Bukan Sami’na Waatho’na
<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Sami’na wa atho’na, Saya mendengar dan
saya taat. Kata-kata ini mungkin sering kita dengar. Biasanya
sebelum sholat jamaah kata-kata ini diucapkan oleh makmum ketika imam
memerntahkan untuk merapatkan dan meluruskan shaf.
Seorang sahabat menulis di Blognya
bahwa suatu ketika dia dimintai tolong untuk mengambilkan suatu
barang di tempat yang bisa dibilang jauh. Dan ketika ditanya untuk
apa barang tersebut, sahabat ini hanya dijawab “sudahlah akhi,
sami’na wa atho’na saja!”, dan kontan saja sahabt ini pun jengkel.
Hal yang sama pun sering saya dapatkan
dari beberapa kalangan senior, “Tsiqoh aja akh”. Ya, saya memang
tsiqoh (percaya) pada orang tersebut, namun iya itu untung orangnya
saya, tapi jika orang lain yang belum memiliki pemahaman seperti
saya?
Sering dalam beberapa kegiatan yang
saya ikuti, seolah-olah ketaatan, bahkan ke-tsiqoh-an menjadi sebuah
syarat yang terpenting. Sementara disisi lain, sisi kefahaman kurang
begitu diperhatikan. Padahal Hassan Al Banna dalam Arkanul bai’at nya
mensyaratkan bahwa al fahmu (kefahaman) ini adalah yang nomor satu.
Adapun ketaatan justru pada urutan lumayan terakhir (urutan 6). Ini
mensyaratkan bahwa dalam sebuah organisasi dakwah, atau dimanapun,
kefahaman seorang anggota dalam organisasi tersebut harus
diperhatikan. Tak cukup itu, rukun-rukun sebelumnya haruslah dipenuhi
sebelum berlanjut ke rukun selanjutnya.
Seorang senior saya pernah mengatakan,
jangan membuat orang lain itu percaya pada kita, karena jika sekali
saja mereka kecewa, maka mereka tidak akan percaya lagi pada kita.
Yang harus kita lakukan adalah membuat mereka itu paham. Jika mereka
paham, mereka pun akan menyadari bahwa inilah kita, manusia biasa
yang tak lepas dari kesalahan.
Senior yang lain mengatakan, bahwa
kepahaman (al fahmu) membutuhkan proses yang lumayan panjang. Saya
katakan Ya, memang, proses al fahmu dalam dakwah memang tidak bisa
serta merta dilakukan dalam waktu singkat. Pribadi-pribadi yang kita
hadapi tidaklah semuanya seperti kita, atau tidaklah mereka
sepenuhnya paham tentang kita, tahu tentang kita, apalagi tahu kenapa
ia harus menuruti permintaan kita. Namun setidaknya, apakah sebegitu
sulitnya kah penjelasan singkat? Toh dalam contoh kasus diatas,
pertanyaan teman itu bukan untuk satu hal yang sifatnya rahasia.
Menjelang fathu makkah, para sahabat
disuruh bersiap berperang. Mereka hanya disuruh bersiap untuk
menempuh perjalanan yang jauh, tanpa diberitahu kemana arah tujuan
mereka. Saat itu tak ada yang banyak komentar, hanya bersiap saja.
Barulah setelah dalam perjalanan tahulah mereka bahwa arah pasukan
ini menuju ke mekkah. Hal ini bisa terjadi karena para sahabat sudah
memiliki semua yang tercantum dalam arkanul bai’at. Mulai dari al
fahmu, al ikhlas, amal, jihad, hingga tsiqoh dan ukhuwah. Para
sahabat memang sudah tahu persis, sudah paham, dan seterusnya pada
apa yang akan dilakukan oleh sang Rasulullah.
Ya memang di satu sisi kita terkadang
ingin agar orang lain menurut pada kita. Terutama untuk hal-hal
mendesak. Namun perlu diketahui bahwa ketaatan itu memerlukan
proses-proses yang tak kalah pentingnya. Termasuk juga kefahaman dan
keikhlasan. Orang yang bertindak sesuatu karena ia tahu “kenapa”
tentu akan bekerja lebih maksimal jika dibandingkan ia tak tahu
apa-apa. Ketaatan tanpa kefahaman tak ubahnya dengan taqlid buta, dan
taqlid buta hanya dilakukan oleh orang-orang yang bodoh. Jika
dibilang kasarnya, bagi saya, orang yang hanya sami’na waatho’na
tanpa memiliki kefahaman tak ubahnya seperti orang yang bodoh.
Membuat orang lain melakukan seperti itu, sama artinya membuat orang
lain menjadi bodoh.
Inilah yang selayaknya kita kembangkan
di iklim organisasi manapun. Adanya ketaatan pada seseorang jangan
sampai hanya berdasarkan karena takutnya, apalagi keterpaksaan
seseorang saja. Melainkan selayaknya karena mereka memang sudah
memiliki pendahuluan-pendahuluan kenapa mereka diminta untuk
melakukan sesuatu itu. Agar jangan sampai seseorang bergerak atas
dasar keterpaksaaan, hal-hal yang membuat mereka bekerja tidak
maksimal, apalagi sampai menghilangkan keikhlasan seseorang,
naudzubillah.
Dalam kasus-kasus tertentu kata-kata
sami’na waatho’na memang kadang diperlukan. Namun jangan jadikan ia
sebagai sebuah kebiasaan, apalagi menjadi penyakit. Dakwah ini
membutuhkan orang-orang yang sadar kenapa mereka berada dan perlu
untuk berada disini. Dan satu lagi, ketaatan dan ke-tsiqohan kita
pada orang lain, tak menghapus ke-kritisan kita.
Karena dakwah ini membutuhkan
orang-orang yang faham,
Bukan orang-orang yang taqlid.