Rejeki Mereka dan Rejeki Kita
Sudah 3 bulan terakhir ini -setidaknya- pembicaraan di sekitarku mulai mengalami evolusi. Mulai banyak beredar pembicaraan tentang nikah, tentang pasangan, tentang jodoh, dll. Wallahu’alam, mungkin karena sedang musim orang nikah (emang mangga? Kok ada musimnya). Di rumah pun, Undangan walimah seolah mengalir tiada henti. Bacaan-bacaan pun lambat laun, mengalami intervensi. Buku-buku Fauzil Adhim dan Salim A Fillah mulai bercampur dengan buku-buku kuliah. Entah ada dari mana saja buku-buku itu muncul. Demikian pula ketika bertemu dengan orang-orang tertentu. Tak peduli seorang bapak-bapak, atau sopir travel yang baru kenal sekalipun, topiknya nikah terus.
Tak terkecuali ketika membuka blog seorang sahabat. Disana aku menemukan sebuah tulisan tentang Nikah Dini. Tulisannya sebenarnya tak jauh berbeda dengan tulisan-tulisan tentang nikah dini pada umumnya, tentang nikah dini itu lebih baik daripada pacaran tanpa status, dst. Namun yang menarik bagi saya adalah komentar-komentar miring tentang artikel tersebut. Kebanyakan masih mempermasalahkan mengenai rejeki, mensyaratkan kemapanan, dan hal-hal lain terkait materi. Intinya “Mapanlah dulu, pekerjaan tetap, kondisi enak, baru menikah”. Kurang lebih begitu. Sempat terbersit sebuah dzon, komentar-komentar ini hanya untuk “membenarkan” tindakan orang-orang yang pacaran dan anti pernikahan dini. Wallahu’alam, Allah Maha mengetahui segala isi hati. Segera kuhapus dzon-dzon tersebut. Aku pun hanya tersenyum terhadap komentar-komentar tersebut. Wajar, pikirku. Aku pun dulu -sebelum mengenal Islam- juga akan berkata seperti itu. Ya, setidaknya, aku pernah mengalami pemikiran-pemikiran seperti itu ketika masih SMA dulu.
Mau tak mau, komentar-komentar tersebut, me-refresh kembali ingatanku waktu bertemu dengan seseorang. Sebut saja pak Toriq namanya. Malam itu, aku berkunjung ke rumahnya dengan maksud untuk mengembalikan pinjaman yang aku pakai untuk membeli laptop. Tanpa menghitung kembali uangnya, ia menerima saja.
“Gimana Sahid, kapan nyusul Adib?”, pertanyaan itu mulai membuka topik baru. Lagi-lagi nikah…. ya, Nikah. Maklum putranya, -Adib- sahabat dekatku, sudah menikah sekitar 2 bulan sebelumnya. Dan tanpa terasa, memang aku pun semakin termotivasi dengan beliau yang mendahuluiku. Terlebih di kelasku sendiri setidaknya sudah ada 5 orang yang sampai sekarang sudah menikah. tiga laki-laki dan dua perempuan.
“Segera pak, insya Allah mau proses”, begitu ujarku.
Beliau pun berbicara tentang beberapa hal terkait pernikahan, mulai jangan khawatir calon karena dia pun bersedia mencarikan, hingga tentang penyelenggaraan walimah. Subhanallah, masih ada orang seperti beliau. Tidak ada hubungan darah antara aku dan pak Toriq, namun beliau sangat baik kepada saya. Belumlah usai urusan pinjam meminjam uang untuk laptop, yang sudah tanpa surat perjanjian, ketika dikembalikan tak dihitung pula, kini sudah diniatkan membantu saya untuk menikah. Subhanallah, Jazakallah Pak Toriq.
Beliau pun menyampaikan juga tentang rejeki, tentang bagaimana matematika menghidupi keluarga. Pada mulanya biasa, karena saya sudah sering diberitahu hal-hal seperti itu. Hingga beliau mengutarakan sesuatu prinsip yang menarik perhatianku.
“Kalau saya itu Hid, Prinsip saya itu begini Hid, “ ujarnya memulai pembicaraan. Aku hanya diam menunggu beliau berbicara.
“Kalau saya punya 4 orang tanggungan, maka saya tak perlu khawatir tentang rejeki mereka, karena toh rejeki-nya 4 orang ini, akan lewat saya”.
Aku yang sebelumnya biasa saja, kini mulai tertarik.Mimik serius pun aku pasang.
Beliau melanjutkan, “Kan setiap orang sudah punya jatah rejekinya masing-masing Hid?”, aku mengangguk mengiyakan,
“Nah semisal saya punya tanggungan, 1 istri dan 3 orang anak, maka rejeki-nya ke-empat orang itu sebelum sampai ke masing-masing, maka lewatnya, ya lewat saya dulu. Jadi jangan khawatir kalau masalah rejeki”. Beliau menutup statement-nya.
Anda masih bingung atau sudah terkesan? Jika Anda adalah seorang pemimpin keluarga, maka yang namanya rejeki-nya istri dan anak-anak Anda, lewatnya ya melalui Anda. Istilahkan, Anda-lah pintu gerbang dari rejeki mereka.
Jujur saat itu saya terkesan dengan cara pandang tentang rezeki yang seperti ini. Saya pernah mendengar hal ini, namun entah dimana dan kapan, saya sudah benar-benar lupa. Dan ketika momen-momen pra-nikah dimana keraguan tentang rejeki terkadang muncul, sungguh apa yang beliau katakan, tak sekedar mengingatkan, namun juga benar-benar menguatkan saya.
Konsep tentang rejeki yang biasanya saya dapatkan dari buku-buku, adalah dari surat An Nur 32 “… jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya…”. Jika yang ini, sudah banyak pengalamannya. Tak perlu jauh-jauh, keluarga saya sendiri pun sudah merasakan hal ini. Secara matematis biasa, bagaimana mungkin seorang Ayah dengan gaji bersih yang tinggal 100ribu, bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 2 orang putra, dengan saya yang masih kuliah dan Ibu yang terkena stroke?
Atau ketika Idul Adha tahun lalu, di sela-sela acara qurban dan bakti sosial, ada seorang pemuda yang bolehlah kita katakan, hidupnya tak kenal agama, maklum dari kampung yang dikenal banyak premannya, penampilan pun layaknya kebanyakan anak jalanan. Hanya yang membedakan dengan anak jalanan lainnya, beliau sudah menikah. Beliau curhat pada sahabat saya, yang memang teman lama di kampung-nya, Di sela-sela curhat tersebut “Lah iya tir, ndhisik pas sik durung rabi, nek gak nduwe dhuwit, yo gak nduwe dhuwit tenan, tapi saiki mari wis rabi, enek ae rejeki ne.”
(lah iya tir, dulu ketika masih belum nikah, kalau nggak punya uang, ya nggak punya uang beneran. Tapi sekarang setelah menikah, ada aja rejekinya.)”
Teringat saya tentang cerita sahabat, ada sebuah keluarga di Malang, ia memelihara anak-anak yatim di rumahnya. Semacam panti asuhan, tapi ini bukan yayasan, hanya keluarga saja. Hidupnya sederhana, pas-pasan bahkan. Secara logika matematis biasa, tak mungkin rasanya keluarga tersebut dengan penghasilannya sehari-hari akan bisa memenuhi kebutuhan anak-anak yatim tersebut. Tak hanya makan, namun juga termasuk biaya sekolahnya. Tapi nyatanya? Jangankan makan, anak-anak yatim itu sekolah semua, SPP-nya pun tak masalah. Subhanallah…
Saya rasa tak perlulah, saya ceritakan semuanya disini. Orang tua Anda pun bisa jadi sudah banyak pengalamannya. Dan agaknya benar juga apa kata orang-orang tua kita dulu, “banyak anak, banyak pula rejekinya,”, karena sekali lagi jangan khawatir, jika kita yang menanggung mereka, insya Allah rejeki mereka akan lewat melalui kita.
Jadi jangan percaya sama orang-orang KB yang menyarankan agar membatasi anak anda hanya 2 orang, karena selain itu program orang-orang Yahudi agar jumlah muslim tak berkembang pesat, toh juga menyalahi sunnah dan anjuran Rasulullah untuk memperbanyak anak. Mengatur jarak kelahiran boleh-boleh saja, tapi jangan batasi jumlahnya hanya dua. Maka, semakin banyak Anda punya putra, maka semakin banyak pulalah calon-calon mujahid yang kelak memperbaiki negeri kita. Insya Allah.
Ah, pantas saja Ayah tak mensyaratkan saya sudah bekerja ketika saya meminta ijin untuk menikah. “Sudahlah, kalau masalah rejeki, Tegar jangan khawatir, yang penting bisa mengatur waktu antara rumah tangga dan kuliah.”
Dan memang kita tak perlu khawatir masalah rejeki, karena bukankah Allah sudah menjamin semuanya?Tinggal sekarang, saatnya kita jujur, apakah kita mau mempercayainya, atau berkelit dengan sejuta alasan?
Wallahu’alam, saya serahkan kepada Anda…
Malang, 28 Agustus 2008
August 28th, 2008 at 5:34 am
dasar…..menggunakan nama orang sembarangan. tapi insyaAllah emang bener kok kalau setelah nikah ada aja rejeki. pas butuh biaya…eh pas ada proyek. semoga aja usaha kita tambah lancar. Amiiiin.
o iya, semenjak namaku terlalu sering dikutip di internet, radio dan televisi. mulai sekarang nama adib dan keluarga adalah copyrighted material.
August 30th, 2008 at 8:13 am
copyrighted material?
ah sayangnya saya adalah orang copylefted… :p
apalagi salah sendiri belum didaftarin hak ciptanya… yee….