Mas Liga Sholat
Mas Liga
Sholat..!!
Namanya Mas Liga.
Hampir bisa dipastikan orang satu perumahan kenal dengan orang satu ini. Bukan
karena prestasinya yang hebat atau karena ke tokohannya, melainkan karena Liga
ini adalah orang yang boleh dibilang kurang waras pikirannya.
Jadilah ia
termasuk ”tokoh” di kompleks perumahan kami, karena tak ada yang tidak
mengenalnya. Pekerjaannya setiap hari pun seringkali tidak jelas. Sering
mondar-mandir kesana kemari. Bahkan pernah suatu ketika kami tertawa melihat
mas Liga yang usianya sudah berkepala dua ini berlari sambil berteriak-teriak
tak karuan ke lapangan basket. ”Hooi… pesawat… minta dhuwit-nya!!”, begitu teriaknya.
Ya, pasalnya sederhana, ada helikopter yang tengah melintas. ’bahkan anak kecil
pun rasanya tidak lagi seperti itu’, begitu pikirku.
Untungnya, ia
masih punya etika dan kesopanan. Ia tetap memakai baju lengkap dan rapi bahkan,
sering senyum-senyum sendiri (meski senyumnya nggak jelas juga), jika diajak
ngomong ”terkadang” masih sedikit nyambung, hanya saja ya begitu, kalau istilah
teman saya, ”Uteke Nggak bek” (otaknya nggak penuh). Yah, semacam orang
Stress gitu.
Namun ada satu hal
yang sungguh membuat saya sungguh salut pada orang ini. Meski ia diakui kurang
waras oleh kami, orang-orang seperumahan, namun mas Liga ini sering saya
temukan berada di Masjid. Bukannya mengganggu orang sholat seperti orang gila pada
umumnya, namun ya itu, ikut sholat jamaah. Betul! Saya terkadang juga heran
dengan orang satu ini.
Terakhir kali,
ketika pulang kampung kemarin, saya pun masih menemukan orang ini Sholat
berjamaah bersama kami. Meski itu hanya sholat maghrib dan isya sekalipun..!!
tambah mengagumkan lagi karena biasanya ia tak pernah pulang antara maghrib dan
isya. Ia tetap di dalam masjid ataupun hanya duduk-duduk di teras masjid.
Terkadang sambil begitu ia pun membaca Al Quran. Ketika Lancar juga lho
bacaannya..!! ketika menyimak bacaan orang lain dan salah, ia pun tak segan
membetulkan. Hanya ya itu, mas Liga ini jika boleh dibilang agak kurang waras.
Dan saya pun
heran, kenapa untuk masalah-masalah seperti ini ia paham. Bahkan tak jarang
adzan Isya’ pun dikumandangkan olehnya. Tapi entah kalau diajak masalah lainnya
ia seperti orang bingung (entah kalau memang benar-benar bingung).
Intinya satu hal
yang sungguh saya kagumi dari orang ini. Ia tetap mau ke Masjid..!! ia tetap sholat!!.
Meski saya pun tak habis pikir, bagaimana orang seperti ini akan dihisab nanti.
Entahlah itu, urusan antara ia dan Allah SWT.
Ada lagi
seorang sosok di Malang. Saya tak terlalu mengenal namanya. Namun yang jelas
usianya sudah lebih dari 80an. Ia bukan sosok pemuda seperti Mas Liga tadi.
Rambutnya hampir kesemuanya memutih. Garis-garis keriput di wajahnya
menunjukkan usianya yang sudah renta. Penglihatannya pun banyak berkurang. Tak
cukup sampai disitu, untuk berjalan ke masjid yang jaraknya sekitar 30meteran,
ia masih perlu dibantu dengan sebuah kruk di tangannya.
Di Masjid
pun ada sebuah tempat khusus untuk orang ini. Di bawah tiang salah satu masjid
di shof kedua. Di tempat itu terletak sebuah bantalan kursi. Ya, kakek tua
renta ini hanya kuat untuk sholat berjamaah sambil duduk. Tak cukup disini,
karena kakek renta ini pun, terkadang masih sempat-sempatnya mengisi pengajian ba’da maghrib.
Subhanallah…
Kedua orang
ini. Yang pertama adalah orang yang kurang waras, dan yang kedua adalah seorang
yang tua renta yang bahkan untuk berjalan pun harus dibantu dengan kruk.
Entah kenapa
namun setiap merenung tentang mereka berdua, ada satu hal aneh berkecamuk di
pikiran saya. Saya masih jauh lebih baik daripada kedua orang ini dalam artian saya
masih lebih muda, lebih kuat, dan tentu seharusnya lebih bersemangat dibanding
mereka berdua. Saya pun masih mampu berpikir sehat, masih mampu berjalan tegap,
bahkan berlari sekalipun. Namun kemudian ada banyak hal yang perlu saya
pertanyakan pada diri ini, kenapa terkadang sulit sekali untuk menjadi seperti
mereka?
Mungkin kita
perlu merenung, barangkali hanya niat, kesadaran, dan kemauan kita yang
membedakan. Adakalanya kaki-kaki kita sungguh sulit untuk diajak melangkah ke
kebaikan, hanya karena terlalu banyak alasan yang ada di diri ini. Padahal
semuanya berujung pada kemalasan kita saja.
Ada juga di
kampus saya, ada seorang dosen. Pak Ridok namanya. Dosen ini punya kebiasaan
yang –bagi saya- cukup unik. Beliau mengajar di kelas saya mulai pukul 2 siang
hingga pukul 4 sore. yang artinya, menabrak waktu sholat ashar. Nah, dosen satu
ini, ketika waktu Ashar tiba, atau dengan kata lain, Adzan sudah berkumandang,
maka beliaupun mem-pending perkuliahan. Dan selama 15 menit kedepan, kami
semuanya yang muslim, keluar untuk sholat Ashar berjamaah, kemudian kembali
lagi.
Subhanallah…
andai saja semua dosen seperti itu.
Teringat akan
sebuah riwayat, tentang seorang sahabat yang buta, oleh rasulullah beliau tetap
disuruh untuk ke masjid selama adzan masih terdengar olehnya.
Meski mata saya
minus, namun saya toh tetap bisa melihat dengan baik. Sungguh malu jika lantas
diri ini sekali saja meninggalkan sholat berjamaah di masjid.
Sahabat, tak perlu
kita menunggu hingga tua, karena bukanlah salah satu orang yang beruntung di
akhirat kelak, adalah mereka yang masa mudanya terpaut oleh masjid??
Ya Allah,
berikanlah kekuatan, dan ringankanlah kaki-kaki ini untuk menyambut
panggilanMu, di masjid-masjid Mu…….
kamar kost, Malang
Kamis 28 Desember
2006
Sebuah refleksi di
akhir tahun