HANYA SEORANG DOKUMENTER
Kita
dikenal sesuai dengan keahlian kita. Itulah yang saya pahami sejak sekarang.
Kita akan lebih mengenal seseorang atas dasar sesuatu menonjol yang dimiliki
orang tersebut. Entah ciri fisik, atau keahlian.
Barangkali
atas dasar itu pula, entah kenapa semenjak SMA hingga sekarang di kuliah, saya
menemukan ‘spesialisasi’ dalam berbagai kegiatan. Spesialisasi yang saya maksud
disini adalah tentang spesialisasi dalam kepanitiaan. Di SMA, saya menemukan
beberapa teman, ada Warsito yang jika ada sebuah kegiatan maka teman saya ini
akan selalu dimasukkan dalam sie perlengkapan. Atau Dian Yusron yang selalu
masuk dalam sie Humas, dan ada pula sahabat karib yang juga tetangga saya,
Radit, yang selalu saja masuk dalam sie Dokumentasi. Seolah di wajah-wajah
mereka sudah ada cap ‘perlengkapan’, ‘humas’, dan ‘dokumentasi’. Dan tak hanya
mereka yang seperti itu, ‘spesialis’ dalam setiap kepanitiaan.
Begitu
pula yang saya alami. Saya mulai aktif dalam organisasi semenjak SMP. Tapi apa
sih yang bisa dilakukan anak SMP? Otomatis waktu itu kami banyak didikte oleh
guru. Kepanitiaan hanya resmi secara hitam diatas putih, di lapangan, semua
kerjanya sama. Tak peduli perlengkapan, humas, bahkan ketua pelaksana pun
kadang harus angkat-angkat barang. Di SMA, perlahan stigma semacam itu mulai
luntur, disini sudah mulai independen. Tak banyak guru yang mendikte ini itu
pada kami. Kalaupun ada, itu pun sifatnya lebih banyak ke pengarahan. Selain
itu sudah mulai ada spesialisasi yang sedikit jelas dalam kepanitiaan, meski
tak jarang kami juga harus merangkap sebagai panitia lain. Dan sekarang, ketika
di kampus, saya pun menyaksikan bahwa hampir seluruhnya independen, alias tak
ada campur tangan birokrasi ataupun dosen. Barangkali sudah dianggap dewasa,
sehingga tidak perlu diatur ini-itu, cukup diberi dana, kegiatan pun akan
berjalan sendirinya.
Dan
dari kegiatan-kegiatan tersebut, agaknya ‘spesialisasi’ itu pun juga menimpa
diri saya. Di SMA, dalam sebagian besar kegiatan, hampir 90% bisa dipastikan
saya duduk di posisi sekretaris, atau bagian sie publikasi. Pernah sih menjadi
ketua panitia, namun hanya sekali. Selebihnya selalu berkutat diantara sie
publikasi atau sekretaris. Alasan dipilihnya saya, barangkali karena semasa
SMA, saya dikenal dengan kemampuan saya dibidang komputer. Maklum, sejak SMP
saya sudah dikenal sebagai salah satu siswa yang “hobi” dengan komputer, stigma
ini agaknya terus melekat hingga SMA.
Maka
jadilah, jika setiap kegiatan di SMA, saya selalu ditunjuk sebagai satu
diantara dua bagian tersebut. Saya pun maklum, mengingat untuk kedua hal
tersebut dibutuhkan komputer. Sekretaris butuh komputer untuk mengetik proposal
dan surat-surat, publikasi butuh komputer untuk membuat pamflet dan selebaran-selebaran
pengumuman. Jadilah pekerjaan utama saya dalam berbagai kegiatan hanya
mengetik, mendesain, mengeprint, dan
tempel-tempel pengumuman. Bahkan dalam kegiatan yang saya tak menjadi
panitianya, tak jarang saya dimintai tolong untuk membuatkan mereka pamflet.
Dan
di kampus, entah dari mana mereka tahu karena ‘lagi-lagi’ dalam mayoritas
kepanitiaan, saya selalu ditaruh di bagian sie pubdekdok (publikasi, dekorasi, dokumentasi). Hanya saja bedanya, jika
di SMA dulu saya hanya mendesain ini itu di depan komputer, dalam pubdekdok ini
ada tambahan pekerjaan baru yakni dokumentasi. Satu hal yang bagi saya
kebetulan karena salah satu hobi saya juga adalah mengabadikan hal-hal dengan
kamera atau media visual lainnya. Dan toh saya tak pernah keberatan dengan
pubdekdok, karena sebenarnya saya menyukai semua hal itu. Tak peduli dimanapun,
baik itu dalam acara di rohis kampus, di BEM, atau di luar kampus sekalipun,
saya lebih banyak di taruh di bagian sie tersebut. Pernah suatu ketika saya
minta untuk sekali-kali dimasukkan dalam sie acara, namun toh tak urung di
acara tersebut, saya yang harus membuat dekorasi plus memegang dokumentasinya.
Pernah pula saya diamanahkan dalam sie pendanaan, namun hasilnya justru
amburadul. Saya memang tak terlalu kompeten disana.
***
Awal-awalnya
dahulu, saya sering dimasukkan dalam sie pubdekdok karena kemampuan saya yang
dibutuhkan dalam mendesain pamflet, stiker atau semacamnya. Saya pun tak habis
mengerti, mendesain sebenarnya tak butuh bakat, cukup kreatifitas dan kemauan
untuk mencoba. Namun entah, barngkali karena teman-teman saya melihat saya punya
jam terbang tinggi dalam hal desain, maka saya pun akhirnya lebih sering masuk
ke sie ini.
Barangkali
karena saya ada dalam sie ini pula, saya pun lantas sering diamanahi untuk
memegang tugas dokumentasi acara. Saya tak tahu alasan kenapa saya harus lebih
sering memegang kamera digital ataupun handycam. Barangkali karena tak banyak
orang yang bisa atau setidaknya PD untuk mengoperasikan gadget kamera digital dan
handycam. Namun yang jelas toh saya suka dengan tugas ini. Jadilah saya pun
kemudian lebih banyak belajar tentang cara-cara pengambilan gambar yang bagus.
Baik dengan melihat karya-karya kamerawan ataupun hasil jepretan
fotografer-fotografer. Dan lama kelamaan, saya pun akhirnya tahu bagaimana agar
hasil jepretan tidak tampak kabur, bagaimana mendapatkan posisi yang bagus,
beserta bagaimana menciptakan moment-moment yang ‘layak’ untuk diabadikan dalam
kamera.
Jadilah
sekarang saya pun menambah satu lagi list kesukaan saya. Fotografi!. Saya
memang tak tahu hal-hal dasar fotografi semacam diafragma, tipe kamera, jenis
film atau semacamnya. Sampai sekarang pun saya masih belajar tentang hal-hal
ini. Namun intinya setiap hal yang menyangkut foto saya akan antusias dan
tertarik.
Dan
demikianlah, sang dokumenter amatir pun beraksi. Tak jarang saya mengajukan
diri sebagai pemegang kamera atau handycam. Terkadang pula saya meminta objek
untuk begini-begitu, istilahnya mengatur mereka untuk berpose demi mendapat
hasil foto yang terbaik.
Enak
juga sih jadi dokumenter karena saya terkadang tak perlu angkut-angkut barang,
atau apapun, cukup dengan kamera ditangan, saya hanya beraksi mengambil gambar
teman-teman yang tengah bersusah payah dan mereka pun justru senang ketika saya
memotret. Enak juga karena terkadang ketika terjadi aksi unjuk rasa –yang
dilakukan teman-teman saya sendiri- saya toh tak perlu ikut berteriak-teriak,
push up, pegang poster, bersorak, atau bahkan long march berjalan menyusuri
jalan yang panas.
Dengan
kamera ditangan pun saya biasanya dengan leluasa bisa keluar masuk sebuah
ruangan yang sebenarnya tertutup untuk umum. Saya memang tak punya identitas
wartawan, namun dengan menunjukkan kamera, agaknya saya dianggap orang yang
ingin meliput. Seolah-olah itu adalah pass
card yang efektif. Dimana-mana, seorang
jurnalis itu agaknya memang selalu mendapat hak-hak khusus yang tak bisa
dianggap remeh. Setidaknya begitulah yang saya ketahui.
Memang
sepintas enak, namun pandangan saya terkadang justru bertolak belakang. Malum, saya
adalah seorang aktivis dakwah kampus, seorang yang sering disebut sebagai
ikhwan yang tentu harus menjaga pergaulannya dengan lawan jenis (akhwat). Secara
pribadi saya menganggap bahwa jadi seorang ikhwan dokumenter acara, lebih
sering semacam tekanan batin disana. Tekanan itu seringkali muncul ketika saya
harus meliput sebuah kegiatan dari para aktivis-aktivis ini.
Masalah
mengambil gambar secara umum memang gampang, dan memang bukan itu masalahnya.
Masalahnya adalah ketika saya harus meliput sebuah kegiatan dimana ada akhwat
disana. Disinilah konflik batin itu seringkali muncul. Bukan konflik batin
ketika saya melihat akhwat-akhwat tersebut, melainkan ketika saya dihadapkan
kepada keputusan, haruskah saya mendokumentasikan mereka atau tidak?
Semisal
dalam sebuah acara aksi (istilah lain untuk unjuk rasa), agaknya aneh jika saya
hanya men-shoot jajaran ikhwan saja. Seolah yang ikut aksi hanya ikhwan saja,
padahal jangan salah, akhwat juga lho!. Namun ketika saya men-shoot akhwat,
saya justru khawatir akan timbul fitnah atau setidaknya “rasan-rasan” di
kalangan para ikhwan ataupun akhwat. “ini ikhwan kok motret akhwat..!!”. ya..
ya.. ya.. hal yang lumayan “tak umum” memang. Kalau saya wartawan biasa memang
hal semacam ini tak aneh, dan saya pikir pun orang-orang tak akan heran. Namun masalahnya
adalah saya adalah wartawan tanpa media, hanya seorang dokumenter, dan lagi toh
saya sudah dikenal sebagai ikhwan, setidaknya dari penampilan saya.
Atau
dalam acara lain, yang mungkin barangkali bersifat umum dimana tidak ada hijab
fisik diantara mereka (semisal dalam ruang konferensi), memotret momen-momen
dalam tempat seperti ini tentu membuat saya harus berpikir ulang.
Masalah
mungkin akan selesai ketika ada dua orang dokumenter, satu ikhwan dan satu
akhwat. Namun hal ini sangat jarang saya temui di tenpat kegiatan saya. Solusi
lain memang barangkali dengan menyuruh salah seorang akhwat untuk mengambilkan
gambar, namun masalahnya tak banyak orang yang bisa atau setidaknya PD untuk
mengambil gambar dengan kamera digital (apalagi handycam). Atau ketika mereka
mau dan bisa, justru saya yang lebih sering kecewa dengan hasil rekaman mereka
yang terkadang terkesan “asal jepret”. Maklum sih, mereka tidak terbiasa
mengambil posisi yang aneh-aneh untuk memotret. (masak akhwat berdiri diatas
kursi, atau motret sambil tiarap).
Memotret
tak sekedar mengambil gambar dengan kamera ataupun handycam saja. Namun tentu,
seorang fotografer tahu bahwa waktu dan momen yang tepat dipadu dengan
pengambilan gambar yang pas pula, akan menentukan kualitas foto. Dengan kamera
paling sederhana sekalipun! Disinilah masalah saya akan sering muncul ketika seringkali
momen-momen yang bagus tersebut ada di tempat akhwat, setidaknya harus melewati
kerumunan akhwat untuk mendapat posisi tersebut. Tak jarang saya harus berpikir
berkali-kali atau menunggu bermenit-menit untuk kemudian menerobos area akhwat
tersebut demi mendapat sebuah momen dan posisi yang bagus. Dengan masih memperhatikan
batas-batas syar’i tentu.
Cukup
disitu? Sepertinya tidak! Diantara momen-momen ini terkadang ada juga akhwat
yang tak sengaja, atau setidaknya -mau tak mau- harus ikut terekam. ketika
foto-foto saya copykan ke salah satu akhwat pubdekdok, terkadang pun ada sebuah
pertanyaan, “Lho kok ini ada foto akhwat akh”. Jadilah saya harus
menjelaskannya sedemikian rupa, semata-mata agar tak ada kesalah pahaman. “Yang
ana potret tu persitiwanya ukh!, ana nggak butuh orangnya!”, saya coba
menjelaskan. Yah, berinteraksi dengan aktivis yang sangat berhati-hati dalam
hal ini memang terkadang sering menimbulkan kesalah pahaman. Namun toh saya
suka dengan mereka. Hanya ya itu, husnudzon sedikit kenapa sih? Toh saya tak
pernah mengambil gambar seorang akhwat secara spesifik, satu orang tertentu
apalagi pakai zoom di wajahnya atau semacamnya lah. Kalaupun suatu saat
kebetulan saya harus mengambil dokumentasi tentang akhwat, maka saya pastikan
bahwa itu adalah akhwat secara keseluruhan. Semisal ketika aksi turun ke jalan,
ya segerombolan itu, bukan dari tadi satu akhwat itu-itu terus atau orang-orang
tertentu saja. Kalaupun mengharuskan mengambil foto tunggal, dalam artian hanya
akan ada satu atau dua orang dalam foto
tersebut, maka itu adalah dengan sebuah catatan sendiri. Yakni ketika si objek
tengah melakukan atau dikenai sesuatu yang memang sangat-sangat bernilai untuk
diambil gambarnya. Semisal ia dalam posisi memegang poster (yang jadi fokus,
posternya tentu) atau ketika ia melakukan aktivitas yang memang bernilai tinggi
untuk didokumentasikan.
Itulah
sedikit gambaran kecil, betapa terkadang susahnya menjadi dokumenter yang juga
ikhwan. Sering saya harus menjelaskan berlarut-larut untuk sebuah foto yang
“diprotes” (bahasa lain untuk dirasan-rasani). “Saya tak punya urusan dengan
akhwat-akhwat tersebut!”, itu yang sering saya tekankan pada mereka. Hanya agar
tak terjadi kesalahpahaman berlarut. Dan mereka pun sepertinya juga mengerti
(semoga begitu). Ah, repot juga memang.
Namun
diantara suka duka, enak dan tidak enaknya menjadi dokumenter acara - baik
dalam acara-acara aktivis atau bukan- masih ada hal unik lainnya. Seperti kita
tahu bersama bahwa kebanyakan orang suka ketika dirinya difoto, atau bahkan di
shoot dengan kamera. Orang-orang ini pun lebih suka lagi ketika melihat dirinya
dalam foto-foto tersebut, sampai-sampai dalam setiap hasil dokumentasi acara, yang
dicari selalu foto dirinya sendiri (kelihatan egois-nya). Dan –wallahu ‘alam-
hal ini agaknya tak berlaku bagi sang dokumenter. Jangan harap akan menemukan
foto dirinya dalam kumpulan foto-foto tersebut, lha wong dia sendiri yang
ambil..!! jadilah sang fotografer harus lebih sering bersabar karena ia tahu,
bahwa ia akan lebih banyak dilupakan. Ketika seorang melihat sebuah koleksi
foto, mereka akan lebih sering berkata “Mana fotoku, mana fotoku?” atau “mana
fotonya si X? ini kegiatan apa?” dan sejenisnya, tanpa pernah bertanya, “Siapa
yang ambil foto ini?”. Pertanyaan ini biasanya baru akan muncul ketika ada
masalah tentang foto tersebut. Ya, sang dokumenter akan ditanyakan jika terjadi
suatu masalah tentangnya, dan jarang sekali ketika tak terjadi apa-apa.
Namun
toh, bagaimanapun juga, bukan itu yang menjadi kebanggaan seorang fotografer.
Sepertihalnya seniman-seniman lain, ia tak pernah peduli akankah namanya
dikenal atau tidak. Selama karya-karyanya itu bisa membuat orang lain senang
dan berbahagia, itu sudah sangat cukup baginya. Fotografer tak butuh
didokumentasikan, ia butuh mendapatkan karya-karya yang memuaskan. Setidaknya
itulah yang saya pelajari hingga sekarang.
Malang,
awal Maret 2007
Sepekan
pasca menjadi dokumenter
kepanitiaan
milik para aktivis dakwah