dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for January, 2007


Mas Liga Sholat

Mas Liga
Sholat..!!

 

 
Namanya Mas Liga.
Hampir bisa dipastikan orang satu perumahan kenal dengan orang satu ini. Bukan
karena prestasinya yang hebat atau karena ke tokohannya, melainkan karena Liga
ini adalah orang yang boleh dibilang kurang waras pikirannya.

 

 

Jadilah ia
termasuk ”tokoh” di kompleks perumahan kami, karena tak ada yang tidak
mengenalnya. Pekerjaannya setiap hari pun seringkali tidak jelas. Sering
mondar-mandir kesana kemari. Bahkan pernah suatu ketika kami tertawa melihat
mas Liga yang usianya sudah berkepala dua ini berlari sambil berteriak-teriak
tak karuan ke lapangan basket. ”Hooi… pesawat… minta dhuwit-nya!!”, begitu teriaknya.
Ya, pasalnya sederhana, ada helikopter yang tengah melintas. ’bahkan anak kecil
pun rasanya tidak lagi seperti itu’, begitu pikirku.

 

 

Untungnya, ia
masih punya etika dan kesopanan. Ia tetap memakai baju lengkap dan rapi bahkan,
sering senyum-senyum sendiri (meski senyumnya nggak jelas juga), jika diajak
ngomong ”terkadang” masih sedikit nyambung, hanya saja ya begitu, kalau istilah
teman saya, ”Uteke Nggak bek” (otaknya nggak penuh). Yah, semacam orang
Stress gitu.

 

 

Namun ada satu hal
yang sungguh membuat saya sungguh salut pada orang ini. Meski ia diakui kurang
waras oleh kami, orang-orang seperumahan, namun mas Liga ini sering saya
temukan berada di Masjid. Bukannya mengganggu orang sholat seperti orang gila pada
umumnya, namun ya itu, ikut sholat jamaah. Betul! Saya terkadang juga heran
dengan orang satu ini.

 

 

Terakhir kali,
ketika pulang kampung kemarin, saya pun masih menemukan orang ini Sholat
berjamaah bersama kami. Meski itu hanya sholat maghrib dan isya sekalipun..!!
tambah mengagumkan lagi karena biasanya ia tak pernah pulang antara maghrib dan
isya. Ia tetap di dalam masjid ataupun hanya duduk-duduk di teras masjid.
Terkadang sambil begitu ia pun membaca Al Quran. Ketika Lancar juga lho
bacaannya..!! ketika menyimak bacaan orang lain dan salah, ia pun tak segan
membetulkan. Hanya ya itu, mas Liga ini jika boleh dibilang agak kurang waras.

 

 

Dan saya pun
heran, kenapa untuk masalah-masalah seperti ini ia paham. Bahkan tak jarang
adzan Isya’ pun dikumandangkan olehnya. Tapi entah kalau diajak masalah lainnya
ia seperti orang bingung (entah kalau memang benar-benar bingung).

 

 

Intinya satu hal
yang sungguh saya kagumi dari orang ini.
Ia tetap mau ke Masjid..!! ia tetap sholat!!.
Meski saya pun tak habis pikir, bagaimana orang seperti ini akan dihisab nanti.
Entahlah itu, urusan antara ia dan Allah SWT.

 

 

Ada lagi
seorang sosok di Malang. Saya tak terlalu mengenal namanya. Namun yang jelas
usianya sudah lebih dari 80an. Ia bukan sosok pemuda seperti Mas Liga tadi.
Rambutnya hampir kesemuanya memutih. Garis-garis keriput di wajahnya
menunjukkan usianya yang sudah renta. Penglihatannya pun banyak berkurang. Tak
cukup sampai disitu, untuk berjalan ke masjid yang jaraknya sekitar 30meteran,
ia masih perlu dibantu dengan sebuah kruk di tangannya.

 

 

Di Masjid
pun ada sebuah tempat khusus untuk orang ini. Di bawah tiang salah satu masjid
di shof kedua. Di tempat itu terletak sebuah bantalan kursi. Ya, kakek tua
renta ini hanya kuat untuk sholat berjamaah sambil duduk. Tak cukup disini,
karena kakek renta ini pun, terkadang masih sempat-sempatnya mengisi pengajian ba’da maghrib.
Subhanallah…

 

 

Kedua orang
ini. Yang pertama adalah orang yang kurang waras, dan yang kedua adalah seorang
yang tua renta yang bahkan untuk berjalan pun harus dibantu dengan kruk.

 

 

Entah kenapa
namun setiap merenung tentang mereka berdua, ada satu hal aneh berkecamuk di
pikiran saya. Saya masih jauh lebih baik daripada kedua orang ini dalam artian saya
masih lebih muda, lebih kuat, dan tentu seharusnya lebih bersemangat dibanding
mereka berdua. Saya pun masih mampu berpikir sehat, masih mampu berjalan tegap,
bahkan berlari sekalipun. Namun kemudian ada banyak hal yang perlu saya
pertanyakan pada diri ini, kenapa terkadang sulit sekali untuk menjadi seperti
mereka?

 

 

Mungkin kita
perlu merenung, barangkali hanya niat, kesadaran, dan kemauan kita yang
membedakan. Adakalanya kaki-kaki kita sungguh sulit untuk diajak melangkah ke
kebaikan, hanya karena terlalu banyak alasan yang ada di diri ini. Padahal
semuanya berujung pada kemalasan kita saja.

 

 

Ada juga di
kampus saya, ada seorang dosen. Pak Ridok namanya. Dosen ini punya kebiasaan
yang –bagi saya- cukup unik. Beliau mengajar di kelas saya mulai pukul 2 siang
hingga pukul 4 sore. yang artinya, menabrak waktu sholat ashar. Nah, dosen satu
ini, ketika waktu Ashar tiba, atau dengan kata lain, Adzan sudah berkumandang,
maka beliaupun mem-pending perkuliahan. Dan selama 15 menit kedepan, kami
semuanya yang muslim, keluar untuk sholat Ashar berjamaah, kemudian kembali
lagi.

 

Subhanallah…
andai saja semua dosen seperti itu.

 

 

Teringat akan
sebuah riwayat, tentang seorang sahabat yang buta, oleh rasulullah beliau tetap
disuruh untuk ke masjid selama adzan masih terdengar olehnya.

Meski mata saya
minus, namun saya toh tetap bisa melihat dengan baik. Sungguh malu jika lantas
diri ini sekali saja meninggalkan sholat berjamaah di masjid.

 

 

Sahabat, tak perlu
kita menunggu hingga tua, karena bukanlah salah satu orang yang beruntung di
akhirat kelak, adalah mereka yang masa mudanya terpaut oleh masjid??

 

 

Ya Allah,
berikanlah kekuatan, dan ringankanlah kaki-kaki ini untuk menyambut
panggilanMu, di masjid-masjid Mu…….

 

 

kamar kost, Malang

Kamis 28 Desember
2006

Sebuah refleksi di
akhir tahun

Sang Penguasa Hujan

Negeri mana yang tak pernah tersentuh oleh hujan. Dari gurun Afrika yang panas, hingga belahan bumi antartika, semua merasakan hujan. Bahkan selama sejarahnya, manusia pun memiliki banyak kata yang berhubungan dengan hujan. Di Indonesia kita hanya mengenal hujan air, di negeri empat musim, mereka juga mengenal hujan salju. Di Cina mereka mengenal dewa hujan, Di laut, para awak kapal sudah terbiasa menghadapi hujan badai. Dewasa ini, para ekologis pun mulai mengenalkan istilah hujan asam, dan sejak dahulu bahkan para prajurit pun sudah mengenal dengan kata-kata hujan peluru di pertempuran mereka.

Dahulu, ketika saya masih kecil, hujan adalah satu hal yang mengasyikkan untuk bermain. Sering saya dengan teman-teman atau setidaknya kakak saya, berhujan-hujan di luar rumah. Entah hanya sekedar merasakan derasnya hujan menerpa tubuh kami, atau pun berlari-lari dan bersepeda mengamati apa yang terjadi di lingkungan ketika hujan ini. Sesekali merasakan dan minum langsung dari tetesan air hujan, atau terkadang pula mencoba derasnya air cucuran atap rumah. Setelah hujan reda, barulah kami mandi sambil ganti baju. Apakah esok kami akan terkena flu atau pilek, kami tak peduli. Yang penting hari itu saya senang!!

Namun semakin bertambahnya usia, kehadiran hujan justru terkadang terasa mengganggu. Mau hujan-hujan lagi? Masa-masa itu sudah lewat. Malu dong, sudah besar masih mau hujan-hujanan. Mending di rumah, nonton TV dengan kopi atau teh hangat plus pisang goreng. Tapi kalau kehujanan itu sih masih wajar, tapi hujan-hujanan? Sepertinya nggak deh. Malu ah, udah besar kok masih hujan-hujanan.

Kalaupun kita terkadang masih nekat hujan-hujanan, tentu ada alasan khusus. Semisal bagaimana ketika pulang sekolah, tiba-tiba hujan deras datang. Mau menunggu, khawatir kemalaman. Sementara payung ataupun jas hujan tak satupun saya bawa. Jadilah nekat menembus derasnya hujan jadi satu-satunya pilihan. Dan malamnya, saya pun harus menyesal karena tak lama kemudian, saya baru sadar bahwa buku-buku ataupun seragam, banyak yang akhirnya harus disetrika agar cepat kering.

Jadilah sekarang, ketika melihat orang yang harus kehujanan, saya pun ingin sekali rasanya membantu. Terlebih jika yang harus rela berhujan-hujanan itu adalah pelajar SMA atau SMP, terlebih wanita. Kalau laki-laki sih, nggak seberapa kasihan. Bukan maksud pilih kasih, namun sebagai laki-laki saya pun juga merasakan bahwa memang mental laki-laki sudah disiapkan untuk itu, tapi kalau wanita?

Inilah barangkali yang mendasari teman saya, ia sering mengendarai mobilnya ke kampus. Pernah suatu sore saat hujan dan kami sedang mengendarai mobil, kami menemukan seorang siswi berjalan di trotoar, yang harus berhujan-hujan ria. Kasihan sekali kelihatannya. Andai saja jalan yang kami lalui dua arah, mungkin teman saya ini akan berputar, dan mengantarkan siswi ini pulang. Namun urung ia lakukan karena jalan yang kami lewati adalah jalan satu arah, ditambah lagi jarak siswi tersebut yang sudah lumayan jauh.

Tambah urung juga, karena khawatir mereka akan berpikir macam-macam. ”Ini siapa orang ini, nggak dikenal, kok mau kasih tumpangan… jangan-jangan mau macam-macam sama saya”. Ah ya, dewasa ini orang jadi makin sulit untuk percaya pada orang tak dikenal. Sempat kuusulkan untuk meminjamkan siswi tersebut payung, namun sayangnya tak satupun dari kami yang membawa payung. Ah, menyesal memang, kenapa pula saya tak membawa payung saat itu. Jadilah kami pun terus melaju dalam deras hujan, meninggalkan siswi yang malang tersebut.

Hujan memang suatu hal yang terkadang sangat kita harapkan, namun tak jarang pula kita berharap agar hujan jangan turun dahulu. Seolah-olah kita selalu ingin agar ia turun disaat yang tepat bagi kita. Padahal bisa jadi saat yang tepat bagi kita untuk hujan, justru saat yang tidak tepat untuk orang lain.

Namun ego seseorang terkadang lebih kuat dari kesadarannya tentang hal ini. Sehingga di berbagai daerah di Indonesia pun kita mengenal yang namanya pawang hujan. Orang yang dianggap mampu menahan, ataupun mensegerakan hujan. Dan masyarakat kita pun mengenal bermacam klenik tentang hujan. Pernah suatu saat di sebuah resepsi pernikahan, ketika masih kecil, saya melihat ada sapu lidi yang di tiap-tiap lidinya ditancapkan bawang merah. Sempat terpikir bahwa hal itu mungkin adalah sate bawang yang mau dibuat, namun tentu saja bukan!! Siapa juga mau makan sate bawang?? Belakangan saya baru tahu bahwa itu adalah semacam benda/jimat di budaya jawa untuk menolak hujan. Ada-ada saja orang kita itu, mengiris bawang memang bisa membuat kita menangis, namun membuat sate bawang merah agaknya dipercaya bisa membuat langit menunda tangisannya.

Entahlah, masyarakat kita sebagian memang masih ada yang percaya dengan hal-hal semacam itu, Namun yang jelas saya menolak keras hal-hal tersebut, karena toh bagaimanapun juga hal itu adalah syirik, seolah-olah ada kekuatan lain yang berhak mengatur hujan. Padahal bukankah Allah jualah yang berkuasa atas segala hal? Termasuk hujan ini bukan? Namun agaknya masyarakat memang masih butuh pemahaman lebih. Tak terkecuali di kota saya, di Ponorogo.

Meskipun kecil dan sering disebut dusun oleh teman saya, yang jelas kota saya hampir tak pernah sepi setiap tahunnya. Yang namanya pasar malam, minimal 4 kali dalam setahun. Ketika idul fitri, tahun baru hijriah, saat 17 agustusan, dan tahun baru Masehi. Sehingga yang namanya alun-alun kota, dipastikan lebih banyak ramainya daripada sepinya.

Tak terkecuali menjelang 1 suro tahun ini. Tahun baru Hijriah, atau satu suro dalam kalender jawa adalah momentum paling ramai di kota saya. Dalam rangkaiannya, ada banyak kegiatan yang menjadi agenda tahunan pemerintah daerah. Contoh paling kecil, menjelang suro seperti sekarang ini, seluruh pegawai negeri di jajaran pemda diwajibkan memakai seragam khas Ponorogo. Para laki-lakinya berpakaian warok, hitam-hitam, sementara di pusat kota ada penyelenggaraan Festival Reog Nasional. Di malam suro pula, atau malam 1 muharram adalah puncaknya. Hampir separuh lebih  penduduk ponorogo, baik di kota, atau di pelosok desa, semua tumpah ruah ke jalan-jalan di pusat kota. Entah hanya sekedar jalan-jalan atau apalah… saya juga tak begitu paham.

Namun yang jelas hujan sudah lama tak membasahi kota kami. Hal yang tak biasa mengingat sekarang sudah masuk bulan Januari.

”Kalau kata orang, soalnya di alun-alun ada pasar malam, makanya nggak hujan-hujan sejak hari raya kemarin”, ujar ayah suatu malam.
”ada pawang hujan gitu maksudnya?” ujarku coba menghubungkan kejadian tersebut. Hal semacam ini memang sudah biasa terdengar di kota kami, dulu ketika saya masih SMP, katanya konon jika pawang hujannya kalah atau dengan kata lain masih tetap juga hujan, sang pawang bahkan bisa sampai tewas. Katanya sih nggak kuat.

Kulihat langit, tak banyak awan yang ada memang. ”Di Malang sama aja pi, sudah hampir dua pekan nggak ada hujan, kalaupun ada cuman gerimis dan itu pun sangat sebentar.”, ujarku menambahkan. Ya saat itu memang saya sedang pulang kampung. Di kampus sedang libur setelah UAS.

Dan entah apapun namanya, bagaimanapun caranya yang pasti saya tidak mempercayai hal-hal semacam itu. Bahkan kami sekeluarga sangat anti dengan hal-hal klenik semacam itu. Pawang hujan, sate bawang, kemenyan atau seabrek benda-benda keramat lainnya tentu toh bisa mati, bisa hancur. Benda selemah itu, bagaimana bisa menguasai hujan? Pawang hujan sehebat apapun, kesambar petir paling juga mati.

Intinya adalah, kita seharusnya yakin bahwa pawang hujan itu ataupun ”sate bawang” tadi sesungguhnya tak punya kekuatan sama sekali tentang hujan. Jika Allah menghendaki hujan turun, tak satu pun dari orang-orang ini atau juga benda-benda tersebut yang mampu menghalangi. Demikian juga sebaliknya. Mempercayai mereka sama artinya mempercayai ada hal yang berkuasa selain Allah, dan bukankah ini termasuk menyekutukanNya?

Wallahu’alam, ada atau tidaknya sang pawang hujan di rangkaian pasar malam di kotaku, yang jelas di malam ini, malam satu suro, puncak dari rangkaian acara, di kota ini justru turun hujan.

Ponorogo, 19 Januari 2007
Malam tahun Baru 1 Muharram 1428H
Setelah hujan reda…