dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for May, 2007


Aku Ingin Menjadi Umar

Dari sekian banyak pemimpin selain Rasulullah, entah itu Sukarno, SBY, Julius Caesar, SBY, Ahmadinejad, atau bahkan pemimpin revolusioner “kiri” semacam Mao Tse Tung, Che Guevara, dan Fidel Castro, saya paling suka dengan kepemimpinan dua orang Umar. Sosok pemimpin yang bagi saya ratusan, bahkan ribuan kali lebih layak kita idolakan dibanding revolusi ala Che, atau komunisme ala Mao. Dua orang Umar yaitu Umar Bin Khattab, dan Umar Bin Abdul Aziz.

Saya memilih mereka bukan karena mereka khalifah, alias pemimpin dunia Islam. Tidak sesederhana itu, namun silahkan jujur saja, adakah pemimpin lain yang sehebat dua Umar ini? Dari semua presiden dan pemimpin kelas dunia, adakah yang mengatakan layaknya Umar bin Khattab, “Seandainya rakyatku kelaparan, maka sayalah yang pertama kali merasakan lapar, dan Seandainya rakyatku merasakan kekenyangan, maka sayalah orang yang terakhir kali merasakan kenyang itu”. Umar bin Khattab yang sempat menabukan dirinya dikala paceklik dari makan daging, minyak samin dan susu karena khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang.

Adakah pemimpin negara sekarang yang seperti Umar Bin Abdul Aziz yang menolak kendaraan mewah, menolak sepasukan pengawal, dan justru memotong gajinya sendiri, hanya karena istrinya masih bisa menabung dari gaji beliau yang sudah sedikit.

Ketika Gubernur Azerbaijan menghadiahkan makanan yang enak untuk sang khalifah, Umar bin Khattab justru menolaknya sambil berkata bahwa gaji Gubernur diambil dari uang rakyatnya, maka kenyangkanlah dahulu rakyatmu. Umar bin Khattab lah yang memanggul sendiri makanan untuk ibu tua yang memasak batu untuk menidurkan anaknya yang kelaparan. Umar bin Khattab yang menelusuri jalan-jalan kota Madinah setiap malam untuk mengontrol kondisi rakyatnya. Beliau pula lah yang mengklaim bahwa dirinya bertanggungjawab atas apa yang ada diwilayahnya, tak peduli itu adalah seekor keledai yang terperosok.

Adakah pemimpin sekarang yang setidaknya mau mencontoh mereka? Wallahu ‘Alam, saya justru lebih sering menemukan sebaliknya. Mereka orang-orang yang justru lebih sering ingin diunggulkan dari yang lainnya, mereka yang ingin selalu dapat kursi VIP, mereka yang ingin untuk dapat konsumsi paling enak, kasur paling empuk dan seterusnya.

Ah, pemimpin-pemimpin itu, aku tak ingin seperti mereka. Aku sangat ingin menjadi sosok Umar. Mereka yang menomor sekiankan dirinya hanya untuk melayani masyarakat sekitarnya. Bagiku, merekalah pemimpin sejati, seorang Raja tanpa istana, apalagi singasana. Pemimpin sejati bukanlah mereka yang pandai menyuruh dan mengatur orang lain, melainkan juga haruslah pandai melayani orang lain.

Aku tak butuh sosialisme, aku tak butuh liberalisme, tak butuh demokrasi untuk bisa seperti Umar. Adakah dari ideologi-ideologi ini yang bisa menyamai prestasi ideologi yang digunakan Umar dalam memimpin? Ketika Umar bin Khattab menjabat khalifah, lebih dari separuh belahan bumi ia dibebaskan. Ketika itu pula negeri para nabi, Palestina dibebaskan dari cengkeraman kaum kafir. Atau lihatlah Umar bin Abdul Aziz, di masa kepemimpinannya yang hanya 3,5 tahun, seluruh penduduknya tak lagi berstatus sebagai penerima zakat. Artinya, separuh penduduk bumi tak ada lagi yang berstatus miskin.

Subhanallah, bagi ku, orang-orang inilah pemimpin sejati, mereka yang tak butuh segala macam-isme buatan manusia. Mereka yang mencukupkan diri mereka dengan Al Quran dan Sunnah Rasul, yang dengan itu mereka menunjukkan kualitas mereka. Adakah manusia perkasa dengan ideologi lain mampu menyaingi mereka?

Ya, dua umar adalah favoritku. Bagiku, merekalah selayaknya yang pantas dijadikan teladan kepemimpinan kedua (setelah Rasulullah) bagi seluruh pemimpin yang ada di seluruh penjuru bumi. Bukan Sukarno, bukan Che, bukan siapa-siapa, tapi belajarlah dari dua Umar.

***

Bicara tentang kepemimpinan, terkadang saya merenung, apa arti seorang pemimpin? Seorang yang biasa kita sebut sebagai Ketua, Kepala, Sekretaris Jenderal, Qiyadah, Lurah, camat, Bupati, Presiden, atau bahkan seorang Khalifah? Apa yang bisa menjadi kesamaan diantara mereka, selain mereka berada di atas orang ataupun struktur lainnya?

Saya lebih suka menjawabnya dengan mengutip perkataan Abu Bakar ketika beliau diangkat menjadi khalifah, “Saya bukanlah yang terbaik di antara kalian, tetapi saya adalah yang paling berat tanggung jawabnya di antara kalian.”

Ya, bagi saya, itulah seorang pemimpin. Ia bukanlah manusia terbaik ditempatnya. Ketika hari ini saya terpilih menjadi Ketua Umum di SKI Fakultas pun saya sangat sadar, bahwa saya belum tentu lebih baik dari mereka di hadapan saya. Dan itu pulalah yang kemudian saya katakan di sela-sela pelantikan saya sebagai ketua Umum.

“Kapabilitas tak bisa diukur dengan berapa jumlah dukungan”, itulah kalimat yang diucapkan seorang sahabat disela-sela pemilihan ketua SKI Fakultas. Ya, saya pun setuju dengan pernyataan itu, namun tak menyangka jika hal itu berimbas pada terpilihnya saya menjadi ketua.

Allah memilih hamba-Nya dengan caranya. Tak pernah sekalipun terbayangkan bahwa saya akan menjadi seorang ketua SKI. Masih teringat dulu bahwa saya adalah orang yang jauh dari Agama, ketika SMP, sholat saja masih bolong-bolong. Namun Allah mengkaruniakan hidayah itu dengan jalan-Nya ketika saya masih SMA. Suatu hal yang menjadi titik tolak bagi saya saat itu. Di SMP dulu, saya adalah orang yang sering minder, tak pandai bicara, tak ada arahan jelas dalam hidup, dan seolah hidup tanpa Arahan. Namun kapabilitas apa gerangan yang saya miliki sekarang hingga orang-orang pun memilih saya sebagai seorang ketua SKI? Wallahu ‘Alam, Allah memiliki jalan rahasia-Nya sendiri. Bukankah sang Khalid bin walid dulunya adalah Panglima Kavaleri Quraisy di perang Uhud? Bukankah Umar dulunya ingin membunuh Rasulullah?

Maka ketika diputuskan saya menjadi Ketua Umum Forkalam periode 2007/2008, sebuah kalimat pun meluncur dari mulut ini, Innalillahi wa Inna ilaihi raaji’un. Jabatan pemimpin ini adalah sebuah musibah bagi siapapun yang memegangnya. Seorang pemimpin itu satu kakinya berada di neraka, sementara satu kakinya lagi belum tentu berada di Surga. Saya pun menjadi bergidik takut, bagaimana jika saya tak bisa memimpin dengan adil?

Ah, tapi bukankah Allah sudah berjanji tak akan menguji seorang hamba melebihi kadar kemampuannya? Ketika saya menerima amanah itu, pastilah Allah sudah mengukur kemampuanku, dan saya yakin akan hal itu.

 

Wahai Dzat yang Maha Bijaksana.. karuniakanlah Aku dengan Bashirahmu, sehingga Aku bisa mengambil keputusan yang terbaik

Wahai Dzat yang Maha Menguasai hati manusia.. kuatkanlah hati-hati ini untuk tetap istiqomah di jalanMu, untuk tetap menyeru manusia agar berada di jalanMu, sebagaimana engkau menganugerahkan keistiqomahan para Mujahid-mu hingga kesyahidan mereka.

Yaa Rabb.. kuatkan dan teguhkanlah diri ini dalam melangkah, jadikanlah jiwa-jiwa ini jiwa-jiwa yang tegar dalam menghadapi cobaan, jiwa-jiwa yang kuat, yang kokoh, sebagaimana engkau meneguhkan barisan Mukminin dalam perang Khandaq.

Wahai penggenggam alam semesta, karuniakanlah keadilan dan kesabaran pada diri ini, sebagaimana engkau mengaruniakannya pada pemimpin-pemimpin sebelum kami, sebagaimana engkau mengaruniakan keadilan pada para nabi dan Khulafaur Rasyiidin..

Ya Ghoffaar, janganlah engkau siksa hamba jikalau hambamu ini lalai, ampunilah segala dosa dan kesalahan, dan tunjukkanlah Hamba jalan yang benar, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pemberi petunjuk.

Kamar Kost,
Malang, 27 Mei 2007
5 jam setelah menjadi Ketum Forkalam

[puisi] Ibu Ijinkan Aku Jadi Umar

Ibu Ijinkan Aku Jadi
Umar

 

 

Ibu, ikhlaskan putramu tuk mengabdi

Tuk berbakti tegakkan Dien ini

Ijinkan putramu katakan kebenaran

musnahkan
penyembahan dari sesama

tuk hanya Rabbul
‘Izzati semata

 

Ibu, putramu tak inginkan istana

sebagaimana Al
Faruq tak miliki istana

atau Umar bin
Abdul Aziz yang menolak singasana

putramu hanya
inginkan Surga dan Ridho-Nya

 

Ibu, putramu
sedang diuji

sebuah amanah
telah memanggil

tuk menjadi
panglima..

tuk menjadi calon-calon
syuhada..

 

Ibu, Ijinkan aku
tuk jadi Umar

Tuk hasilkan sebuah mahakarya

Layaknya Al Faruq
bebaskan Palestina

Atau Umar kedua
makmurkan rakyatnya

Putramu ingin
berkarya

Meski ku tahu itu
tanpa harta,

Apalagi dunia

 

Al Faruq yang kokoh
dan bijaksana

yang namanya
gentarkan kaisar Roma

yang mbuka kunci
negeri Anbiya

 

atau juga Umar
kedua

Umar bin Abdul
Aziz yang adil dan terjaga

yang mampu
sejahterakan rakyatnya

tiada miskin di
dua pertiga dunia

 

Ibu… doakan
putramu

tuk bisa menjadi
Al Faruq

tuk jadi Umar bin
Abdul Aziz

Ibu… doakan
putramu

 

Malang, 27 Februari
2007 

23.10

[puisi] Aku Kagum Pada Bintang

aku kagum pada bintang..

tidakkah kau lihat?

pijarnya warnai lembar gulita?

Sebagaimana kagumku pada jiwa-jiwa cahaya

sang pembawa lentera kehidupan

ketika zamannya gelap gulita

 

bintang… bintang yang sederhana,

aku pun menyukainya

bintang yang terpaku kokoh dan tegar

ia tak butuh riasan, tak pula hiasan

ia bukan badut-badut picisan

ia hanya cahaya
yang sederhana

yang beri arti di
tengah gulita

dan aku pun suka
pada setiap jiwa-jiwa cahaya

mereka yang
bersinar apa adanya

tak kurang, tak
lebih.. hanya semampu mereka

bukankah gulita
itu musnah dengan cahaya?

 

aku terpesona
pada bintang

bukankah ia
mengagumkan?

ia kecil,
bersinar, namun penuh arti

ia beri petunjuk
tuk para pengembara

maka aku pun
terpesona pada jiwa-jiwa cahaya

bagi mereka yang
menunjukkan jalan

tuk semua
kehidupan di rengkuhannya

 

ah.. bintang-bintang, tahukah kau?

terkadang aku
tergoda pada purnama

kuningnya cantik,
dan ia pun lebih terang

namun sayang
purnama tiada ditiap malam

dan bukankah
cahayanya semu?

bintang tiada
sama dengan purnama

bintang bersinar,
dan sinarnya berbeda

Bukan pada
putihnya,

bukan pada biru,
merah, apapun warnanya

Bukan.. bukan
itu..

Bukan pula kerlip
sinarnya 

Aku kagum pada
caramu bersinar

kau muncul,
membakar dirimu, dan ketika habis…

Dan ketika
habis..
kau pun akan musnah hilang

Akankah purnama seperti itu?

Maka aku pun tetap lebih menyukai bintang..

Bagi setiap yang
bercahaya dan dipantulkan,

namun terkadang musnah
dilupakan

bagiku, itulah
jiwa-jiwa cahaya sesungguhnya

mereka tahu mereka
akan musnah

namun mereka
tetaplah pijarkan cahaya

 

ah bintang, tak semua orang paham akan cantikmu

andai saja kau muncul sekali dalam seribu masa

pastilah setiap
manusia akan terpesona

mungkin mereka terlalu bodoh untuk mengagumimu

atau terlalu sibuk
tuk nikmati pesonamu?

ah manusia-manusia itu…

baginya, yang indah hanyalah dalam rengkuhannya..

 

bintang, aku menyukai cahayamu

aku suka bagaimana kau terangi rengkuhanmu

aku suka bagaimana kau sinari bumiku

aku suka apapun tentang kau

sebagaimana sukaku
pada jiwa-jiwa cahaya

 

dan akhirnya aku
mencintai bintang

sebagaimana
penghuni bumi mencintai matahari

sebagaimana cintaku
pada jiwa-jiwa cahaya

dan aku pun
mencintai bintang apa adanya

 

Wahai yang
bercahaya

Aku mencintaimu
apa adanya..

 

Malang, Mei 2007