dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for June, 2006


Air..

Dari milist tetangganya tetangga… last saved from ikmal_smuzapo@yahoogroups.com

Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup." (Q.S. Al Anbiya:30)


Dalam kitab-kitab tafsir klasik, ayat tadi diartikan bahwa tanpa air semua akan mati kehausan. Tetapi di Jepang,
Dr. Masaru Em oto dari Universitas Yokohama dengan tekun melakukan penelitian
tentang perilaku air.

Air murni dari mata air di Pulau

Honshu

didoakan secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5oC di laboratorium,
lantas difoto

dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air
membentuk kristal segi enam yang indah. Percobaan diulangi dengan membacakan
kata, "Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)" di depan botol air
tadi. Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan
tulisan huruf Jepang, "Arigato". Kristal membentuk dengan keindahan
yang sama. Selanjutnya ditunjukkan kata "setan", kristal berbentuk
buruk. Diputarkan musik Symphony Mozart,
kristal muncul berbentuk bunga. Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal
hancur.

Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan "peace" di depan
sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan

indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan

lima

cabang daun muncul
berkilauan. Subhanallah. Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air

di
Swiss

,

Berlin

, Prancis, Palestina,
dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di

New York

untuk mempresentasikan temuannya
pada bulan Maret 2005 lalu. Ternyata air bisa "mendengar" kata-kata,
bisa "membaca" tulisan, dan bisa "mengerti" pesan. Dalam
bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air
bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk.

Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air.
Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain. Barangkali
temuan ini bisa menjelaskan, kenapa air putih yang didoakan bisa
menyembuhkan si sakit. Dulu ini kita
anggap musyrik, atau paling sedikit kita anggap sekadar sugesti, tetapi ternyata molekul air itu
menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada
di tubuh si sakit.

Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak 74,5% air. Darah 82% air.
Tulang yang keras pun mengandung 22% air. Air putih galon di rumah, bisa setiap hari didoakan dengan khusyu
kepada Allah, agar anak yang meminumnya saleh, sehat, dan cerdas, dan agar suami yang meminum tetap setia. Air
tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh
darah. Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari. Bila air minum di suatu

kota

didoakan dengan
serius untuk kesalehan, insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan menjadi
baik dan tidak beringas.

Rasulullah saw. bersabda, "Zamzam

lima

syuriba lahu", "Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang
meminumnya". Barangsiapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang.
Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh. Subhanallah …
Pantaslah air zamzam begitu berkhasiat karena dia menyimpan pesan doa jutaan manusia selama
ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim a.s.

Bila kita renungkan berpuluh ayat Al Quran tentang air, kita akan tersentak
bahwa Allah rupanya selalu menarik perhatian kita kepada air.

Bahwa air tidak sekadar benda mati. Dia menyimpan kekuatan, daya rekam, daya
penyembuh, dan sifat-sifat aneh lagi yang menunggu disingkap manusia. Islam
adalah agama yang paling melekat dengan air. Shalat wajib perlu air wudlu 5
kali sehari. Habis bercampur, suami istri wajib mandi. Mati pun wajib
dimandikan. Tidak ada agama lain yang menyuruh memandikan jenazah, malahan ada
yang dibakar. Tetapi kita belum melakukan zikir air. Kita masih perlakukan air
tanpa respek. Kita buang secara mubazir,
bahkan kita cemari. Astaghfirullah.

Seorang ilmuwan Jepang telah merintis. Ilmuwan muslim harus melanjutkan kajian
kehidupan ini berdasarkan Al Quran dan hadis.

Wallahu a’lam …

adopted from: INAFE 2006

… Yang Menghangatkan

Jika boleh dibilang, saya orangnya termasuk orak yang “Sok”
dingin. Lebih tepatnya sih “Sok” tahan dingin. Tapi yah memang kenyataannya
begitu. Pernah suatu ketika saya dan beberapa teman menginap di sebuah Villa di
kota Batu. Ketika malam mulai menjelang, teman-teman lain sudah mulai menggigil
kedinginan, mereka tidur melapisi diri mereka dengan jaket dan selimut tebal, eh
saya malah enak-enak nya tidur tanpa jaket, tanpa selimut satu pun. Justru saya
yang heran dengan mereka, Apa ya sebegitu dinginnya sih..?? Pernah juga
sebelumnya, di suatu malam berkabut, ketika teman-teman lain pesan teh hangat,
atau kopi hangat, saya justru bertanya pada penjualnya, “Es Teh nya ada
mas..??”. Ya..ya..ya… beginilah kalau orang memang suka Es. “Kamu kan sudah
pakai jaket kulit…!!”, canda seorang teman disambut gelak tawa kami. Ya,
postur tubuhku yang memang gemuk, dan barangkali itu yang membuat saya lebih
tahan dingin.

Tapi memang begitulah, saya memang suka dengan suasana
dingin. “Wajar”, pikirku. Karena, toh bukankah dingin lebih mudah diatasi
daripada panas?? kalaupun kita kedinginan, toh dengan jaket tebal plus selimut
sudah bisa menghangatkan kita. Bayangkan jika suasana panas?? Es teh di depan kita,
mandi, ataupun kipas angin, pun belum cukup untuk menahan laju keringat kita. Jadilah, pengalaman di villa temanku
tersebut mendasariku untuk tidak membawa banyak penghangat tubuh. Di diklat
kali ini, di kota yang sama, Kota Batu, saya pun memutuskan untuk hanya membawa
selembar jaket. Tidak ada selimut, apalagi selimut tebal.

 Dan agaknya memang begitulah kondisinya. “Tempat seperti
ginian, masak sih dingin..??”, pikirku. Kami tidak berada di lereng gunung,
apalagi di puncak. Hanya sebuah tempat di tengah lapangan, yang dikelilingi
bukit-bukit yang dipadu dengan pohon pinus. Ya, kami sedang berkemah. Dan
memang begitulah suasananya, hingga pukul 10 malam, hawa dingin itu tak terasa
sama sekali bagi saya. Namun sebentar kulihat teman-teman lain mulai merapatkan
jaket dan sarung mereka, tanda-tanda mulai kedinginan.

 Agaknya tak lama kemudian, saya pun harus merubah pendapat
saya. Sekitar lewat jam satu malam saya pun berkali-kali terbangun oleh karena
hawa dingin. Sesekali bisa tidur, namun toh berkali-kali terbangun juga
akhirnya. “Untung saja”, tak lama setelah itu, saya pun dibangunkan panitia,
untuk kegiatan renungan malam. Dengan mata diikat, dan dituntun seorang
panitia, saya “digiring” keluar menuju sebuah lokasi. saya kehilangan orientasi
saat itu. Tidak tahu mana arah timur, barat, atau utara. Namun yang pasti,
sekeluar saya dari tenda, hawa dingin, langsung segera menusuk sendi-sendi ini.
Suasana didalam tenda yang dinginnya saja sudah mampu membangunkan saya
berkali-kali, ternyata kalah dengan di luar tenda. Bisa dibayangkan ketika, masih
dalam keadaan mata tertutup, saya disuruh duduk menghadapi salah seorang
senior.

 Andaikan disuruh push up, barangkali saya lebih menyukai
hal itu. sekedar untuk menghangatkan tubuh. Namun kali itu tidak. saya hanya
bisa duduk.

“Dingin ya Hid..??”, senior itu coba menyapaku.

“Dingin sekali mas..!!”, jawabku sambil menggerak-gerakkan
lengan, coba mengusir hawa dingin itu.

Bagaimana tidak dingin coba, pakai jaket atau tidak,
rasanya sama saja. Saking dinginnya, tubuh ini serasa mati rasa. Ya, benar, mati
rasa. Tidak ada lagi yang bisa dirasakan selain dingin. Saking dinginnya,
ketika disuruh mensimulasikan sebuah taujih, dan wawancara lainnya, mulut ini
seolah sulit untuk diajak bicara. Padahal jika dalam kondisi biasa, saya dikenal
cerewet. Namun tidak kali itu. Susana dingin mencekam seolah juga membekukan
otak dan mulut kami. Yah bisa dibayangkan, bagaimana ketika kita sulit sekali
berbicara dan berpikir jernih.

 Jadilah di malam-malam berikutnya, tidur saya tidak bisa
nyenyak. Bahkan saking dinginnya, saya tetap ber-kaus kaki ketika sholat Subuh.
Akhirnya sepulang diklat itu pun saya terkena Flu…. ya, baru kali itu, saya
betul-betul merasakan dingin yang sebenar-benarnya. “Kalau di Batu, bulan-bulan
begini, suhu dini hari bisa sampai 14 derajat lho..!!”, tukas temanku beberapa
hari sebelum diklat.

 Namun agaknya, apa yang saya keluhkan di diklat tadi,
ternyata tidak ada apa-apanya dibanding cerita salah seorang ustadz kami.
Ustadz Dwi Aprianto namanya.

 “Teman saya bilang, bahwa di Bosnia itu, suhunya bisa
mencapai minus 20 derajat.”, ustadz Dwi memulai ceritanya. Belau memang punya
teman-teman yang sudah pernah ber[erang ke medan-medan jihad. Di Afghan, maupun
di Bosnia.

 “Hahh..!!
minus 20 derajat..??” Di Batu yang masih 14 derajat diatas nol saja sudah
seperti itu, apalagi yang minus 20, seperti apa coba..??

 
Ustadz Dwi melanjutkan ceritanya, “Dalam suhu yang seperti
itu, hidung ini rasanya sudah seperti tidak terasa lagi. Sudah seperti
hilang..!!”, tutur beliau disambut gelak tawa kami. “Bahkan dalam satu jam,
kalian bisa mati kedinginan”

 “Tapi katanya seperti itu tidak ada apa-apanya karena di
Afghan itu katanya malah lebih dingin daripada itu.” Lanjut beliau.

 lebih
dingin daripada itu..??? bayangkan coba..!!

Beliau lantas bercerita tentang salah seorang Mujahidin di
sana. Di medan jihad sana itu, ada salah satu Mujahidin, yang karena tugasnya ia
hanya bisa bertemu pasukan lainnya, hanya sekali dalam sebulan. Ya, betul,
sekali dalam sebulan.

Mujahidin tersebut biasa ditugaskan untuk berada di
puncak-puncak gunung Bersalju. Di tempat-tempat yang minus 20 derajat seperti
tadi. Ia dibekali dengan senjata antipesawat. Tugasnya tak lain hanyalah mecoba
merontokkan pesawat-pesawat musuh yang melintas. Jadilah setiap hari, yang ia
lakukan, tak lain hanyalah menunggu,menunggu dan menunggu. Ketika ada pesawat
atau helikopter yang lewat, maka tak lain tugasnya kecuali menembak pesawat
tersebut. Kan tidak setiap hari ada pesawat lewat kan…?? Tidak ada kawan
tidak ada alat komunikasi, tidak ada telepon, HP, radio, televisi, apalagi
internet.

Ustadz Dwi melanjutkan, “Dia disana, tidak punya teman
siapa-siapa. Temannya disana hanyalah Al Quran, dan Allah SWT, tak lebih”

 “Dan dari sini,
sebenarnya tidak akan ada satu hal pun yang mampu membuat ia melakukan itu,
selain keikhlasan.”, ustadz Dwi, menutup ceritanya.

Dalam hati saya bertasbih, Subhanallah, ada juga ya, orang
yang seperti itu…!! ya, saya pun mengakui, tidak mungkin seseorang mau untuk
ditempatkan di tempat ekstrim seperti itu kecuali ikhlas. Tidak akan ada satu
hal pun yang mendorong Mujahidin tersebut mampu untuk tetap bertahan SENDIRIAN di
tengah dinginnya puncak-puncak gunung bersalju kecuali IKHLAS.

Ikhlas tidak bisa disamakan dengan rela, karena konteknya
memang berbeda. Ikhlas adalah semata-mata mengharap keridhaan Allah, bukan rela
menjalani sesuatu, ataupun karena kehilangan sesuatu.

Mereka tahu bahwa bayaran dari Allah adlah jauh lebih
mulia, dari apapun yang ada di dunia. Di saat ketika ber-ribu-ribu mil jauhnya,
kita masih bisa menikmati teh hangat,makan hingga kenyang, melihat tv, berkumpul
bersama keluarga dan sebagainya, para mujahid itu justru memilih untuk bertahan
di tempat ekstrim. Bertahan dan menunggu untuk menghancurkan musuh-musuh Allah
yang lewat. Saya yakin, mereka tidak akan mengharapkan bayaran karena itu.
Tidak seperti tentara-tentara, serbia, uni soviet, atau bahkan Amerika
sekalipun..!! mereka juga tidak akan mengharapkan publikasi dari media-media
kelas dunia. Bagi mereka, Cukuplah Allah yang menyaksikan, ya… cukuplah Allah
yang menjadi tempat kembali mereka.

Ah, tanpa terasa, saya pun membayangkan, bagaimana ketika
mereka berjam-jam menunggu, atau bahkan berhari-hari menunggu pesawat musuh,
mereka berjuang melawan kedinginan mereka , melawan musuh-musuh Allah, melawan
kesendirian dan kesunyian mereka, dan lebih dari itu, mereka harus berjuang
melawan noda-noda hati yang dapat merusak keikhlasan mereka. Mereka mengisi
waktu-waktu mereka dengan tilawah, berteman dengan Al Quran, bahwa mereka tiada
pernah sendirian, karena Allah pasti lah selalu bersama mereka.

Barangkali hanya harapan dan keikhlasan, yang mampu menghangatkan
hati-hati mereka. Harapan bahwa semua ini akan berakhir dengan kemenangan
mereka, atau pun syahid di jalanNya. Keikhlasan bahwa cukuplah Allah yang akan
membayar Nya, tak perlu pujian, bayaran, atau apa pun dari manusia. Allah lebih
tahu akan semuanya.
Ah sayang sekali, kenapa saya baru mendengar cerita
tersebut setelah diklat. Mendengar cerita tersebut, tanpa terasa, diri ini
menjadi malu sendiri.

“Ya Rabb, betapa mudah hambaMu ini mengeluh akan sebuah
kesulitan di jalanMu, sementara banyak diantara hamba-hambaMu yang lain,
sungguh rela dan jauh lebih berat perjuangan mereka..!!,

Ya Rabb, begitu banyak nikmat yang engkau berikan kepada
kami, namun lalai untuk kami syukuri. Ya Rabb, muliakanlah mujahid-mujahid itu dengan
jannah Mu

Ya Rabb, muliakanlah mereka yang menyeru kepada jalanMu,
yang menyeru manusia kepada Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, mereka yang berjihad
menjaga tegakknya izzah agamaMu.. Ya
Allah, ikhlaskanlah hati-hati mereka..!!

 

Malang, 21 Juni 2006
Ketika flu itu masih ada…

 
Toni tegar Sahidi (18 th)
Mahasiswa Ilmu Komputer-Unibraw
Mobile (feedback) 08175404373
http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com

 

Belajar dr LOTR

Conversation between Frodo Baggins and Gandalf The Grey

There’s a conversation between Frodo Baggins and Gandalf The Grey.. Interesting and inspiring..

PAs si Frodo ngerasa desperate banget dan sepertinya menyesali "kenapa gw harus jadi menempuh perjalanan jauh dari Shire, rumah gw tercinta, untuk pergi ke Mordor, tempat yang jauh dan perjalanannya berbahaya? Kenapa gw???!! Kenapa sih, gw ngga dibiarkan hidup tenang aja di Shire?

Frodo bilang..

    "Aku berharap cincin ini tak pernah datang padaku, sehingga semua ini tidak pernah terjadi" (maksudnya dia ngga harus jadi pembawa cincin ke Mordor)

Trus, the wise Gandalf bilang..

    "Mereka hidup di masa itu juga, tapi mereka juga tidak bisa memutuskan" (apa yang terjadi pada diri mereka)

    "Yang harus kau putuskan adalah APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN WAKTU YANG DIBERIKAN KEPADAMU"

dapet dari blognya teman
http://rifqie.blogs.friendster.com/

——
mga bermanfaat
Toni tegar Sahidi
mahasiswa ilmu Komputer Unibraw
http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com

Sepuluh adalah dua belas

“Matematika di sekolah tidak akan bisa menjelaskan tentang nilai dan harga sebuah kebaikan” (anonim)

 

Ada banyak profesi yang sebenarnya bagus, namun jika ditilik lebih lanjut, bagus tidaknya sebuah profesi ternyata tidak hanya tergantung pada apa profesinya, tapi juga siapa yang menjalankannya. Seperti halnya pengamen langganan keluarga kami yang sudah pernah saya ceritakan, demikian pula dengan penjual sate gule kambing ini.

 

Namanya pak Kandar, ia memiliki sebuah warung di dekat perempatan jalan, dekat sebuah pabrik es dan pos polisi. Barangkali, namanya di kota kami memang kalah tenar dengan penjual sate gule kambing lain yang lebih senior, namun tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya kualitas sate gule kambing Pak kandar bisa saya katakan lebih daripada yang lainnya. Hal ini terbukti bahwa tak sampai sore, biasanya sate-nya sudah habis terjual. Jadi jangan heran, jika selepas ashar anda akan sulit menemukan warung ini masih buka. Mungkin karena tempatnya yang agak di pinggir kota membuat nama Pak Kandar tidak terlalu dikenal.

 

Salah satu keunikan dari warung pak kandar ini adalah ia tidak menggunakan kipas tangan seperti halnya tukang sate kebanyakan, ia menggunakan kipas angin. Aku jadi tersenyum sendiri dengan hal ini. “Pinter juga orang ini, nggak perlu capek-capek kipas-kipas”, pikirku dalam hati. Namun keunikannya tak berhenti sampai disitu.

 

Pada mulanya aku berpikir bahwa orang ini tentulah melakukan kesalahan. Kami hanya pesan sate per piring 10 tusuk, tapi yang ada dihadapan kami ternyata 12 tusuk. Coba kuhitung lagi, dan memang dua belas tusuk…!! Masih kurang yakin, coba kuhitung juga sate yang ada di piring ibuku, dan ternyata memang sama, dua belas tusuk…!! punya ayahku pun juga sama, dua belas tusuk.

 

“Kok dua belas, Mi..??!!”, tanyaku pada ibuku.

“Kalau disini memang begitu, kalau beli sepuluh, kita dapatnya dua belas tusuk…”

“kok bisa begitu ya..??”, tanyaku lepas.

Namun tak urung aku diam juga. Toh dua belas tusuk sate di hadapanku ini justru membuatku kian girang. Memang siapa sih yang nggak senang kalau dikasih bonus…??

 

Pak Kandar adalah satu diantara sekian pedagang yang mampu memberi lebih. Dan sebenarnya masih banyak contoh yang lain. Seperti juga seorang penjuah buah segar di gerbang belakang kampus saya di brawijaya. Terkadang jika sedang ingin-inginnya, maka tak lupa kusempatkan untuk membeli buah dari orang ini. Lumayan, seribu perak dapat 3 potong buah. Yah sekedar pemenuhan gizi, pikirku.

 

Namun hal unik yang seringkali saya temui, adalah jika di sore hari, selepas Ashar misalnya, setiap saya membeli buah dari orang ini, tak lupa ia memberi tambahan.

“Tunggu mas, tak kasih bonus..!!”, ucapnya seraya memasukkan tambahan 2 potong buah ke dalam tas kresekku. “Lumayan… “pikirku. Jadilah jika tidak dalam keadaan terpaksa, sekedar menyiasati aku pun membeli buah hanya tiap sore saja. He…he..he sekedar mencari bonus.

 

Ya, masih banyak contoh-contoh lain disekitar kita, yang barangkali kita perlu belajar banyak hal tentang hal ini. Sebuah pelajaran dimana, barangkali, banyak orang yang memilih untuk menge-pas-kan bahkan mengurangi timbangan mereka, atau demi keuntungan yang maksimal, namun orang-orang semacam Pak Kandar dan penjual buah tadi memilih untuk melakukan yang sebaliknya. Mereka memberi lebih. Dan itu tentu menyenangkan para pelanggannya. Mereka tak hanya menjual produk, tapi juga memberi pelayanan.

 

Annis matta mengatakan, bahwa orang-orang yang mampu memberi dan berkorban lebih, sebenarnya mereka adalah orang yang tidak terikat akan dunia. Ya, dunia, baginya seperti sebuah falsafah orang jawa, “urip mung mampir ngombe” (hidup hanya mampir untuk minum). Ada banyak alasan kita memberi lebih. Ada yang karena ingin dipuji, ingin mendapatkan image yang bagus, atau juga hal yang patut kita perhitungkan, kejujuran. Seperti saya pernah membaca sebuah cerita tentang seorang pedagang buah, yang jika seseorang membeli selusin, maka ia selalu menambah dengan satu buah lagi. Ya, baginya selusin adalah tiga belas. Ia beralasan bahwa ia khawatir jika diantara ke dua belas buah yang dijualnya tadi, mungkin terdapat satu atau dua yang rusak atau tidak layak.

 

Namun bagaimanapun juga, memberi lebih tak harus lewat barang. Seperti seorang teman di rohis SMA ku dulu. Sebut saja Anang namanya, setiap ia ku mintai tolong untuk mengantarkanku pulang ke ujung jalan, eh Dia justru mengantarkan aku pulang ke rumah yang tidak searah dengan tujuan dia. Padahal rencana semula saya ingin naik kendaraan umum saja, namun apa mau dikata.. memang begitu..!!

 

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat akan sebuah pepatah.

——- “The more you give, The more you get..!!”,

apa benar begitu ya..?? wallahu ‘alam.

 

 

Ponorogo, 14 Juni 2006

 – ketika pulang ke rumah.

 

 

Toni Tegar Sahidi (18th)

Mahasiswa Ilmu Komputer,

FMIPA – Unibraw/ 08175404373

http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com

Do all the goods you can..!!

 

 

 

Perjuangan Yang Berarti

(istilah : akhi – bhs arab, panggilan/sapaan untuk laki-laki, biasa di kalangan aktivis da’wah kampus/rohis)

 

“Perjuangan nggak ada artinya tanpa sholat akhi…!!!”, teriak seorang ikhwan disela-sela kampanye presiden BEM di universitas kami. Ya, adzan sudah berkumandang di tengah acara, dan sekelompok aktivis yang tengah berkampanye itu pun bubar teratur..

—-

 

Menjadi aktivis kampus itu terkadang gampang-gampang susah. Apapun dan dimanapun organisasinya, baik itu di Unit Aktivitas, di SKI, di BEM, ataupun himpunan dan masih banyak organisasi lain. Dan sebenarnya hal ini akan lebih dipersulit lagi andaikata organisasi yang diikuti tadi banyak sekali kegiatannya. Sudah gitu, jika ditambah organisasi dan amanah yang kita punyai lebih dari satu. Ya… seperti saya ini…

 

Masih ingat betul ketika pekan itu, terjadi begitu banyak aktivitas, dan repotnya lagi, organisasinya berbeda semua, dan tak kalah penting lagi, suatu saat, hampir semuanya rapat dari waktu yang bersamaan. Disatu sisi, saya harus mengurusi pemlihan umum tingkat Universitas sebagai panitia TPS, sementara disisi lain, juga menjadi panitia di Bazaar buku Islami dan acara persiapan Sambut Mahasiswa Baru.

 

“Kemana sih anak-anak yang lain..!!, menyebalkan..!!”, ucap temanku yang menjadi ketua TPS. Ya, malam itu kami hanya bekerja sendirian, menyiapkan Tempat Pemungutan Suara untuk BEM. Sudah sendirian, yang dipersiapkan berat-berat semua lagi. Dari meja, sampai kursi. Iya kalau kursinya dari kayu biasa masih mending, ini kursi dari beton..!! jadilah kami harus memindahkan secara bertahap. Ketika capek, kami sempatkan untuk berhenti sebentar, ambil nafas, untuk kemudian melanjutkan lagi. Akhirnya selesai juga, dan kami berdua pun duduk kelelahan. Hari sudah malam, dan kami pun akhirnya memilih untuk pergi mencari makan, sekedar mengisi kembali energi.

 

“Hid, makasih yo, udah bantuin aku..!!” ucap temanku tadi.

Aku hanya mengangguk lepas. Dalam hati terlintas kembali perkataan seorang ikhwan di kampanye tadi.. “Perjuangan nggak ada artinya tanpa sholat akhi…!!”, ya, apa yang kami lakukan barusan adalah sebuah perjuangan. Disitulah nilai dan sense of responsibility kami diuji.

 

 Namun kontan dalam hal ini, sejenak aku jadi terpikir, bahwa ada satu hal yang seharusnya perlu kita tekankan disini, ketika kita banyak bekerja keras….

“Yang ikhlas ya akhi..!!! perjuangan nggak ada artinya tanpa ikhlas..!!” ucapku spontan. Temanku ini hanya mengangguk membenarkan. “Sekeras apapun, kerja keras kita nggak ada artinya tanpa ikhlas”,

aku melanjutkan, “Yakin dah, Allah akan menghitung semuanya kok..!!”, dan temanku ini kali ini tersenyum… senyum di tengah kelelahannya dan kelelahan kami semua.

 

Ya, sesungguhnya tiada nilai yang jauh lebih mulia dari sebuah pekerjaan, kecuali ia dinilai dari keikhlasan… berapapun banyak harta, waktu, ataupun tenaga dan keringat yang kita cucurkan, tiada akan pernah ada artinya tanpa keikhlasan. Dan sesungguhnya inilah yang seharusnya patut kita jadikan standar parameter untuk setiap kerja kita. Bukan uang, bukan barang, atau hal-hal duniawi lainnya.

Istilahnya, “Gusti Allah sing mbayar”, (Allah yang membayari) begitu yang barangkali sering dikatakan salah seorang di rohis SMAku dulu.

 

Saya jadi teringat, kenapa bisa ya beberapa teman mau untuk merelakan waktunya di tengah malam memasang spanduk dan umbul-umbul, membuat dekorasi background, angkat-angkat kursi, karpet, dll hingga menjelang fajar, atau beberapa teman yang bahkan rela untuk tidak tidur semalaman demi suksesnya sebuah acara da’wah, padahal yang saya tahu mereka tidak dibayar sepeserpun, barangkali hanya beberapa makanan kecil dan sebotol air mineral. Suatu hal yang terkadang tidak logis untuk orang biasa. Ah… saya yakin semua dimulai dari sini… keikhlasan… hal yang menyentuh setiap manusia. Hal yang menjadi gaji bagi setiap aktivis dakwah kampus.

 

Jadilah mulai saat itu, ketika saya berada dalam sebuah kegiatan yang menyedot energi ekstra, tak lupa kusemangati teman-teman.. “Yang ikhlas ya akhi..!! sekeras apapun pekerjaan dan perjuangan kita, nggak bakal ada artinya tanpa ikhlas..!!”

Dan mereka pun tersenyum… senyum di tengah rasa capek mereka….

 

Malang

, selepas Pemilwa Raya Unibraw 2006

 

Toni Tegar Sahidi (18th)

Mahasiswa Ilmu Komputer,

FMIPA – Unibraw/ 08175404373

http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com

Do all the goods you can..!!

 

Profesionalisme Pengamen

 

Kalau ada Pengamen, berapa yang biasanya Anda beri..???? seratus..?? dua ratus…???

Lima

ratus..?? Atau berapa..???

 

Ada

banyak pengamen yang pernah saya temui, atau lebih tepatnya, saya temukan. Banyak hal, mulai dari yang berkeliaran antar-antar rumah, dari yang sekedar tepuk tangan, ecek-ecek, pakai gitar, harmonika, atau bergroup dipadu antara gitar, ecek-ecek, dan sesekali dengan gallon aqua kosong.

Ada

pula yang memakai tape deck, dan sesekali dipadu dengan aksi jogetan, atau terkadang yang lebih parah lagi, dengan berdandan ala banci, naudzubillah…

 

Dari sekian itu, tentulah terlepas dari alat musik yang digunakan, ataupun cara yang digunakan, banyak pengamen yang memiliki karakter yang berbeda pula. Salah satunya adalah yang akan saya ceritakan kali ini.

 

Keluarga kami memang tidak tahu namanya, namun setidaknya

Ada

banyak hal yang saya amati dari pengamen satu ini. Kemeja lengan panjang, dipadu dengan sebuah topi yang bertengger dikepalanya menjadi semacam seragam baginya. Kulitnya yang coklat gelap dan wajahnya yang khas dengan gigi yang agak menonjol ke depan menjadi ciri khas yang mudah dikenali dari orang ini.Celana jeans nya dan sebuah sepatu kulit, membuat orang ini lebih mudah disebut sebagai seorang mandor daripada seorang pengamen. Barangkali hanya sebuah gitar tua ditangannya yang menunjukkan bahwa orang ini adalah seorang musisi jalanan.

 

Tapi bukan penampilannya yang menarik perhatian kami sekeluarga. Namun kebiasaan dari pengamen satu ini. Pengamen ini hampir bisa dipastikan selalu mengunjungi rumah kami setiap pekannya. Setidaknya di hari minggu pagi, setelah kami sekeluarga biasa pulang dari pengajian.  

 

Ada hal unik yang menurut saya membedakannya dengan pengamen sejenis yang kadang juga rutin ke rumah kami di akhir pekan. Adalah jika pengamen lain langsung ngeloyor pergi setelah kami beri uang, maka pengamen satu ini tidak. Bukan, bukan masalah ‘bonus’ ucapan terima kasih darinya, karena saya rasa pengamen lain juga banyak yang melakukan hal itu.

 

Namun bukan itu, ada hal unik jika kami memberi pengamen ini uang lebih, 1000 misalnya, Pengamen ini masih terus melanjutkan lagunya hingga selesai. Serius..!!! Sampai selesai..!!! bahkan terkadang kami sekeluarga jadi khawatir tetangga kami berpikir yang bukan-bukan, “Kok ngamennya lama banget..?? apa nggak dikasih uang ya..??”, padahal lho sudah kami kasih uang. Tapi yah mau bagaimana lagi, memang begitu itu… musisi jalanan ini tetap melanjutkan lagunya…

 

Jadilah ia menjadi semacam pengamen langganan bagi kami sekeluarga. Maka setiap pekannya, hampir bisa dipastikan selalu kami sisihkan beberapa untuk pengamen itu. Karena tahu kebiasaannya, maka tak jarang kami langsung memberinya uang di awal-awal, melepaskan sebuah senyum setelah itu ngeloyor masuk. Dan gitar pengamen itu tetap melantunkan denting-denting melodi lagu-lagu khas zaman perjuangan. Ketika ia sudah selesai, tak lupa ia tetap mengucapkan terima kasih .Padahal kami sekeluarga sudah tidak kelihatan batang hidungnya, sibuk di dalam rumah, sebuah hal yang sungguh unik bagi kami.

 

Melihat peristiwa ini, terbayang di benakku, perkataan ayah ketika aku masih kecil dulu, “Memangnya pengamen hanya berhak dikasih ratusan doang..??”, aku hanya bisa diam dan mengangguk membenarkan, Ayahku melanjutkan, “kalau kamu dikasih seratusan, sama seribuan, lebih senang mana..??, ribuan kan…??? nah begitulah kamu kalau harus memberi….” begitulah ucapan ayah yang masih terus berada di benakku hingga sekarang.

 

Pernah juga, aku mencoba hal ini, dalam sebuah perjalanan pulang ke Ponorogo, bus sempat terhenti di terminal madiun. Seorang bocah kecil berkaus oblong naik, tak lama terdengar ia mengamen lepas sekenanya dengan suara khas bocah kecil. Saat itu ia hanya menggunakan ecek-ecek dari tutup botol. Teringat perkataan Ayah, segera kuambil uang dari sakuku, dan kali ini, selembar limaribuan kuletakkan ditangannya. Namun tanpa diduga, bocah itu berhenti sebentar lantas…. “Makasih mas..!!” ucap bocah kecil itu dengan  keras…. Hal itu kontan membuat seluruh isi bus menoleh ke arah kami, tak terkecuali kakakku dan ibuku. Aku jadi tidak enak, tapi tak urung aku hanya tersenyum juga.

 

Ya, memberi lebih, meski hanya seulas senyum atau ucapan terima kasih, adalah sebuah budaya yang jarang kita temukan dewasa ini. Dan pengamen tersebut sebenarnya secara tidak langsung telah memberikan pelajaran berharga bagi kami, bahwa ketika ada orang yang berbuat baik kepada kita, maka terima kasih mungkin tiadalah cukup, namun berikanlah suatu hal yang terbaik bagi orang tadi. Ya, memberi lebih adalah bagian sebuah profesionalitas, dan pengamen tersebut menunjukkan profesionalismenya kepada kami.

 

Sabtu, 10 Juni 2006

ketika lama tak bertemu

pengamen semacam mereka

 

 

Toni Tegar Sahidi (18th)

Mahasiswa Ilmu Komputer,

FMIPA – Unibraw/ 08175404373

http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com

Do all the goods you can..!!

.