Virus Ceria di hari raya
Virus Ceria di Hari
Raya…
”Dan Hanya
orang-orang yang telah menghidupkan hari-hari di bulan Ramadhan
Mereka yang bisa
merasakan kemenangan di Hari yang Fitri ini. Semoga kita pun termasuk di
dalamnya… Amin”
***
Di Indonesia, ada
3 hal yang sering kita dengar ketika Idul Fitri tiba… ketupat, mudik, dan
maaf-maafan. Semuanya memang bukan ajaran Islam, hanya sebuah budaya lokal
sekitar. Ketika Idul Fitri tiba, rasul dan para sahabat pun mengucapkan selamat
Idul Fitri, beserta sebuah doa, Taqobbalallahu minna wa minkum, semoga Allah
menerima amal-amal kita. Sungguh indah, kita mendoakan saudara kita, semoga
semua amal selama sebulan kemarin diterima oleh Allah. Lebih indah karena dalam
budaya melayu, di idul Fitri ini pun kita dianjurkan untuk saling meminta maaf.
Meski ini hanya sekedar budaya karena Rasul justru mengajarkannya sebelum
Ramadhan tiba, namun tak ada salahnya ketika kita pun turut serta melakukannya.
Jika tak begini kapan lagi kita akan mengirimkan SMS pada kawan-kawan lama
kita?
Andai tak ada
idul Fitri, mungkin tak ada lagi HP penuh dengan SMS yang meminta maaf,
mengucapkan selamat, atau bahkan mendoakan kepada yang menerimanya. Barangkali
tak ada lagi kartu lebaran warna-warni yang menghiasi ruang-ruang di kantor dan
rumah kita.
Andai tak ada
Idul Fitri, mungkin tak ada hidangan ketupat beserta kare atau opor, atau hanya
sayur dan kerupuk ala kadarnya. Mungkin akan sulit menemukan makanan-makanan
yang bagi sebagian kalangan dianggap Waah… tersaji di meja-meja ruang tamu
kita. Bahkan kata ibu saya, ”Andai tak ada Idul Fitri, mungkin jarang sekali
dari orang-orang yang menyuguhi tamunya dengan makanan”.
Andai tak ada
idul Fitri, mungkin orang-orang yang merantau tak akan pernah lagi pulang bertemu
keluarga mereka. Bukan di tahun baru, bukan pula di 17 Agustusan, melainkan di
sebuah hari raya. Ya sebuah hari spesial bernama Idul Fitri. Jika tak ada idul
Fitri mungkin anang, joko, poniran, pak Sugeng, Agus penjual bakso, atau pak
Pri penjual pukis di kampus kami, akan lebih memilih untuk tetap tinggal di
perantauan, mencari nafkah sambil mengirim uang ala kadarnya pada keluarga
mereka. Namun di hari ini semua pun memilih untuk pulang. Menjenguk keluarga,
sanak saudara, atau bahkan kawan lama. Semuanya ingin menambah keceriaan hari raya dengan berkumpul kembali
di hari raya. Reuni tahunan bagi sebuah keluarga…
Tak peduli
siapapun ia, entah tua, muda, kaya, miskin, pedagang, pegawai, pejabat bahkan pengemis
sekalipun, semua merasakan keceriaan yang sama. Bahkan yang saya terkdang tak
habis pikir, orang-orang yang tidak pernah sholat sekalipun juga berhari
raya!!! Seolah di Indonesia ini, Hari Raya Idul Fitri ini adalah untuk semua
yang di KTP nya tertulis Islam. Tak peduli meski ia seorang pelacur sekalipun!
Ya, meski belum tentu mereka pun mendapat kemenangan itu, namun semua pun
berbagi dengan caranya masing-masing, semua mengungkapkan kegembiraan sesuai
dengan budaya masing-masing. Semua ceria meski ia tak punya baju baru, atau
bahkan ia pun tak tahu apa yang harus ia makan di pagi itu… namun selepas
shalat Id, kegembiraan itu pun tampak tumpah bersama keluarga, saudara, dan
tetangga. Semua pun berbagi virus keceriaan di hari raya.
Subhanallah… Semoga
di Hari yang Fitri ini pun, kita masih mampu untuk berbagi keceriaan. Tak hanya
bagi manusia, namun biarkan seluruh semesta bertasbih, bertakbir memuji sang
penciptanya.
Taqobbalallhu
minna wa minkum, Taqobbal ya kariim..
Selamat Hari Raya
Idul Fitri 1427 H..
Afwan untuk
segala khilaf, luka, dan kecewa
Sahid dan
Keluarga
Toni Tegar
Sahidi, 08175404373
=========== Ponorogo
– Idul Fitri Senin 23 Oktober 2006
=========== Saat
berhari raya di kota asal