dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for March, 2008


Untuk Apa…

Untuk apa kau mengeluh pada teriknya matahari
jika kau mengharap hangatnya  di pagi hari

Untuk apa kau mengeluh pada air yang dingin di pagi hari
jika kau mengharap segarnya di siang hari

untuk apa kau mengeluh pada kesepian panjang
jika kau mengharap sepi diantara perenunganmu?

untuk apa kau mengeluh pada keramaian yang meriah
jika kau pun mengharap diantara kesendirianmu

dan…..

untuk apa kau mengeluh pada kesepian tanpa laptop
jika kau pun masih punya sahabat-sahabat terbaikmu
yang menyemangati dan bisa membuatmu senantiasa tersenyum?
merekalah teman-teman sejatimu!

untuk apa kau mengeluh pada laptopmu yang rusak
jika kau pun masih memiliki komputer terbaik di dalam dirimu?
komputer paling sempurna di muka bumi ini,
yakni akal dan jiwa kita….

mari bersyukur atas segala sesuatu….
agar kita masih bisa tersenyum, sesedih apapun

Laa tahzan, Innallahu ma’ana

syukran buat antum yang telah menyemangati….
mohon doanya untuk zahra tercinta…
moga bisa lekas sembuh, atau mendapat ganti yang lebih baik …
amin.

ponorogo, 22 maret 2007
ketika zahra masih koma setelah kecelakaan

nb:zahra - laptopku

[curhat] a Busy Weeks….

Belakangan menjadi hari-hari yang betul-betul sibuk, wallhu alam. Sampai sempat dua malam ana nggak tidur hingga pukul 02.30 pagi, dan pukul 01.30 pagi hanya karena mengerjakan tugas-tugas amanah ini…..

banyak sekali tugas2 dari teman-teman  yang belum terselesaikan hingga detik ini, atau pun jika terselesaikan, maka kesannya asal-asalan…

maka iseng-iseng ana pun coba-coba untuk melist… sebenarnya seberapa banyak sih tanggungan ana? berikut sedikit dari hasilnya diantara sederet rangkaian tanggungan ana yang masih ingat…

  1. Yang pertama, yang terberat, dan yang paling ana takutkan, amanah sebagai ketua umum Forkalam. sampai detik ini, ini tanggungan terbesar ana yang betul-betul paling menyita waktu…. pikiran, uang, dan terlebih sering terkadang membuat ana takut dan setengah menangis…..
  2. Yang kedua, sebagai mahasiswa Ilmu Komputer angkatan 2005 yang harus mampu memberikan prestasi terbaiknya untuk kedua orang tua ana..
  3. Memegang setidaknya dua binaan dan dua kelas mentoring, so harus betul2 ekstra ketat…
  4. Proyek PKM ana yang keterima, padahal ana sebagai main person disana, sukses tidaknya Proyek PKM tergantung besar pada ana, maklum bersama anak peternakan dan proyeknya (meski open source) tentang software, so mau nggak mau untuk orang utamanya ya ana yang harus bikin….
  5. Kuliah Kerja Dakwah di kecamatan Klojen, demi kemenangan dakwah eksekutif menuju Malang 1
  6. Diamanahi tugas  untuk membuat web  PILKADA Malang untuk calon pak Ahmad Subchan, calon dari PKS. Proyek sukarela, untuk keperluan dakwah, so jangan harap ada gaji….. but yang penting nggak tombok, yang penting bisa sambil tambah pengalaman…
  7. mysoftory.com, perusahaan Software yang ana buat dalam naungan induk perusahaan IT "AnS project" (Adib n Sahid), yang mana sampai sekarang tak terlalu banyak kontribusi ana (afwan ya dib) cos terus terang, betul2 sibuk… but antum ana curi2kan waktu kok…. tenang aja, max  april nt dah dapat order..
  8. PJ IT untuk blog dan mailing list IKMAL (alumni ikatan rohis SMA dulu) yang tugasnya always keep up to date setiap perkembangan terbaru di milis, di IKMAL…
  9. Proyek membuat script film islami, bersama beberapa teman FLP,
  10. Panitia kajian Ahad Pagi MRP yang ana jadi kasihan ma koordinator ana cos sering ana tinggal…. afwan akh ya….
  11. Proyek membuat buku bersama temen ana Adib, pemrogaman untuk betul2 pemula,
  12. Asisten Praktikum setidaknya untuk TIGA KELAS PRAKTIKUM

ana semester ini sudah ambil 19 sks, maklum semenjak menjadi ketum, ana tidak mau ambil banyak-banyak, namun terus terang, amanah-amanah diatas… betul-betul ana rasakan menguras energi ana semester ini… yah setidaknya sampai Mei…

awal Mei insya ALlah amanah terbesar diatas, ketum Forkalam akan turun (semoga nggak jadi yang lebih tinggi lagi dulu, cos dah janji murobbi setelah lengser jadi ketum akan segera ngajukan proposal insya ALlah.. kalau bisa max sebelum idul Fitri tahun ini), proyek PKM sudah akan selesai, website pak Subhan pun tentu sudah jadi Insya Allah…

sekarang, boleh jadi waktu tidur ana tinggal sedikit
badan capek, dimarahin atasan, teman-teman, partner kerja, ma teman satu kelompok kuliah, dll… dan tak kalahnya, ana pun terkadang jadi stres
andai tak ada pertemuan pekanan bersama ikhwan kostrad, mungkin ana jadi betul2 sumpek stress…. ah mulai lagi masa-masa sibuk seperti semester 2-3 kemarin,

Hingga terkadang, cuci-cuci tak sempat, masak tak lagi sempat, bahkan sms ke orang tua pun seolah kadang tak sempat….. sms tauih-taujih ke temen2 pun jadi agak mandek….. jadi ingat kata sahabat sma ana dulu, "amanah kita tak terbatas, tapi waktu kita terbatas"… ah untung saja tak seperti beberapa pekan sebelumnya, banyak sekali  SMS ana waktu itu…  untung sekarang untuk sementara tak lagi…. meski tak lagi terhibur seperti waktu itu, but biarlah, ana hanya belum ingin terlalu jauh…. ada waktunya untuk itu….

so Semangat Hid!!!
biarkan waktu itu kan melaju, kau akan tetap berada ditempatmu sekarang!!
biarlah meski kau akan kalah, namun seperti apa yang dikatakan Ahmad bin Hanbal
Kemenangan itu adalah ketika kau masih tetap berada dalam kebenaran…
Banyak orang yang putus karena amanah, entah itu mereka terlalu melebur, atau entah pula mereka -dengan kemalasannya- tergoda untuk berhenti dari amal panjang ini….

tapi akan aku azamkan, pada diriku sendiri
I’LL STAND HERE…….
berdiri di jalan dakwah dan jihad yang panjang dan melelahkan ini……
meski sepi, sendiri, atau bahkan termaki….. meski dengan antum, atau tanpa antum…
biarlah…. aku akan tetap disini…

Ya Allah, kuatkanlah hamba menempuh amanah-amanah ini…

Malang 13 Maret 2008
-disela-sela kesibukan hijrah distro Fedora ke SuSe..-

My Dreams…

Andai kaki ini dah tak lagi melangkah
mata ini tak lagi melihat, tertutup seiring hilangnya detak jantung

Kuingin di bumiku - di tempat aku pernah berdiri -
telah terdapat penduduk yang beriman, beramal shaleh
telah berdiri sebuah peradaban, dimana iman adalah pemersatunya
Al Quran adalah pedomannya, dan Syariat adalah hukum-huumnya.
Wajah mereka bercahaya, ucapannya menyejukkan, dan perilakunya terjaga.

Maka sungguh jiwa ini akan ridho ketika pergi dengan meninggalkan masyarakat seperti itu.

Malang
12 Maret 2008

Nyanyian Tengah Malam

Nyanyian Tengah Malam

Semenjak SMA aku sudah mulai sering bepergian jauh sendirian. Ya, tak sendirian dalam arti sebenarnya, namun setidaknya dalam perjalananku tak lagi didampingi bersama orang tua. Ada saja perjalanan yang aku lakukan, entah karena harus lomba ke Yogya, Surabaya, bahkan pulang sendirian dari Jakarta pun aku sudah pernah aku alami. Berkat seringnya melakukan perjalanan jauh ini, aku yang dulunya sering mabuk perjalanan setiap naik bus, kini menjadi seolah kebal dan sembuh dari penyakit tersebut.

Beranjak di waktu kuliah, karena lokasi kampus yang di luar kota, otomatis membuatku lebih sering melakukan perjalanan. Ponorogo-Malang, via jalur Surabaya. Dari hampir keseluruhan perjalanan tersebut, aku paling sering melakukan perjalanan di malam hari. Sederhana, untuk efisiensi waktu, begitu pikirku. Waktu siang cenderung bisa aku gunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Sehingga dengan melakukan perjalanan malam, setidaknya aku bisa menghemat waktu. Perjalanan pulang, sekaligus memanfaatkannya untuk tidur, sehingga di lokasi, pagi harinya bisa langsung beraktifitas.

Maka tak jarang, aku pulang dan sampai rumah pun malam hari. Jam 10, atau jam 12 sudah biasa. Bahkan belakangan pun kadang seringkali aku pulang pukul 2 atau 3 pagi, maklum dari Malang aku berangkat habis Isya’, perjalanan 6 jam, belum lagi sulitnya menunggu bis malam ke kotaku terkadang membuatku baru sampai dini hari.

Selain itu, mungkin ada satu lagi alasan sekunder, kenapa aku lebih suka melakukan perjalanan malam hari. Pengamen jalanan! Ya, orang-orang yang mencari nafkah dengan hiburan jalanan-nya. Bukan masalah suka atau tidak suka dengan orang-orang ini, namun karena aku lebih sering tak tega terhadap mereka.

Jika ada yang berkata bahwa menjadi pengamen itu cara mudah untuk mencari uang, kini agaknya aku sudah berubah pikiran. Siapa bilang mencari uang dengan mengamen itu mudah? Kini orang lebih “tega” untuk melambaikan tangannya daripada sekedar mengeluarkan uang seratus atau dua ratus dari saku mereka. Jumlah uang yang aku yakin tak akan membuat mereka jatuh miskin.

Ah pengamen-pengamen itu, mereka hanya korban dari ketakberdayaan mereka sendiri. Pemerintah yang tak mampu menyediakan lapangan kerja memang boleh disalahkan, namun sikap menyerah para pengamen tersebut dan filosofi “daripada menganggur mending ngamen” yang terlanjur melekat, sudah seharusnya mereka sadari dan ubah.

Ya, untuk masalah pengamen ini sering kadang aku banyak tak tega-nya. Karena selain sulitnya orang mengeluarkan sekedar receh, namun juga karena semakin banyak saja jumlah pengamen di negeri kita. Pernah aku coba menghitung, perjalanan 4 jam Ponorogo-Surabaya, dan aku hampir takjub melihat angka 9-10 di tanganku. Ya… ada sekitar 10 pengamen selama perjalananku, setiap satu pengamen turun di satu perempatan, kadang pengamen lain langsung naik dari perempatan yang sama pula. Tak heran orang-orang pun mulai malas untuk sekedar merogoh recehan mereka lagi.

***

Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 12 malam. Bis Restu yang aku tumpangi melaju pelan, mulai ke terminal kota Nganjuk. Saat itu aku tengah melakukan perjalanan malam untuk pulang ke kota Ponorogo seperti biasa.  Mataku setengah mengantuk, maklum ini perjalanan malam, Seperti biasa, bis kami langsung diserbu sederet pedagang asongan terminal Nganjuk. Andai ini siang hari, tentulah pedagang asongan itu akan lebih banyak lagi.

Aku yang setengah mengantuk tak banyak menghiraukan mereka. Sempat terbersit ingin membeli sekedar jajan cemilan, namun kuurungkan keinginanku. Selain karena aku sedang ingin berhemat, aku sedang dalam kondisi sangat mengantuk-mengantuknya.

Seperti biasa, pemberhentian di terminal Nganjuk dari arah Surabaya memang selalu lebih lama dibanding terminal lainnya . Entah karena menunggu bus jurusan sama datang terlebih dahulu, atau mungkin menunggu penumpang transit dari kediri.

Begitu para pedagang asongan mulai sepi, sempat terpikir untuk melanjutkan saja tidurku. Toh perjalananku masih sekitar 2 jam lagi. Namun tak berselang lama, ada dua orang laki-laki naik yang kontan membuyarkan rasa kantukku. Aku tahu, mereka pengamen!, tapi jam segini? Kulirik jamku menunjukkan pukul setengah satu malam! Dan tak berselang lama, meluncurlah sederet suara khas pengamen jalanan. Jangan harap menemukan suara selevel Cat Steven, Sami Yusuf, ataupun Gito Rollies, karena untuk level penyisihan Indonesian Idol aja aku optimis mereka tak akan lolos. 

Aku tak bisa mendengar jelas apa yang mereka nyanyikan. Bukan karena deru mesin bus, namun karena suara pengamen itu yang memang tak jelas. Entah mungkin serak karena sudah malam, dan mengantuk, atau entah suara aslinya memang seperti itu. Tak seperti kebanyakan pengamen bus yang rata-rata menyanyikan dua lagu, mereka hanya menyanyikan satu lagu, dan itupun dengan suara yang tak jelas sama sekali. Dan seperti biasa, selesai menyanyi seorang dari mereka berjalan mendatangi satu persatu penumpang untuk mengumpulkan koin-koin receh dari penumpang.

Sempat terbersit untuk tidak memberi, namun Ah jarang-jarang aku menemui pengamen yang berani seperti mereka. Berani karena tentu mereka tahu dalam jam-jam segini banyak penumpang yang sedang mengantuk-mengantuknya. Aku pun juga kasihan, penumpang bus tak banyak seperti perjalanan siang hari, tak banyak tentu yang memberi. Kurogoh sekeping uang 200 kembalian dari peron di Surabaya tadi dan kuberikan ke mereka. Namun untunglah, tak hanya aku yang memberi, beberapa penumpang yang masih terjaga pun juga ikut memberi. Mungkin karena pengamen ini satu-satunya pengamen yang ada di perjalanan malam kami semua, tak seperti siang hari yang hampir 20menit sekali seorang pengamen naik. 

Tak berselang lama, bus yang kutumpangi mulai berangkat, melaju pelan keluar terminal. Sempat kulihat  kedua pengamen tadi menghitung perolehan mereka. Tentu tak banyak, jangan harap dapat uang 5-10ribu seperti pengamen dulu-dulu. Setidaknya cukup untuk sekedar membeli kopi hangar agar tak mengantuk. Dan aku tersenyum ketika melihat salah seorang dari mereka memang membeli segelas kecil kopi. Mungkin sekedar untuk menjaga stamina sebelum menyanyi di bus berikutnya.

Dalam hati aku bergumam, Ya Allah, hanya untuk mencari uang, hanya untuk menafkahi diri dan keluarganya saja seseorang sampai rela be”kerja” hingga larut malam seperti ini. Tak hanya pengamen itu saja, namun juga para pedagang asongan itu, mbok penjual kopi di terminal itu, dan sederet manusia yang menggantungkan nafkahnya dari hiruk pikuk dunia transportasi ini.

Waktu malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat makhluk-makhlukNya, waktu untuk mengumpulkan energi lagi untuk keesokan harinya, kenapa seperti ini? Sempat pula terbersit Andai saat ini Umar yang menjadi pemimpin negeri, dan tahu di kota ini ada orang-orang seperti pengamen tengah malam tadi, aku tak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan kepada Bupati, atau bahkan Gubernur Propinsi.

Malam semakin larut, bus mulai melaju cepat, menyusuri jalan raya malam yang sepi. Meski tak urung pengamen-pengamen tadi mengganggu pikiranku, namun toh biarlah, setiap orang punya rejekinya sendiri-sendiri. Semoga kedepan tak ada lagi banyak pengamen seperti sekarang, bukan karena digusur atau dilarang, namun karena negeri ini semakin adil dan sejahtera, sehingga orang tak perlu lagi mengamen untuk mencari nafkah. Dan semoga, tak ada lagi nyanyian-nyanyian tengah malam seperti yang aku dengar malam itu… Insya Allah.

Malang awal Maret 2008