dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for September, 2006


Kacang Tanpa Isi..

Kacang Tanpa Isi..

Ada yang mengatakan bahwa orang yang membaca Al Quran, maka Insya Allah di amsa tuanya, ia tak akan buta, dan tak mudah lupa.

Namun alangkah lucunya ketika banyak dari kita yang justru membelikan ayah-ayah kita yang sudah tua renta buku-buku teka teki silang, atau sudoku, dengan alasan agar tidak lupa?

Orang seringkali marah jika melihat ada ayat-ayat dari Al Quran, entah itu dalam bentuk lembaran atau bahkan dalam bentuk mushaf sekalipun, yang terinjak-injak…
Namun alangkah lucunya ketika orang-orang ini justru diam ketika melihat orang-orang yang menginjak-injak isi dan martabat Al Quran itu sendiri..

Kita seolah hanya makan kulit kacang.. sementara isinya justru kita buang.??

Alangkah lucunya orang-orang Islam ..

Ah maaf, barangkali orang-orang seperti kita ini bukanlah orang Islam
Bukankah kita hanya sholat namun sholat itu tak pernah membekas di hati-hati kita..??
Bukankah kita membaca Al Quran, namun kita tak pernah mempelajari maknanya
Atau bahkan mengamalkannya di kehidupan kita..??

Apa yang kita sebut sebagai keimanan kadang tak lebih dari sepenggal pemahaman yang kering makna.
keimanan ini hanya seolah berkobar di rumah-rumah dan di masjid-masjid
namun padam seketika di kampus, sekolah, pasar, rapat RT, kantor…
lantas kapan lagi sebenarnya Islam ini akan memancar di wajah setiap manusianya?

Ini bukan mimpi semu atau mimpi palsu..
Untuk membawa sebuah kebenaran Islam di wajah setiap manusia..
Di seluruh dunia… seperti di masa Rasulullah.. dan khulafaur Rasyidin
Sebuah negara sebuah sistem yang melindungi seluruh mukmin

Barangkali kita perlu ragu pada keimanan kita
Jika kita belum mampu atau pun belum INGIN untuk membentuk
Dan MENGUSUNG PERADABAN YANG BERKEIMANAN…

-sesungguhnya segala sesuatu tergantung pada niatnya-

ah barangkali kita perlu lebih banyak ber istighfar..

Ponorogo, 2 September 2006

Empat hari Setelah ceramah yang mengagumkan
di Musholla rektorat Unibraw lantai 9

Kesombongan Kita..

Kesombongan Kita..

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” – Al Israa’ 37 -

***

Di tengah-tengah sebuah training yang saya ikuti, sang trainer memberikan arahannya.

“Letakkan kedua tangan kalian di dada kalian masing-masing!”, seorang trainer memulai instruksinya.

“Letakkan, trus, dan rapat hingga kalian merasakan detak jantung kalian masing-masing!!” lanjut beliau.

Aku pun menuruti kata-katanya, kuletakkan kedua tanganku perlahan ke atas dadaku. Kucari-cari sebentar, dan akhirnya terasalah detak jantungku. Aku pun menunggu instruksi selanjutnya.

“Letakkan dan rasakan detak jantung Anda..!!” begitu instruksi beliau, “Jika sudah terasa, sekarang katakan kepada jantung Anda, Berhenti..!!”
Aku pun agak bingung dengan instruksi tersebut namun tak urung kulakukan juga.

“Katakan, dan perintahkan kepada jantung Anda untuk berhenti!!!, katakan pada ia untuk berhenti!!”

“Tidak mungkin!!’ teriakku dalam hati, “Tidak mungkin bisa!!”

entah, apakah trainer tersebut mendengar apa yang kami rasakan, ia pun melanjutkan kata-katanya..

“Lihatlah.. rasakanlah..!! bahkan jantung kita pun bukan milik kita…!!”,

Seketika itu pula, Degg, diri ini kontan tersadar apa maksud dari semua ini.

Ya Rabb,begitu sering diri ini lupa, bahkan jantung, apa yang ada di dalam diri kita ini sekalipun.. bukan milik kita.

***

Ah, padahal begitu sering kita merasa bahwa kita ada diatas segala-galanya. Seringkali manusia memandang orang lain lebih rendah, lebih buruk, lebih jelek, ataupun pandangan-pandangan yang semacamnya.

Sering kali pula manusia merasa sangat berkuasa, seolah-olah hidup dan mati orang lain berada di tangannya, tanpa sadar bahwa hidupnya sendiri sekalipun, atau bahkan tubuh nya sendiri pun, bukanlah miliknya…

Seorang teman bercerita tentang dirinya. Ia seorang mahasiswa di Ilmu komputer. Pernah suatu ketika, ia sedang menyelesaikan sebuah tugas program yang dirasa cukup sulit. Saking sulitnya seolah-olah tak banyak dari teman sekelasnya yang bisa mengerjakan.

Ketika ia benar-benar selesai mengerjakan program tersebut, entah karena gembira atau apa, ia pun langsung ber pekik, “Saya Pintar..!!”

Kontan teman disebelahnya langsung menepuk teman ini dengan keras. ‘Pak!!’

Teman yang memukul ini pun berkata, “Kamu jangan sombong, apa yang kamu miliki ini tidak ada apa-apanya..!, ini semata-mata dari Allah SWT”

Kontan teman yang satu ini pun terdiam, ia beristighfar…

Teman, akankah kita menunggu sebuah pukulan keras dari sang Pencipta untuk menyadarkan kita? Sungguh, sekali-kali kita tidak akan dibiarkan dengan kesombongan kita..

Titanic, kapal terbesar di era awal abad ke 20. mampu mengangkut 3000 penumpang dari Inggris ke Amerika Serikat. Memiliki teknologi tercanggih saat itu. Sebuah contoh kesombongan ummat manusia dari perkataan pemiliknya, “Jangankan tujuh  samudera, bahkan Tuhan pun tidak akan mampu menenggelamkan kapal ini!”

Maka di sebuah malam yang dingin, di pelayaran perdananya, kapal ini menabrak sebuah gunung Es. Kapal besar ini pun tenggelam membawa ribuan penumpangnya, beserta kesombongan yang dibawanya..

Begitulah ketika sang pencipta ingin menunjukkan kekuasaanNya atas manusia. Untuk menyadarkan bahwa betapa kecil sebenarnya manusia. Betapa lemah dan tak berdaya-nya seorang manusia. Lantas jika begini, sampai kapan kita harus menunggu kehancuran karena kesombongan kita? Akankah kita menunggu datangnya adzab untuk menyadarkan kita?

Paman saya di Madura pernah mengatakan, bahwa kehancuran manusia ada pada saat ia mulai sombong dengan apa yang dimilikinya. Ketika manusia berada pada titik tersebut, maka Allah akan membalik keadaannya.

Teman, mumpung sebelum terlambat, sekarang lah saatnya kita untuk berbenah bersama..

Semoga kita termasuk orang-orang yang dihindarkan dari sifat sombong ini..

Malang, 29 Agustus 2006  ba’da shubuh

Ketika rindu rumah…