dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for July, 2006


Bahasa Kepedulian

Bahasa Kepedulian

 

 “Beliau membantu
orang yang lemah, menolong orang yang sengsara,menghormati tamu, dan membela
orang yang berdiri di atas kebenaran.”

-Khadijah
ra tentang akhlak Rasulullah SAW-

 
***

06.40 Masjid raden Patah, Jumat 21 Juli 2006

Situasi masih pagi
benar, Namun sekumpulan aktivis itu sudah berkumpul di sekret sebuah SKI. Beberapa
yang datang terlambat segera menempati area yang masih kosong. Briefing sudah
dimulai 10 menit yang lalu, dan di sekret itu pula, nampak setumpuk
kardus-kardus kosong. Berjajar rapi. Kardus-kardus kosong berlapis koran dengan
sebuah kertas folio tertempel diluarnya.

 
“BANTUAN PEDULI KORBAN TSUNAMI DI PANGANDARAN”
UAKI-Unibraw // Unit Aktivitas Kerohanian Islam

 
begitulah yang
tertulis disalah satunya. Ya, benar, hari itu, mereka -para aktivis- dari SKI
berencana melakukan penggalangan dana untuk korban bencana Tsunami di pantai
selatan. Sebagai sebuah bentuk kepedulian mereka semua terhadap
saudara-saudaranya yang tengah diuji di luar daerah sana.

Setelah briefing singkat
beberapa menit, maka dimulailah perburuan itu. Mereka dipecah menjadi beberapa kelompok-kelompok
kecil yang sudah ditentukan lokasinya. Matahari belumlah tinggi ketika
akhirnya, sekelompok aktivis itu bubar teratur menuju ke lokasi yang telah ditentukan.

 

07.50, Pertigaan Terminal Arjosari,

Lalu lalang
kendaraan dan hiruk pikuknya lalu lintas tak mengurangi semangat orang-orang
ini. “Bismillahirrohmaanirrohiim”, mereka melarutkan dirinya dalam kerumunan
lalu lintas tersebut. Ketika lampu merah menyala, dengan sabar, aktivis itu pun
turun ke jalan, satu persatu orang-orang yang berada disana pun didatanginya.
Entah itu pengendara sepeda motor, sopir mikrolet, sopir truk, atau pengendara
mobil-mobil pribadi yang kebetulan banyak melintas. Ketika lampu hijau, mereka
pun berlari-lari kecil menyusuri pembatas jalan, kembali ke depan. Tak ingin
ketinggalan lampu merah selanjutnya.

Matahari semakin
meninggi, dan teriknya mulai menyengat. Namun tak satupun dari orang-orang ini,
- para aktivis da’wah – yang kulihat berkeluh kesah. Justru sebaliknya, hanya
senyum dan canda yang kudengar dari mereka. Lima ratus, seribu, dua ribu, atau
bahkan segepok recehan pun mereka terima tanpa lupa mengucapkan terima kasih.
Ada pula yang tak sempat memberi, ia hanya berlalu sambil mengacungkan
jempolnya tanda simpati. Dan aktivis itu pun hanya bisa tersenyum membalas. Ada
pula sebuah mobil merah yang berkali-kali memanggil dengan klaksonnya. Ketika aktivis
itu menoleh, selembar lima ribuan tampak melambai dari balik jendelanya. Dan ia
pun berlari-lari kecil mengejarnya, mengejar orang-orang yang ingin beramal
menunjukkan kepedulian mereka..

Kegiatan hari itu
selesai pukul 09.30, karena mereka masih harus kembali ke camp untuk menghitung
perolehan hari ini, dan bersiap untuk sholat jumat tentunya.

 “Yang hampir kebanyakan ngasih tadi justru
sopir-sopir angkot, sambil ngitung uang, mereka biasanya ngasih”, salah seorang
memulai ceritanya.

“Tadi ada pengamen
yang lewat di depanku. Dia sempat berhenti sebentar dan tanya, ‘Apa Mas..?’, eh
nggak nyangka, dia pun mengambil beberapa recehan dan, Eh, dikasih deh.”, ujar salah
seorang dari mereka sambil tertawa.

“Kalau aku hampir
sama, soal pengamen, justru aku tadi dapat dua kali. Salah satunya, dia sempat
dapat uang seribu dari mengamen, eh nggak taunya uang tersebut langsung
dikasihkan ke aku!”ujar lainnya tak kalah antusias.

 Subhanallah, bahkan pengamen pun
mampu untuk peduli..!!

 ***

 Orang-orang ini,
para aktivis da’wah kampus. Sungguh terkadang merupakan hal yang sangat unik,
ketika mahasiswa-mahasiswa lain dengan enaknya tidur ataupun makan di
tempat-tempat mereka, nge-game, ataupun bercanda dan ngerumpi kesana kemari, para
aktivis ini justru memilih hal-hal yang - bagi saya - sungguh luar biasa..!!

 

Berdiri, berjalan
dan berlari kecil diantara orang-orang yang berhenti di lampu merah. Diantara
panasnya terik matahari, deru mesin, keringnya debu dan asap knalpot, semua
mereka jalani dengan semangat, tanpa jengah ataupun patah semangat. Bahkan tak
jarang, senyum ramah dan canda yang sering saya dapatkan dari mereka.

 

Sering terlintas
pertanyaan dalam hati saya, apa sebenarnya yang menggerakkan pemuda-pemuda ini?
Hal apakah yang mampu membakar mereka untuk keluar dari kamar-kamar kost
mereka, dan menuju terik matahari jalanan yang menyengat?

 

Dan sebanyak apapun
saya merenung, pada akhirnya saya hanya menemukan satu kata sebagai jawaban. KEPEDULIAN.
Kepedulian lah yang membuat mereka ikhlas untuk melakukan semuanya. Saya yakin,
mereka takkan dibayar sepeserpun karena ini. Mereka bukan saudara-saudara
kandung orang-orang di Pangandaran, Kebumen, atau yang lainnya. Bukan pula
kerabat, sahabt, rekan kerja atau apa pun..!! Namun ada satu ikatan hati
diantara mereka, yang akhirnya mampu menggerakkan semuanya. Yang mampu
menggerakkan roda-roda kepedulian dan keikhlasan di dada-dada mereka. Ia tak
lain kecuali tali ukhuwah!!, sebuah ikatan persaudaraan, sebuah ikatan yang
lebih dari sekedar saudara kandung sekalipun!

 

Kepedulian pula lah
yang mampu merelakan mereka untuk tidak dibayar. Justru yang membuat saya
kagum, bahkan untuk kelokasi tersebut pun, mereka harus membayar biaya angkot
mereka sendiri! Kepedulian memang memiliki harganya sendiri, dan saya rasa
mereka sangat tahu berapa harga sebuah kepedulian itu bagi mereka.

 

Barangkali seperti
yang sering diutarakan salah anggota rohis di SMAku dulu, “Gak opo-opo, Gusti Allah sing mbayari..!!”, (Nggak apa-apa, Allah
SWT yang membayar)

Ah, barangkali kita
masih perlu belajar banyak pada mereka, sebagaimana pula yang diajarkan oleh
sopir angkot, sopir truk, orang-orang yang mengacungkan jempol pada mereka, atau
bahkan para pengamen yang mereka temui, tentang harga sebuah kepedulian. Tentang
harga sebuah bahasa kebaikan.


 Saya yakin,
tentulah setiap dari kita masih memiliki sebuah rasa yang disebut kepedulian di
dalam hatinya. Masalahnya sekarang adalah, seberapa besar rasa kepedulian itu
di hati kita?

 Saya rasa anda
lebih tahu jawabannya!

Malang, Ahad 23
Juli 2006, 02:13 pagi.
Toni Tegar Sahidi
(18th)
08175404373 –
feedback & comment
http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com

 

 

Belum Pakai Y

Papa memberi kamu nama Toni, dari Kata Tono dan Tini (nama orang tua saya), Tegar, agar kelak kamu Tegar menghadapi kerasnya hidup, dan Sahidi, karena Papamu ini berharap, kelak kamu mati dalam keadaan Syahid..”. Subhanallah, ternyata begitu arti nama saya. Bagus juga pikirku, dan akupun manggut-manggut mengerti.

***

(NOTE: akhi-sapaan untuk saudara laki-laki <ukhti-perempuan>,

afwan - maaf, ikhwan-laki-laki, akhwat-perempuan, istilah-istilah di kalangan aktivis da’wah/rohis/SKI)

***

Barangkali banyak diantara kita yang punya nama panggilan. Entah itu murni nama asli kita, atau sekedar nama asli kita yang diplesetkan, semisal Agung jadi kenthung, terkadang juga dari ciri fisik yang dominan, maupun terkait kebiasaan ataupun masa lalu kita. Namun intinya ialah bahwa setiap dari kita pasti punya nama panggilan. Tidak peduli apakah nama panggilan tersebut adalah bagian dari nama lengkap kita, ataukah tidak itu tak jadi masalah.

Dan salah satunya adalah saya. Nama lengkap saya adalah Toni Tegar Sahidi. Dari ketiga kata tersebut, saya populer dengan panggilan Toni ataupun Tegar. Namun semenjak SD hingga akhir SMP, saya pun “mendapat” sederetan nama panggilan yang – bagi saya – boleh dibilang tidak bagus sama sekali. Entah itu Bligo, Gendut, ataupun Betet. Ketika di awal-awal SMA, nama-nama tadi sudah lumayan menghilang dari peredaran. Namun masalahnya, saya pun ingin pula mempopulerkan kata terakhir dari nama saya. Sahidi. Jadilah di awal-awal masa SMA, saya mengenalkan diri dengan nama Sahid. Maksudnya sih biar dekat dengan kata syahid, mengingat saat itu saya dalam kondisi militan-militannya. Dan provoaksi ini lumayan berhasil. Namun sayang, hanya di awal-awal saja. Hal ini tak lepas karena hampir setengah dari temanku di SMA, adalah teman lamaku di SMP dulu..!!! yah, mau dikata apa lagi, nama Toni pun kembali harus berkibar.

Namun agaknya, ide “gila” untuk  memperjuangkan nama Sahid pun tak sampai disitu. “OK, baiklah, di kelas boleh disebut nama Toni, tapi di luar, saya harus Sahid..!!”, jadilah mulai saat itu, saya memperkenalkan diri sebagai Sahid. Baik kepada alumni, kakak kelas, maupun kenalan di Internet. Sampai-sampai saking ekstrimnya, ketika ada sebuah presensi di acara rohis SMA, saya pun menulisnya, bukan Toni tegar sahidi, melainkan TT.Sahidi. namun seperti bunyi hukum Newton III, ada sebab ada akibat, saya pun “kembali” memiliki nama panggilan. Kali ini hanya dua huruf, TT, ya, dua huruf yang terkadang dalam sms teman saya, nama tersebut ditulis menjadi T2. Jadilah “lagi-lagi”, saya pun harus menyandang nama panggilan , bukan lagi Sahid seperti yang saya inginkan, melainkan TT, atau Mas TT, bagi adik kelas saya. Namun bedanya, kali ini saya pun enjoy-enjoy aja. Karena toh memang memiliki “dalil” dari singkatan nama panjang saya. Yah, lumayan bisa diterima lah, begitu pikirku. Maka jadilah di kalangan teman satu SMA, saya terkenal dengan nama TT.

Ketika memasuki jenjang bangku perkuliahan, saya pun dihadapkan kembali ke masalah nama. Agaknya ide “memasarkan” nama Sahid masih bercokol kuat. Maka dilancarkanlah virus bernama sahid tersebut kemana-mana. Dan akhirnya… Berhasil..!!! teman-teman di kampus pun mulai mengenal sosok yang bernama Sahid. Bahkan saking kuatnya, hingga jarang dari mereka – teman-teman di malang – yang mengenal nama Toni.

Jadilah sekarang, saya termasuk orang-orang yang memiliki banyak nama. Di malang saya dipanggil Sahid, di lingkungan keluarga dan tetangga saya dipanggil Tegar, oleh teman-teman di Ponorogo saya dipanggil Toni, beberapa teman SMA dan adik kelas memanggil saya, TT atau Mas TT, dan di Internet pun, terkadang saya memiliki nama FixLine1. Hemm… kelihatannya masih banyak lagi karena kakak saya pun sering memanggil dengan nama TigTig, atau terkadang juga Kelik (aneh ya..??). Namun bukan ini yang lantas ingin saya bicarakan….

Dari sekian nama-nama tersebut, entah itu disengaja ataukah tidak, namun ada dua nama yang menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Kedua nama panggilan itu adalah Toni dan Sahid. Toni dari nama awal saya, dan Sahid dari kata Sahidi yang tak lain adalah nama akhir saya.

Keduanya adalah nama panggilan favorit, dalam artian, kebanyakan dari teman-teman sering memanggil saya dengan nama tersebut. Namun bukan itu masalahnya, gara-gara kedua nama tersebut, terkadang (ekstrimnya) saya merasa alergi dengan huruf Y. Ya, huruf Y, abjad ke 25 dari alfabet.

Entah kenapa, terkadang saya pun jadi heran sendiri, kenapa jika registrasi atau apapun yang mengharuskan untuk ditulisnya nama saya, para petugas, atau bahkan teman sendiri pun, sering salah menulis nama saya.

“Namanya siapa mas..??”, tanya seorang petugas.

“Toni..” jawabku singkat.

Namun tak lama kemudian, yang muncul di tulisan daftar hadir, tiket, kwitansi, nota, proposal, ataukah apapun, bukanlah kata TONI seperti apa yang saya harapkan, melainkan TONY. Ya, TONI dengan huruf Y. Gara-gara ini, saya pun pernah bercanda pada seorang teman, “Apa barangkali saya punya wajah bule ya..?? kok sampai pakai ejaan asing.”

Karena masalah ini pun, ayah saya terkadang sering bercanda, “Jangan mau! seenaknya saja merubah nama orang, lha wong mereka nggak ikut mbrokohi kok..!!”, padahal siapa pula yang pernah di-brokohi (tradisi jawa, semacam syukuran untuk memberi nama) lha wong prinsip ayah yang tidak mau hal-hal begituan. Yah, namanya juga bercanda.

Jika TONI menjadi TONY, maka nama SAHID pun sering ditulis sebagai SYAHID. Atau terkadang pula (ini yang paling menyebalkan) dipanggil SA’ID. Jika ini terjadi, lagi-lagi “dalil” ayah saya, tentang mbrokohi pun keluar lagi. :)

Terus terang, kedua nama itu seolah menjadi semacam hal yang harus saya koreksi berkali-kali. Tapi uniknya, kesalahan nama ini berlaku tergantung sesuai daerah nama panggilan itu berlaku. Maksudnya, semisal ketika di Ponorogo saya sering dipanggil Toni, entah kenapa di proposal ataupun presensi kelas, saya sering tertulis “Tony Tegar Sahidi”. Namun beda lagi ketika ada di Malang, yang justru populer dengan nama Sahid, maka teman-teman pun sering salah menuliskan nama saya dengan “Toni Tegar Syahidi”. Sampai sekarang pun saya juga kurang tahu kenapa, Aneh juga sih.

Barangkali banyak dari kita yang menganggap remeh akan hal ini. “Lha wong Cuma satu huruf saja kok dipermasalahkan”. Namun Tidak bagi saya, saya berprinsip untuk tetap memperhatikan, meskipun ia hanya satu huruf. Bagaimanapun juga, ini untuk melatih mereka memperhatikan hingga detail, begitu pikirku. Toh, sifat manusia, bahwa ia akan memberi perhatian pada orang-orang yang memperhatikannya.

Sehingga sering ketika saya mengoreksi penyebutan atau penulisan nama saya, mereka pun balik bertanya, “Memang kenapa kok nggak pakai Y ?, bukannya lebih bagus kalau pakai huruf Y?”.

“Ya karena memang begitu nama saya, kan sudah saya bilang belum pakai huruf Y”, jawab saya sambil tersenyum. Saya memang tidak punya jawaban lain.

Tapi meski demikian masih saja ada seorang teman satu organisasi dan satu kelas pula yang – meskipun tahu – tetap saja “nekat” memanggil saya syahid. Tak hanya di email maupun sms-nya, bahkan pengucapannya pun begitu jelas menggunakan huruf Y, sehingga pernah saya coba mengkoreksi bahwa nama saya tanpa Y dengan kata-kata diatas, dia pun hanya tersenyum mengerti. Tapi ia pun lantas menambahkan, “nama itu doa, akhi, ana panggil antum syahid karena sekaligus mendoakan agar antum nanti juga betul-betul syahid”, begitu jelasnya.

“Degg..!!”, kali ini saya tidak bisa membantah. Mau tak mau, saya pun mengakui benar juga perkataan teman saya ini. Hal ini juga sekaligus mengingatkan saya, tentang alasan, kenapa dahulu saya memilih untuk dipanggil Sahid, agar saya semakin dekat dengan syahid. Dan itu pula salah satu alasan kenapa Ayah saya memberi nama Sahidi kepada saya.

***

Ya, jika ditanya, apa yang paling kita miliki, namun yang paling sering menggunakannya justru orang lain, tentulah kita akan menjawab, “nama”. Jika shakespare bilang, “Apalah artinya sebuah nama”, maka saya pun justru berkata sebaliknya. Nama itu penting sekali lho..!!! bahkan Islam pun sudah mewanti-wanti agar kita memberi nama yang baik.

Namun permasalahannya tak cukup sampai disitu. Bahwa saya yakin, banyak dari kita yang pada dasarnya ingin dipanggil dengan nama-nama yang baik pula. Jika bukan nama panggilan yang baik, tentulah nama asli kita. Barangkali kita sering menganggap sepele akan hal ini, namun sesungguhnya, secara bawah sadar, setiap orang pasti ingin dihargai.

Salah satu bentuk penghargaan, maupun rasa hormat kita kepada orang lain, tentulah dengan nama ini. Bagaimana kita memanggil, bagaimana kita menulis namanya dengan benar, tentulah hal ini akan menjadi satu hal bermakna bagi dia-nya. Meskipun tak harus nama, anggaplah panggilan saja, Mas, Mbak, Pak, Ibu, Akhi, Ukhti, atau siapapun tentulah ini akan menjadi semacam perasaan bahwa ia diperhatikan dan dihargai. Hal inilah yang – wallahu ‘alam - mendasari saya, yang hingga sekarang terkadang memanggil dengan kata-kata Mas A, atau Mbak B, bukannya Akhi A, atau Ukhti B, meskipun kami juga sama-sama anggota rohis. Hal ini tak lain sebagai salah satu bentuk penghormatan saya kepada yang lebih tua. Tak lebih..!! Toh bukankah Islam mengajarkan kita untuk menyayangi yang muda, dan menghormati yang tua..?? Jadi buatlah orang tahu bahwa kita menghargai mereka, dengan tidak menyebut namanya, kecuali dengan nama panggilan yang baik.

Ngomong-ngomong soal nama ini, sekarang saya punya kebiasaan baru jika mengenalkan nama saya. Jika ditanya “siapa namanya..???” saya pun menjawab,

“Sahid, belum pakai Y”, namun ketika mereka masih tetap memanggil saya, “Syahid..!”, saya pun hanya bisa tersenyum. Ya, akan saya pegang erat-erat kata-kata itu…

“Nama itu doa akhi..!!”

***

Mushola FK-Unibraw
Malang, 17 Juli 2006 19:33
Toni Tegar Sahidi (18th) - 08175404373
Publishing Division of FORKALAM
(Forum Kajian Islam)-FMIPA Unibraw
http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com

Boys Don’t Cry

Boys Don’t Cry

 

Seorang sahabat memberikan komentarnya di blog saya : “Subhanalloh memang kasih-sayang ibu… Saya juga sangat merasakan itu . Ngomong2 tentang menangis , sebetulnya slogan " boys don’t cry " lumayan mengganggu. Karena cowok yang berhati lembut pasti mudah menangis (tapi bukancengeng) seperti Abu Bakar ra”

 

***

 

 “Laki-Laki itu Nggak Boleh cengeng…!!, Laki-laki itu harus Tegar..!! Tahan Banting..!!”, begitu yang sering dikatakan Ayah kepadaku.

 

Tapi, memang ada, yang suka dengan orang-orang cengeng.. ??? atau paling tidak over melankolik lah. Sedikit-sedikit menangis, ada peristiwa sedikit saja, langsung menangis. Ah, saya rasa pun, tak hanya laki-laki, saya yakin bahwa kita pun tidak suka dengan siapa-pun yang cengeng. Termasuk disini wanita. Sampai-sampai saking jengkelnya pernah saya berkata lewat SMS pada seorang sahabat yang tengah menangis karena sebuah masalah, yang bagi saya adalah hal yang tidak perlu ditangisi. “Kalau masalah antum (kamu) selesai dengan menangis, maka menangislah terus…!!!”.

 

Bicara tentang menangis, ketika 3 tahun berada di SMA dulu, saya akhirnya sadar, bahwa dalam masa-masa menuju proses pendewasaan diri saya, ada satu hal yang teramat kurang dari diri ini. Ya, saya jadi jarang sekali menangis.

 

Atau lebih tepatnya saya justru tidak pernah menangis lagi di masa-masa itu. Entah karena saya memang tidak pernah lagi diolok-olok atau diganggu oleh teman-teman seperti di masa-masa SD, ataukah kenapa, yang jelas, ada satu hal yang teramat kurang pada diri saya, Menangis. Bahkan parahnya lagi, saya sudah lupa, kapan terakhir kali saya menangis. Ketika ada seorang sahabat saya yang tengah “menangis” lewat sms-nya, saya tetap juga tidak bisa menangis. Meski itu sebuah tangis untuk ber-empati..!! Padahal sungguh saat itu emosi ini benar-benar ingin menangis, batin sudah meluap-luap, namun apalah daya, tak satu pun airmata yang keluar.

 

Saya pun terkadang jadi heran. Apakah barangkali karena nama saya Tegar, sehingga diri ini terlalu Tegar , atau kenapa, entahlah, yang jelas sepertinya bukan itu, hati ini mudah sekali trenyuh memperhatikan hal-hal di sekitar saya. Entah itu seorang pengemis, penjual yang sering tak laku, berita, film ataupun hal lainnya. Namun entah kenapa, ketika emosi ini memuncak ingin menumpahkan air matanya, tak satupun air mata yang keluar. Hanya deru nafas yang tersengal yang dapat saya rasakan. Tak ada tangis terisak-isak, ataupun asinnya air mata yang membasahi bibir-bibir ini.

 

Saya pernah diingatkan bahwa salah satu ciri kerasnya hati seseorang ialah, ia tidak bisa menangis. Lantas diceritakanlan tentang Rasulullah yang tengah mengisi majelis, dan bercerita mengenai siksa neraka di hadapan para sahabatnya. Dalam majelis tersebut, semuanya menangis kecuali satu orang. Satu-satunya laki-laki yang tidak menangis ini pun lantas bertanya kenapa ia tidak bisa menangis. Dan Rasulullah pun menjawabnya, “Barangkali itu karena kerasnya hatimu”..

 

Dan diri ini pun menjadi takut, apa barangkali hati ini sudah beku..??

Ya… Rabb, sungguh jangan engkau jadikan hati-hati ini, adalah hati yang keras dan beku…!!

Ya… Rabb, ijinkan aku untuk menangis…!!!

 

***

“Bayangkan di depan anda sekarang terdapat sebuah televisi.

Bayangkan di depan televisi tersebut, terpampang sebuah film, di dalamnya terdapat sebuah ruang operasi. Ada dokter, ada suster, dan ada ibu Anda. ….”

 

Begitulah, dalam sebuah training di tengah-tengah acara OSPEK, sebuah rutinitas mahasiswa baru, kami disuruh untuk menutup mata. Dalam keadaan mata terpejam, kami disuruh membayangkan bagaimana suasana di sebuah rumah sakit. Di sebuah ruang operasi, di situ ibu kita tengah berjuang keras, bertaruh dengan resiko kematian, dan melawan rasa sakit yang luar biasa besarnya, dan lahirlah kita. Selanjutnya, bagaimana di hadapan kita tergambar, bagaimana kita tumbuh besar, mulai bisa merangkak, berjalan, dan seterusnya. Dan ibu kita tetap tabah merawat kita, bersama dengan serangkaian kerepotan dan kenakalan akibat ulah kita

 

Berlanjut, bagaimana ketika kita mulai masuk SD, ketika kita mulai nakal-nakalnya, SMP, SMA, lantas ketika kita mulai diterima di Kampus. Kita pun meninggalkan rumah dan ibu tercinta untuk sebuah cita-cita.

 

satu hal yang akhirnya saya pun berhasil..!!! ketika kami disuruh membayangkan, suatu hari saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, dan menemukan bahwa rumah kita menjadi teramat ramai oleh tetangga. Kita pun masuk dan disitu kita menemukan bahwa ibu kita sudah terbujur kaku. Ya, ibu kita meninggal, dan kita menangis, menangis bahwa betapa banyak jasa-jasa beliau yang belum sempat kita balas, betapa banyak kenakalan-kenakalan yang kita belum sempat minta maaf kepada beliau.

 

Sampai disini saya pun sungguh tanpa paksaan apa-apa, air mata ini meleleh dengan sendirinya. Dan terdengar pula, bahwa agaknya bukan hanya saya yang menangis, namun juga terdengar bahwa teman-teman lainnya pun juga terisak-isak. Bahkan ada seorang teman yang paling urakan dan paling nakal ketika OSPEK pun, saya tahu bahwa ia juga menangis. Namun ia segera menghapus air matanya. Malu kepada teman-temannya barangkali.

 

Dan tangis itu berlanjut, bahkan semakin keras ketika kami diajak untuk membayangkan, betapa besar jasa-jasa seorang Ibu, betapa banyak kenakalan-kenakalan kita terhadapnya, dan betapa besar hal-hal yang kita belum sempat membalasnya.

 

Entah kenapa, namun dari OSPEK kali itu, saya jadi merasa sangat puas sekali.

Ya.. Rabb, saya bisa menangis..!!! saya bisa menangis ya Allah…!!! Saya bisa menangis…!!!

 

Semenjak kejadian itu, ketika saya ingin menangis lagi, saya cukup mengulang, membayangkan apa yang disampaikan di training tadi, maka air mata ini pun turun dengan sendirinya.

 

***

 

Ya, tangis, sebuah bahasa yang dipahami semua manusia di penjuru bumi ini. Satu hal yang pertama kali kita pelajari ketika dilahirkan. Satu hal yang sudah menjadi fitrah dan kemampuan bawaan dari semua orang. Entah ia muda, tua, atau bahkan baru lahir sekalipun, semuanya bisa menyenandungkan bait-bait tangisnya. Ada tangis yang sangat diharapkan ketika menanti sebuah kelahiran, ada pula tangis yang menyayat ketika terjadi kematian. Tangis yang diperlukan ketika kita sedih, dan banyak hal lagi. Namun satu hal, bahwa tangis adalah hal yang mampu meredam gejolak emosi kita. sehingga ada pula tangis karena sedih, maupu tangis karena gembira.

 

Namun mau tak mau, ada satu hal yang lantas menjadi sesuatu yang sering mengganjal bagi kita. Bahwa tangis sering disalah artikan bahwa kita adalah orang-orang yang cengeng. Terlebih jika ia adalah seorang laki-laki.

 

Jika sudah sampai disini, saya pun lantas akan balik bertanya. Apakah karena laki-laki seseorang tidak boleh untuk menangis. Sebuah pemahaman yang keliru tentang anggapan bahwa “Boy’s don’t cry”. Karena justru sepengetahuan saya, orang-orang yang besar itu, justru orang-orang yang mudah sekali menangis. Bagaimana ketika orang se-kaliber Rasulullah Muhammad SAW sekalipun tetap menangis di malam-malanya hingga dalam sebuah riwayat diceritakan, Rasulullah menangis hingga membasahi janggut beliau. Tak hanya Rasulullah, bahkan betapa banyak sahabat-sahabat lain yang menghiasi malam-malam mereka dengan menangis. Mereka seperti singa-singa gurun yang berlaga di siang hari, dan seperti rahib-rahib yang tersungkur menangis di malam-malam mereka.

 

Ya, menangis, tak hanya untuk para wanita dan anak-anak saja. Bahwa setiap orang sangat butuh untuk menangis. Tak peduli, sehumoris, selucu atau bahkan sekeras apa pun temperamen seseorang, ia tetap butuh untuk menangis. Bahkan orang yang sekeras dan sekasar Umar Bin Khattab sekalipun, ia tetap menangis. Hingga diceritakan bahwa terdapat garis diantara mata dan pipinya, tanda ia sering menangis. Saya jadi kagum, bagaimana mungkin seseorang yang demikian keras nya, seseorang yang di masa jahiliahnya terkenal tak pandang bulu, orang setinngi 2 meter yang ketika ada masalah langsung tebas leher lawannya, yang ketika umar bicara, suaranya keras terdengar hingga ujung jalan, orang yang bermuka sangar, dan bagaikan singa-singa lapar di setiap peperangan, ternyata masih mampu untuk menangis…. bahwa sekeras apa pun seorang laki-laki, ia tetap butuh sebuah tangis untuk memecah kerasnya hati mereka. Semua orang butuh untuk menangis…!!!

 

Ya, dan pada akhirnya saya pun yakin bahwa tangis seorang laki-laki, adalah sebagai tanda bahwa hati-hati mereka bukanlah hati hati yang beku….

Wallahu’alam..

 

Ngomong-ngomong tentang menangis, ada seorang teman yang sempat mengisi di comment di Blog saya.

 

 

Malang, 28 Juni 2006

Ketika kangen rumah,

Mom, Dad, I do love you..!!

 

 

Toni Tegar Sahidi (18th)

Your comment here - 08175404373

Publishing Division of FORKALAM

(Forum Kajian Islam)-FMIPA Unibraw

http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com