dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for October, 2007


Lebaran Ini Tak Boleh Ada Kesedihan

Lebaran Ini Tak Boleh Ada Kesedihan

 
Ketupat_1
Apa yang identik dengan lebaran? Bagi kebanyakan orang di
Indonesia, selain ketupat tentulah mudik dan baju baru. Yang pertama adalah
mudik. Entah dari mana dan sejak kapan budaya mudik ini mulai ada. Gawe besar
seluruh orang Indonesia. Tak hanya mereka yang muslim taat, karena mereka yang
bahkan shalatnya setahun dua kali, atau sepekan sekali, atau mereka yang bahkan
tak shalat dan tak puasa sekalipun, juga melakukan rutinitas mudik.

 

Kami sekeluarga biasanya mudik ke kota. Maksudnya ya memang
pulang kota, bukan pulang kampung. Wajar sih, mengingat nenek dan keluarga
besar kami justru ada di Surabaya dan sekitarnya. Sedangkan kami ada di kota
kecil bernama Ponorogo. Masak mudik dari Ponorogo ke Surabaya dibilang pulang kampung?

 

Selain di Surabaya, biasanya kami juga ke Madura. Disini
tempat nenek kami dari pihak Ayah. Hanya saja beberapa tahun lalu nenek di
Madura sudah meninggal. Jadinya selama beberapa tahun belakangan ini, kami
sekeluarga berlebaran di Surabaya, lantas sore atau keesokan harinya, barulah
ke Madura. Meski tak ada lagi nenek, toh masih ada paman dan bibi yang
berkumpul disana. Atau kalaupun kami tak ke Madura, biasanya justru keluarga
dari Madura yang datang berkunjung ke keluarga Surabaya.

 

Yang kedua adalah baju baru. Hampir setiap lebaran, aku
selalu mendapatkan baju baru. Maklum, aku bukanlah orang yang suka sekali
berbelanja baju. Bahkan bisa dibilang, aku hampir tak pernah membeli baju.
Sederhana, aku merasa bahwa bajuku sendiri sudah lebih dari cukup. Baju baru
yang kudapat, sama sekali bukan keinginanku. Dari yang ada di lemariku,
barangkali hanya jaket atau kaus organisasi dan rompi satu-satunya milikku.
Juga kemeja lengan panjang yang memang kuperlukan sebelum masuk ke Universitas
dulu. Selebihnya? Semua baju pilihan dan dibelikan atas dasar keinginan orang
tuaku.

 

Untuk baju pun, jarang sekali beli jadi. Biasanya hanya beli
kainnya untuk kemudian dijahitkan di tukang jahit langganan keluarga. Celana?
Semenjak SMP, aku belum pernah membeli celana dari toko yang cukup dengan
ukuranku. Maklum, orang gendut, jadinya harus beli kain sendiri, kemudian
dijahitkan. Ini berlaku untuk semua celanaku semenjak lulus SD hingga sekarang.
Karena dijahitkan, untuk menghemat seringkali kain yang dibeli dijadikan satu
antara aku dan Ayahku. Sehingga tak jarang, ketika lebaran jadilah bajuku dan
ayah sama persis.

 

***

 

Dan bagi keluarga kami, barangkali lebaran kali ini, adalah
lebaran yang agak berbeda dibanding lebaran-lebaran tahun sebelumnya.
Sederhana, kondisi tahun ini tak sama dengan kondisi keluarga tahun-tahun
sebelumnya. Ayah tengah mengalami skorsing. Ibu? Kondisi ibu meskipun sudah
bisa berjalan, namun tengah dalam kondisi pemulihan pasca stroke.

 

Tak seperti lebaran-lebaran biasanya, tahun ini Ayah tak mendapatkan
THR sama sekali. Entah keterangan dari kantor wilayah tidak jelas, surat edaran
pusat hanya sampai di kantor wilayah, selebihnya di masing-masing cabang hanya
berbentuk slip gaji yang sudah jadi. Ayah sudah mengajukan komplain ke kantor
pusat di Jakarta, dan dijawab bahwa hal itu akan diurus secepatnya. Konon dalam
2-3 hari, namun sampai lebaran tiba, realisasi tersebut tetap saja tidak ada.
Jadilah untuk pertama kalinya, ayah bekerja tanpa adanya Tunjangan Hari Raya.

 

Ketika beberapa waktu sebelumnya aku lolos sebagai finalis
dalam lomba desain software, sempat aku pikir, semoga hadiahnya bisa aku
gunakan sebagai pengganti THR ayah. Setidaknya mungkin aku bisa membelikan
sesuatu untuk Ayah dan Ibu. Namun akhirnya aku harus menahan diri karena ternyata
hadiah baru diserahkan tanggal 9 Nopember. Masak hari raya mau diundur 1 bulan
kan tak mungkin? Mau pinjam uang buat ber-lebaran? Sayang sekali, uang
transport buat lomba saja masih ber-hutang ke teman, masak mau hutang lagi?

 

Entah, apa jadinya lebaran di rumah kami tanpa kakak. Boleh
dibilang untuk memenuhi kebutuhan beliau saja sudah sangat minim. Gaji beliau
pun masih di bawah UMR, untuk hari raya kali ini pun, beliau hanya berharap
dari THR perusahaannya. Ah, entahlah apa jadinya lebaran kami tanpa beliau,
maklum di akhir-akhir bulan puasa, beliau mengirim banyak sekali jajan buat
suguhan lebaran di tempat kami. Aku pun heran, ada 3 dus besar, paket dari
kakak yang dikirim ke Ponorogo.

 

“Mama kan masih belum bisa buat jajan, makanya ini aku belikan
saja”, ujar kakakku.

Ah, kakakku hanya beralasan, ia tahu bahwa Ayah tak mendapat
THR kali ini. Tak mungkin membeli makanan-makanan seperti itu padahal untuk
belanja kebutuhan sehari-hari saja, masih terbatas. Ibu? Setelah Ibu terkena
stroke beberapa bulan lalu, beliau masih terlalu lemah untuk membuat jajan
seperti biasa. Berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya yang menerima pesanan
kue kering ber-kilo-kilo dari tetangga, karena sekarang untuk memasak pun,
seringkali Ayah yang membuatkan. Padahal uang dari pesanan itulah yang biasanya
membiayai kue kering di ruang tamu kami, dan bahkan uang untuk mudik kami
sekeluarga.

 

Namun syukurlah, meski dalam suasana seperti itu, tak
kulihat kesedihan di raut wajah Ayah dan Ibuku. Setidaknya, itu yang kutangkap.
Meski ayah tak banyak bicara dan ibu banyak mengeluh tentang adik-adik Ayah
yang berbulan-bulan tak melunasi hutangnya, setidaknya dalam keseharian, tak
tampak kesedihan di raut muka mereka.

 

Kakak baru bisa pulang ke rumah pada H-1, sederhana, karena
beliau baru libur waktu itu. Maklum tak seperti aku yang masih kuliah, beliau
tentu harus bekerja. Sempat khawatir beliau tak datang mengingat malam takbiran
pukul 9 malam, beliau masih ada di Malang. Padahal perjalanan malang-Ponorogo
sekitar 6 jam.

 

“Lha Lia ini lebarannya kapan?”, tanya ibuku.

Tapi untunglah jam 3 pagi kakakku datang juga. Karena tak
lengkap rasanya jika Sholat Id hanya bertiga tanpa kakak.

 

Tanpa terasa, sampai juga hari raya tersebut. Alhamdulillah,
suasana yang berbeda betul-betul kami rasakan. Jika boleh dibilang, ini pertama
kali kami berhari raya Idul Fitri di Ponorogo. Pertama kali pula ber-Idul Fitri
tanpa kehadiran nenek dan sanak saudara yang lain. Kami merasa sepi, tapi kami
yakin, di tempat nenek pun lebih merasa sepi lagi.

 

“Wah kalau kayak gini, kasihan nenek, rumahnya jadi sepi“,
gurau ibuku, “Biasanya kan kita yang meramaikan kalau kayak gini”, lanjutnya.

 

Selepas Sholat Idul Fitri, masih dengan baju terbaik hari
itu seperti biasa kami saling ber-salam-salaman. Opor ayam dan lontong yang baru dibeli
kemarin pun menjadi menu utama hari itu. Ah, makanan mewah seperti ini sudah
jarang dibuat ibu,belakangan ini. Kalau bukan hari raya, atau kalau kami tak
pulang, aku tak yakin menu seperti ini ada. Setidaknya, syukurlah di hari raya
ini kami masih ada makanan enak.

 

Meski tak punya baju baru, hanya jaket bekas yang kubeli
seharga 20 ribu di pasar barang bekas di Malang, tak membuatku merasa sedih
atau apa. Toh, ini sudah lebih dari cukup bagiku. Meski belum bisa bersua
dengan nenek, toh kami berharap masih bisa di lain waktu. Terlebih mudik bagiku
adalah bertemu dengan ayah dan Ibu tercinta.

 

Untunglah aku bukan orang yang suka mengeluh dengan kondisi
keluarga. Bagaimanapun juga, justru kami harusnya bersyukur. Karena jika dilihat-lihat,
masih banyak penduduk di negeri ini yang sudah lama tak mendapat baju baru,
bukan hanya setahun dua tahun, barangkali andai tak ada Bakti Sosial ataupun
pemilu, baju mereka akan tetap itu-itu saja. Masih teringat ketika beberapa
kali aku mengikuti baksos, dan orang-orang tampak gembira meski dengan baju
bekasnya. Dan lagi, masih banyak pula mereka yang ketika hari raya, masih harus
bekerja mencari nafkah, atau ikut berpartisipasi melancarkan arus mudik. Atau
ketika mereka senggang, mereka mau tak mau berHari raya sendirian hanya karena
tak punya biaya.

 

Lebaran, tetaplah lebaran. Yang namanya hari raya, tentulah
tak boleh ada kesedihan. Bukankah Rasulullah menyeru di hari raya ini untuk
semuanya ceria? Baik yang merayakan ataupun tidak! Bahkan ibu pun berkata
padaku bahwa jika hari raya, jangan sampai kita berziarah kubur karena hanya
akan menambah kesedihan kita. Jangan sampai ada kesedihan, sebagai gantinya,
banyak senyum yang terhias di bibir Ayah dan Ibuku hari itu, lebih dari senyum
di hari-hari biasanya.

 

Dan memang tak ada satu kesedihan pun dalam keluarga kami.
Jika bukan hari raya, kapan lagi kami bisa berkumpul lengkap satu anggota
keluarga? Ayah dan ibu pun tak ingin membagi kesedihannya, ketika ada tamu dan
ditanyai kok kami tidak mudik, mereka hanya menjawab bahwa nenek tidak
mengijinkan kami kesana karena Ibu masih sakit. Ah, aku tahu itu hanya alasan,
seandainya kami ada uang, tentulah kami akan keNenek, apalagi dokter-nya ibu
pun sudah mengijinkan. Inilah orang tuaku, bisa jadi kesedihan itu ada, tapi
mereka tak akan pernah mau membaginya, pada putra putrinya saja tak mau,
apalagi pada tamu-tamu kami?

 

Hari raya ini tetap ada banyak senyum, toh kebahagiaan tak
bisa diukur dari mudik ataupun baju baru. Keceriaan hari raya, bukan bersumber
dari semua hadiah, parsel, kue kering, atau hal-hal seperti itu. Karena hari
raya ini adalah hari raya bagi mereka yang berpuasa, bagi mereka yang memang
betul-betul berhari raya.

 

Inilah lebaran berkesan bagi kami. Pertama kali kali di
Ponorogo, pertama kali pula lebaran ini tanpa mudik dan baju baru. Tak
selayaknya kami mengeluh, justru kami harus lebih merasa bersyukur. Bersyukur
karena usia kami masih dipertemukan dengan lebaran kali ini, karena kami masih
bisa bertemu lengkap dengan anggota keluarga kami, dan tak kalah, karena kami
masih bisa tersenyum di lebaran kali ini.

 

Malang, Oktober 2007

setelah balik ke Malang..

 

Perjalanan Pertamaku Diatas Awan…

Perjalanan
Pertamaku Diatas Awan…

 

Foto012
Di kalangan keluargaku, baik keluarga dari
pihak Ibu ataupun keluarga dari pihak Ayah, tak satupun yang pernah merasakan
naik pesawat terbang. Pesawat terbang komersil tentu, kalau pesawat militer,
mungkin saja pamanku yang mantan marinir itu pernah, mungkin sih, tapi aku juga
tak tahu. Di keluarga besarku pun juga belum ada yang naik Haji, jadi tentu
belum pernah merasakan namanya naik pesawat. Toh kalaupun mau naik pesawat
keluargaku mau kemana? Lha wong keluarga besar kami hanya berpusat di Surabaya
dan Madura. Dari keluarga besar kami pun, baik garis nenek dari ibu ataupun Ayah,
yang sempat mengenyam bangku perkuliahan
hanya aku, kakakku, dan seorang pamanku. Kesemuanya pun kuliah tak jauh-jauh,
aku dan kakak di Malang, sedangkan pamanku itu di Madura. Butuh ke mana lagi?
Jadi untuk alasan apa kami naik pesawat?

 

Aku? Satu-satunya kendaraan termahal yang
pernah kutumpangi adalah Kereta Api kelas Eksekutif, jurusan Jakarta-Malang,
itu ketika aku masih kelas 3 SMA dan hendak pulang dari suatu lomba. Saat itu tiketnya
masih 220ribu, lumayan mahal menurutku saat itu, tapi yah, biarlah,
hitung-hitung pengalaman, pikirku.

 

Tapi tetap saja aku tak menyangka bahwa suatu
saat, aku pun akan merasakan salah satu angkutan yang meski kelas ekonominya
saja, bisa dibilang wah…. wah dari harga tentu. Yah, aku naik pesawat
terbang!

 

Bermula dari sebuah lomba elearning award
tingkat nasional, yang diadakan oleh pustekkom depdiknas, Aku bersama temanku
menjadi salah satu finalisnya. Tapi kami menghadapi satu kendala yang boleh
dibilang agak rumit. Lomba diadakan di akhir bulan Ramadhan, yang ini berarti
kami akan menghadapi sesuatu yang jarang kami rasakan, Arus Mudik…!!

 

Waduh, bisa-bisa kita lebarannya malah di Jakarta nih!” tutur
temanku. Maklum, untuk berangkat ke Jakarta
bisa jadi tak akan banyak masalah, namun untuk “keluar” dari Jakarta, itu baru
masalah. Tapi untunglah, sebuah solusi “mahal” pun terlintas muncul, kami akan
naik pesawat saja. Toh jika tidak, satu-satunya angkutan darat yang tersedia
dalam kondisi seperti ini tentulah yang berbau ekonomi. Dan tahu sendiri
bagaimana kondisi kereta ekonomi dikala mudik seperti ini.

 

Singkat kata, tiket pesawat pun sudah dipesan
melalui agen tiket lokal. Lumayan mahal sih, untuk ke Jakarta-Malang via
Mandala Air harganya 350ribu. Pulangnya pun lebih mahal lagi, 500ribu via Adam
Air. Bisa dibayangkan, pulang pergi kami sudah dipastikan habis 850ribu. Ah,
maklum kondisi menjelang lebaran. Karena biasanya sih tak sampai semahal itu.

 

Di bandara…

Foto011
Maka inilah my First Flight…. Keberangkatan
ini kami mulai dari Bandara Abdurrahman Saleh. Bandara milik militer yang
sekarang dipakai untuk komersil. Untuk masuk menuju lokasi, mobil yang kami
tumpangi pun harus diperiksa ala militer, yah, pemeriksaan asal-asalan sih,
biasa menunjukkan betapa lemah kesadaran kita akan security. Untuk ke Bandara
pun kami harus melalui kompleks militer. Akhirnya sampai juga, kami tiba di
Bandara Abdurrahman Saleh pukul 9.30 Masuk di Bandara tas kami diperiksa. Yah,
tas kami melalui ban berjalan yang kemudian discan secara otomatis, barang
macam apa sih yang ada di tas kami. Laptop kami keluarkan, karena khawatir
gelombang pendeteksiannya akan berpengaruh untuk instrumen didalamnya, yah
hanya jaga-jaga. Adapun tubuh kami? Aku sih langsung masuk aja, melalui semacam
gerbang, tapi ternyata alarm berbunyi sehingga mau tak mau kami digeledah
manual (??). Setelah tahu sumber penyebabnya hanya handphone, kami pun disuruh
maju melanjutkan.

 

Mulai sini, orang tua temanku yang mengantar
sudah tidak bisa mengantar lagi. Ini sudah menjadi semacam batas bagi
pengantar, mengingat setiap yang masuk harus menunjukkan tiket pesawat yang
sudah dibeli. Maklum sih, tak bakal ada kondektur yang mengecek tiket dan
menarik uang di Perjalanan.

 

Lanjut kami harus check in (kayak hotel saja),
semacam registrasi ulang untuk menunjukkan bahwa kami datang. Disini tiket kami
tunjukkan, sekaligus barang yang akan masuk ke bagasi pesawat kami serahkan.
Sebagai buktinya, di tiket kami ditempel dengan semacam stiker bagasi. Yah,
bukti bahwa kami akan bisa mengambilnya sesampainya di airport nanti. Kami
serahkan saja tas kami yang berisi khusus pakaian. Setelah Check in kami
dipersilahkan menunggu di Peron. Masuk peron bayar lho, bayarnya 6000 rupiah.


–Before
Taking Off–

Ruang tunggu
pesawat yang sepi membuatku berpikir, tentulah tak banyak penumpang hari itu.
Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya kami pun dipanggil. Bukan kami saja sih,
melainkan juga penumpang pesawat yang lain. Keluar dari ruang tunggu, tiket
kami diperiksa sekali lagi. Hemm… kalau tak salah sudah 3 kali tiket kami
diperiksa. Ketika masuk, ketika check in, dan ketika keluar dari peron menuju
tempat pesawat. Maklum juga sih, mengingat ini pesawat, bukan kereta api atau
bus yang bisa dengan mudah menurunkan penumpang di terminal atau stasiun
selanjutnya

 

Ternyata pesawat
diparkir tak jauh dari bangunan tempat kami menunggu. Sekitar 150 meter,
pesawat Putih dengan beberapa cat Biru bertulis Mandala itu diparkir. Lumayan
besar juga, begitu pikirku. “Benda sebesar ini bisa terbang? Nggak mungkin!
Nggak mungkin!!” gurau temanku. Aku hanya tertawa kecil, yah sepintas memang
tak logis juga benda sebesar dengan berat berton-ton ini bisa terbang. Namun
seandainya saja kami melihat yang lebih besar daripada ini semisal Boeing 747
atau Airbus yang berkapasitas lebih dari 400 penumpang, tentulah kami akan
lebih terheran-heran. Ah, tentulah ini ilmiah, anak Fisika saja tentu tahu, dan
kami pun yakin, benda sebesar ini terbang dengan kekuatan Fisika, bukan
metafisika tentu.

 

Foto013_1Ini penerbangan
pertama bagi kami, dan dasar orang “kampung” yang “tak kenal malu”, jadilah
kami foto-foto dulu didepan pesawat. Diliatin oleh petugas dan penumpang lain, biarlah, yang penting ada
kenang-kenangannya. Toh, kami sama-sama dikenal orang yang agak “gila” di kelas
kami. ;)

 

Setelah cukup
berfoto ria, akhirnya naik juga kami ke pesawat. Disambut oleh pramugari yang sekaligus mengecek (lagi)
tiket kami. Suasana kabin pesawat, jika boleh aku gambarkan lebih mirip dalam bus atau kereta api eksekutif.
Perbedaannya paling hanya jarak antar kursi yang seperti kelas ekonomi. Yah,
maklumlah, kami di kelas ekonomi. Untung saja masih sepi, sengaja aku pilih
tempat duduk di dekat jendela. Masak penerbangan pertama cuma nonton lorong
pesawat aja? Nggak seru kan?

 

Foto017
Sebelum
perjalanan dimulai, pramugari menyampaikan kata “sambutan”nya. “Sesuai dengan
peraturan penerbangan sipil, kami harus menjelaskan prosedur keamanan
penerbangan”, suara di microphone itu terdengar merdu. Selanjutnya, bagai
seorang sales, dua orang pramugari memperagakan mulai cara mengenakan sabuk
pengaman, cara mengenakan pelampung, sampai apa yang harus dilakukan jika
terjadi kondisi darurat lainnya. Karena ini penerbangan pertamaku, aku pun
harus mendengarkan dengan seksama. Yah, itung-itung pengetahuan dan jaga-jaga,
toh kita tak pernah berharap bakal melalui seluruh prosedur darurat itu kan?
Tahu apa yang kukagumkan dari seluruh yang dikatakan pramugari itu? Mereka menggunakan
dua bahasa mulai awal hingga akhir dengan lancar. Bahasa Indonesia, kemudian
bahasa Inggris. Tapi yah mungkin karena sudah biasa dan yang diucapkan pun saya
yakin hanya itu-itu saja, jadinya fasih.

Pramugari itu
juga menjelaskan bahwa perjalanan kami ke jakarta akan ditempuh dalam waktu 1
jam 15 menit dengan ketinggian 2800 kaki diatas permukaan laut.

 

Siap? Sabuk
pengaman dikenakan, dan berangkat!!

 

-Lets Fly-

Pesawat yang
kutumpangi mulai bergerak perlahan. Semakin lama semakin cepat, namun akhirnya
melambat kembali. Ternyata, pesawat menuju ke ujung landasan. Di ujung,
landasan, pesawat berputar dahulu, Hemm… mengemudikan mobil yang bagiku sudah
lumayan susah tampaknya tak ada apa-apanya dibanding dengan mengemudikan benda sebesar pesawat ini. Ah ya
tentulah, untuk mendapatkan predikat seorang pilot tentu pelatihannya sangat beda bila dibandingkan menjadi seorang
sopir bus ataupun taksi.

 

Pesawat sempat
berhenti sebentar, mungkin semacam ancang-ancang, pikirku. Dari microphone
terdengar pilot berbicara, tapi sayang suaranya tak jelas. Mungkin memberi tahu
bahwa pesawat sebentar lagi akan take off.

 

Tak lama mesin
pesawat mulai terdengar keras, “Jangan lihat keluar, ntar kamu pusing”, nasehat
temanku. Tapi aku cuek saja, toh ini pengalaman pertama buatku, aku harus
memperhatikan setiap detailnya. Aku ingin menyaksikan bagaimana pesawat ini
mulai terangkat.

 

Deru mesin
semakin keras, seiring pesawat yang bergerak semakin cepat, dan semakin cepat.
Sempat terlintas di benakku, bagaimana seandainya ketika akan mengudara,
pesawat ternyata tak cukup cepat untuk terbang padahal sudah sampai ujung
landasan. Mau Ngerem mendadak? Ah tak mungkin lah. menabrak pagar pembatas,
lalu nyungsep tentu. Tapi segera kubuang saja pikiran-pikiran seperti itu. Percaya
saja deh sama pilot yang sudah pengalaman. Dasar kebanyakan nonton Film, jadi begini nih akibatnya.

 

Dalam penerbangan
pertama ini, terus terang aku tegang dan deg-degan juga, bagaimana kalau
begini, kalau begitu, pikiran-pikiran semacam ini entah terkadang muncul sendirinya di pemberangkatan.
Seandainya aku terbang sendirian tanpa teman, tentulah aku semakin tegang.
Terlebih sebelum berangkat, tanpa sengaja aku membuka situs internet. Disitu
dijelaskan bahwa usia pesawat yang dipakai maskapai Indonesia kebanyakan sudah
sangat tua. Wah kalau sepeda motor atau mobil mogok sih masih mending diparkir
di tepi jalan tapi kalau ini pesawat mogok di udara, gimana hayo? Mau
parkir diatas awan? Tapi untungnya aku bersama sahabat, yang meski sama-sama
pertama kali naik pesawat, tapi untungnya dia lebih “gila” dari aku. Ah,
jadilah penerbangan pertama ini tak terlalu menegangkan. “Kamu tak menemukan
baut yang lepas di sayap kan”, guraunya. Aku hanya tertawa kecil, oalah dasar
orang komputer paling konyol yang pernah kutemui.

 

Pesawat pun mulai
mengudara. Aku perhatikan daratan yang semakin jauh dari pandangan. Aku jadi
heran, perasaan pesawat ini tak terlalu cepat, tapi kok sudah bisa mengudara.
Pesawat semakin tinggi dan semakin tinggi. Bangunan di bawah jadi semakin
kecil. Ujung pesawat terangkat selama beberapa saat, semacam miring ke atas.
maklum lah, kita kan harus semakin naik. Tapi daripada melihat ujung kabin
pesawat yang lebih tinggi, mending melihat keluar jendela. Lebih mengasyikkan.

 

Pesawat, mulai
berbelok, terlihat dari badan pesawat yang mulai miring kekiri. Yah, hampir
mirip yang kulihat di TV kalau pesawat yang berbelok itu, pastilah miring.
Hanya saja miringnya tak seekstrim pesawat tempur militer yang antara 45-90
derajat, maklum, ini kan pesawat penumpang komersil. Meski kemiringan pesawat
tak terlalu curam, namun lumayan deg-degan juga.

 

Mulai sini,
pemandangan mulai membuatku takjub, gumpalan awan putih kami tembus dan kami
lewati dan tak lama kemudian, Subhanallah, kami sudah berada diatas awan. Awan
yang selama ini hanya bisa kulihat dari bawah, kini aku menembus lapisan
tersebut dan berada diatasnya. Subhanallah, andai saja kami bawa kamera, pasti
akan aku potret habis-habisan pemandangan ini. Pemandanganannya tak seperti
ketika kita melihat awan dari puncak gunung yang tinggi, sama sekali berbeda.

 

Untungnya
gumpalan awan tak tebal merata, hanya sesekali saja, sehingga aku bisa
melihat daratan dibawah. Rasanya seperti
melihat foto udara saja. Jika pernah menggunakan GoogleEarth, atau mengakses
wikimapia (http://wikimapia.org) kurang lebih seperti itulah. Hanya saja, yang
aku lihat, semua “foto udara” tadi bergerak dan bersifat real time. Apa yang
bergerak di daratan, pun tampak bergerak ditempatku. Mobil, truk, bus, dan
rumah-rumah tampak sangat kecil. Bahkan mobil hitam yang bergerak dijalan raya
pun tampak seperti satu noktah kecil yang bergerak di daratan.

 

Sekitar 15 menit
kemudian, pemandangan bawah mulai berubah. Mulai didominasi warna biru. Ya,
kami berada di atas laut. Mungkin sebagian dari kita bertanya, bukankah Malang
Jakarta lebih dekat jika diambil garis lurus, dan itu berarti lewat daratan
semua? Kalau menurut temanku yang sudah pernah naik pesawat, katanya jika
berada diatas air, kalaupun terjadi kecelakaan sehingga harus mendarat darurat,
maka kemungkinan selamat lebih besar jika harus mendarat darurat di darat.
Hemm.. jadi ingat kasus mendarat daruratnya pesawat Garuda di sungai Bengawan
Solo dulu.

 

Ah, bosan juga
melihat pemandangan yang hanya biru saja. Maklum, pemandangannya sama terus.
Memang sesekali terlihat juga beberapa pulau kecil yang Subhanallah,
pulau-pulau yang ukurannya barangkali hanya satu kompleks perumahan, Pulau yang
dikelilingin dengan garis pantai yang indah, ditengahnya tampak hijau rimbun
dipenuhi pepohonan, ada juga beberapa rumah, entah rumah atau resort. Layaknya
pulau impian! Sayangnya aku tak tahu pulau apa itu, dan milik siapa. Sesekali
pula terlihat kapal-kapal besar pengangkut barang yang menuju daratan.

 

Melihat daratan dari ketinggian memang bisa jadi sudah
biasa bagiku, maklum Google Earth dan wikimapia.org sudah sering menjadi
rujukanku. Sehingga yang membuatku kagum, adalah melihat Awan. Sungguh, jika
ingin tahu rasanya terbang, bukan dengan melihat Google earth atau wikimapia
tadi, melainkan mengalami sendiri bagaimana kau terbang, bergerak dan berada di
atas awan-awan tersebut. Bagaimana rasanya kau menembus gumpalan awan,
mengintip langit yang terbebas tanpa penghalang satu awan pun (meski kadang ada
juga awan yang masih jauh lebih tinggi). Subhanallah, itu satu-satunya kata
yang bisa mewakili kekagumanku, betapa jika seperti ini, seorang manusia tak
ada apa-apanya. Awan di kejauhan yang
tampak seperti daratan kapas yang empuk, yang menghampar hingga batas
cakrawalaku. Tak seperti kau melihat ujung samudera yang berbatas dengan awan
ata langit, karena yang kulihat adalah ujung dari awan yang berbatas langsung
dengan langit. Subhanallah, itu yang bisa aku gambarkan dari penerbangan ini.

 

– Landing –

Perlahan pesawat
kurasa mulai menurun. Awan yang, sebelumnya dibawah kami, perlahan-lahan mulai
tampak sejajar, melihat bagaimana awan berbatas, sejajar dengan pesawat ini
membuatku semakin berdecak kagum. Tak sampai semenit, awan itu sudah berada
diatas kami. Kami sudah dekat dengan tujuan, begitu pikirku. Kulihat sahabatku
tadi, eh ternyata dia tertidur.

 

Garis pantai
mulai terlihat, menandakan kami yang makin dekat dengan daratan. Aku makin
merasa bahwa kami sudah dekat dengan tujuan. “Bangun, kita sudah hampir
sampai”, ujarku pada temanku membangunkan. Benar saja, tak berapa lama,
pramugari mengumumkan bahwa kita sebentar lagi akan mendarat. Lampu petunjuk
“fasten seat belt” menyala. Aku kencangkan sabuk kursi yang selama penerbangan
hanya kulonggarkan saja.

 

Daratan semakin
dekat, bangunan-bangunan mulai tampak semakin besar. Pesawat berbelok selama
beberapa saat hingga akhirnya lurus lagi. Jalan raya mulai tampak, beberapa
mobil bahkan pengendara sepeda motor sudah mulai kelihatan. Di bawah kami bangunan
pabrik, gudang, dan sesekali perumahan mulai terlihat jelas. Aku jadi terpikir,
dengan ketinggian pesawat yang seperti ini, tidakkah mereka merasa bising?

 

Sempat khawatir
juga mengingat dari tadi aku tak melihat ada satu bandara pun. Hanya daerah industri,
beberapa sawah dan jalan raya. “Bagaimana jika akhirnya kami mendarat di atap
pabrik, atau nyungsep di rumah penduduk, Ini mana bandaranya?”, lagi-lagi
pikiran buruk itu melintas. Namun tak urung segera kubuang jauh-jauh pikiran itu. “Ini kok negative
thinking melulu. Sudahlah, percaya saja sama pilotnya”, batinku. Ah,
benar-benar dalam kondisi seperti ini kita dilatih untuk menyerahkan semuanya
pada Allah, maklum, dengan ketinggian dan kecepatan seperti ini, jika kami
jatuh di darat, kemungkinan hidup tidaklah besar.

 

Daratan padang
hijau segera menghapus kekhawatiranku. Ini tentulah bandara, pikirku. dan benar
saja, landasan pacu mulai terlihat. Landasan semakin terasa dekat, hingga
akhirnya sebuah hentakan ringan menunjukkan bahwa roda bertemu dengan daratan.
Sesekali, suara menderu keras terdengar dari samping pesawat, semacam mengerem
dengan tahanan udara tentu. Dan akhirnya kecepatan pesawat mulai kurasakan
melambat, dan melambat.

 

Pramugari segera
memberikan “sambutan penutupnya”, memberitahu bahwa sebelum pesawat betul-betul
berhenti untuk tidak menyalakan Handphone, memberitahu waktu setempat pukul
sekian dan bahwa tidak ada perbedaan zona waktu antara Malang dan Jakarta.
Kata-kata tersebut ditutup dengan promosinya, “Selamat jalan, dan kami harap
bisa melayani kembali saudara dalam waktu dekat”.

 

Pesawat berhenti,
tas di bagasi penumpang kami ambil, dan kami pun menuruni tangga keluar
pesawat. Kupikir, di Sukarno Hatta menggunakan semacam jembatan untuk keluar
masuk penumpang, eh ternyata tidak. Barangkali di penerbangan internasional
saja yang seperti itu.

 

– Di Bandara Sukarno hatta –

Kulayangkan pandangan disekeliling bandara, kalau boleh
menggambarkan, suasananya hampir mirip dengan terminal. Ada pesawat yang
parkir, ada yang sedang bergerak, ada penumpang yang naik, dan sejenisnya.
Bedanya, tak ada banyak orang disini. Kalau bukan penumpang, ya petugas
maskapai atau petugas bandara. Jadi jangan harap menemukan pengamen, atau
pedagang asongan, apalagi anak kecil yang sedang bermain-main disini.

 

Karena tak tahu,
kami ikut saja kebanyakan penumpang ke arah mana. Yang jelas, mereka tentu akan
mengambil bagasi, lantas keluar. Sedemikian halnya kami. Maka kami pun ikut
saja, melalui lorong-lorong di Bandara. Lumayan juga sih jalan kaki dari turun
pesawat hingga tempat pengambilan bagasi.

 

Suasana ruang
pengambilan bagasi tampak seperti aula luas. Ada beberapa blok tempat
pengambilan. Untungnya suasana ruangan yang sepi sehingga menunjukkan blok yang
ramai, tentulah blok kedatangan dari pesawat kami. Menarik juga, melihat tas-tas yang berjalan diatas ban yang
alurnya melingkar-lingkar. Beberapa porter menawarkan untuk membawakan barang
bawaan, tapi toh, buat apa kami butuh porter. Lha wong barang bawaan cuma satu
ransel isi pakaian.

 

Tas pun ketemu,
kami ambil dan segera pergi. Sebelum keluar bandara, kami ke loket Maskapai Adam air untuk mengurus kepulangan
esok harinya, termasuk bertanya jam berapa kami harus check-in dan seterusnya.
Selesai, melangkahkan kaki keluar, dan …. Welcome To Jakarta, selamat datang
di Jakarta. Kami segera keluar dan inilah akhir dari penerbangan pertamaku.

 

Ternyata begitulah rasanya terbang. Hanya bisa aku
gambarkan dengan satu kata, Subhanallah…. Sebenarnya ingin merasakan kembali sensasi terbang seperti itu lagi,
namun mengingat suasana dan resiko yang berbeda dengan naik, katakanlah kereta
api eksekutif, ditambah dengan harga tiket yang sebegitu mahalnya, rasa-rasanya
tak usahlah sering-sering naik pesawat. Cukup kalau betul-betul perlu saja.

 

Malang, Oktober 2007