dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for May, 2006


membeli kekhawatiran

Membeli
Kekhawatiran

Jika ditanya, apa hal didunia ini yang mampu membuat saya menangis, maka
jawab saya adalah Ibu..!!

Kehidupan dan aktivitas kampus yang lumayan padat, mau tak mau mendorong
saya ingin segera memboyong Sepeda Motor ke

Malang

. Apalagi dengan pertimbangan bahwa di
rumah, di Ponorogo sudah tidak ada lagi yang menggunakan motor tersebut. Ibu
tidak bisa mengendarai sepeda motor, Ayah sudah ada sepeda motor dinas, sedangkan
saya dan kakak sama-sama kuliah di

Malang

.
Ditambah lagi pertimbangan bahwa tempat kos kakak dan saya tidak terlalu jauh,
sehingga otomatis bisa dipakai bergantian bila diperlukan.

Akhirnya diputuskanlah saat itu, bahwa sepeda motor keluaran tahun 2001
itu akan diboyong ke

Malang

.
Namun agaknya hambatan ada saja. Banyak teman yang menyayangkan begitu
mengetahui bahwa kemungkinan besar motor tersebut akan dikirim via paket atau kurir.

“Kok nggak dikendarai saja..???,

kan

bisa lebih murah. Lagian
lho nggak habis bensin banyak kan..??
20 ribu lho, udah nyampek…!!! daripada dipaketin..?? 200 ribuan. Ponorogo
Malang, masak nggak berani..??” tantang seorang teman.

Terus terang, dalam hati saya pun membenarkan. Memang sejak awal, saya
mengusulkan bahwa lebih baik dikendarai saja, karena toh nggak akan habis
bensin banyak jika dibandingkan dengan biaya dipaketkan. Waktu perjalanan pun
hanya 6 jam.

Namun agaknya orangtua berkata lain. Ibu lebih menghendaki apabila motor
tersebut dipaketkan saja. Beliau khawatir jika nanti terjadi apa-apa di jalan. Dalam
hati, meski agak kurang setuju, namun tak urung saya pun menurut juga. Maka
pada suatu akhir pekan, saat kegiatan dikampus mulai agak mengendor, saya
pulang. Pada awal-awalnya saya masih sempat terpikir untuk mencoba sekali lagi
bernegoisasi dengan ibu, namun akhirnya tak urung saya menyerah juga. Alasan
bahwa saya bisa, dimentahkan oleh ibu. Ditambah lagi bahwa syarat bahwa saya
diperbolehkan jika ada teman yang uga ikut, sehingga bisa bergantian tidak terpenuhi. Maka jadilah, motor tersebut
harus dipaketkan via kurir.

Jadilah keesokan paginya, saya dan ibu pergi berputar-putar keliling

kota

untuk mencari jasa paket
yang mau menerima pengiriman untuk sepeda motor.

Akhirnya ketemu juga disebuah jasa paket titipan kilat, yang mau
menerima pengiriman sepeda motor. Biayanya waktu itu sekitar 170 ribu. Sebuah
biaya yang sebenarnya boleh dibilang lebih murah dari survey sebelumnya di jasa
paket yang lain yang berada di kisaran 200 ribu-an keatas.

Sebelum transaksi selesai dan uang dibayarkan, Seperti biasa terjadi
dialog antara ibuku dan petugas administrasi paketnya. Kebetulan petugas
tersebut juga wanita yang sebaya dengan ibuku, sehingga ia mudah akrab dengan
ibuku.

Dan mulailah pertanyaan dan percakapan
basa-basi dari dua orang yang mulai berkenalan. Percakapan tersebut terus berlanjut
hingga …”

“Iya Bu, sebagai orang tua khan khawatir kalo anaknya ada apa-apa di
jalan.”ucap ibuku saat membayar uangnya.

“Ah, nggak sih bu, sebenarnya bisa kok saya kendarai”, jawabku agak
menyangkal. “Ibu cuman terlalu khawatir..!!”, lanjutku seolah menaikkan harga
diri.

“Mas..!!”, ibu tersebut menegurku, “Yang Begitu itu, bukan pada masalah
sampeyan bisa atau tidaknya mengendarai, tapi ini lebih pada kasih sayangnya
ibu sampeyan, bukan begitu Bu..??”, tanya beliau pada ibuku.

Aku hanya diam, kupikir-pikir ada benarnya juga. “Ibu sampeyan itu
khawatir kalau nanti di jalan terjadi apa-apa pada sampeyan..!!”

“Betul Bu..”, Ibuku membenarkan, “Sebagai orang tua, kita

kan

lebih baik memilih
kehilangan uang nya daripada khawatir-khawatir anaknya ada apa-apa di jalan
nanti..”

“Degg….!!!”, jawaban ibuku kontan membuat mulutku terasa tercekat.
Hampir-hampir tak bisa kubayangkan betapa aku malu pada ibuku sendiri. Betapa,
ketika suasana tanggal tua seperti sekarang, yang mana untuk kepulanganku saja
ibu harus mengambil uang dulu di bank, Ibu masih sempat-sempatnya untuk mengatakan
seperti itu. Apalagi untuk sekedar, menghilangkan kekhawatiran tentang
perjalanan anaknya. Ah, ibuku membeli kekhawatiran terhadap anaknya sendiri.

Akhirnya diputuskan saat itu juga, sepeda motor tersebut, dipaketkan,
dan keesokan harinya saya pun balik ke

malang

dengan travel. Itupun karena dipaksa lagi, dengan alasan saya bawa laptop.
Padahal sebelumnya saya ingin naik bus yang biayanya lebih murah. Ketika sudah
setengah perjalanan, karena tak kuasa lagi aku menahan emosi, dan saat itu
pula…. Seorang laki-laki seperti saya akhirnya menangis. Sungguh menangis,
betapa besar sebenarnya kasih sayang seorang bernama ibu.

Untung saja, suasana travel agak gelap dan lumayan kosong, ,sehingga
tangisanku tak terlalu menarik banyak perhatian. Dalam perjalanan pula, seorang
teman bertanya melalui sms-nya, apakah ia harus izin ibunya dulu untuk ikut
dalam sebuah acara penting yang mengharuskannya keluar

kota

. Tanpa pikir panjang, langsung kujawab
“Ya, antum sebaiknya ijin dulu,” balasku dalam SMS nya. “antm tahu,bahkanRasul
prnah memberi ijin untuk tidak ikut perang gara-gara nggak diijinin ma ibunya”,
lanjutku.

Dan setelah itu, dalam gelap nya suasana
travel, dan diantara deru mesin mobil dan lalu lintas, air mataku pun
berlanjut…
Sebuah tangis bahwa
ibuku rela untuk membeli kekhawatiran terhadap anaknya sendiri. Ya, membeli
kekhawatiran, kekhawatiran terhadap hal yang belum terjadi.

Ya Rabb, betapa besar kasih sayang dan karunia dari Ibuku, dan betapa
kecil jasa hamba-mu ini membalas jasa beliau.
Sejak peristiwa itu, ketika teman-teman menanyakan kenapa kok tidak
dikendarai saja, saya pun menjawab singkat, “Mungkin kamu belum pernah
merasakan betapa besar kasih sayangnya ibumu”, dan mereka hanya bisa diam.

 
Toni Tegar Sahidi (18th)
Mahasiswa Ilmu Komputer,
FMIPA – Unibraw/ 08175404373
See http://tonitegarsahidi.blogs.friendster.com

Ayam yang bahagia

Ayam Yang Bahagia

Meski laki-laki dan
nama saya Tegar, namun tak urung, di masa kecil saya, hati ini miris setiap
melihat ayam, sapi atau kambing yang disembelih. Ke-tegaran diri ini
seolah-olah terkuras setiap melihat ayam yang disembelih oleh Ayah saya.
Hampir-hampir diri ini nggak tega setiap disuruh Ayah memegangi ayam tersebut,
untuk kemudian disembelih oleh beliau. Apalagi ketika melihat ayam tersebut
ditinggal sambil mengelepar-menggelepar. Wuih… tersiksa sekali kelihatannya.
Namun meskipun begitu, tak urung, senang juga memakan ayam tersebut ketika
sudah dihidangkan di meja oleh ibu tercinta. Jika sudah dihadapan mata,
bayangan kematian si-ayam tak urung akhirnya hilang juga terganti oleh rasa
lapar.

Jangankan hanya
ayam, kambing ataupun sapi di saat hari raya, bahkan untuk binatang yang
terkadang disebut menjijikkan seperti seekor ulat, kecoa, atau orong-orong
sekalipun diri ini untuk membunuh rasanya nggak tega. Jika mereka ada, biasanya
saya hanya menyapunya dan membawanya keluar rumah. Barangkali yang saya sangat
tega, sedemikian halnya Anda-anda ini, adalah soal membunuh nyamuk. Untuk
urusan yang satu ini, hampir-hampir tidak ada kata ampun. Barangkali kita hanya
tega dengan hal-hal yang menyakiti kita. Apa ya begitu..?? entahlah.

Tetapi untuk
binatang-binatang yang disunnahkan untuk dibunuh, seperti ular yang masuk dalam
rumah, maka beban untuk tega bisa sedikit terkurangi. Namun jika masih tidak
tega juga, biasanya saya panggil Si Pus untuk membunuh dan memakannya. Lumayan,
selain bisa melakukan sunnah, juga sekalian memberi makan si pus he..he…

Agaknya rasa tak
tega tersebut masih bercokol kuat sampai suatu ketika kami sekeluarga
berkunjung ke rumah Paman saya di daerah Pamekasan, Madura. Paman saya yang
satu ini orangnya lumayan taat beragama.

Ketika kami
sekeluarga disana, suatu waktu beliau bercerita. Bahwa dahulu, ketika ia masih
lumayan muda, masih bujang gitu maksudnya, paman saya satu ini pernah
seolah-olah bisa meraba hati orang lain. Agaknya tak hanya orang, namun bahkan
terkadang hal-hal yang lain. Salah satunya ya mungkin ayam itu……….

Beliau menyebutkan
bahwa ketika seekor ayam bagaimana pun juga ia adalah punya nyawa. Meskipun
nantinya ia tiada akan dimintai pertanggungjawaban akan segala sesuatu apa yang
dimakan dan dilakukannya, namun setidaknya seekor ayam tersebut bisa senang dan
susah juga. Katanya sih begitu…..

Paman saya berkata,
pada dasarnya, seluruh makhluk didunia kan diciptakan setidaknya untuk sebuah
tujuan. Istilah kerennya mungkin segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan.
Ya, seperti halnya, kita manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (adz
Dzaariat 56). Makhluk-makhluk lain pun diciptakan Allah untuk hal-hal dan
tujuan tertentu. Dan sebuah hidup baru bisa dikatakan sukses dengan bahagia
apabila tujuan tersebut terpenuhi. Bukannya begitu pren..??

Lalu bagaimana dan
seperti apa akhir misi hidup seekor ayam??? Eh ya, ternyata so simple. Beliau
mengatakan, bahwa ketika di sembelih, seekor ayam itu punya 2 kemungkinan. Dia bisa
berbahagia atau bersedih. bahkan andaikata ia bisa tersenyum dan menangis,
tentulah ia akan tersenyum atau menangis tersedu.

Ayam tersebut
ternyata akan berbahagia, apabila ayam tersebut disembelih dengan menyebut
basmalah terlebih dahulu. Ayam tersebut merasa bahwa tugasnya di dunia telah
sukses, bahwa ia mati untuk tujuan memenuhi hajat hamba yang dicintai Allah. Ia
mati dalam keadaan disebut nama Allah. Bahkan lanjut paman saya ini, ayam
tersebut akan lebih berbahagia lagi apabila ia dimakan atau dipergunakan oleh
hambanya yang shalih dan shalihah, dan untuk tujuan kebaikan syukur-syukur
kalau Fiisabilillah. Masya Allah… ck..ck…ck.. ya mungkin seperti
antum-antum ini lah… Sungguh akhir yang bahagia, barangkali kalau manusia
bisa diibaratkan seperti mati dalam keadaan husnul khotimah, syukur kalau mati
syahid.
J Hanya saja begitulah akhir hidup seekor ayam, ia tidak
akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat seperti kita layaknya manusia,
namun setidaknya ijinkanlah agar akhir hidupnya, tajamnya pisau yang digunakan
disertai ucapan basmalah, mampu membuatnya tersenyum bahagia…
J 

 Dan sebaliknya,
seekor ayam tersebut akan bersedih, sangat bersedih, jika di akhir hidupnya, ia
disembelih atau bahkan dibunuh dengan sengaja (semisal dikepruk kepalanya)
tanpa menyebut asma Allah sama sekali. Ia bahkan lebih sedih lagi, jika
nantinya ternyata dirinya yang sudah mati dipergunakan untuk hal-hal maksiat,
bahkan seperti digunakan untuk sesajen yang jelas-jelas menyekutukan Allah.
Sungguh akhir yang sangat tidak menyenangkan. Seolah-olah tidak ada rasa
kebanggaan pun dalam dirinya. sekiranya ada kumpul-kumpul ayam di akhirat,
tentulah dia menunduk dengan wajah malu dan sedih dihadapan teman-temannya
sesama ayam. Bahkan mungkin jauh lebih sedih dibandingkan ayam-ayam yang
menjalani “pemusnahan massal” akibat virus Flu burung belakangan ini. Bagaimana
juga kan, matinya ayam-ayam sakit tersebut lebih terhormat dan bermanfaat bagi
manusia buat mencegah penyakit Flu burung yangsangat berbahaya. Daripada cuman dia
yang cuman buat sesajen. Ah untung saja memang tak ada yang namanya kumpul-kumpul
ayam di akhirat seperti itu. Namanya juga ‘sekiranya’ …..

 Entah benar atau
tidak yang jelas penjelasan dari paman saya ini membuat saya tercenung dan
merenung. Ya setiap dari kita tentulah diciptakan untuk sebuah tujuan dan
alasan. Jika ayam tersebut berbahagia dengan disebutnya nama Allah di akhir
hidupnya, selayaknya kita berharap agar kita pun bisa turut mengucap kalimat
Laaillahhaillallah, Tiada Tuhan selain Allah, di akhir-akhir hidup kita.

 Entahlah semua ini,
yang jelas setidaknya ia mampu memberi sedikit rasa tenang bagi diri saya
ketika melihat seekor ayam, kambing atau sapi atau pun binatang yang lain
sedang disembelih untuk yah keperluan kami-kami juga, tentu dengan mengucap
basmalah dong….!!!

Wallahu ‘alam

 

-Toni Tegar Sahidi- (18 th)
Ilmu Komputer - Universitas Brawijaya Malang
08175404373

 

Pendidikan Berbasis Imajinasi

Ada satu hal yang saya yakin, hampir semua orang mampumelakukannya. Hal yang biasa kita sebut denganberimajinasi. Sesuatu yang hanya terus berada dalamalam pikiran kita. Beberapa orang menyebutnya mimpi,sementara beberapa orang lagi menyebutnya angan-angan.Meski sebenarnya disini perlu dibedakan antara mimpidana angan-angan, karena sebenarnya batas utama antarakeduanya adalah ada tidaknya sebuah aksi.. Karenasesungguhnya mimpi adalah kata yang menyederhanakanrumusan dari segenap keinginan-keinginan kita,cita-cita yang ingin kita raih dalam hidup, atau visidan misi. Yang mana Anis Matta menggambarkan mimpisebagai sebuah maket, maka mimpi/imajinasi adalahminiatur kehidupan yang ingin kita ciptakan.

Salah seorang pakar pendidikan di kota malang,berkata, bahwa pendidikan di Indonesia sekarang, lebihmirip dengan pendidikan dunia video game. Seseorangbisa sangat hebat, menjadi seorang tokoh pemain divideo game. Kita ambil contoh dalam sebuah game fps(first person shooter), semacam Counter Strike yangsempat melegenda beberapa tahun lalu, seseorangterkadang begitu ahli menjadi seorang penembak. Taktanggung-tanggung, senapan mesin, sangat mudah iaoperasikan dan dibawa-bawa dengan mudah, lantasditembakkan dengan akurasi yang mengagumkan. Ataudengan mudahnya kita menjadi seorang sniper (penembakjitu) yang membidik dari kejauhan, lalu “Dor..!!”,lawan jatuh dengan sekali tembakan.

Hal yang barangkali akan jauh berbeda jika iabertindak di dunia nyata. Kecuali ia memang seseorangdari militer, kita yakin, ia tidak akan mudahmenembakkan senapan mesin dengan 200 butir pelurulangsung dengan tangannya sendiri. Atau menembak “oneshot one kill” dengan mudahnya menggunakan senapansnipernya. Disini jika ia adalah orang awam, sebuahkemustahilan yang akan dikatakan orang-orang militerpada Anda. Dia belum memperhitungkan bobot senapan,recoil (hentakan), scope, ataupun suara aslinya yangsebenarnya bisa sangat mengganggu.

Ya, seseorang mampu menjadi kelihatan hebat di duniamayanya, entah itu dunia dalam game, atau sebatasimajinasinya. Di dunia yang tidak berwujud dalam alamnyata, dunia dimana Anda mampu mati berkali-kali, dankemudian bengkit pula berkali-kali. Seseorang mampumenjelma menjadi sangat hebat disini. Namun ketikaorang tersebut dibawa ke dunia nyata, maka dirinyaseolah tak ada apa-apanya.

Ya, barangkali disinilah sisi yang perlu kita cermatidalam dunia pendidikan kita. Bahwa sebenarnya, selamaini kita terlalu didorong, dan diarahkan kepadapendidikan berbasis imajinasi saja. Ketika seseorangbelajar matematika, maka angka-angka itu hanya terolahdalam benak imajinasinya saja. Ketika seorangmahasiswa ekonomi belajar mengenai ekonomi makromikro, atau mengenai inflasi deflasi, maka yangsesungguhnya terjadi, ia hanya mampu membayangkantentang bagaimana dan kejadian apa sajayang mungkinterjadi. Bukannya dalam membayangkan semisal negarakita terdapat kasus seperti itu. Bahkan sebenarnyajika boleh dibilang, adanya sebuah praktikum dalambeberapa kurikulum bidang studi eksak, sebenarnya takbanyak membantu. Hal ini dikarenakan oleh padapraktikum yang selama ini dijalankan, adakecenderungan bahwa yang mereka lakukan adalahmengaplikasikan teori dalam bentuk serangkaian alatpercobaan. Dan bukannya mencoba mensimulasikankejadian dunia nyata dalam bentuk praktikum. Sehinggasekali lagi, hal diatas pun berulang. Kita hanyamempraktekkan teori, dan bukan menelususuri kejadiannyata dalam bentuk percobaan. Dan sayangnya, hal inidiperparah lagi, dengan adanya kecenderungan daripraktikan, untuk tidak terlalu memahami apa yangmereka lakukan. Hal ini biasanya karena tuntutanmereka dalam membuat serangkaian laporan daripercobaan yang telah mereka lakukan, dan bagi sebagianbesar mahasiswa, hal ini membosankan.

Barangkali inipulalah yang mendasari, kenapa seorangsarjana dari sebuah Perguruan Tinggi, ketika lulus,mereka cenderung untuk MENCARI, dan bukan MEMBUATsebuah pekerjaan. Ya, karena tak lebih bahwa merekakuliah untuk mengerjakan sebuah masalah, dan bukanmencari, menemukan, lantas menyelesaikan masalahtersebut.  Barangkali itulah, yang kenapa banyakperusahaan memilih untuk, masih harus men-trainingterlebih dahulu calon karyawan mereka. Hal ini pulayang menyebabkan seorang mahasiwa bisa sangat pandaidi perkuliahannya, namun akhirnya ia tidak mampuberkarya di dunia kerja, hanya karena ia tidak bisamengaplikasikan ilmunya dengan baik di bidangnya.

Apa yang dapat kita simpulkan dari kedua fenomenadiatas, bahwa lulusan dari sistem pendidikan kita,boleh dibilang, Belum siap pakai. Tidak peduli,darimanapun ai berada, baik lulusan sebuah SMP, SMA,ataukah perguruan tinggi sekalipun. Dengan kata lain,selama duduk di bangku pendidikan, kita terlalu banyakdi-cekcoki- dengan hal-hal yang berbau teoritis, danbukan aplikatif. 

Namun sebenarnya, di satu sisi, ketika pendidikandalam bentuk dunia nyata sulit diwujudkan, terlebihdari kemustahilan menciptakankondisi, ataupun kendalalain, semisal besarnya biaya yan dibutuhkan, tidaklahmengapa jika akhirnya memilih untuk menggunakanpendidikan berbasis imajinasi/pendidikan dunia maya.Meski diakui dengan seala kekurangan dan kelebihannya,namun hendaknya disini, para pelaku pendidikanmenggunakan sistem dan alur yang tak hanya asalimajinasi.

Dalam artian disini, pendidikan dunia maya yangseharusnya kita terapkan adalah mengimajinasikansebuah hal yang konkret, dan aplikatif. Dalam artian,kita akan banyak berhadapan dengan soal-soal yangmenyangkut kasus-kasus di kehidupan nyata, untukkemudian diselsesaikan. Meskipun sebenarnyua hal initidak terlalu efektif, karena pelajar tidak mampumenerapkan ilmu mereka secara langsung, namunsetidaknya mereka telah mendapat sebuah gambaranmengenai dunia nyata dan manfaat dari apa yang telahmereka pelajari. 

Dosen saya, Wayan Firdaus M, seorang dosen di IlmuKomputer, Universitas Brawijaya emngatakan, salah satukelemahan pelajar Indonesia itu adalah pada soalcerita. Beliau mencontohkan bahwa ketika mahasiswanyadihadapkan pada sebuah soal konkrit, dalam artiansudah berupa angka-angka yang tinggal diolah, hal itusangat mudah bagi mereka. Namun ketika soal itu diubahmenjadi sebuah bentuk cerita, yang masih membutuhkanpengolahan dan penerjemahan menjadi angka-angkakonkrit, mahasiswanya mudah mengalami kesulitan. Halini mudah ditelusuri, pasalnya semenjak kecil kitasudah terlalu banyak diajari hal-hal teori. Pendidikandi Indonesia lebih cenderung pada hal-hal teoritis,dan bukan pada aplikatif. Kita canggih dalam hal-halteori namun ketika kita disuruh menyelesaikanpermasalahan dunia nyata yang berhubungan dengan apayang kita kuasai, belum tentu kita mampumenyelesaikannya dengan baik.

Kita ambil sebuah contoh nyata, dalam seluruh riwayatpendidikan yang saya alami, hal yang paling berkesanadalah mengenai pelajaran matematika di Sekolah dasar.Disana saya diajari untuk melakukan permisalan,semisal ada 5 buah apel, jika diambil 3, maka tinggal2. Pelajaran dengan system dan model seperti ini,sesungguhnya akan merangsang siswa untuk melakukanimajinasi secara aplikatif. Dan bukan sebatas teorisaja. Semakin naik tingkat pendidikan saya, semakinsulit dijumpai soal-soal yang melibatkan contoh riildalam dunia nyata. Kita diajarkan integral, diajarkanturunan, kalkulus, dan sebagainya tanpa tahu untuk apasebenarnya kita belajar hal tersebut. Entah apakah halini karena sang guru tidak mampu memberi contoh,ataukah karena kurikulum yang tidak tepat. Padahal,dengan adanya sebuah contoh dalam kasus nyata,seseorang akan tergelitik untuk ahirnya mengetahuimanfaat dari ilmu yang diperolehnya di sekolah. Karenadia tahu bahwa hal tersebut bermanfaat, maka otomatis,secara logika manusia biasa, ia akan ikut tertarikuntuk menguasai pelajaran tersebut.

Hal itulah yang mendorong dosen saya tadi, bahwa mulaitahun ini, semua soal-soal matematika yang dibuatnyauntuk ujian masuk di Unibraw menggunakan soal cerita.Dengan begini, hal tersebut akan membuat otaknya lebihberkembang, sehingga apa yang nanti dikuasai diperkuliahan, tak hanya sebatas teori. 

Satu hal lain yang terjadi dalam pendidikan kitaadalah adanya konsep yang keliru tentang untuk apakita harus belajar. Sebagai contoh, tak bisadipungkiri, bahwa sebagain besar orang-orang masukkuliah dengan jurusan-jurusannya kebanyakan karenaalasan, lulusan dari sebuah jurusan, atau universitastersebut, mudah mencari kerja.

Hal ini pulalah yang mendasari, kenapa ada banyakorang yang terkadang justru ingin ikut test ulang,atau semacamnya. Dan sebenarnya hal ini diperparahdengan ketidaktahuan mereka dengan apa yang dipelajaridan akan jadi apa mereka nanti setelah lulus darijurusan tersebut.

Semisal sebagai contoh, ada seorang teman saya yangbercerita bahwa ketika ia masuk di jurusannya (Hamadan Penyakit Tanaman), dia berpikir bahwa ada yangnamanya hama, tentulah dia akan banyak belajar tentangkimia (logikanya : pestisida), namun ketika masuk,ternyata banyak dari yang ia pelajari di kuliahnyajustru tentang biologi.

Contoh lain lagi, dan ini yang paling mencolok, adalahkebanyakan teman saya satu angkatan. Ketika merekamasuk ke Program Studi ilmu komputer, mereka berpikir,bahwa lulusan jurusan ini mudah dalam mencari kerja.Di sisi ini memang logis, namun saying ketika hal inidiperparah ketika mereka beranggapan bahwa dalamkuliah di ilmu komputer ini,  mereka akan banyakberhadapan dengan yang namanya software-software AdobePhotoshop, atau Corel draw, Macromedia Flash, WebDesign, atau bongkar-bongkar computer, atau jaringan,ataupun hal-hal yang sejenisnya. Dan hal ini pulalahyang terkadang kemudian menjadi pertimbangan paraorang tua ketika menemukan anaknya betah ber-jam-jamdi depan computer, lantas memasukkan anaknya keprogram studi ini.

Sebuah konsep awal yang keliru. Mengingat bahwa diilmu komputer, hal yang paling banyak dipelajariadalah mengenai konsep problem solving, penyelesaianmasalah. Jadilah banyak teman-teman yang lantas dankaget menemukan pelajaran-pelajaran matematika danstatistika, dan hal ini berakibat IP mereka drop disemester pertama. 

Disinilah sebenarnya yang biasa kita sebut dalamsebuah peperangan, dengan perang buta. Dalam artian,kita tidak tahu medan sama sekali. Kita masuk jurusanIlmu computer, namun setelah itu lantas kemana, ituyang tidak mereka ketahui.

Lantas dari sini pulalah kita coba melihat kembalikemana arah pendidikan kita. Apa pendidikan kita sudahmemiliki arah tujuan yang jelas..??? dalam artian,untuk apa dan apa saja target dari konsep pendidikankita yang sekarang..?? setelah itu semua, lantas yangperlu kita pertanyakan kembali apakah cara yang kitapakai selama ini, dan orang-orang yang melaksanakannyasudah sesuai..??? dalam artian pula apakah pelaku danalat, benar-benar cocok untuk mencapai tujuan tadi.Hal yang lucu tentu jika kita masuk fakultas sastrauntuk memperdalam ilmu tentang komputer.

Sebuah pertanyaan kecil, untuk pendidikan di negarasebesar Indonesia.

Toni Tegar Sahidi, mahasiswa Ilmu Komputer, Koordinator LSO Penerbitan, Forkalam- (Forum kajianIslam)FMIPA Universitas Brawijaya Malang