Bahasa Kepedulian
Bahasa Kepedulian
“Beliau membantu
orang yang lemah, menolong orang yang sengsara,menghormati tamu, dan membela
orang yang berdiri di atas kebenaran.”
-Khadijah
ra tentang akhlak Rasulullah SAW-
***
06.40 Masjid raden Patah, Jumat 21 Juli 2006
Situasi masih pagi
benar, Namun sekumpulan aktivis itu sudah berkumpul di sekret sebuah SKI. Beberapa
yang datang terlambat segera menempati area yang masih kosong. Briefing sudah
dimulai 10 menit yang lalu, dan di sekret itu pula, nampak setumpuk
kardus-kardus kosong. Berjajar rapi. Kardus-kardus kosong berlapis koran dengan
sebuah kertas folio tertempel diluarnya.
“BANTUAN PEDULI KORBAN TSUNAMI DI PANGANDARAN”
UAKI-Unibraw // Unit Aktivitas Kerohanian Islam
begitulah yang
tertulis disalah satunya. Ya, benar, hari itu, mereka -para aktivis- dari SKI
berencana melakukan penggalangan dana untuk korban bencana Tsunami di pantai
selatan. Sebagai sebuah bentuk kepedulian mereka semua terhadap
saudara-saudaranya yang tengah diuji di luar daerah sana.
Setelah briefing singkat
beberapa menit, maka dimulailah perburuan itu. Mereka dipecah menjadi beberapa kelompok-kelompok
kecil yang sudah ditentukan lokasinya. Matahari belumlah tinggi ketika
akhirnya, sekelompok aktivis itu bubar teratur menuju ke lokasi yang telah ditentukan.
07.50, Pertigaan Terminal Arjosari,
Lalu lalang
kendaraan dan hiruk pikuknya lalu lintas tak mengurangi semangat orang-orang
ini. “Bismillahirrohmaanirrohiim”, mereka melarutkan dirinya dalam kerumunan
lalu lintas tersebut. Ketika lampu merah menyala, dengan sabar, aktivis itu pun
turun ke jalan, satu persatu orang-orang yang berada disana pun didatanginya.
Entah itu pengendara sepeda motor, sopir mikrolet, sopir truk, atau pengendara
mobil-mobil pribadi yang kebetulan banyak melintas. Ketika lampu hijau, mereka
pun berlari-lari kecil menyusuri pembatas jalan, kembali ke depan. Tak ingin
ketinggalan lampu merah selanjutnya.
Matahari semakin
meninggi, dan teriknya mulai menyengat. Namun tak satupun dari orang-orang ini,
- para aktivis da’wah – yang kulihat berkeluh kesah. Justru sebaliknya, hanya
senyum dan canda yang kudengar dari mereka. Lima ratus, seribu, dua ribu, atau
bahkan segepok recehan pun mereka terima tanpa lupa mengucapkan terima kasih.
Ada pula yang tak sempat memberi, ia hanya berlalu sambil mengacungkan
jempolnya tanda simpati. Dan aktivis itu pun hanya bisa tersenyum membalas. Ada
pula sebuah mobil merah yang berkali-kali memanggil dengan klaksonnya. Ketika aktivis
itu menoleh, selembar lima ribuan tampak melambai dari balik jendelanya. Dan ia
pun berlari-lari kecil mengejarnya, mengejar orang-orang yang ingin beramal
menunjukkan kepedulian mereka..
Kegiatan hari itu
selesai pukul 09.30, karena mereka masih harus kembali ke camp untuk menghitung
perolehan hari ini, dan bersiap untuk sholat jumat tentunya.
“Yang hampir kebanyakan ngasih tadi justru
sopir-sopir angkot, sambil ngitung uang, mereka biasanya ngasih”, salah seorang
memulai ceritanya.
“Tadi ada pengamen
yang lewat di depanku. Dia sempat berhenti sebentar dan tanya, ‘Apa Mas..?’, eh
nggak nyangka, dia pun mengambil beberapa recehan dan, Eh, dikasih deh.”, ujar salah
seorang dari mereka sambil tertawa.
“Kalau aku hampir
sama, soal pengamen, justru aku tadi dapat dua kali. Salah satunya, dia sempat
dapat uang seribu dari mengamen, eh nggak taunya uang tersebut langsung
dikasihkan ke aku!”ujar lainnya tak kalah antusias.
Subhanallah, bahkan pengamen pun
mampu untuk peduli..!!
***
Orang-orang ini,
para aktivis da’wah kampus. Sungguh terkadang merupakan hal yang sangat unik,
ketika mahasiswa-mahasiswa lain dengan enaknya tidur ataupun makan di
tempat-tempat mereka, nge-game, ataupun bercanda dan ngerumpi kesana kemari, para
aktivis ini justru memilih hal-hal yang - bagi saya - sungguh luar biasa..!!
Berdiri, berjalan
dan berlari kecil diantara orang-orang yang berhenti di lampu merah. Diantara
panasnya terik matahari, deru mesin, keringnya debu dan asap knalpot, semua
mereka jalani dengan semangat, tanpa jengah ataupun patah semangat. Bahkan tak
jarang, senyum ramah dan canda yang sering saya dapatkan dari mereka.
Sering terlintas
pertanyaan dalam hati saya, apa sebenarnya yang menggerakkan pemuda-pemuda ini?
Hal apakah yang mampu membakar mereka untuk keluar dari kamar-kamar kost
mereka, dan menuju terik matahari jalanan yang menyengat?
Dan sebanyak apapun
saya merenung, pada akhirnya saya hanya menemukan satu kata sebagai jawaban. KEPEDULIAN.
Kepedulian lah yang membuat mereka ikhlas untuk melakukan semuanya. Saya yakin,
mereka takkan dibayar sepeserpun karena ini. Mereka bukan saudara-saudara
kandung orang-orang di Pangandaran, Kebumen, atau yang lainnya. Bukan pula
kerabat, sahabt, rekan kerja atau apa pun..!! Namun ada satu ikatan hati
diantara mereka, yang akhirnya mampu menggerakkan semuanya. Yang mampu
menggerakkan roda-roda kepedulian dan keikhlasan di dada-dada mereka. Ia tak
lain kecuali tali ukhuwah!!, sebuah ikatan persaudaraan, sebuah ikatan yang
lebih dari sekedar saudara kandung sekalipun!
Kepedulian pula lah
yang mampu merelakan mereka untuk tidak dibayar. Justru yang membuat saya
kagum, bahkan untuk kelokasi tersebut pun, mereka harus membayar biaya angkot
mereka sendiri! Kepedulian memang memiliki harganya sendiri, dan saya rasa
mereka sangat tahu berapa harga sebuah kepedulian itu bagi mereka.
Barangkali seperti
yang sering diutarakan salah anggota rohis di SMAku dulu, “Gak opo-opo, Gusti Allah sing mbayari..!!”, (Nggak apa-apa, Allah
SWT yang membayar)
Ah, barangkali kita
masih perlu belajar banyak pada mereka, sebagaimana pula yang diajarkan oleh
sopir angkot, sopir truk, orang-orang yang mengacungkan jempol pada mereka, atau
bahkan para pengamen yang mereka temui, tentang harga sebuah kepedulian. Tentang
harga sebuah bahasa kebaikan.
Saya yakin,
tentulah setiap dari kita masih memiliki sebuah rasa yang disebut kepedulian di
dalam hatinya. Masalahnya sekarang adalah, seberapa besar rasa kepedulian itu
di hati kita?
Saya rasa anda
lebih tahu jawabannya!
Malang, Ahad 23
Juli 2006, 02:13 pagi.
Toni Tegar Sahidi
(18th)
08175404373 –
feedback & comment
http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com