berhenti!!!
Daripada sibuk ngobrol sana sini tentang sahid nikah, sahid nikah, maka lebih baik, Persiapkanlah diri antum sendiri, so lebih aman dari ghibah. Semoga Antum diberi yang terbaik oleh Allah.
Amin…
Ohya, ngomong-ngomong,
Jika mungkin pembaca bertanya, kok tumben sahid nulis beginian, ada apa mang?
Yang jelas sih, saya hanya ingin agar kabar-kabar tak sedap (nggak pakai bumbu kaldu Royco sih) segera berhenti dimulai dari Anda para pembaca.
Selebihnya? Waduh saya pun juga bingung. Bahkan saya juga ingin ngomong ke Sahid,
“Ah sudahlah hid, postingan gak jelas gini kamu tulis, ngabis-ngabisin bandwith Brawijaya tuh!!”, begitu komentarku tentang tulisan yang barusan anda baca ini. Aneh juga ya, Anda kok ya mau-maunya membaca dari awal sampai akhir.
Bahkan saya pun yakin bahwa Anda yang kenal dengan saya, 90% ingin untuk sekedar menulis komentar tentang tulisan saya diatas.
Ah, tulisan gak jelas, maka komentar yang tak jelas pun tak masalah, apalagi oleh orang yang tak jelas pula
Selamat ber-tidak jelas-ria… karena saya juga bingung mau njawab apa…
Dalam ketidak jelasan…..
Kota Tidak jelas, tanggal tidak Jelas 2008
August 26th, 2008 at 4:15 pm
Assalamu’alaykum Wr.Wb.
Bismillahi walhamdulillah
Akhi…
Menghadapi isu/desas-desus itu adalah seni tersendiri.
seni untuk meluruskannya
Seni untuk mengendalikanya
seni untuk bertabayyun
seni untuk bersikap bijak pada setiap hal yang kita dengar
seni untuk menahannya
seni untuk memperbaiki diri
seni untuk berhati-hati dalam setiap aktifitas
seni untuk selalu berusaha memaknai setiap detik kita
seni untuk muhasabah diri
seni untuk merangkul orang lain agar selalu berbuat baik
Di balik semua yang terjadi, pasti ada banyak sekali hikmahanya, coba anta analisis dan anta cari (dengan memohon kepada Allah).
dan Subhanallah, hanya Allah-lah satu-satunya sandaran, tidak ada yang lain.
Dia tidak butuh sandaran.
Ayo, kita sama-sama berikhtiar, agar hati ini sedekat mungkin dengan Allah, tanpa ada alasan ini itu.
Jagalah Allah, Allah pasti menjagamu.
Jagalah hukum2Nya, aturan2Nya, syariatNya, perintah2Nya, niscaya Allah akan menjaga diri kita, jiwa kita, hati kita, seluruh badan kita, masa depan kita, finansial kita, dan menjaga apapun karunia yang Allah berikan kepada kita.
Semoga Allah selalu menjaga anta.
Allahu yusyfik….
Wallahu a’lam…
Wassalamu’alaykum Wr.Wb
Akhukum fillah,
Mahatir
Tambahan: Mungkin sahabat anta tu bukan mengintograsi, tapi dia mo bertabayyun, dia tidak ingin kejelekan terjadi pada anta, orang2 di sekitar anta, dan dirinya sendiri.
Bukankah yang namanya sahabat itu juga menginginkan kebaikan bagi sahabatnya tersebut?
August 26th, 2008 at 8:53 pm
ya tabayyun…, ana juga tahu kok.
mang bahasa-bahasa ana kan bahasa militer/intelijen akh, jadi pakai kata “interogasi” gitu hehehe…
btw syukran tausyiahnya…
mohon diluruskan jika ada yang bengkok
mohon disambungkan jika ada yang terputus…
–sahid recharging–