Air Mata Cinta dari Ibunda
artikel ini sebenarnya adalah artikel lama.. artikel beberapa blan lalu yang baru ana berani untuk menyelesaikannya belakangan kemarin2…
ada beberapa artikel lain yang bukan tidakberani, tapi belum sempat ana posting… masih dalam bentuk hardcopy, tunggu tanggal mainnya ya…
selamat menikmati….
===================================
Jangan Menangis Ibu
Semenjak aku SD hingga mahasiswa, sekalipun belum pernah
kulihat ibu menangis.Menangis hingga keluar air mata, atau setidaknya suara
yang menjadi berat dan serak. Tak pernah sekalipun! Jangankan melihat, mendengarnya terisak di
dalam kamar pun aku tak pernah. Entah karena ibu yang memang tak pernah
menangis ataukah karena ibu yang tak mau putra putrinya melihatnya menangis.
Ketika ayah dan Ibu bertengkar pun, biasanya hanya terjadi
aksi saling diam selama satu hari. Dan jika sudah begitu, biasanya beliau hanya
akan mengeluh tentang adik-adik Ayah yang lama tak mencicil hutangnya, atau
bercerita tentang bagaimana dulu ketika Ayah kena kasus, dan Ibu-lah yang
paling berjasa menanggung ekonomi keluarga. Aku hanya maklum, sebuah pelampiasan
emosi yang memang wajar, dan aku pun hanya mendengarkan tanpa banyak
berkomentar.
Tapi biasanya hanya seperti itu saja, sudah selesai dan
tanpa ada sebuah tangisan sedikitpun disana. Bahkan ketika itu terjadi , tak
tampak sedikitpun raut kesedihan diwajah beliau.
Namun beberapa bulan belakangan ini, setelah Ibu terkena
sakit kemarin, sakit yang membuatnya tak bisa kemana-mana selain di tempat
tidurnya, ibuku tak lagi seceria dahulu.
“Hiburan mama hanya kalian berdua”, ujar beliau di telepon
suatu hari. Aku hampir menangis mendengar kata-kata tersebut.
Tapi aku yakin bukan itu, Ibu tak lagi ceria karena beliau
tak lagi bisa mengirim tambahan uang untuk putra-putrinya. Ketika Ibu masih
sehat, dan semenjak Ayah didzalimi oleh kantornya dengan hukuman skorsing yang
tak kunjung ada kejelasannya, gaji beliau berkurang banyak. Ketika enam bulan
hukuman resmi, gaji beliau hampir membuatku menangis,karena bahkan untuk hidup
satu orang selama satu bulan pun tak cukup. Selama itu, sekali lagi, Ibulah
yang paling banyak berjasa untuk keluarga.
Ibu membuat jajan yang dititipkan ke toko milik tetangga.
Beliau juga menerima pesanan entah itu kue atau nasi kotak dari rekan-rekannya.
Alhamdulillah, dari situlah beliau bisa mengirimi putra-putrinya uang setiap
bulannya.
Namun itu tak berlangsung lama, ketika suatu waktu Ibu
terkena penyakit tersebut. Entah kenapa, saat itu beliau masih bisa tersenyum,
meski tubuhnya tak berdaya apa-apa. Layaknya seorang bayi, apa-apa harus
dilayani. Makan, minum, mandi, dan lain-lain masih butuh bantuan orang ketiga.
Ah untung saja Ayah terkena skorsing sehingga ia bisa merawat Ibu di rumah.
Andai tidak, maka siapa yang akan merawat beliau?
Dan sekali lagi, Aku pun hampir menangis melihat tubuh yang
lemah terbaring di tempat tidur itu, tubuh yang biasanya aktif datang ke
pengajian-pengajian, tubuh yang biasanya membuat kue dan nasi kotak untuk
membiayai kehidupan keluarga, kini otomatis tubuh itu tak bisa berbuat apa-apa.
Dan aku pun menangis jika mengingat ibu terkena sakit tersebut hanya karena
kecapekan membuat kue pesanan, yang jelas hasilnya itu untuk dikirimkan ke aku
dan kakakku.
Di awal-awal sakit beliau, saat itu, syukurlah ibuku
setidaknya masih bisa sedikit ceria. Pasalnya di awal-awal masa sakitnya, masih
banyak dari teman-teman Ayah dan Ibu yang datang menjenguk. Dan terlebih lagi
karena aku pun masih menyempatkan diri di sela-sela kepanitiaan Ospek kampus
untuk pulang membantu Ayah. Namun seiring waktu, yang berkunjung semakin
sedikit[1],
dan karena tugas aku pun juga harus segera balik ke Malang, ibuku mulai
kesepian. Andai tak ada tetangga yang baik hati, tentulah rumah kami sangat
sepi. Meski ada TV disediakan di depan tempat tidur beliau, namun ibuku
bukanlah tipikal orang yang suka menonton televisi. Waktu kesehariannya biasa
ia gunakan membuat pesanan kue atau nasi, ya karena memang itulah hobinya. Dan
sungguh bisa dibayangkan bagaimana seseorang yang sangat aktif seperti ibuku
tiba-tiba harus berhenti total dari kegiatannya.
Kecintaannya terhadap putra-putrinya, keinginannya untuk
segera beraktivitas, ditambah motivasi spiritual yang beliau miliki telah
berbuah sesuatu hal. Dan, biidznillah sebuah keajaiban terjadi, tak sampai dua bulan ibuku sudah bisa
berjalan dengan normal. Waktu yang bahkan sangat mengherankan dokter-dokter
beliau. Ketika di hari sebelumnya beliau masih harus dibopong ke Rumah sakit,
sebulan setelahnya, beliau sendiri yang berjalan ke ruang dokter tersebut. Ya,
meskipun tangan dan tubuh beliau masih agak lemah, namun ini sungguh kemajuan
yang luar biasa.
Kami tak henti-hentinya berucap Syukur atas anugerah
cepatnya kemajuan penyembuhan beliau. Namun kesembuhannya tak spontan membuat
ibu ceria, di sisi lain, beliau sadar bahwa ketika keluarga menumpukan ekonomi
terbesar pada pesanan kue yang diterima oleh ibu, dan kini beliau tak mampu
berdaya apa-apa. Bukan hanya beliau terlalu lemah untuk membuat makanan-makanan
itu, namun juga karena pesanan-pesanan kue itu kini tak lagi datang. Maklum,
orang yang biasa memesan itu adalah rekan-rekan Ibu sendiri. Mengetahui kondisi
Ibu seperti ini, mana tega mereka memesan kue-kue itu ke Ibu?
Kondisi Ibu yang semakin membaik, tak membuat ekonomi
keluarga menjadi pulih. “Maafin mama, belum bisa membahagiakan Tegar dan Lia”,
ujarnya satu waktu. “Mama sebenarnya
ingin mengontrakkan kalian rumah di Malang, kirimannya cukup, bisa mengunjungi
Lia dan Tegar setiap bulan”
Aku hanya bisa menghiburnya, “Tidak perlu seperti itu Ma,
kita sudah cukup dengan kondisi ini”
Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar suara Ibuku
menangis di telepon. Aku tak kuasa berkata apa-apa, ini pertama kali aku
mendengar wanita yang aku cintai menangis.
Ketika suatu hari aku menyempatkan untuk pulang, ibuku
bercerita, “Mama itu sering terpikir, apa kiriman mama disana nanti kurang,
kalau anak-anak Mama kelaparan disana nanti bagaimana?” sampai disini, baru
kali ini kulihat air mata mulai menetes dari sudut matanya. Ibuku Menangis!!!
“Gimana Tegar di Malang, makannya apa cukup, gimana uang-uangnya, dan
lain-lainnya”. Tak sampai terisak memang, namun baru kali ini kulihat air mata
itu meluncur dari sudut matanya. Suaranya pun menjadi seolah sangat berat, dan
agaknya tangis seperti ini pun berulang lagi dalam waktu-waktu lainnya.
Agaknya ujian terberat bagi Ibuku bukanlah tentang
penyakitnya, melainkan ketika ia tak bisa berbuat apa-apa untuk putra-putrinya.
Tak ada pesanan berarti tak ada pemasukan, dan tak ada pemasukan berarti pula
tak ada uang saku untuk putra putrinya. Sungguh wajar ketika Ibu pun sering
menangis, memikirkan apa yang bisa dimakan oleh putra-putrinya.
Pernah suatu ketika, aku dan sahabatku di kampus menang
dalam sebuah lomba yang mengharuskan kami untuk berangkat ke Jakarta. Uang
hadiah yang didapat memang bisa aku bilang cukup besar, namun sayang seluruh
ongkos transport, dll harus kami tanggung sendiri. Namun untung saja sahabatku
ini mau untuk meminjamkan uangnya sebagai ganti ongkos sampai hadiah kami
terima. Ibu sebenarnya tahu akan hal ini, namun menjelang keberangkatanku,
beliau tetap mengirimkan uang sejumlah 300 ribu. “Untuk uang saku”, begitu kata
beliau. Saat itu aku tak sempat berpikir apapun tentang uang saku. Jaminan
transpor dari temanku ditambah tambahan uang saku dari fakultas tentulah lebih
dari cukup. Aku pun juga tak sempat berpikir, darimana ibuku dapat uang
tersebut. Dan sepulang dari Jakarta, aku pun antara marah dan menangis
mengetahui uang 300ribu tersebut dari pinjaman ke tetangga kami. Ya, antara
marah dan menangis. Menangis dan marah karena hanya agar tak khawatir ada
apa-apa denganku di Jakarta, ibu hingga rela meminjam uang ke tetangga. Sungguh seumur-umur, belum pernah keluarga
kami meminjam uang ke orang yang tak ada hubungan darah dengan kami untuk
masalah-masalah seperti ini.
Namun Alhamdulillah, Allah memberikan badai, namun ia juga
memberikan mentari indah beserta pelangi sesudahnya. Allah memberikan tetes air
mata, namun ia juga memberi kita senyum yang cerah. Kondisi tersebut tak
terlalu lama. Seiring membaiknya Ibu, ekonomi keluarga pun akhirnya membaik.
Beberapa bulan setelah Ibu mulai bisa berjalan, ayah mulai dikembalikan ke
pekerjaannya, Kini Ibu sudah bisa dikatakan lumayan jauh lebih sehat, dan
ketika Ayah pun sudah mulai bekerja lagi meski tanpa sebuah jabatan, kini
senyum itu mulai sesekali kulihat ada. Senyum itu mulai ada ketika Ibu mulai
mendapatkan hiburannya lagi dengan televisi, dengan kedatangan putra-putrinya,
atau setidaknya bagaimana ia bisa ikut melantunkan bait-bait syair nasyid
kesukaannya, “Rembulan di Langit Hatiku” setiap aku memutarkan untuknya. Senyum
yang sama ketika Ibu mulai bisa beraktivitas, dalam arisan, dalam pengajian
rutin pekanan di perumahan, dan sederet aktivitas lainnya. Meski senyum itu tak lagi secerah dahulu
sebelum sakit, setidaknya senyum itu mulai ada lagi.
Meski demikian tak jarang, Ibu jadi bersikap berlebihan dalam segala sesuatu. Bagaimana
beliau memberi nasihat yang bagiku kadang berlebihan, Terkadang pula beliau
sering mengulang apa yang sudah beliau ceritakan sebelumnya. Terkadang pula
Ah Ibu, sosok manusia yang bagiku sungguh luar biasa.
Amatlah wajar jika Islam menempatkan bahwa Syurga ada di telapak kaki Ibu, amat
wajar pulalah jika durhaka pada orang tua tergolong dalam dosa terbesar kedua
setelah syirik.
Ibu, maafkan aku. Ketika engkau menangis didepanku, aku tak
kuasa untuk ikut menangis. Ketika air mata itu keluar dari pelupuk matamu, aku
justru coba untuk tetap tegar tersenyum meski dalam hati aku menangis. Tegar
sebagaimana engkau memberiku nama itu. Semata-mata agar kau tak tambah sedih
melihat putramu juga ikut menangis.
Namun sungguh ibu, ketahuilah bahwa ketika aku berada disini
dekat denganmu, ataupun ketika aku jauh darimu, aku senantiasa mengangis
untukmu.
Ibu, aku berjanji akan memberikan segala hal yang terbaik
untukmu, Aku tak ingin mengecewakanmu, aku tak ingin membuatmu bersedih.
Semata-mata agar aku setidaknya bisa berkata –meski lirih,meski dalam hati–
“Jangan Menangis, Ibu!!”
Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha luas ampunanMu, maka
ampunilah segala dosa dan kesalahan kedua orang tuaku, Kasihilah dan Sayangilah
mereka sebagaimana mereka menyayangi hamba ketika masih kecil.
Ya Allah, jadikanlah agar matiku sebagai mati Syahid,
sebagai seorang yang mati dalam Jihad di jalanMu, sehingga aku bisa memberikan
syafaat bagi kedua orang tuaku.
Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang mengabulkan doa-doa
hambaMu, dan hanya kepadaMu lah kami memohon, maka kabulkanlah doa-doa kami.
Amin…
diantara isak tangis, Ponorogo, 11 Februari 2008
–Akhirnya berani juga aku selesaikan, artikel ini–
[1] Itulah kenapa saya sarankan Anda untuk
mengunjungi orang sakit, dan itu jangan hanya sekali. Setidaknya sampai beliau
sembuh.
February 16th, 2008 at 8:28 pm
aww…
bagus akh…ana aja sampai nangis
hiks….
(aduh…malu nih diliatin orang)
February 20th, 2008 at 6:50 am
sampai nangis waktu bacanya?
masak sih…
March 6th, 2008 at 10:05 pm
pilihan yang bagus(title)