Isyhadu Ana Muslimin
Aku ingin ber-Islam sesuai pemahaman salafush shalih,
Tapi jika aku tak pernah ikut ta’lim di ustadz-ustadz kalian, apakah aku juga bisa disebut sebagai salafi?
Aku ingin agar Islam ini tegak diseluruh aspek dengan syumuliyatul Islam-nya,
Tapi jika aku tak pernah ikut halaqah-halaqah kalian, apakah aku juga bisa disebut sebagai ikhwanul muslimin?
Aku ingin agar khilafah Islam berdiri tegak beserta syariatnya,
Tapi jika aku tak pernah ikut aksi-aksi kampanye kalian, apakah aku juga bisa disebut sebagai Hizbut Tahrir?
Aku ingin memakmurkan masjid dan akupun berdakwah agar orang-orang memakmurkan masjid,
Tapi jika aku tak pernah ikut khuruj bersama kalian, apakah aku juga bisa disebut sebagai Jamaah Tabligh?
—————
Aku bertanya, apakah aku pun harus ikut menjadi bagian dari mereka agar mendapat Ridha-Nya?
Kenapa pula aku harus minta disebut sebagai salafi, ikhwani, hizbut tahriri, atau tablighi?
Tidak
bisakah aku menjadi seseorang yang Ber-Islam dengan Al Quran dan As
Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih tanpa perlu mempermasalahkan
akan dipanggil apa aku oleh kalian?
Apalagi hantam sana-sini
katakan itu bid’ah, haram, tidak thaifah manshurah, masuk firqatun
dlalalah (kelompok sesat), padahal itu masalah-masalah furu’, khilafiyah, bahkan ada
pula yang fitnah!
Tapi kemudian aku tahu,
Surga bukan
milik satu jamaah, Bukan ustadzmu, bukan pula kau yang menentukan siapa
yang berhak masuk Surga. Karena aku tahu, bahwa seorang pelacur-pun
bisa masuk surga karena ia memberi minum anjing yang kehausan.
Ketahuilah
bahwa satu pintu surga itu panjangnya lebih dari satu negara, alangkah
naifnya jika hanya jamaah-mu saja yang berhak masuk? Betapa sedikitnya?
Ya ayyuhal ikhwah, apakah kalian sudah memiliki kunci surga
sehingga kalian mengatakan diri kalian, jamaah kalian, atau
ustadz-ustadz kalian adalah orang yang suci lagi ma’shum?
Ketahuilah bahwa Umar pun ditegur rakyatnya terang-terangan!
Ketahuilah bahwa Umar pun juga bisa melakukan kesalahan, meski ia telah dijamin Surga!!
Ketahuilah bahwa Umar pun sering menangis karena ia takut pada neraka!
Aku
katakan kepadamu… Jenggot-jenggot itu, celana sebetis itu, jilbab
super besar itu, cadar itu, atau bahkan sebuah baju gamis-mu itu, itu
bukan jaminan bahwa kau mendapat Ridha-nya! Lantas atas dasar apa kau
berjalan dengan sombong dimuka bumi seolah-olah kau adalah manusia
suci?
… Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih
mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah
dan ketika kamu masih janin dalam perut Ibumu; MAKA JANGANLAH KAMU
MENGATAKAN DIRIMU SUCI. DIALAH YANG PALING MENGETAHUI TENTANG ORANG
BERTAKWA.
(QS. an najm 32)
Ah, maafkan aku, mungkin aku terlalu keras padamu,
mungkin aku menghinamu, atau pula membuatmu marah dan tersinggung.
Mungkin kau sudah panas dan mengatakan aku orang yang bodoh, ahlul
bid’ah, fanatik, atau bahkan sesat. Ah terserah katamu saja, Maafkan
aku, aku hanya ingin mengatakan beberapa hal untukmu.
Karena
aku tahu, bahwa Islam bukan rahmatan lil salafiyyin, rahmatan lil
ikhwanul Muslimin, rahmatan lil HTI, atau rahmatan lil tablighi..
Bukan rahmatan lil ikhwani atau rahmatan lil akhwati!
Juga bukan rahmatan lil andonesy, lil araby, atau lil filistinin,
BUKAN…!!
Tapi karena aku tahu, bahwa Islam adalah rahmatan lil ’Alamin. (rahmat bagi semesta alam)
Kau mungkin berkata, ”Isyhadu ana salafi”, (saksikan aku seorang salafi)
Atau berkata,”Isyhadu ana ikhwani”
Atau ”Isyhadu ana HTI”
Atau mungkin,”Isyhadu ana tablighi”
Tidak,
semata-mata tidak! Tak ingin aku berkata seperti itu!!! Tak ada secuil
kebanggaan-pun didalam diriku untuk mengatakan ”hal bodoh” seperti itu!
Tapi dengarkanlah, aku akan dengan bangga mengatakan, ”Isyhadu Ana Muslimin” - Saksikan bahwa aku seorang Muslim.
Haadza sabiluna, (ini jalanku)
kalau kamu?
special teruntuk saudariku yang "dipaksa" berubah….
semoga kau tetap dalam taufik & ridha-Nya…. karena keIstiqomahan kita siapa yang tahu?
ingat! Ash Shaff 2-3… ingat Al-Ashr!