Jika boleh dibilang, saya orangnya termasuk orak yang “Sok”
dingin. Lebih tepatnya sih “Sok” tahan dingin. Tapi yah memang kenyataannya
begitu. Pernah suatu ketika saya dan beberapa teman menginap di sebuah Villa di
kota Batu. Ketika malam mulai menjelang, teman-teman lain sudah mulai menggigil
kedinginan, mereka tidur melapisi diri mereka dengan jaket dan selimut tebal, eh
saya malah enak-enak nya tidur tanpa jaket, tanpa selimut satu pun. Justru saya
yang heran dengan mereka, Apa ya sebegitu dinginnya sih..?? Pernah juga
sebelumnya, di suatu malam berkabut, ketika teman-teman lain pesan teh hangat,
atau kopi hangat, saya justru bertanya pada penjualnya, “Es Teh nya ada
mas..??”. Ya..ya..ya… beginilah kalau orang memang suka Es. “Kamu kan sudah
pakai jaket kulit…!!”, canda seorang teman disambut gelak tawa kami. Ya,
postur tubuhku yang memang gemuk, dan barangkali itu yang membuat saya lebih
tahan dingin.
Tapi memang begitulah, saya memang suka dengan suasana
dingin. “Wajar”, pikirku. Karena, toh bukankah dingin lebih mudah diatasi
daripada panas?? kalaupun kita kedinginan, toh dengan jaket tebal plus selimut
sudah bisa menghangatkan kita. Bayangkan jika suasana panas?? Es teh di depan kita,
mandi, ataupun kipas angin, pun belum cukup untuk menahan laju keringat kita. Jadilah, pengalaman di villa temanku
tersebut mendasariku untuk tidak membawa banyak penghangat tubuh. Di diklat
kali ini, di kota yang sama, Kota Batu, saya pun memutuskan untuk hanya membawa
selembar jaket. Tidak ada selimut, apalagi selimut tebal.
Dan agaknya memang begitulah kondisinya. “Tempat seperti
ginian, masak sih dingin..??”, pikirku. Kami tidak berada di lereng gunung,
apalagi di puncak. Hanya sebuah tempat di tengah lapangan, yang dikelilingi
bukit-bukit yang dipadu dengan pohon pinus. Ya, kami sedang berkemah. Dan
memang begitulah suasananya, hingga pukul 10 malam, hawa dingin itu tak terasa
sama sekali bagi saya. Namun sebentar kulihat teman-teman lain mulai merapatkan
jaket dan sarung mereka, tanda-tanda mulai kedinginan.
Agaknya tak lama kemudian, saya pun harus merubah pendapat
saya. Sekitar lewat jam satu malam saya pun berkali-kali terbangun oleh karena
hawa dingin. Sesekali bisa tidur, namun toh berkali-kali terbangun juga
akhirnya. “Untung saja”, tak lama setelah itu, saya pun dibangunkan panitia,
untuk kegiatan renungan malam. Dengan mata diikat, dan dituntun seorang
panitia, saya “digiring” keluar menuju sebuah lokasi. saya kehilangan orientasi
saat itu. Tidak tahu mana arah timur, barat, atau utara. Namun yang pasti,
sekeluar saya dari tenda, hawa dingin, langsung segera menusuk sendi-sendi ini.
Suasana didalam tenda yang dinginnya saja sudah mampu membangunkan saya
berkali-kali, ternyata kalah dengan di luar tenda. Bisa dibayangkan ketika, masih
dalam keadaan mata tertutup, saya disuruh duduk menghadapi salah seorang
senior.
Andaikan disuruh push up, barangkali saya lebih menyukai
hal itu. sekedar untuk menghangatkan tubuh. Namun kali itu tidak. saya hanya
bisa duduk.
“Dingin ya Hid..??”, senior itu coba menyapaku.
“Dingin sekali mas..!!”, jawabku sambil menggerak-gerakkan
lengan, coba mengusir hawa dingin itu.
Bagaimana tidak dingin coba, pakai jaket atau tidak,
rasanya sama saja. Saking dinginnya, tubuh ini serasa mati rasa. Ya, benar, mati
rasa. Tidak ada lagi yang bisa dirasakan selain dingin. Saking dinginnya,
ketika disuruh mensimulasikan sebuah taujih, dan wawancara lainnya, mulut ini
seolah sulit untuk diajak bicara. Padahal jika dalam kondisi biasa, saya dikenal
cerewet. Namun tidak kali itu. Susana dingin mencekam seolah juga membekukan
otak dan mulut kami. Yah bisa dibayangkan, bagaimana ketika kita sulit sekali
berbicara dan berpikir jernih.
Jadilah di malam-malam berikutnya, tidur saya tidak bisa
nyenyak. Bahkan saking dinginnya, saya tetap ber-kaus kaki ketika sholat Subuh.
Akhirnya sepulang diklat itu pun saya terkena Flu…. ya, baru kali itu, saya
betul-betul merasakan dingin yang sebenar-benarnya. “Kalau di Batu, bulan-bulan
begini, suhu dini hari bisa sampai 14 derajat lho..!!”, tukas temanku beberapa
hari sebelum diklat.
Namun agaknya, apa yang saya keluhkan di diklat tadi,
ternyata tidak ada apa-apanya dibanding cerita salah seorang ustadz kami.
Ustadz Dwi Aprianto namanya.
“Teman saya bilang, bahwa di Bosnia itu, suhunya bisa
mencapai minus 20 derajat.”, ustadz Dwi memulai ceritanya. Belau memang punya
teman-teman yang sudah pernah ber[erang ke medan-medan jihad. Di Afghan, maupun
di Bosnia.
“Hahh..!!
minus 20 derajat..??” Di Batu yang masih 14 derajat diatas nol saja sudah
seperti itu, apalagi yang minus 20, seperti apa coba..??
Ustadz Dwi melanjutkan ceritanya, “Dalam suhu yang seperti
itu, hidung ini rasanya sudah seperti tidak terasa lagi. Sudah seperti
hilang..!!”, tutur beliau disambut gelak tawa kami. “Bahkan dalam satu jam,
kalian bisa mati kedinginan”
“Tapi katanya seperti itu tidak ada apa-apanya karena di
Afghan itu katanya malah lebih dingin daripada itu.” Lanjut beliau.
lebih
dingin daripada itu..??? bayangkan coba..!!
Beliau lantas bercerita tentang salah seorang Mujahidin di
sana. Di medan jihad sana itu, ada salah satu Mujahidin, yang karena tugasnya ia
hanya bisa bertemu pasukan lainnya, hanya sekali dalam sebulan. Ya, betul,
sekali dalam sebulan.
Mujahidin tersebut biasa ditugaskan untuk berada di
puncak-puncak gunung Bersalju. Di tempat-tempat yang minus 20 derajat seperti
tadi. Ia dibekali dengan senjata antipesawat. Tugasnya tak lain hanyalah mecoba
merontokkan pesawat-pesawat musuh yang melintas. Jadilah setiap hari, yang ia
lakukan, tak lain hanyalah menunggu,menunggu dan menunggu. Ketika ada pesawat
atau helikopter yang lewat, maka tak lain tugasnya kecuali menembak pesawat
tersebut. Kan tidak setiap hari ada pesawat lewat kan…?? Tidak ada kawan
tidak ada alat komunikasi, tidak ada telepon, HP, radio, televisi, apalagi
internet.
Ustadz Dwi melanjutkan, “Dia disana, tidak punya teman
siapa-siapa. Temannya disana hanyalah Al Quran, dan Allah SWT, tak lebih”
“Dan dari sini,
sebenarnya tidak akan ada satu hal pun yang mampu membuat ia melakukan itu,
selain keikhlasan.”, ustadz Dwi, menutup ceritanya.
Dalam hati saya bertasbih, Subhanallah, ada juga ya, orang
yang seperti itu…!! ya, saya pun mengakui, tidak mungkin seseorang mau untuk
ditempatkan di tempat ekstrim seperti itu kecuali ikhlas. Tidak akan ada satu
hal pun yang mendorong Mujahidin tersebut mampu untuk tetap bertahan SENDIRIAN di
tengah dinginnya puncak-puncak gunung bersalju kecuali IKHLAS.
Ikhlas tidak bisa disamakan dengan rela, karena konteknya
memang berbeda. Ikhlas adalah semata-mata mengharap keridhaan Allah, bukan rela
menjalani sesuatu, ataupun karena kehilangan sesuatu.
Mereka tahu bahwa bayaran dari Allah adlah jauh lebih
mulia, dari apapun yang ada di dunia. Di saat ketika ber-ribu-ribu mil jauhnya,
kita masih bisa menikmati teh hangat,makan hingga kenyang, melihat tv, berkumpul
bersama keluarga dan sebagainya, para mujahid itu justru memilih untuk bertahan
di tempat ekstrim. Bertahan dan menunggu untuk menghancurkan musuh-musuh Allah
yang lewat. Saya yakin, mereka tidak akan mengharapkan bayaran karena itu.
Tidak seperti tentara-tentara, serbia, uni soviet, atau bahkan Amerika
sekalipun..!! mereka juga tidak akan mengharapkan publikasi dari media-media
kelas dunia. Bagi mereka, Cukuplah Allah yang menyaksikan, ya… cukuplah Allah
yang menjadi tempat kembali mereka.
Ah, tanpa terasa, saya pun membayangkan, bagaimana ketika
mereka berjam-jam menunggu, atau bahkan berhari-hari menunggu pesawat musuh,
mereka berjuang melawan kedinginan mereka , melawan musuh-musuh Allah, melawan
kesendirian dan kesunyian mereka, dan lebih dari itu, mereka harus berjuang
melawan noda-noda hati yang dapat merusak keikhlasan mereka. Mereka mengisi
waktu-waktu mereka dengan tilawah, berteman dengan Al Quran, bahwa mereka tiada
pernah sendirian, karena Allah pasti lah selalu bersama mereka.
Barangkali hanya harapan dan keikhlasan, yang mampu menghangatkan
hati-hati mereka. Harapan bahwa semua ini akan berakhir dengan kemenangan
mereka, atau pun syahid di jalanNya. Keikhlasan bahwa cukuplah Allah yang akan
membayar Nya, tak perlu pujian, bayaran, atau apa pun dari manusia. Allah lebih
tahu akan semuanya.
Ah sayang sekali, kenapa saya baru mendengar cerita
tersebut setelah diklat. Mendengar cerita tersebut, tanpa terasa, diri ini
menjadi malu sendiri.
“Ya Rabb, betapa mudah hambaMu ini mengeluh akan sebuah
kesulitan di jalanMu, sementara banyak diantara hamba-hambaMu yang lain,
sungguh rela dan jauh lebih berat perjuangan mereka..!!,
Ya Rabb, begitu banyak nikmat yang engkau berikan kepada
kami, namun lalai untuk kami syukuri. Ya Rabb, muliakanlah mujahid-mujahid itu dengan
jannah Mu
Ya Rabb, muliakanlah mereka yang menyeru kepada jalanMu,
yang menyeru manusia kepada Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, mereka yang berjihad
menjaga tegakknya izzah agamaMu.. Ya
Allah, ikhlaskanlah hati-hati mereka..!!
Malang, 21 Juni 2006
Ketika flu itu masih ada…
Toni tegar Sahidi (18 th)
Mahasiswa Ilmu Komputer-Unibraw
Mobile (feedback) 08175404373
http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com