PENSIUN DINI - cerpen
Jarang sekali saya menulis cerpen… simple karena saya memang kurang suka Fiksi. tapi jangan khawatir karena cerpen ini memang diadaptasi dari sebuah kisah nyata, dari akh ……
—————————————–
PENSIUN DINI
Sudah 4 bulan ayah berada di rumah saja, tidak bekerja. Setiap hari beliau
hanya berkebun di lahan yang sebenarnya tak layak disebut kebun. Hanya
teras-teras sebuah rumah di kompleks KPR yang sempit. Tangan dinginnya membuat
tanaman-tanaman kami tumbuh subur dan teras kami pun jadi mirip sebuah kebun
bunga yang kecil. Tak terhitung, berapa tanaman yang ada di “taman” kecil itu. Aku pun tak terlalu dan hampir tak pernah
sama sekali peduli tentangnya. Sekedar menikmati pun jarang, aku lebih sering
berada di depan komputer, mengerjakan tugas, atau menulis-nulis sesuatu atau
jika tidak sedang keluar rumah mengurusi organisasi-organisasi di luar sana. Toh
saya juga jarang di rumah, karena sekarang saya tengah kuliah di sebuah kota
yang 5 jam perjalanan jauhnya dari sana.
Ayah sekarang diskorsing dari pekerjaannya. Beliau untuk sementara
di”rumahkan” terkait sebuah kasus yang bagiku bukan kesalahan beliau. Selama
diskorsing beliau hanya menerima gaji setengah dari gaji pokok. Padahal seperti
banyak pegawai negeri lainnya, gaji Ayah utamanya hanya bergantung pada
tunjangan jabatan dan tunjangan perusahaan. Aku pun pernah hampir menangis
ketika suatu hari melihat slip gaji yang diterima Ayah. Gaji yang diterima
setelah mengalami sejumlah besar potongan, menjadi kurang dari 100ribu saja. Aku
pun tak bisa membayangkan bagaimana pusingnya kedua orangtuaku, sementara aku
dan kakakku tengah kuliah di kota yang jauh. Ini bukan yang pertama kalinya
beliau mendapat hukuman dari perusahaan BUMN tempat beliau bekerja. Dulu waktu
saya masih kelas 4 SD, beliau pun pernah mendapat hukuman yang tergolong berat.
Namun baik dulu ataupun sekarang, bagiku sama saja. Ayah tak pernah
diperlakukan secara adil.
“Habis manis, sepah dibuang.” Itu yang sering dikatakan ibu kepadaku. Ibu
selalu bercerita tentang bagaimana upaya Ayah untuk memajukan perusahaan dan
cabang dia bekerja. Ibu pun sering pula bercerita tentang bagaimana Ayah
memimpin anak buahnya dengan baik, tentang Ayah yang pulang lebih akhir dari
anak buahnya, tentang Ayah yang sering membelikan makanan bagi anak buahnya,
atau hal-hal lainnya.
“Namun lihat jika Ayahmu ditimpa musibah seperti ini, tak satupun dari
mereka yang datang menengok! Bahkan sekedar menelepon menanyakan kabar pun sama
sekali tidak!”. Jika sudah begini ia pun akan mewanti-wanti saya untuk
sekali-kali tidak akan bekerja di perusahaan semacam ini. “orang-orangnya
mementingkan dunia, mata duitan, nggak ada ikatan kekeluargaan, ruhiyahnya
kering karena semua diukur dengan uang dan jabatan!” ,ini tanda-tanda bahwa
ibuku mulai kesal. dan itu berarti aku harus segera mengalihkan topik
pembicaraan.
senang atau tidak, namun itulah kenyatannya. dua puluh lima tahun lebih
ayah mengabdi pada perusahaan ini. Tak sedikit kontribusinya dan prestasi yang
telah ditorehkan olehnya. Setidaknya ia tidaklah seperti pegawai lain yang
menjalani kehidupannya sebagai pegawai biasa. Ayah tidak, ia memiliki visi
kemajuan dalam dirinya. itulah kenapa meski ia lulusan SMA, beliau bisa menjadi
seorang kepala cabang di perusahaannya. satu hal yang unik, mengingat tak jarang
beliau membawahi anak buah yang justru sarjana.
Namun perusahaan Ayah tampaknya tidak pernah menghargai ini.
"Iklim-iklim mata duitan, hanya tahu untung", begitu kata ibuku. Ya,
tampaknya perusahaan Ayah hanya mau menerima keuntungan, sedangkan kerugian,
sebisa mungkin ditutup dan ditanggung oleh karyawan yang bersangkutan. Tanpa
perlu tahu seperti apa penyebab kerugian tersebut.
***
Kasus ayah kali ini tak jauh berbeda dengan yang dialaminya 8 tahun silam. Bedanya
jika hukumannya dahulu, pangkat dan gaji dipotong habis-habisan, kali ini ia
diskors. bukan masalah korupsi, karena Aku tahu ayahku orang yang relijius. tak
sembarang relijius orang-orang yang berkopyah ke kantor, Ayahku jarang memakai
peci di kantor. tak harus berpeci untuk menunjukkan bahwa ia seorang yang alim.
Aku pun juga maklum, tanda hitam di dahinya sudah tentu lebih dari cukup untuk
mengatakan bahwa ia orang yang bisa dipercaya. Ia dibesarkan di sebuah iklim
keluarga yang betul-betul menghargai apa itu agama. Ayah sering bercerita bahwa
kakek -ayah dari ayahku- memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai
petugas stasiun kereta api hanya karena ia ditekan untuk berbuat curang dalam
pekerjaannya. Ayahku adalah ayah yang menjunjung tinggi kejujuran, dan aku
yakin ia tidaklah korupsi atau hal-hal curang lainnya.
kali ini masalahnya hampir sama
dengan apa yang dialami beliau 8 tahun lalu. Ayah ditipu! "Terlalu percaya
pada orang" mungkin sudah mendarah daging didirinya. sesuatu hal yang
jarang ditemukan pada manusia dewasa ini. namun masalahnya bukan pada percaya
atau tidak percaya, namun pada orang yang menyalahgunakan kepercayaan tersebut.
Ayah pun tak mengira bahwa anak
buahnya akan bertindak demikian. Anak buah tersebut menahan pelunasan
utang-utang nasabah yang diamanahkan pada dirinya. hal ini tentu membuat di
laporan kantor cabang ayah menjadi banyak sekali bertumpuk kredit macet. Ayah
sama sekali tak menyangka bahwa orang yang selama ini dipercayainya mengurusi
kredit-kredit macet justru adalah sumber masalah dari kredit macet tersebut.
namun masalah muncul ketika dewan
pemeriksa, pihak yang berwenang di perusahaan Ayah untuk mengangani
masalah-masalah ini, mulai berulah. "Wajar saja, pemeriksanya memang
cari-cari muka", itu yang sering dikatakan ibu tentang pemeriksa satu ini.
"dia memang tidak disukai oleh banyak kantor cabang" lanjutnya.
Ya, masalah utamanya agaknya
bukan pada pegawai ayah yang nakal itu, melainkan pada dewan pemeriksa yang
meneliti masalah ini. Ini pun diakui oleh ibu dan rekan-rekan seprofesi Ayahku di
cabang lain. Para pemeriksa itu seolah-olah sangat senang bisa mengungakap
sebuah kasus, mereka pun mulai cari-cari kesalahan. Aku tahu itu karena
menurutku, pihak paling bersalah disini adalah pegawai ayahku. namun karena
pemeriksa-pemeriksa itu terus mencari-cari kesalahan maka Ayah pun ikut kena
imbasnya.
Aku tak tahu apa yang ada di
kepala pemeriksa-pemeriksa itu? yang melakukan kesalahan adalah anak buahnya,
tapi kenapa Ayah ikut kena hukumannya? "Resiko pemimpin", itu jawaban
yang diberikan Ayahku. Aku tahu memang menjadi pemimpin haruslah bertanggung
jawab, termasuk tentang apa yang dilakukan anak buah. itu aku pelajari di
aktivitas-aktivitas keorganisasian di kampus.
***
Ayah tak pernah diadili secara
adil. pemeriksa-pemeriksa itu pastilah menduga ayah berkomplot dengan anak
buahnya dalam masalah ini. Aku tak tahu pengadilan macam apa yang mereka pakai
untuk menghakimi Ayah. Tak ada saksi, tak ada jaksa. Jangan tanya apakah Ayah
didampingin pengacara ataupun menyampaikan pembelaannya karena siapa yang jadi
hakim pun tidak jelas. Mereka masih
terus-dan terus saja mencari celah kesalahan Ayahku. aku pun tahu bahwa
pemeriksa-pemeriksa itu mungkin baru puas jika ayah keluar dari pekerjaannya
sekarang. dan itu terbukti kemarin!
Waktu itu masa hukuman Ayah sudah
4 bulan, artinya kurang 2 bulan lagi Ayah akan bekerja lagi secara normal dan
itu artinya gaji beliau pun akan normal lagi. Pada suatu hari, Ayah menerima
telepon dari kantor regionalnya yang ada di ibukota propinsi. Tak seperti
biasa, Ayah kali ini dipanggil bukan oleh pemeriksa melainkan langsung oleh
kepala kantor regional. Salah satu orang yang paling berkuasa di level propinsi
untuk jaringan kantor kami.Dan hebatnya lagi, ayah dipanggil tanpa adanya surat
resmi, hanya melalui telepon tersebut. Di telepon hanya disebutkan bahwa
pertemuan tersebut akan membahas sesuatu tentang Ayah, itu saja dan tak lebih.
Maka pada hari senin pagi Ayah
pun berangkat ke kantor wilayah. Ia berangkat sebelum subuh dan sampai dikantor
pada pukul 9 pagi. Kali ini Ayah tak lagi berurusan dengan para pemeriksanya
dulu, melainkan langsung dengan kepala kantor wilayahnya. Ayah berangkat dengan
sebuah harapan, “Barangkali hukuman ayah dipercepat”, begitu kata Ibu. Ayah pun
membenarkan.
Namun kecewalah Ayah ketika mengetahui
bahwa yang terjadi tidaklah demikian. Kepala kantor wilayah menawarkan Ayah
untuk mengajukan pensiun dini. Kagetlah beliau, atas dasar apa ia disuruh
mengajukan pensiun dini? Usia pensiun Ayah masih kurang 5 tahun, apa tidak
terlalu dini untuk mengajukan pensiun dini? Fisik ayah pun masih sangat mampu untuk menangani pekerjaan sehari-hari,
beliau tidak sakit, lantas atas dasar apa orang yang bicara didepannya kali ini
menganjurkan Ayah untuk pensiun dini?
"Kalau bapak mengajukan
pensiun sekarang, maka Bapak akan pensiun sebagai kepala cabang, bukankah ini
menguntungkan bagi Bapak?" atasan tersebut mengajukan alasannya.
"Bapak akan mendapatkan pensiun sebagai seorang kepala cabang yang jelas
berbeda dengan pegawai biasa"
"Alasan yang logis",
pikir ayahku, "Tapi tidak", kata beliau dalam hati.
Namun atasan tersebut seperti tak
kekurangan akal, "Saya rasa ini mungkin yang terbaik buat Bapak. Karena
saya justru khawatir Bapak akan sama seperti karyawan Bapak tersebut”.
Karyawan Ayah yang melanggar
tersebut memang telah dipecat beberapa waktu lalu. Dan kali ini Ayah diancam,
dengan ancaman seperti itu. Pegawai negeri mana yang tak gentar dengan ancaman
seperti itu, apalagi Ayah yang baginya bekerja di perusahaan ini sudah seperti
mendarah daging.
Ayah tak memberikan jawaban pagi
itu, ia meminta waktu sepekan untuk memikirkan jawabannya. Ayah pun pulang
dengan setengah shock. pupus sudah harapannya bahwa hukumannya akan dipercepat.
Sepekan kemudian Ayah ditelepon
oleh kantor wilayah tadi. Menanyakan apa jawaban Ayah. Tapi kali ini Ayah balik
bertanya, “Kalau sekiranya saya mengajukan pensiun dini, nanti kira-kira saya mau pakai alasan apa di
formulir pak?”.
Orang di seberang telepon pun menjawab dengan
mudahnya, “terserah Bapak lah, saya rasa Bapak lebih tahu. Apakah mau alasan
sakit atau sudah tidak sanggup atau apalah, bisa bapak karang-karang sendiri”.
Ayah tentu tak mau. Beliau disuruh berbohong dalam kasus ini. “Kalau begitu,
bukankah itu artinya saya berbohong Pak?”. Ayah pun menolak untuk mengajukan
pensiun dini.
Tanpa sadar, aku pun mulai marah
atas kasus ini. Bukan marah karena Ayah disuruh pensiun dini, melainkan marah
karena aku mulai mencium ada sesuatu yang tak beres disini.
Atas dasar apa ayahku dianjurkan
untuk mengajukan pensiun dini? Selama menjabat, kinerja Ayah selalu baik.
Ketika beliau menjabat, omset kantor cabang tempat ayah bekerja selalu naik.
Kalaupun ada kasus seperti ini, yang menyebabkan kerugian perusahaan seperti
beberapa tahun lalu, ini pun bukan kesalahan Ayah. Ayah ditipu, ayah
dikhianati!.
Perusahaan macam apa ini? Kali
ini aku baru bisa membenarkan apa yang dikatakan Ibu tentang perusahaan ini,
“Habis manis sepah dibuang”. Meski setengah ragu, jangan-jangan tak hanya
perusahaan ini? Mungkin diluar sana ada banyak orang-orang yang mengalami kasus
serupa dengan Ayah. Akibat sistem yang bobrok, yang menilai segalanya dengan
uang, yang memenangkan siapa pun yang berkuasa selama dia ingin. Ah, sisi kelam
kapitalisme memang.
***
Orang dari kantor wilayah masih
sering menelepon Ayah, tetap dengan pertanyaan bernada-nada memaksa Ayah untuk
mengajukan pensiun dini. Maklum memang, hukuman Ayah tinggal satu bulan lagi.
Itu berarti Ayah akan bekerja seperti biasa lagi, meski turun jabatan. Namun
disini aku jadi semakin curiga, ada yang tak beres dengan perusahaan ini.
Suatu ketika Ayah bercerita bahwa
ketika beliau diminta mengajukan pensiun dini, atasannya mengatakan bahwa nanti
surat pengajuan pensiun dini tidak usah ke kantor pusat di jakarta, cukup lewat
kantor wilayah itu. Hal ini spontan membuat ayah semakin merasa ada sesuatu
yang tak beres dengan pensiun dini ini.
Ada sesuatu yang disembunyikan,
itulah yang kami tangkap. Aku bahkan berpikir barangkali orang tersebut ingin
memasukkan salah seorang kenalan atau saudaranya ke perusahaan ini, dan itu
berarti menunggu keluarnya pegawai lain. Jika harus menunggu Ayah pensiun 5-6
tahun lagi, mungkin terlalu lama, mengingat ada batasan usia penerimaan di
perusahaan ini. Atau mungkin dengan Ayah mengundurkan diri, hal itu akan
menunjukkan bahwa Ayah bersalah, dan itu akan menambah semacam nilai lebih
untuk orang tersebut tentang prestasinya “memberantas korupsi”, menghukum
berdasarkan asumsi untuk mendapat sekedar credit point untuk kenaikan
pangkatnya.
Pada suatu ketika, Ayah diundang
menghadiri resepsi pernikahan putra salah seorang karyawan perusahaan di cabang
lain. Seperti biasa ajang seperti ini menjadi ajang pertemuan rekan-rekan Ayah.
Disanalah Ayah mencoba berbagi masalahnya, berharap untuk mendapat dukungan
dari rekan-rekan seprofesinya, setidaknya jika beliau tetap dalam tekanan
rekan-rekannya akan membantu. Namun kecewalah Ayah ketika menemukan bahwa
teman-temannya antara yang setuju dan yang tidak dengan pensiun dini jumlahnya
hampir sama.
Ayah kecewa karena rekan-rekannya
ini pun seolah membenarkan orang yang mendzalimi beliau selama ini. Mungkin
karena mereka takut akan mengalami nasib yang sama jika menentang keputusan
atasan. Ah, mencari seorang yang mau berempati memang sulit belakangan ini.
Orang-orang yang mendukung ini
barangkali tidak pernah tahu bagaimana rasanya menghidupi keluarga dengan
150.000 per bulan. Barangkali mereka belum pernah tahu rasanya dihukumi secara
tidak adil. Mereka pun mungkin tidak pernah pula memikirkan bagaimana rasanya
tiba-tiba harus pensiun dini padahal kondisi masih semangat-semangatnya
bekerja, dan terlebih lagi bagaimana rasanya jika itu adalah sebuah paksaan
untuk sebuah kepentingan yang tak jelas.
Ah dasar, mereka mungkin tak
pernah tahu bagaimana rasanya pensiun dini, begitu pikirku. Coba jika mereka
yang mengalami seperti Ayah, tentulah sebuah dukungan akan menjadi hal yang
akan sangat dihargai. Aku pun berpikir jangan-jangan orang-orang ini juga
mendakwa Ayahku bersalah. Layaknya setiap orang akan mengatakan bahwa keputusan
hakim selalu benar, padahal mereka tidak tahu apa yang dilakukan orang-orang
yang ada dibalik layar untuk mempengaruhi hakim-hakim “mata duitan” itu.
Ayahku memang tidak berkarakter
seperti orang-orang yang biasa menyebut diri mereka pengusaha, mereka yang
mengajukan pensiun di usia muda untuk merintis bisnis. Ayah tetap lah Ayahku,
seorang pegawai negeri teladan yang didzalimi oleh perusahaan tempatnya
mengabdi selama ini.
Entah kenapa, tiba-tiba saja aku
merasa sangat muak, benci, dan marah. Tak hanya pada perusahaan ini, tak hanya
pada kepala wilayah itu, tak hanya pada pemeriksa itu, tak hanya pada
rekan-rekan Ayah yang mendukung atasan otoriter tersebut. Tapi lebih dari itu,
entah kenapa perusahaan itu seolah menjadi semacam simbol bagi masyarakat
simbol tentang kapitalisme, simbol tentang mengukur segalanya dengan uang,
simbol orang-orang yang mementingkan dunia diatas kemanusiaan. Ah aku jadi
khawatir, orang-orang ini mampu membeli harga nyawa seseorang dengan uangnya…
Minggu depan adalah hari
pembebasan Ayah dari hukumannya. Itu artinya beliau harus kembali lagi bekerja
seperti pegawai lainnya. Tapi kemarin, tiba-tiba saja Ayah ditelepon, kali ini
bernada sangat memaksa, ia berkata bahwa barusan dapat telepon yang
memberitahukan bahwa per tanggal sekian Ayah akan dipecat, dan itu sudah harga
mati. Orang tersebut mengatakan bahwa jika Ayah tidak mengajukan pensiun dini
sebelumnya, maka itu akan berakibat kerugian bagi Ayah, karena orang yang
dipecat tentu saja kehilangan hak-haknya, termasuk pensiun sebagai seorang
kepala.
“Terus bagaimana, apa keputusan
Ayah?” tanyaku di telepon.
“Ayahmu kemarin sudah telepon ke
kantor pusat, “ ibu menghela nafas beratnya, nafas yang bahkan bisa kudengar di
telepon. “orang di kantor pusat mengatakan itu tidak benar, Ayahmu bahkan akan
diangkat lagi meski bukan lagi sebagai kepala cabang”.
Entah kenapa hatiku langsung
mendidih, bahkan untuk memaksa Ayah pensiun pun orang-orang di kantor wilayah
tega untuk berbohong!. Namun disisi lain lega juga karena Ayah tak jadi
dipecat.
“Jadi Ayah takkan mengajukan
pensiun dini kan Bu?” tanyaku.
Suara diseberang kini bertambah
berat, “Nggak nak, Ayahmu sudah menyerah…”
Ah, aku tak menyangka Ayah
akhirnya menyerah. Orang yang terdzalimi oleh perusahaan yang dibesarkannya
sepenuh hati, kini memilih menuruti seorang atasan yang tega berbohong demi
sebuah kepentingan pribadinya. Dan Ayahku, ayah yang selama ini aku banggakan
dan aku idolakan telah tunduk pada kedzaliman.
Selama beberapa detik tidak ada
percakapan diantara kami, hening untuk beberapa saat, “Tapi Bu…” aku tak tahu
apa yang harus dikatakan lagi
“Yang sabar aja nak ya! Gusti
Allah ora sare kok!, dah kamu nggak usah mikir, ini urusan Ibu sama Ayahmu.“,
Ibu selalu begini jika kami ditimpa masalah berat. Beliau memang tak pernah
berbagi pada putra putrinya.
“Kamu tetap belajar aja!, nggak
usah mikir cari uang macem-macem. Uang pensiun Ayahmu moga cukup biayai kamu
hingga wisuda..!”, kali ini suara Ibu mulai ringan. “Kakakmu sebentar lagi
wisuda, moga dia segera dapat kerja yang baik-baik atau setidaknya segera
dilamar orang yang baik-baik”, kali ini ibuku tertawa. Ah syukurlah, setidaknya
Ibu masih bisa tertawa.
“Ya, bu..” aku hanya bisa
mengiyakan. “Doakan putramu ini dapat beasiswa ya Bu!”, aku tahu aku hanya
menghibur Ibu, beasiswa di kampus sekarang ini sudah mulai jarang. Justru
ketika biaya pendidikan mulai melambung.
“Ya Nak, dah wis, doa ibu ma
Bapakmu akan terus ada kok, minggu depan Ibu dapet pesanan, temannya mbakmu mau
nikah, Ibu diminta bikin masakannya lho!”, ia tertawa lagi, “Kapan ya mbakmu
itu dilamar, pokoknya jangan sampai sama temannya anak Malang itu!”, ibuku
menyebut sebuah nama yang tak disukainya. “Yah, setidaknya temannya yang Guru
SD itu gak apa-apa, setidaknya dia agamanya masih baik! Lho kok ngomongin
kakakmu nikah sih!”, kali ini Ibu tertawa, aku pun juga ikut tertawa.
Malam itu ibu banyak cerita
tentang nenek yang habis operasi, tentang tetangganya, tentang
pengajian-pengajiannya, dan beberapa lagi. Ibu bercerita banyak seolah tak ada
masalah apapun disana. Bahkan ibu menyempatkan mengirimi aku dan kakakku Ayam
panggang. Ah, ibu memang selalu begitu, Ibu tetaplah ibuku yang bersahaja, yang
tak ingin putra-putrinya memikirkan masalah beliau. Sama seperti Ayahku yang
bahkan tak berani menelepon, karena tahu aku orang
Malam itu aku tak berani
membantah apa pun. Setengah menangis kututup telepon. Setengah terisak aku
berdoa, Ya Rabb, aku mohon kepadaMu hari ini, yang pertama, sadarkan atau
hancurkanlah orang yang mendzalimi Ayahku, dan yang kedua lindungilah kedua
orang tuaku ini.
Malam itu, aku pun menangis..
Malang, 15 April 2007
Selepas tahajud…