karena aku hanya ingin menjagamu
Terus terang, tak bisa dipungkiri bahwa lawan jenis adalah makhluk
yang bisa ana katakan "lebih berbahaya dari harimau". Maklum,
seberbahaya-bahaya nya harimau ia hanya bisa membuat kita mati
terbunuh, namun lawan jenis bisa lebih dari itu, membawa kita neraka..
Hii… tentu bila tidak pada tempat yang halal.
Entah kenapa belakangan ini di kalangan ikhwan di tempat ana berada
jadi sering ngomongin UUN. UUN alias Ujung-ujungnya Nikah. ada saja
ceritanya, mulai dari guyonan seputar Mitsaqon Gholido (ikatan yang
agung), atau sekedar apalah, yang jelas tak tahu kenapa jadi sering
bicarakan masalah nikah. Entah itu di kalangan ikhwan-ikhwan SKI,
ataupun di akhir-akhir halaqah pun sempat mendiskusikan masalah itu
pula, membuat suasana malam yang sudah mengantuk menjadi semangat
kembali. Tapi untunglah, semua pembicaraan masih seputar hal-hal
syari. Selain itu bagiku ini termasuk wajar, pikirku, mengingat
belakangan ada saja teman-temanku yang nikah, belum lagi efek film
Ayat-Ayat Cinta ataupun beberapa kajian yang tak usai-usainya membahas
masalah itu. Setidaknya tak ada seputar pembicaraan tentang akhwat
idaman, atau hal-hal aneh yang mengkhawatirkan lainnya. Semua konkrit,
tak asal bicara, dan Insya Allah syar’i.
Namun tetap saja aku rada-rada sensitif dengan masalah-masalah ini.
Meski kadang tak jarang aku ikut nimbrung, namun terkadang aku lebih
memilih untuk tidak "meriahkan" pembicaraan. Sederhana, karena semakin
bicara ini semakin aku tertekan. pasalnya, aku mengazzamkan baru
segera menikah setelah amanah terberatku di kampus sekarang ini
selesai. Seorang sahabat berkata, "akh jangan sampai antum beralasan
atas amanah ini, menghalangi antum dari "amanah" selanjutnya". (tahu
kan maksudnya?). Namun setidaknya aku luruskan, bahwa dengan amanah
yang sekarang saja ana seolah sudah tak punya waktu senggang, yang
praktikum, yang urusan rohis, PKM, tugas kuliah, yang ini itu, dan
lain lain… urusan maisyah pun sampai terbengkalai dan
tertunda-tundah, dah segini masak mau ditambah lagi dengan "amanah"
tambahan? siapa yang mau ngurus? bisa-bisa malah ana yang jadi tambah
kurus.
Terus terang, akhwat adalah godaan terbesar buat ana. Itulah kenapa
ana ingin mensegerakan untuk menikah agar lebih bisa menahan pandangan
dan menjaga kesucian. Kalau ustadz Rahmat Abdullah pernah berkata,
bahwa kita akan diuji di TITIK TERLEMAH kita. Dan kita akan terus
diuji hingga kita mampu memperbaiki kelemahan tersebut. Dan bagi ana,
memperbaiki kelemahan yang satu ini ya dengan nikah, bukan yang lain.
Ngomong-ngomong tentang akhwat, ada satu hal yang ingin saya ceritakan disini.
Saya orangnya boleh dibilang punya masa lalu yang agak berbahaya dalam
hal hubungan ikhwan akhwat. Entah ini sampai VMJ atau tidak, ana juga
kurang tahu. Yang jelas dulu, sekali lagi-dulu, di awal-awal kehidupan
maba di kampus, ana orangnya termasuk orang yang suka TP-TP. Mencoba
untuk merebut dan mendapatkan hati akhwat-akhwat. Kriterianya cukup
sederhana, asalkan dia akhwat, berjilbab lebar, berkaus kaki, dan dia
punya tampang yang lumayan, maka jangan heran jika ia masuk dalam
target list ana.
Maka tak heran jika ana pun teermasuk orang yang suka GR sendiri waktu
itu., sering TP-TP, melakukan pendekatan personal, dan lain-lain.
Untung saja waktu itu ana sedang ada masalah dengan seseorang,
sehingga aktivitas baik TP-TP, ataupun pen-target-an seorang akhwat
tidak ana lakukan.
Ana tidak bisa membayangkan jika ana benar-benar melakukannya ke
orang-orang yang ana target waktu itu, mungkin sudah benar-benar
banyak akhwat yang jatuh hati ke ana, andai saja ana mau. Maklum, ilmu
psikologi terkait masalah ini, bukan masalah yang rumit. siapapun bisa
melakukan untuk mendapatkan siapapun. Tak peduli target kita wanita
dengan busana ketat, atau bahkan sudah sampai pakai cadar sekalipun.
Kenapa ana waktu itu masih melakukannya? sederhana, karena ana
berpikir tak ada satu pun dalil yang ana temukan waktu itu, yang
melarang untuk membuat orang lain jatuh cinta ke kita. Sangat
sederhana pemikiran ana waktu itu. Lebih tepatnya tak ada dalil
eksplisit yang melarang kita jatuh cinta, ataupun menset agar orang
lain pun jatuh cinta ke kita.
Namun tidak sampai lama, Allah menunjukkan jalanNya kepada ana. Allah
maha tahu atas gharizah hambaNya. Untuk masalah dalil tak mempan, maka
Allah mendekatkan pemahaman untuk ana melalui jalur pemikiran.
Waktu itu yang menyampaikan Murobbi ana disela-sela halaqahnya. Kali
itu agendanya bukan penyampaian materi, melainkan diskusi tentang satu
tema yang sudah kita bawa dan persiapkan sebelumnya.
Diskusi dimulai dengan sebuah pertanyaan, sebuah pertanyaan sederhana.
‘Seandainya kita diberi pilihan, dua orang akhwat, satu masih gadis
perawan, satunya lagi masih janda, mana yang akan kita pilih?’.
spontan kami pun menjawab apa yang memang menjadi kecenderungan kami,
yakni yang gadis.
Dari situ, maka mulailah satu diskusi, dan hasilnya didapat, bahwa
untuk apa kita melakukannya? untuk apa kita coba-coba membuat akhwat
lain jatuh cinta ke kita? hanya untuk main-main? atau untuk ‘tabungan’
jaga-jaga jika suatu saat kita aka menikah? semoga bukan… perawan
tak hanya secara fisiknya, tapi juga tentu kita ingin orang yang masih
perawan pula hatinya.
Dan dari situlah muncul salah satu prinsip yang selalu coba ana pegang
hingga saat ini. Kurang lebih logikanya begini : Tak ada yang menjamin
bahwa orang yang ana sedang target, ia akan menjadi istri ana kelak.
Tak satupun!!! Bahkan kasarnya seandainya kita mengkhitbah, dan besok
adalah walimah, maka tak ada yang menjamin bahwa kita pun akan hidup
hingga besok.
Lantas sebagaimana aku yang tak suka mendapatkan barang ’sisa’ maka
wajar jika aku pun tak mau memberi saudaraku sesama muslim, seorang
akhwat yang hatinya pernah aku kotori dengan perasaan suka kepadaku.
Ah biarlah… aku hanya ingin menjaga hati dan perasaan akhwat-akhwat
tersebut. Kalaupun ada rasa yang terpendam disini, atau di hati-hati
mereka, maka biarlah. Yang jelas aku tak ingin ikut ambil andil dalam
proses munculnya perasaan dari seseorang kepada seseorang lain
tersebut.
Begitulah : maka ketika terkadang ana mulai tergoyahkan oleh seorang
akhwat, maka satu hal yang coba ana tekankan ialah, luruskan
niat!!jangan sampai kemudian ana tergoda untuk mentarget beliau dengan
cara apapun!!! Dan dari sini pula, maka benar-benar ana rasakan,
betapa logika tersebut setidaknya mampu menjadi satu diantara
benteng-benteng ana yang lain, benteng-benteng untuk menjaga hati ini,
dan menjaga hati-hati yang akan menjadi milik dari saudara-saudaraku
yang lainnya.
Maka sejak saat ini, ketika ada akhwat yang entah benar atau tidak
mencoba mendekat, maka aku ingin sekali mengatakan kepadanya, ‘afwan,
bukan berarti ana tak suka, atau ana tak mau, namun satu hal, ana
tidak ingin membuat saudara ana cemburu… Karena aku hanya ingin
menjagamu… menjaga hati dan perasaanmu agar tetap bersih.’
malang…
senin 17 maret 2007
May 7th, 2008 at 10:59 pm
Astaghfirlah Hid…
Kalo Ane, satu aja gak tau kapan dapetnya, apalagi mau nyabang???
Kalo Ane yang TP-TP yang ada tu Akhwatnya malah bakal lari he3 :p
Yo wis semoga Anta dapet jodoh yang baik n dapat membina keluarga yang sakinah mawahdah warohmah, amieen
May 7th, 2008 at 11:00 pm
ow ya kapan2 kunjungi blog Ane
http://dataq.wordpress.com/

May 10th, 2008 at 3:08 am
Assalamu’alaikum
ternyata antum ‘menakutkan’ juga ya akh, alhamdulillah segera sadar.
May 10th, 2008 at 7:00 am
@ratna
menakutkan? perasaan dari dulu sampai sekarang.. ana tetap menakutkan…
(bagi temen2 musuh dakwah ini tentu
@mahendra
Amiin… akh… doain ya…
Insya Allah mensegerakan, bukan tergesa-gesa
May 11th, 2008 at 2:00 am
Ibnu Mubarak: “Betapa banyak amalan yang banyak itu menjadi sedikit, hanya karena niat. Dan betapa banyak amalan yang sedikit itu menjadi banyak, juga karena niat.”
M. Faudzil ‘Adhim: “Bila diselenggarakan 8 pertemuan bertema pernikahan, maka 6 pertemuan dari 8 pertemuan itu membahas masalah niat.”
Akhi Sahid fillah, beginilah resiko jadi pemuda, khususnya bujang…..
Hanya ada 2 jalan, bersabar (puasa & ibadah lain), dan…MENIKAH.
Semoga anta segera bertemu dengan bidadari anta…..
‘bidadara perjuangan’-mu ini ikhlas koq akh..
Tp jg lupa, doain ane juga, key???
May 11th, 2008 at 10:42 pm
insya Allah bro…
doain ana akh ya… dan tolong luruskan ana LANGSUNG bila ada sesuatu yang antum kurang berkenan. Bagaimanapun juga, u r my best Friend selama di Forkalam. Semoga Allah menjaga niat-niat kita.
afwan ana mau mendahului, tapi juga namanya fastabiqul khairat…
Allah Maha Tahu apa yang terbaik..
semoga antum juga disegerakan…