Lebaran Ini Tak Boleh Ada Kesedihan
Lebaran Ini Tak Boleh Ada Kesedihan

Apa yang identik dengan lebaran? Bagi kebanyakan orang di
Indonesia, selain ketupat tentulah mudik dan baju baru. Yang pertama adalah
mudik. Entah dari mana dan sejak kapan budaya mudik ini mulai ada. Gawe besar
seluruh orang Indonesia. Tak hanya mereka yang muslim taat, karena mereka yang
bahkan shalatnya setahun dua kali, atau sepekan sekali, atau mereka yang bahkan
tak shalat dan tak puasa sekalipun, juga melakukan rutinitas mudik.
Kami sekeluarga biasanya mudik ke kota. Maksudnya ya memang
pulang kota, bukan pulang kampung. Wajar sih, mengingat nenek dan keluarga
besar kami justru ada di Surabaya dan sekitarnya. Sedangkan kami ada di kota
kecil bernama Ponorogo. Masak mudik dari Ponorogo ke Surabaya dibilang pulang kampung?
Selain di Surabaya, biasanya kami juga ke Madura. Disini
tempat nenek kami dari pihak Ayah. Hanya saja beberapa tahun lalu nenek di
Madura sudah meninggal. Jadinya selama beberapa tahun belakangan ini, kami
sekeluarga berlebaran di Surabaya, lantas sore atau keesokan harinya, barulah
ke Madura. Meski tak ada lagi nenek, toh masih ada paman dan bibi yang
berkumpul disana. Atau kalaupun kami tak ke Madura, biasanya justru keluarga
dari Madura yang datang berkunjung ke keluarga Surabaya.
Yang kedua adalah baju baru. Hampir setiap lebaran, aku
selalu mendapatkan baju baru. Maklum, aku bukanlah orang yang suka sekali
berbelanja baju. Bahkan bisa dibilang, aku hampir tak pernah membeli baju.
Sederhana, aku merasa bahwa bajuku sendiri sudah lebih dari cukup. Baju baru
yang kudapat, sama sekali bukan keinginanku. Dari yang ada di lemariku,
barangkali hanya jaket atau kaus organisasi dan rompi satu-satunya milikku.
Juga kemeja lengan panjang yang memang kuperlukan sebelum masuk ke Universitas
dulu. Selebihnya? Semua baju pilihan dan dibelikan atas dasar keinginan orang
tuaku.
Untuk baju pun, jarang sekali beli jadi. Biasanya hanya beli
kainnya untuk kemudian dijahitkan di tukang jahit langganan keluarga. Celana?
Semenjak SMP, aku belum pernah membeli celana dari toko yang cukup dengan
ukuranku. Maklum, orang gendut, jadinya harus beli kain sendiri, kemudian
dijahitkan. Ini berlaku untuk semua celanaku semenjak lulus SD hingga sekarang.
Karena dijahitkan, untuk menghemat seringkali kain yang dibeli dijadikan satu
antara aku dan Ayahku. Sehingga tak jarang, ketika lebaran jadilah bajuku dan
ayah sama persis.
***
Dan bagi keluarga kami, barangkali lebaran kali ini, adalah
lebaran yang agak berbeda dibanding lebaran-lebaran tahun sebelumnya.
Sederhana, kondisi tahun ini tak sama dengan kondisi keluarga tahun-tahun
sebelumnya. Ayah tengah mengalami skorsing. Ibu? Kondisi ibu meskipun sudah
bisa berjalan, namun tengah dalam kondisi pemulihan pasca stroke.
Tak seperti lebaran-lebaran biasanya, tahun ini Ayah tak mendapatkan
THR sama sekali. Entah keterangan dari kantor wilayah tidak jelas, surat edaran
pusat hanya sampai di kantor wilayah, selebihnya di masing-masing cabang hanya
berbentuk slip gaji yang sudah jadi. Ayah sudah mengajukan komplain ke kantor
pusat di Jakarta, dan dijawab bahwa hal itu akan diurus secepatnya. Konon dalam
2-3 hari, namun sampai lebaran tiba, realisasi tersebut tetap saja tidak ada.
Jadilah untuk pertama kalinya, ayah bekerja tanpa adanya Tunjangan Hari Raya.
Ketika beberapa waktu sebelumnya aku lolos sebagai finalis
dalam lomba desain software, sempat aku pikir, semoga hadiahnya bisa aku
gunakan sebagai pengganti THR ayah. Setidaknya mungkin aku bisa membelikan
sesuatu untuk Ayah dan Ibu. Namun akhirnya aku harus menahan diri karena ternyata
hadiah baru diserahkan tanggal 9 Nopember. Masak hari raya mau diundur 1 bulan
kan tak mungkin? Mau pinjam uang buat ber-lebaran? Sayang sekali, uang
transport buat lomba saja masih ber-hutang ke teman, masak mau hutang lagi?
Entah, apa jadinya lebaran di rumah kami tanpa kakak. Boleh
dibilang untuk memenuhi kebutuhan beliau saja sudah sangat minim. Gaji beliau
pun masih di bawah UMR, untuk hari raya kali ini pun, beliau hanya berharap
dari THR perusahaannya. Ah, entahlah apa jadinya lebaran kami tanpa beliau,
maklum di akhir-akhir bulan puasa, beliau mengirim banyak sekali jajan buat
suguhan lebaran di tempat kami. Aku pun heran, ada 3 dus besar, paket dari
kakak yang dikirim ke Ponorogo.
“Mama kan masih belum bisa buat jajan, makanya ini aku belikan
saja”, ujar kakakku.
Ah, kakakku hanya beralasan, ia tahu bahwa Ayah tak mendapat
THR kali ini. Tak mungkin membeli makanan-makanan seperti itu padahal untuk
belanja kebutuhan sehari-hari saja, masih terbatas. Ibu? Setelah Ibu terkena
stroke beberapa bulan lalu, beliau masih terlalu lemah untuk membuat jajan
seperti biasa. Berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya yang menerima pesanan
kue kering ber-kilo-kilo dari tetangga, karena sekarang untuk memasak pun,
seringkali Ayah yang membuatkan. Padahal uang dari pesanan itulah yang biasanya
membiayai kue kering di ruang tamu kami, dan bahkan uang untuk mudik kami
sekeluarga.
Namun syukurlah, meski dalam suasana seperti itu, tak
kulihat kesedihan di raut wajah Ayah dan Ibuku. Setidaknya, itu yang kutangkap.
Meski ayah tak banyak bicara dan ibu banyak mengeluh tentang adik-adik Ayah
yang berbulan-bulan tak melunasi hutangnya, setidaknya dalam keseharian, tak
tampak kesedihan di raut muka mereka.
Kakak baru bisa pulang ke rumah pada H-1, sederhana, karena
beliau baru libur waktu itu. Maklum tak seperti aku yang masih kuliah, beliau
tentu harus bekerja. Sempat khawatir beliau tak datang mengingat malam takbiran
pukul 9 malam, beliau masih ada di Malang. Padahal perjalanan malang-Ponorogo
sekitar 6 jam.
“Lha Lia ini lebarannya kapan?”, tanya ibuku.
Tapi untunglah jam 3 pagi kakakku datang juga. Karena tak
lengkap rasanya jika Sholat Id hanya bertiga tanpa kakak.
Tanpa terasa, sampai juga hari raya tersebut. Alhamdulillah,
suasana yang berbeda betul-betul kami rasakan. Jika boleh dibilang, ini pertama
kali kami berhari raya Idul Fitri di Ponorogo. Pertama kali pula ber-Idul Fitri
tanpa kehadiran nenek dan sanak saudara yang lain. Kami merasa sepi, tapi kami
yakin, di tempat nenek pun lebih merasa sepi lagi.
“Wah kalau kayak gini, kasihan nenek, rumahnya jadi sepi“,
gurau ibuku, “Biasanya kan kita yang meramaikan kalau kayak gini”, lanjutnya.
Selepas Sholat Idul Fitri, masih dengan baju terbaik hari
itu seperti biasa kami saling ber-salam-salaman. Opor ayam dan lontong yang baru dibeli
kemarin pun menjadi menu utama hari itu. Ah, makanan mewah seperti ini sudah
jarang dibuat ibu,belakangan ini. Kalau bukan hari raya, atau kalau kami tak
pulang, aku tak yakin menu seperti ini ada. Setidaknya, syukurlah di hari raya
ini kami masih ada makanan enak.
Meski tak punya baju baru, hanya jaket bekas yang kubeli
seharga 20 ribu di pasar barang bekas di Malang, tak membuatku merasa sedih
atau apa. Toh, ini sudah lebih dari cukup bagiku. Meski belum bisa bersua
dengan nenek, toh kami berharap masih bisa di lain waktu. Terlebih mudik bagiku
adalah bertemu dengan ayah dan Ibu tercinta.
Untunglah aku bukan orang yang suka mengeluh dengan kondisi
keluarga. Bagaimanapun juga, justru kami harusnya bersyukur. Karena jika dilihat-lihat,
masih banyak penduduk di negeri ini yang sudah lama tak mendapat baju baru,
bukan hanya setahun dua tahun, barangkali andai tak ada Bakti Sosial ataupun
pemilu, baju mereka akan tetap itu-itu saja. Masih teringat ketika beberapa
kali aku mengikuti baksos, dan orang-orang tampak gembira meski dengan baju
bekasnya. Dan lagi, masih banyak pula mereka yang ketika hari raya, masih harus
bekerja mencari nafkah, atau ikut berpartisipasi melancarkan arus mudik. Atau
ketika mereka senggang, mereka mau tak mau berHari raya sendirian hanya karena
tak punya biaya.
Lebaran, tetaplah lebaran. Yang namanya hari raya, tentulah
tak boleh ada kesedihan. Bukankah Rasulullah menyeru di hari raya ini untuk
semuanya ceria? Baik yang merayakan ataupun tidak! Bahkan ibu pun berkata
padaku bahwa jika hari raya, jangan sampai kita berziarah kubur karena hanya
akan menambah kesedihan kita. Jangan sampai ada kesedihan, sebagai gantinya,
banyak senyum yang terhias di bibir Ayah dan Ibuku hari itu, lebih dari senyum
di hari-hari biasanya.
Dan memang tak ada satu kesedihan pun dalam keluarga kami.
Jika bukan hari raya, kapan lagi kami bisa berkumpul lengkap satu anggota
keluarga? Ayah dan ibu pun tak ingin membagi kesedihannya, ketika ada tamu dan
ditanyai kok kami tidak mudik, mereka hanya menjawab bahwa nenek tidak
mengijinkan kami kesana karena Ibu masih sakit. Ah, aku tahu itu hanya alasan,
seandainya kami ada uang, tentulah kami akan keNenek, apalagi dokter-nya ibu
pun sudah mengijinkan. Inilah orang tuaku, bisa jadi kesedihan itu ada, tapi
mereka tak akan pernah mau membaginya, pada putra putrinya saja tak mau,
apalagi pada tamu-tamu kami?
Hari raya ini tetap ada banyak senyum, toh kebahagiaan tak
bisa diukur dari mudik ataupun baju baru. Keceriaan hari raya, bukan bersumber
dari semua hadiah, parsel, kue kering, atau hal-hal seperti itu. Karena hari
raya ini adalah hari raya bagi mereka yang berpuasa, bagi mereka yang memang
betul-betul berhari raya.
Inilah lebaran berkesan bagi kami. Pertama kali kali di
Ponorogo, pertama kali pula lebaran ini tanpa mudik dan baju baru. Tak
selayaknya kami mengeluh, justru kami harus lebih merasa bersyukur. Bersyukur
karena usia kami masih dipertemukan dengan lebaran kali ini, karena kami masih
bisa bertemu lengkap dengan anggota keluarga kami, dan tak kalah, karena kami
masih bisa tersenyum di lebaran kali ini.
Malang, Oktober 2007
setelah balik ke Malang..



