dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for February, 2007


salam redaksi

don’t know why,
but my writing skill seems so drop lately,
SOrry for all of you, if you notice that my writing look worse recently..
actually, lately I have a problem with someone from my past…
yah… you know… its a …..
hopely, this problem will finsh by this semester…
hopely….

Harga Sebuah Pengalaman

 

Saya termasuk orang
yang tidak begitu suka dengan rekreasi. Entah kenapa, barangkali saya memang
malas untuk bepergian jika hanya untuk rekreasi. Ditambah lagi saya pikir hal
tersebut hanya buang-buang uang – setidaknya begitulah pikiran saya. Saya baru
mau untuk rekreasi setelah ada paksaan dari pihak lain, atau setidaknya jika
hal itu bisa membuat orang lain gembir dengan keberadaan saya diantara mereka,
-hal yang jarang sekali tentu-.

 

Ketika masih kecil,
sebenarnya saya tak sampai berpikir sejauh itu. Toh rekreasi atau tidak, kalau
orang tua mengajak, saya tetap mau tak mau harus ikut juga. Hanya saja waktu
itu yang tidak saya suka dari rekreasi, karena ia selalu identik dengan
bepregian jauh. Dan itu berarti saya harus naik bus. Padahal saya sering sekali
mabuk kendaraan.

 

Saya pun beranjak
dewasa dan hampir tidak pernah lagi mabuk kendaraan. Namun entah kenapa saya
tetap tidak terlalu berminat untuk acara-acara rekreasi. Terlebih jika formatnya
yang hanya untuk senang-senang saja. Alasannya ya itu tadi, malas, buang-buang
waktu dan buang-buang uang. Toh, jika saya ingin pikiran saya fresh, saya tak
perlu sejauh itu keluar uang dan waktu. Mana capek lagi dalam jika harus
menempuh perjalanan jauh.

 

Bagi saya, beberapa
jam bermain game di depan komputer, membaca buku, nonton film, atau setidaknya
ke sebuah tempat di kota saya-entah itu sawah, gunung, sungai, masjid, kafe,
alun-alun- sambil membaca, sudah sangat cukup untuk membuat pikiran saya fresh.
Toh saya juga jarang sekali membutuhkan rekreasi karena sampai sekarang saya
sadari bahwa saya jarang sekali merasa depresi dan suntuk.

 

Karena itu pula,
sejak SMA sampai sekarang, saya jarang sekali ikut kegiatan yang namanya
rekreasi. Terlebih jika yang tujuannya senang-senang tadi harus keluar biaya
ekstra dan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Ketika SMA saya mengadakan tur
beberapa hari ke Bali, saya memilih untuk tidak ikut. Saya beralasan karena
kegiatannya hanya senang-senang menghabiskan uang. Teman-teman bahkan wali
kelas pun sudah membujuik, namun saya kukuh pada pendirian saya. Orang tua
bahkan didatangkan untuk membahas masalah ini. Maklum, karena sebenarnya waktu
itu, tidak ada masalah untuk biaya saya tour ke Bali. Namun untungnya saya dan
seorang teman lolos sebagai finalis dalam sebuah acara Lomba Penelitian Ilmiah
Remaja. Sehingga saya pun akhirnya punya alasan ekstra bahwa saya harus
mempersiapkan keberangkatan teman saya tersebut untuk final di Jakarta. Toh, di
Jakarta saya justru mendapatkan banyak hal yang –bagi saya- jauh lebih
bermanfaat dibanding teman-teman yang berwisata ke Bali.

 

Tak cukup sampai di
situ, bahkan pernah ketika orang tua saya mengadakan acara menginap di sebuah villa
di luar kota selama 2 hari, saya justru lebih memilih berdiam di rumah. Padahal,
saya tak perlu membayar sepeserpun untuk itu. Semua sudah ditanggung orang tua
dari uang bonus perusahaan. Namun entah kenapa saya tetap memilih tidak ikut
dalam wisata keluarga tersebut, dan memilih menjaga rumah sekaligus menjadi satu-satunya
anggota keluarga yang tidak ikut rekreasi.

 

Begitulah, sejak
masuk SMA hingga saya kuliah, saya hampir tidak pernah mengikuti acara yang
namanya rekreasi. Sampai sekarang, jika saya sedang jenuh dengan kegiatan
kampus, paling-paling saya hanya pergi, jalan-jalan ke mal, atau bahkan ke
perpustakaan. Kalaupun rekreasi, itu atas inisiatif saya sendiri dan biasanya sih
tak jauh dari hal-hal yang saya saya anggap bermanfaat, semisal ke museum atau
ke kolam renang misalnya. Intinya, yang tak menghabiskan banyak biaya, dan
mendatangkan banyak manfaat.

 

***

Tak terkecuali di
liburan semester kemarin. Suatu hari, seorang teman meng-SMS saya, isinya
sebuah pengumuman bahwa siapa saja yang ingin ikut rekreasi ke JatimPark,
silahkan siapkan uang 30 ribu. Jika tidak, boleh ikut menginap ke villa miliknya
saja dan gratis.

 

Ya, untuk pertama
kalinya selama kuliah, saya diajak turut dalam sebuah acara rekreasi. Kali itu,
tujuan utamanya adalah ke Jatim Park, sebuah amusement park (taman hiburan)
yang berada di kota Batu, sekitar setengah jam perjalanan dari kota Malang. Rencananya,
kami akan menginap di Villa milik salah seorang teman di kota Batu tersebut.

 

Dan bisa ditebak, -lagi-lagi
dengan alasan biaya- saya memutuskan untuk hanya ikut ke villanya saja. Bagi
saya, villa tersebut sudah lebih dari cukup untuk sejenak melupakan
masalah-masalah saya di Malang. “Kalau aku disini, seolah-olah aku sudah lupa
semua masalah yang ada di kampus”, begitu kata temanku si pemilik villa. Dan
memang begitulah kenyataannya, suasana yang dingin sejuk, dengan background
gunung dan areal persawahan, memang membuat setiap orang betah berlama-lama
disana. Tak terkecuali saya. Dan saya pun akhirnya mengatakan bahwa saya ikut
ke villa-nya saja, dan tidak ke Jatim Park.

 

Jadilah hari itu,
setelah menyiapkan segala sesuatunya, pakaian, jaket, dan membawakan selimut
pesanan teman, kami pun berangkat ke villa. Tak sampai satu jam, kami pun
sampai ke villa teman saya tersebut. Setelah unpacking dan beres-beres, saya
pun ke beranda belakang, duduk-duduk menikmati pemandangan beserta beberapa
teman yang lain.

 

Hari sudah mulai
panas, “Ayo, siap-siap, sudah jam 10 nih, kita berangkat yuk!”, ujar salah
seorang teman dari dalam villa. “Ayo Hid!”, temanku mengajak. Dia memang tidak
tahu jika saya tak berencana ikut ke jatim Park, hanya temanku pemilik villa
yang tahu.

“Aku nggak ikut”,
jawabku singkat.

“dia lebih sayang
ma uang 30 ribu nya!”, komentar temanku pemilik villa.

 

Ya, jujur –bukannya
pelit- namun memang saya sayang dengan uang segitu jika dihabiskan untuk
bersenang-senang –setidaknya begitu pikirku saat itu-. Bagaimanapun juga,
dengan uang 30 ribu, itu bisa untuk uang makan saya selama sepekan. Apalagi
kondisi keuangan sedang krisis-krisisnya, mengingat uang kiriman orang tua baru
datang 3 pekan lagi. Namun jika tidak ikut, sebenarnya sayang juga, jarang ada
kesempatan seperti ini lagi. Jika saya ke Jatim Park sendirian, rasanya tak
mungkin (nggak bakalan), dan mumpung kali ini ada rombongan untuk bersama-sama
kesana. Jadilah saya waktu itu bimbang. Kalau uang, sebenarnya saya pun
membawa, kalaupun tidak saya yakin pasti ada yang mau meminjami saya. Saya pun
bimbang

 

Dan agaknya temanku
si pemilik villa ini pun juga tahu akan kebimbanganku.

“Eh, yakin ta? 30
ribu itu sudah termasuk seluruh fasilitas arena didalamnya? Soalnya dulu waktu
aku kesana, 30ribu itu belum termasuk apa-apa.” Tanya temanku memastikan.
Jujur, pertanyaan tersebut

“Iya-ya, yakin deh
kalau nggak percaya telepon aja!” ujar temanku satunya.

 

Dan benar saja,
temanku pemilik villa ini pun menelepon. Ia pun sebenarnya tak terlalu yakin
bahwa harga tersebut sudah termasuk fasilitas ke seluruh wahana di dalamnya,
mengingat katanya ia dulu pernah ke jatimpark dan harga tersebut belum termasuk
seluruh fasilitas taman bermain di dalamnya.

 

“Ya, 30ribu sudah
termasuk semua wahana kecuali columbus… dan… “, temanku menyebutkan 3
wahana lain yang tidak termasuk dalam harga 30ribu tersebut.

 

Saya yang sama
sekali tidak pernah ke jatim park, mau tak mau mengikuti pembicaraan mereka.
Secara otomatis, semakin tertarik.

“Sebenarnya ada apa
aja sih di sana?” tanyaku penuh selidik.

“wah macam-macam,
ada spinning coaster, rumah hantu, rumah pipa, taman burung, taman reptil,
taman ikan.. dan.. sudah deh, buanyak pokoknya!”, seorang teman berpromosi.

 

“Iya, katanya
sekarang sudah banyak, dulu masih sedikit!, waktu aku kesana, masih ada
buldozer-buldozernya, masih dibangun seperti itu”, temanku yang lain
menanggapi.

 

Secara otomatis,
sebenarnya aku pun sudah tertarik. Namun masih sedikit ragu-ragu mengingat
sebenarnya saya dalam kondisi krisis, dan lagi, dengan uang 30 ribu tersebut,
itu bisa untuk uang makan saya selama sepekan (selama ngirit). Mau pinjam uang?
Malu dong! Mau taruh dimana harga diri saya! Tapi jika saya tidak ikut, maka
saya pun akan menjadi satu-satunya peserta rombongan yang bakal tertinggal di
Villa. Dan itu artinya, selama 6 jam, saya harus sendirian di villa. Sendirian
di sebuah villa yang bukan milik saya.

 

“Sebenarnya kalau uang
30ribu sih bawa, tapi…..” ujarku setengah ragu.

“Ayo wis… ikut… pengalaman itu mahal
harganya lho..!”, ujar temanku pemilik villa.

 

Pengalaman itu mahal harganya…..
kata-kata ini sentak membuatku sadar.

 

Di dalam villa,
teman-teman sudah ramai berkemas, bersiap-siap menuju Jatim Park. Ada yang ribut
dengan kamera, ada yang masih membahas dengan siapa mereka berangkat, dan
lain-lain. Aku hanya diam, dalam hati saya pun membenarkan perkataan temanku
barusan. Pengalaman itu mahal harganya!!

 

“Gimana Hid, Ikut?
Nggak bakalan nyesel dah!!” ajaknya memprovokasi.

 

Setelah merenung
sejenak, coba menentukan skala prioritas, termasuk gambaran anggaran riil jika
saya putuskan untuk ikut. Termasuk kemungkinan saya tentu akan lebih banyak
berpuasa sekaligus sambil mengirit uang makan tentu.“Yup, ikut wis!”, jawabku
singkat.

 

Saya pun segera
ikut berkemas, mempersiapkan apa saja yang perlu dibawa. Tak sampai sejam, kami
pun sudah berada di lokasi. Dan mulailah pengalaman itu betul-betul saya
rasakan. Selama beberapa jam kami menelusuri semua wahana yang ada.

 

“Wah, kalau 30ribu
dapat semua kayak gini, betul nggak rugi!” ujar salah seorang temanku.

 

Saya pun hanya
mengangguk membenarkan. Saya baru sadar bahwa sudah lama aku tidak pernah
rekreasi lagi. Dalam pengertian rekreasi yang sebenar-benarnya. Aku pun sudah lupa
kapan terakhir kali saya pergi ke tempat semacam kebun binatang ataupun taman
bermain, mungkin sekitar kelas 2-3 SD, dan itu pun tentu sudah banyak yang
terlupa. Saya pun tidak pernah masuk yang namanya rumah kaca, rumah hantu, atau
merasakan yang namanya spinning coaster dan wahana-wahana tempat bermain
lainnya.

 

Dan entah memang
banyak hal baru yang pertama kali saya rasakan hari itu. Mulai dari atraksi
ilmiah peralatan fisika dan kimia, memukul gong raksasa, menyaksikan fosil
hewan purbakala, miniatur-miniatur candi di Indonesia, bagaimana mengemudi dan
“berperang” dengan BoomBoomCar, merasakan bagaimana rasanya perut dan kepala
diaduk dengan Spinning Coaster, rasanya mengayun dan jatuh bebas, mencoba
mencari jalan keluar melalui tembok-tembok labirin di Taman Sesat, atau bahkan ‘bermain-main’
dengan hantu di rumah hantu. Semua adalah hal baru bagi saya.

 

Meski harus mengeluarkan
uang 30 ribu disaat kondisi keuangan tengah krisis, namun saya tak menyesal.
Saya memang tetap tak seberapa suka dengan rekreasi, toh rekreasi atau tidak,
tak jauh berbeda bagi saya. Dan hari itu, di jatim park memang saya tidak
sedang bersenang-senang seperti teman-teman lainnya. Sepulang dari jatim park
saya tidak merasa lebih “fresh”, atau lebih senang seperti lainnya, karena toh
dengan ke villa saja sebenarnya sudah cukup untuk sekedar mendinginkan masalah
di kepala.

 

Namun satu hal
pasti, hari itu saya tidak membeli kesenangan dengan 30 ribu, saya membeli
sesuatu yang jauh lebih berharga dengan uang makan saya. Saya membeli sebuah
pengalaman. Sesuatu hal yang dikatakan sebagai guru terbaik karena ia
mengajarkan manusia normal untuk mengulangi kesuksesan dengan lebih baik dan
tidak melakukan kesalahan yang sama. Namun juga sebagai guru yang buruk karena
ia memaksa kita untuk melakukan sesuatu sebelum kita dapat mengambil pelajaran
darinya.

 

Ya, hari itu sebuah
mendapat sebuah pelajaran berharga, bahwa Pengalaman itu mahal harganya. Saya
masih tetap tidak begitu suka dengan rekreasi, namun mungkin saya akan berpikir
ulang, jika saya bisa mendapat sebuah pengalaman berharga darinya.

 

Kamar Kost, 4days after from Jatim Park

Malang, 18 Februari
2007 14.05

Life is a book…

Bahwa bukan berapa lama anda hidup,
tapi seberapa bermakna hidup anda, bagi kehidupan orang lain….

 
***

 
Sudah lama manusia mencoba
mendefinisikan kehidupan. Apa dan bagaimana sebenarnya kehidupan itu. Dengan
menemukan definisi kehidupan, disitu manusia akan menemukan bermacam hikmah
kebijakan yang ada di dalamnya.

 

Lantas kita pun menemukan ada banyak istilah dan
pepatah tentang kehidupan ini. Semua berasal dari hasil perenungan mereka. Ada
yang mengatakan hidup ini adalah sebuah perjuangan, karena ia melihat bahwa
hidup senantiasa membutuhkan perjuangan dan kerja keras bagi mereka yang
menginginkan kehidupan yang lebih baik.

 

Ada pula falsafah jawa yang mengatakan bahwa ”urip mung mampir ngombe”. Dalam sebuah
perjalanan panjang, hidup hanya sekedar mampir minum. Karena ia melihat bahwa
kehidupan di dunia ini hanya sangat sebentar dibandingkan kehidupan di akhirat
nanti. Maka ia menggambarkan bahwa hidup itu hanya mampir minum, sebelum
kembali meneruskan perjalanan menuju Rabb-Nya.

 

Lain lagi dengan yang mengatakan bahwa hidup tak
lebih dari sekedar penderitaan, karena ia melihat bahwa manusia lebih banyak
berada dalam penderitaan mereka daripada kesenangannya. Bagaimana manusia
menghabiskan lebih banyak waktu berlumur keringat hanya untuk mempertahankan
hidup mereka. Maka mereka pun mendefinisikan bahwa hidup ini adalah
penderitaan.

 

Tak harus menjadi seorang ilmuwan, filosof,
ataupun seorang profesor agar boleh mendefinisikan kehidupan. Baik ia seorang
presiden atau bahkan tukang becak di pasar sekalipun, semuanya sah-sah saja
mendefinisikan kehidupan. Tak perlu merasa paling benar ataupun saling
menyalahkan, karena toh bukankah masing-masing dari kita punya pandangan yang
berbeda tentang hidup? Selama mereka hidup, mereka pun berhak untuk
menggambarkan apa definisi hidup itu. Hanya saja, tentu sudah menjadi fitrah
kita untuk menyeleksi, mana definisi yang bisa kita terima, mana yang tidak.
Parameternya? Kembalikan saja pada Al Quran dan Sunnah. Jika bertentangan
dengan fitrah, misal mengatakan bahwa hidup tak lebih dari sekedar bersenang-senang,
tentu saja kita harus tegas untuk menolaknya.

 

Namun bagi seorang penulis seperti saya, hidup itu
layaknya sebuah buku. Kita lahir sebagai sebuah buku putih, bersih. Kemudian
orang tua kita, merekalah yang mula-mula menulisi kita. Seiring bertambah usia,
kita pun perlahan diajari bagaimana menulis buku kehidupan. Perlahan kita
diajarkan menulis sendiri kehidupan kita. Hingga suatu waktu, kita pun dilepas
untuk bisa menulis buku kehidupan kita sendiri. Maka disinilah seorang manusia
mulai dilepas untuk mandiri.

 

Kita pun mulai menulis kehidupan kita
masing-masing. Ada yang menulis dengan tulisan-tulisan yang baik, ada pula yang
buruk. Masing-msaing mencoba menulis dengan cara mereka sendiri. Namun, kita
pun sebenarnya telah diberi sebuah pedoman dalam menulis. Pedoman itu berupa
ayat-ayat Sang Pencipta. Pihak yang memberi buku kosong dan yang akan menerbitkan buku kehidupan kita. Dialah yang
akan menerbitkan buku kehidupan kita.

 

Adakalanya sekelompok manusia –entah karena
kebodohan dan kesombongannya- mereka tak mau menggunakan panduan tersebut. Mereka
lebih memilih untuk  membuat dan
menggunakan ”panduan-panduan” lainnya. Ada pula yang tak sadar bahwa buku yang
mereka tulis suatu saat akan diterbitkan sang Penerbit. Sehingga mereka pun
terus dan terus menulis semau mereka. Tak peduli tulisan itu baik atau buruk,
yang penting mereka bisa senang dalam buku kehidupan mereka. Sehingga tentu saja tulisan mereka yang tidak
ada yang sesuai dengan keinginan Penerbit. Penerbit pun terkadang marah dan
merobek-robek buku tersebut menjadi kepingan-kepingan adzab.

 

Suatu ketika Penerbit coba menguji kita, dengan
membuat coretan-coretan kotor dan mengganggu saat kita sedang menulis. Ingin
tahu, akankah kita masih bisa untuk menulis kebaikan dalam lembar-lembar
kehidupan kita. Terkadang ia menguji dengan kepayahan, terkadang pula menguji
dengan kesenangan yang melenakan kita dari menulis kebaikan.

 

Adakalanya, tak jarang kita disuruh membaca
buku-buku kehidupan manusia lain. Baik yang telah selesai ditulis, atau pun
yang masih sedang ditulis. Entah sekedar mengambil hikmah, atau pun untuk kita
jadikan referensi. Tak jarang kita mencontek dari buku-buku tersebut karena
menurut kita, isi buku tersebut lumayan bagus dan layak jika ada di buku
kehidupan kita.

 

Suatu saat, buku kita pun selesai ditulis. Sang Penerbit pun mereview hasil tulisan kita. Jika tulisan kita buruk, maka tulisan tersebut
takkan layak cetak. Sang penerbit pun marah pada si Penulisnya. Dan sebaliknya
jika tulisan kita baik, maka kita pun mendapat pujian dan imbalan yang
baik.

 
Inilah hidup, kita lahir dalam keadaan buku putih
bersih, di lembar-lembar awal kita akan ditulisi oleh orang tua kita, diajarkan
tentang cara-cara menulis, hingga kemudian kita menulis sendiri buku kehidupan
kita. Pada suatu saat, kita selesai menulis buku tersebut, dan pada saat itu, semua
tulisan kita akan direview oleh sang Pencipta.

 
***

 
Bagi saya, inilah salah satu makna kehidupan.
Diantara sekian banyak orang-orang yang mencoba mendefinisikan kehidupan
mereka. ”Life is a book…” Kehidupan layaknya sebuah buku. Bisa jadi definisi
tersebut memang keliru. Toh Sang Pemberi kehidupan-lah yang sebenarnya paling
tahu benar tentang definisi kehidupan ini. Manusia hanya menjalani, dan bukan
menciptakan kehidupan kita.

 
Akan tetapi apapun makna kehidupan ini, Satu hal pasti
yang sangat penting untuk kita ketahui. Bahwa tak peduli bagaimana pun kita
memaknai kehidupan ini, kita harus tahu tujuan hidup kita. Maka, jika hidup
adalah perjalanan, maka kita harus tahu kota tujuan akhir perjalanan kita. Jika
hidup adalah perjuangan, kita harus tahu untuk apa kita berjuang. Jika  hidup adalah penderitaan, ketahuilah untuk apa
kita perlu merasakan penderitaan tersebut. Dan jika hidup ini adalah sebuah
buku, kita pun harus tahu untuk apa kita menulis buku tersebut.

 
Maka inilah hidup. Suatu ketika salah seorang
teman saya menyampaikan satu hal menarik tentang kehidupan. ”tak peduli
kapanpun, dimanapun, dan bagaimana kita memaknai dan menjalani hidup ini, satu
hal yang harus selalu ada dalam diri kita”

”Apa itu..??” tanyaku dalam hati.

”Hal itu adalah Kesadaran akan kematian..!! Ya,
sebuah kesadaran, Bahwa semua aktivitas, kegiatan, dan semua yang kita lakukan
dalam hidup kita, sebenarnya tak lebih dari mempersiapkan akhir dari kehidupan
kita masing-masing”

Dalam hati akupun membenarkan, ”Iya.. ya.. betul
juga”

 
Tak peduli bagaimana kerasnya perjuangan, beratnya
penderitaan, jauhnya perjalanan, ataupun sulitnya penulisan hidup kita. Satu
hal pasti, bahwa semua itu akan berakhir. Akan tiba satu masa dimana kita tak
lagi mampu berjuang. Sebuah masa dimana penderitaan itu akan berhenti kita
rasakan. Sebuah masa dimana kaki-kaki ini takkan mau lagi diajak melakukan
perjalanan. Dan akan tiba pula suatu masa dimana pena kehidupan kita akan
kehabisan tinta. Saat itulah kita pun berhenti dari kehidupan ini.

 
Sebagaimana kita, tak satupun manusia yang
mengetahui persis akhir hidupnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus dan
terus melangkah. Berjuang, menderita, berjalan dan menulis dalam lembar-lembar
kehidupan kita. Sambil berharap bahwa suatu saat, ketika tinta-tinta kehidupan ini
telah habis, maka telah tercipta sebuah buku kehidupan yang bagus bagi Sang
Penerbit.

 
Maka, sudah layaknya kesadaran akan kematian ada dalam
keseharian kita. Sambil terus berharap dan berdoa, bahwa kelak ketika hidup ini
berakhir, kita telah menyelesaikan buku kehidupan kita. Tak hanya selesai,
namun didalamnya sarat dengan kisah-kisah dan warna-warna indah untuk kita
pertanggungjawabkan dengan sebuah senyuman.

 

hidup adalah sebuah buku, maka tulislah dengan yang terbaik, dan jangan lupa bahwa suatu saat, penamu akan kehabisan tintanya.

 
“Kita semua yakin bahwa kita akan mati, namun tidak semua dari kita yakin
dan sadar, bahwa kita akan mengalami perjumpaan dengan-Nya..”

 
Ponorogo, 25 Januari 2007