dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for August, 2008


Rejeki Mereka dan Rejeki Kita

Sudah 3 bulan terakhir ini -setidaknya- pembicaraan di sekitarku mulai mengalami evolusi. Mulai banyak beredar pembicaraan tentang nikah, tentang pasangan, tentang jodoh, dll. Wallahu’alam,  mungkin karena sedang musim orang nikah (emang mangga? Kok ada musimnya). Di rumah pun, Undangan walimah seolah mengalir tiada henti. Bacaan-bacaan pun lambat laun, mengalami intervensi. Buku-buku Fauzil Adhim dan Salim A Fillah mulai bercampur dengan buku-buku kuliah. Entah ada dari mana saja buku-buku itu muncul. Demikian pula ketika bertemu dengan orang-orang tertentu. Tak peduli seorang bapak-bapak, atau sopir travel yang baru kenal sekalipun, topiknya nikah terus.

Tak terkecuali ketika membuka blog seorang sahabat. Disana aku menemukan sebuah tulisan tentang Nikah Dini. Tulisannya sebenarnya tak jauh berbeda dengan tulisan-tulisan tentang nikah dini pada umumnya, tentang nikah dini itu lebih baik daripada pacaran tanpa status, dst. Namun yang menarik bagi saya adalah komentar-komentar miring tentang artikel tersebut. Kebanyakan masih mempermasalahkan mengenai rejeki, mensyaratkan kemapanan, dan hal-hal lain terkait materi. Intinya “Mapanlah dulu, pekerjaan tetap, kondisi enak, baru menikah”. Kurang lebih begitu.  Sempat terbersit sebuah dzon, komentar-komentar ini hanya untuk “membenarkan” tindakan orang-orang yang pacaran dan anti pernikahan dini. Wallahu’alam, Allah Maha mengetahui segala isi hati. Segera kuhapus dzon-dzon tersebut. Aku pun hanya tersenyum terhadap komentar-komentar tersebut. Wajar, pikirku. Aku pun dulu -sebelum mengenal Islam- juga akan berkata seperti itu. Ya, setidaknya, aku pernah mengalami pemikiran-pemikiran seperti itu ketika masih SMA dulu.

Mau tak mau, komentar-komentar tersebut, me-refresh kembali ingatanku waktu bertemu dengan seseorang. Sebut saja pak Toriq namanya. Malam itu, aku berkunjung ke rumahnya dengan maksud untuk mengembalikan pinjaman yang aku pakai untuk membeli laptop. Tanpa menghitung kembali uangnya, ia menerima saja.

“Gimana Sahid, kapan nyusul Adib?”, pertanyaan itu mulai membuka topik baru. Lagi-lagi nikah…. ya, Nikah. Maklum putranya, -Adib- sahabat dekatku, sudah menikah sekitar 2 bulan sebelumnya. Dan tanpa terasa, memang aku pun semakin termotivasi dengan beliau yang mendahuluiku. Terlebih di kelasku sendiri setidaknya sudah ada 5 orang yang sampai sekarang sudah menikah. tiga laki-laki dan dua perempuan.

“Segera pak, insya Allah mau proses”, begitu ujarku.

Beliau pun berbicara tentang beberapa hal terkait pernikahan, mulai jangan khawatir calon karena dia pun bersedia mencarikan, hingga tentang penyelenggaraan walimah. Subhanallah, masih ada orang seperti beliau. Tidak ada hubungan darah antara aku dan pak Toriq, namun beliau sangat baik kepada saya. Belumlah usai urusan pinjam meminjam uang untuk laptop, yang sudah tanpa surat perjanjian, ketika dikembalikan tak dihitung pula,  kini sudah diniatkan membantu saya untuk menikah. Subhanallah, Jazakallah Pak Toriq.

Beliau pun menyampaikan juga tentang rejeki, tentang bagaimana matematika menghidupi keluarga. Pada mulanya biasa, karena saya sudah sering diberitahu hal-hal seperti itu. Hingga beliau mengutarakan sesuatu prinsip yang menarik perhatianku.
“Kalau saya itu Hid, Prinsip saya itu begini Hid, “ ujarnya memulai pembicaraan. Aku hanya diam menunggu beliau berbicara.

“Kalau saya punya 4 orang tanggungan, maka saya tak perlu khawatir tentang rejeki mereka, karena toh rejeki-nya 4 orang ini, akan lewat saya”.
Aku yang sebelumnya biasa saja, kini mulai tertarik.Mimik serius pun aku pasang.

Beliau melanjutkan, “Kan setiap orang sudah punya jatah rejekinya masing-masing Hid?”, aku mengangguk mengiyakan,

“Nah semisal saya punya tanggungan, 1 istri dan 3 orang anak, maka rejeki-nya ke-empat orang itu sebelum sampai ke masing-masing, maka lewatnya, ya lewat saya dulu. Jadi jangan khawatir kalau masalah rejeki”. Beliau menutup statement-nya.

Anda masih bingung atau sudah terkesan? Jika Anda adalah seorang pemimpin keluarga, maka yang namanya rejeki-nya istri dan anak-anak Anda, lewatnya ya melalui Anda. Istilahkan, Anda-lah pintu gerbang dari rejeki mereka.

Jujur saat itu saya terkesan dengan cara pandang tentang rezeki yang seperti ini. Saya pernah mendengar hal ini, namun entah dimana dan kapan, saya sudah benar-benar lupa. Dan ketika momen-momen  pra-nikah dimana keraguan tentang rejeki terkadang muncul, sungguh apa yang beliau katakan, tak sekedar mengingatkan, namun juga benar-benar menguatkan saya.

Konsep tentang rejeki yang biasanya saya dapatkan dari buku-buku, adalah dari surat An Nur 32 “… jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya…”. Jika yang ini, sudah banyak pengalamannya. Tak perlu jauh-jauh, keluarga saya sendiri pun sudah merasakan hal ini. Secara matematis biasa, bagaimana mungkin seorang Ayah dengan gaji bersih yang tinggal 100ribu, bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 2 orang putra, dengan saya yang masih kuliah dan Ibu yang terkena stroke?

Atau ketika Idul Adha tahun lalu, di sela-sela acara qurban dan bakti sosial, ada seorang pemuda yang bolehlah kita katakan, hidupnya tak kenal agama, maklum dari kampung yang dikenal banyak premannya, penampilan pun layaknya kebanyakan anak jalanan. Hanya yang membedakan dengan anak jalanan lainnya, beliau sudah menikah. Beliau curhat pada sahabat saya, yang memang teman lama di kampung-nya, Di sela-sela curhat tersebut “Lah iya tir, ndhisik pas sik durung rabi, nek gak nduwe dhuwit, yo gak nduwe dhuwit tenan, tapi saiki mari wis rabi, enek ae rejeki ne.
(lah iya tir, dulu ketika masih belum nikah, kalau nggak punya uang, ya nggak punya uang beneran. Tapi sekarang setelah menikah, ada aja rejekinya.)”

Teringat saya tentang cerita sahabat, ada sebuah keluarga di Malang, ia memelihara anak-anak yatim di rumahnya. Semacam panti asuhan, tapi ini bukan yayasan, hanya keluarga saja. Hidupnya sederhana, pas-pasan bahkan. Secara logika matematis biasa, tak mungkin rasanya keluarga tersebut dengan penghasilannya sehari-hari akan bisa memenuhi kebutuhan anak-anak yatim tersebut. Tak hanya makan, namun juga termasuk biaya sekolahnya. Tapi nyatanya? Jangankan makan, anak-anak yatim itu sekolah semua, SPP-nya pun tak masalah. Subhanallah…

Saya rasa tak perlulah, saya ceritakan semuanya disini. Orang tua Anda pun bisa jadi sudah banyak pengalamannya. Dan agaknya benar juga apa kata orang-orang tua kita dulu, “banyak anak, banyak pula rejekinya,”, karena sekali lagi jangan khawatir, jika kita yang menanggung mereka, insya Allah rejeki mereka akan lewat melalui kita.

Jadi jangan percaya sama orang-orang KB yang menyarankan agar membatasi anak anda hanya 2 orang, karena selain itu program orang-orang Yahudi agar jumlah muslim tak berkembang pesat, toh  juga menyalahi sunnah dan anjuran Rasulullah untuk memperbanyak anak. Mengatur jarak kelahiran boleh-boleh saja, tapi jangan batasi jumlahnya hanya dua. Maka, semakin banyak Anda punya putra, maka semakin banyak pulalah calon-calon mujahid yang kelak memperbaiki negeri kita. Insya Allah.

Ah, pantas saja Ayah tak mensyaratkan saya sudah bekerja ketika saya meminta ijin untuk menikah. “Sudahlah, kalau masalah rejeki, Tegar jangan khawatir, yang penting bisa mengatur waktu antara rumah tangga dan kuliah.”

Dan memang kita tak perlu khawatir masalah rejeki, karena bukankah Allah sudah menjamin semuanya?Tinggal sekarang, saatnya kita jujur, apakah kita mau mempercayainya, atau berkelit dengan sejuta alasan?
Wallahu’alam, saya serahkan kepada Anda…

Malang, 28 Agustus 2008

Sahid Nikah…!!

Sahid Nikah…

“Ha..?? kabar darimana itu?” Aku terkejut ketika di sela-sela KKN ditelepon oleh seorang sahabat kemudian ditanya, “Hid, katanya kamu dah nikah ya?”
"Walah mas, kabar apa lagi ini? ana lho lagi KKN", jawabku/.
"dari akh ini", sahabat ini menyebut sebuah nama.

Wallahu’alam saya tak tahu darimana kabar tersebut berasal, namun begitu saya “turun gunung” dari rimba KKN, segera kabar tersebut saya telusuri. Alhamdulillah, sanad dari kabar tersebut sudah kemudian terdeteksi dan tertabayunkan segera. Ikhwan yang menyebarkan itu pun meminta maaf kepada saya.

Namun tetap saja tak urung, setiap bertemu dengan ikhwan-ikhwan itu, pertanyaan yang ditujukan kepadaku selalu saja tak lepas dari topik nikah. Bahkan ketika saya bertanya-tanya tentang kontrakan sekalipun (sahid memang sedang mencari kontrakan) pun dikaitkan dengan nikah pula, bahkan oleh seorang akhwat sekelas, malah langsung tunjuk, “sama itu ya?”. Wallahu’alam, memang karena selama 2 bulan terakhir memang saya broadcast kemana-mana tentang kontrakan, dan meminta tolong ke orang-orang yang saya pikir “tahu”. Dan orang yang ditunjuk sama ukhti tadi pun juga saya mintai tolong. Sama siapapun, saya sering minta, carikan kontrakan, termasuk kepada tukang jual lalapan, dan tukang sate ayam Ponorogo bahkan.

Terlebih, dengan ikhwan-ikhwan seperjuangan yang seamanah, atau pernah se-amanah, Ketika bertemu, ketika ngobrol, ketika apapun, asalkan beberapa lama tak ketemu, pertanyaannya “Antum mau nikah ya akh?”. Aku biasanya hanya menanggapinya dengan bercanda, “Lah mang antum gak mau?”. Sambil biasanya saya sambung, “Antum itu jangan ngomong thok, akh, yang konkrit gitu lho!!”. Dan kami pun tertawa bersama. Sudah beres, begitu pikirku.

Atau ketika saya mulai banyak bergaul dengan dunia sastra, mulai berbicara dengan memperbanyak rima, dan tata bahasa. Ada seorang ikhwan yang “nyeletuk” di milis, “Waduh mas sahid jadi pujangga, kayak orang lagi jatuh cinta saja”. Wallahu’alam, padahal puitis tidaknya saya, sebenarnya tidak terikat oleh hal ini. Dari dulu pun saya sudah suka dengan sastra. Puisi ataupun novel karya sastra lama. Meski tak dalam, namun setidaknya saya suka dengan sastra. Dan puncaknya ketika ada sebuah acara Ngopi Bareng TI (Taufik Ismail), mulailah bagian sastra saya tumbuh. Sehingga tak jarang mulai banyak berpuisi, meski kebanyakan memang hanya untuk konsumsi sendiri

Kata sahabat ana, “Hati-hati antum akh, banyak fitnah di masa-masa seperti ini”.
Dan memang ana rasakan ada banyak pandangan-pandangan dan kabar-kabar negatif di masa-masa seperti ini. Wallahu’alam. Apalagi ana terkenal punya track record yang dikatakan banyak masalah dalam hal ini. Dulu ketika di tahun kedua kuliah pun, ana sering disidang oleh MR terkait banyak isu yang beredar antara ana dan seorang akhwat. Padahal waktu itu memang urusan kuliah dengan kami banyak terjadi, karena memang satu kelompok dalam kuliah bersama dengan teman-teman lainnya. Belakangan pun terdeteksi lagi beberapa kabar, hingga diinterogasi oleh sahabat sendiri bahkan. Padahal hanya masalah HP.

Wallahu’alam… Ah Sahid memang bermasalah… :(

***

Seandainya pertanyaan-pertanyaan ini hanya beredar di satu fakultas pun saya tak masalah. Mengingat pernah saya menyampaikan dalam sebuah forum di sela-sela PILAR 2 Batu, tentang rencana saya yang memang berencana nikah semasa masih kuliah, Kurang lebih yaaa antara semester 3 hingga semester 7 (artinya semester ini terakhir), begitu saya memberi rentang waktu itu. Namun masalahnya adalah ikhwan-ikhwan fakultas lain, tak peduli teknik, atau bahkan fakultas ekonomi entah darimana juga tahu. Saya pun heran, selama dia orang yang kenal cukup dekat dengan saya, pertanyaannya mang berputar di masalah ini “Katanya mau nikah Hid?”. Terlebih di kawan-kawan satu halaqah, mengingat pernah dalam suatu forum, kami bergiliran ditanya oleh MR, “kapan antum mau nikah?”, dan ketika jawaban-jawaban akhi-akhi yang lain kebanyakan “setelah umur 24”, atau “ketika sudah lulus”, dan hal-hal semacamnya, jawaban ana yang paling berbeda, “ketika ana sudah ‘turun’ dari ketua umum Forkalam akh”. Dan ketika sekarang saya sudah benar-benar turun dari jabatan tersebut (Alhamdulillah), saya pun tak urung ditagih. Malah ada seorang akhi yang sudah pesan, “Akh, ana jadi kapelnya saja”. Gubraks!!!

Tapi ada suatu kejadian, yang ini lebih hebat lagi menurut saya. Jika ikhwan-ikhwan yang bertanya “katanya antum mau nikah ya?” bagi saya itu sudah biasa. Namun beberapa waktu yang lalu, saya sempat chat dengan salah seorang teman lama yang jarang kontak. Dia perempuan biasa, bukan seseorang yang biasa disebut “akhwat” karena seingatku-pun beliau belum menutup hijabnya dengan jilbab.

Beliau teman saya dulu seperjuangan di BEM MIPA selama periode 2005-2006. Dalam beberapa kepanitiaan ketika saya menjadi co.pubdekdok, biasanya beliau menjadi co yang lain. Dan memang selama satu tahun belakangan, semenjak BEM dipegang oleh presiden yang tak lagi amanah (maaf), dan semenjak saya di tunjuk oleh teman-teman untuk menerima amanah sebagai ketua umum Forkalam, kami pun jarang bertemu. Namun sungguh mengejutkan bagi saya ketika suatu saat, kebetulan saya Onlinde, dan beliau pun kemudian juga Online beliau bertanya, “Hid, katanya kamu mau nikah ya?”.

Allahu Akbar!!! saya pun heran sendiri, darimana kabar tentang ini begitu tersebar cepat.

***

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan saja beberapa hal. Sebelumnya ijinkan saya untuk sedikit bertutur. Ada banyak orang yang tertarik dengan orang lain. Istilahkan – jatuh cinta- atau semacamnya. Teman-teman saya di kelas ilkomp pun saya yakin juga ada perasaan seperti itu. Tak usahlah sampai ke mahasiswa, karena ketika saya KKN di Ngaglik Blitar beberapa waktu lalu –pun, beberapa anak SD pembicaraannya sudah ke arah ini.

Namun masalahnya, tak banyak yang kemudian memaknai cinta-nya dengan benar. Ada seseorang yang jatuh cinta, kemudian malah berlanjut untuk ke arah pacaran, bukan pernikahan seperti yang diajarkan oleh Islam. Kalau kata ikhwan se-kontrakan saya, kalau pacaran itu gak ada bangga-bangganya blas mas, anak kecil, anak SD saja lho juga bisa. Dan saya memang setuju dengan ikhwan tersebut, bahwa jika memang kau mengaku cinta pada seseorang, maka kau harus berani menikahinya.

Maka ijinkan saya agak berkata keras, bahwa saya akan berkata PENGECUT BESAR, kepada orang-orang yang berkata “aku jatuh cinta”, atau “i love you” atau kata-kata sejenis, namun ketika diminta menikahi, sejuta alasan ia beri. Allahu Akbar!! Berani berbuat, berani berkata, harus berani pula bertanggung jawab. Maka PENGECUT BESAR dengan hormat akan saya sematkan kepada orang-orang yang mengaku kagum, mengaku cinta, mengaku suka, namun tidak mau menikahi dengan sejuta alasan.

Tentang ini, saya sampai sekarang pun salut dengan sahabat sekelas saya di ilkomp. Meski saya tak sedikitpun salut dengan pacaran diawalnya, namun setidaknya keberanian beliau menikahi, membuat saya mau tak mau mengacungkan jempol –salut-.

Ketika diberitahu seorang sahabat, bahwa Sahid itu banyak yang nge-fans, dengan tegas saya katakan kepada beliau. Saya tidak butuh Fans. Fans cenderung parsial, menyukai seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak diluarnya, kelebihannya, dan bias saya istilahkan fans adalah orang yang ter-fanatik-kan. Bukan atas dasar pemahaman, dan penerimaan kelebihan dan kekurangan. Jadi kepada sahabat tersebut saya katakan, “saya tak butuh fans, tapi saya butuh istri”. Kurang lebih seperti itu.

Namun by the way, Memangnya Sahid sudah siap nikah? Hemm… gimana ya… Wallahu’alam, yang jelas orang tua sudah ACC untuk menikah waktu kuliah. Dan ini sudah menjadi urusan antara saya dengan MR saya sekarang.

Jadi jangan tanyakan kepada saya dengan siapa. Karena toh jodoh itu adalah hal yang ghoib bukan? Dan saatnya bagi saya dan Anda semua untuk tawakkal. Tentang ini jadi teringat ust anis matta, “kita tak butuh pasangan yang terbaik, tapi kita butuh pasangan yang tepat.” Duh kok jadi ngelantur ke mana-mana, intinya jangan Tanya saya “nikah ma siapa Hid?”, karena ya sekali lagi saya bilang, masih misteri, ghaib. Bisa jadi dengan seseorang un jauh di palestina sana, atau ternyata malah pembaca? 

Tapi ketika sampai pada level seperti hal kabar-kabar diatas, dimana desas-desus “Sahid nikah” sudah tersebar begitu luas, justru itu hal yang tidak saya suka. Saya tidak suka dibesar-besarkan karena toh tubuh saya sendiri pun sudah besar :) .Jadi afwan, bagi siapapun antum yang masih membicarakan hal-hal seperti diatas kepada temannya –tentang sahid mau nikah dll-, maka saya katakan, SAYA TIDAK SUKA. Sudahlah sahabatku, jangan dibesar-besarkan. Toh ini adalah perkara ghaib, kita hanya bisa berikhtiar. Selebihnya, serahkan semua urusan kita kepada Allah.

Jadi jika sampai ada dari pembaca yang setelah membaca ini kemudian bercerita kepada teman/saudaranya tentang hal diatas, maka saya katakan, hati-hati lho,  bahwa Anda –afwan- bisa jadi telah ber-GHIBAH. Ntar saja jika mang jadi nikah, baru tolong disebarluaskan. Tapi jika dalam proses –yang kata MR ana sangat amniyah- seperti ini, maka sekali lagi saya tak suka. So… buat kamu-kamu yang telah menjadi penyebar desas-desus, saya sudah mengatakan Anda untuk berhenti!!!

Daripada sibuk ngobrol sana sini tentang sahid nikah, sahid nikah, maka lebih baik, Persiapkanlah diri antum sendiri, so lebih aman dari ghibah. Semoga Antum diberi yang terbaik oleh Allah.
Amin…

Ohya, ngomong-ngomong,
Jika mungkin pembaca bertanya, kok tumben sahid nulis beginian, ada apa mang?
Yang jelas sih, saya hanya ingin agar kabar-kabar tak sedap (nggak pakai bumbu kaldu Royco sih) segera berhenti dimulai dari Anda para pembaca.
Selebihnya? Waduh saya pun juga bingung. Bahkan saya juga ingin ngomong ke Sahid,
“Ah sudahlah hid, postingan gak jelas gini kamu tulis, ngabis-ngabisin bandwith Brawijaya tuh!!”, begitu komentarku tentang tulisan yang barusan anda baca ini. Aneh juga ya, Anda kok ya mau-maunya membaca dari awal sampai akhir.
Bahkan saya pun yakin bahwa Anda yang kenal dengan saya, 90% ingin untuk sekedar menulis komentar tentang tulisan saya diatas.

Ah, tulisan gak jelas, maka komentar yang tak jelas pun tak masalah, apalagi oleh orang yang tak jelas pula :)

Selamat ber-tidak jelas-ria… karena saya juga bingung mau njawab apa…

Dalam ketidak jelasan…..
Kota Tidak jelas, tanggal tidak Jelas 2008

menanti ….

kan kunanti semesta bermandi cahaya
dalam negeri berjuta warna,
berjuta suara..
berjuta rasa..
berjuta asa..
dan trilyunan cahaya..

kan kunanti semesta bermandi cahaya
meski dalam raga penuh tekanan,
meski dalam jiwa penuh himpitan,
dan akal yang tak pernah diam..
kan kunanti dengan dua buah kata
harapan, dan perjuangan…

kan kunanti semesta bermandi cahaya
Lalu berjuta cahaya kan turun melingkupi
untuk ku, untuk kita, untuk negeri ini
bersama dengan alunan semilir pagi hari
karena ku ingin untuk tetap berarti…
kemarin, sekarang dan nanti…

mencari sebuah rumah …

assalammualaikum wr.wb.

dicari kontrakan, lokasi di malang,
1-2 kamar,
lokasi tak terlalu jauh (max 30 menit dengan sepeda motor dari kampus UB).
pricing antara 1-2 jt-an
gak usah mewah-mewah
gak usah besar-besar
sederhana saja sudah cukup
jika katemu hubungi sahid di nomor 08175404373 atau 0341 8160333
atas bantuannya kami ucapkan terimakasih sebelumnya,
semoga antum sukses..
syukran jazakallah khairan katsir,

Wassalamualaikum Wr Wb.

Sahid Recharging…

LAGI-LAGI IP

Tak lama yang lalu, ada seorang aktvis dakwah. Beliau, aktif, sangat aktif sekali, aku pun cukup salut pada beliau. Tak heran, jika ia menjadi salah seorang lumayan penting dalam lembaga dakwah di kampus kami. Keberadaannya pun menjadi “rebutan” bagi wajihah-wajihah dakwah.  Namun ia kemudian bermasalah dalam semesternya kali ini. Dan alangkah terkejutnya aku ketika ia berkata, ia ingin “berkonsentrasi kuliahnya”. Sebuah istilah lain untuk berkata, “ana ingin mundur”. Ini memang bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya pun sudah pernah terjadi seperti ini.

“Ana hanya ingin membahagiakan orang tua akh!”
dalam hati aku bergumam, “apakah HANYA dengan IP kita bisa membahagiakan orang tua kita? Alangkah minim sekali standart itu?” terkadang kita begitu terlalu sempit membatasi semua standar ktia. Atau jawaban-jawaban klise lain.

“Ana kekampus ini untuk kuliah akh!”
“Lha iya sama, ana juga kuliah, bukan jualan es kacang ijo, atau jadi cleaning service”. Ujarku dalam hati.

Ah seandainya IP kita yang bagus, semakin mendekatkan kita ke Jannah-Nya…
seandainya saja…

Lagi-lagi kasus ini terulang lagi, dan lagi-lagi keterbatasan dan keterpurukan IP, seringkali membuat kita menyalahkan aktivitas dakwah kita. Kita pun seolah menuding pada aktivitas dakwah yang seabrek, pada ini, pada itu, dan kita pun meminta pengurangan amanah, bahkan yang terburuk, kita mundur dari sebuah amal dakwah. Masya Allah…

Sambil berkelit kita berkata, “Ah, bukankah saya masih tetap berdakwah, meski dalam bentuk yang berbeda?”, tanpa mau sedikitpun kita tersadar, kita telah membuat sebuah kekuatan menjadi lemah karena salah satu tiangnya pergi. Tanpa sadar bahwa kita membuat tiang-tiang lain, kemudian menerima beban atap yang kita tinggalkan, padahal dalam sebuah kenyataan IP mereka lebih buruk daripada kita…

Allahu Akbar!! Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan menghilangkan sikap egois-egois kita.

Ya Allah, jadikanlah kami malu kepada rasulMu, kepada Umar, sang khalifah tanpa istana karena untuk ummat-lah miliknya semuanya.

Jadikanlah kami malu kepada Mushab, selebritis Mekkah yang meninggalkan gemerlap dunianya untuk bergabung menjadi pemuda dakwah, yang di akhir Uhud, syahid dengan baju yang sangat sedikit.

Jadikanlah kami malu kepada Sumayyah, bukan sekedar IP atau harta mereka berkorban, namun dengan jiwa dan darah mereka persembahkan.

Jadikanlah kami malu kepada Al Khansa, bukan sekedar IP atau harta ia korbankan, namun keseluruhan putra-putra terbaiknya yang ia persembahkan.

Teringat aku tentang awal-awal di kampus dahulu, semester 1, kegiatan kampus sangatlah sibuk. Praktikum, laporan, belum lagi kegiatan-kegiatan Forkalam dan organisasi-organisasi lainnya. Namun aneh bin ajaib, IP saya perfect waktu itu. Berbeda di semester dua dimana kegiatan tak banyak memeras, waktu longgar-pun lebih banyak, namun justru IP jatuh bebas.

Sungguh segenap alasan, bisa kita lontarkan saat ini, sebagaimana Ka’ab bin Malik yang tak ikut tabuk-pun tentulah akan mampu untuk menjawab mahkamah Rasulullah. Sebagaimana yang dilakukan 80 orang sebelumnya. Namun ia tahu, bahwa Allah Maha Tahu segalanya. Bahwa kita bisa jadi akan berjuta alasan di dunia, dan orang-orang pun dengan ikhlas akan menerima. Namun kita pun terkadang lupa, Akankah kita bisa menjawab hal yang sama di akhirat? Ketika ki ta disodorkan, “bukankah sudah  disampaikan dalam Al Maidah 54, bukankah sudah kami sampaikan dalam Ash Shaf, dalam ini dalam itu?”

Sungguh, melemah dalam perjalanan, adalah lebih baik daripada kalah dan berbalik arah
dan sungguh kekuatan dalam perjalanan, akan lebih disukai. Karena mukmin yang kuat, lebih disukai daripada mukmin yang lemah.

Ya Allah, jangan biarkan kami berkata, “ini Hidupku, ini pilihanku”
Padahal dalam setiap sholat kami, kami berkata, “inna sholaati wanusuki wa mahyaya, wamamaati lillahi robbil ‘alamin”

Ya Rabb, luaskanlah hati kami, luaskanlah cara pandang kami, agar ketika kami menunjuk menyalahkan dakwah, maka 4 jari ini tetap menunjuk kepada diri kami, berkata, “Bukankah kita sendiri yang malas?”

Ya Rabb, jangan jadikan “pilihan untuk mundur dari perjalanan”, ada dalam lembar kehidupan kami. Bukakanlah pikiran dan jiwa kami, jauhkanlah syaithan dari kelemahan jiwa dari amal-amal keputusan kami. Jadikan agar kami merubah cara belajar kami, bukan merubah amanah dakwah kami. Jadikanlah agar kami tetap berkarya meski dalam keterbatasan jiwa.

Ya Rabb, kokohkanlah kami di jalan-Mu, jalan para Nabi, jalan para Syuhada dan Dai-dai yang ikhlas di jalan-Mu. Ya Rabb, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu, hingga akhir hayat kami.

Amin…

Untuk Sebuah Jiwa

Untuk Sebuah Jiwa

Ketika lisan mulai berkeluh kesah
tentang fisik yang lelah
dan pikiran yang kalah, membuncah
maka saatnya kita bertanya
bermuhasabah…
atas jiwa yang mulai lemah

bukan raga yang lelah
bukan pula akal yang kalah
namun semua bermula dari jiwa
mungkin kita sudah lupa
atas berapa jiwa yang bersimbah darah
tertumpah,
dan pecah…

atau mungkin kita sudah lupa
atas berapa tangan yang menengadah
sambil berkata, “kami terpaksa meminta sedekah…”
padahal di tetangga sebelah
beragam makanan mewah menjadi sampah
mudahnya berkata, “ini hasil kami jerih payah”

jutaan ummat berharap, menengadah
menoleh, dengan raut penuh harap, berkata
“wahai pemuda, keluar keluarlah
kami yang terdzalimi adalah lemah.
bantu kami, untuk akhirat kalian
kelak kami kan menjadi saksimu
untuk sebuah jannah…”
insya Allah