dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for April, 2006


Menghargai Sebuah Pekerjaan

Menghargai Sebuah
Pekerjaan

Jika ditanya, lebih baik mana antara menjadi
seorang pengemis ataukah seorang pemulung, maka saya yakin bahwa kebanyakan
diantara kita akan memilih si pemulung.

 Dewasa ini barangkali mencari pekerjaan adalah
suatu hal yang dirasa cukup sulit. Sampai-sampai pengemis pun adalah sebuah
pekerjaan. Dan itulah yang saya lihat di kampus kami di Universitas Brawijaya

Malang

. Bahkan pernah iseng saya hitung,
eh ternyata setidaknya ada 5 pengemis tetap. Dalam artian mereka yang setiap hari
hampir bisa dipastikan nge-pos di fakultas saya. Saya hafal betul wajah-wajah
mereka karena toh mereka memang itu-itu saja. Saya jadi berpikir, apakah
jangan-jangan pengemis itu sebagai sebuah profesi. Mereka belum tentu miskin,
karena pernah teman saya memergoki salah satu dari mereka menukarkan uang

lima

puluh ribuan. Nah loh..!!

 
Jadi miris pula, apakah karena sulitnya mencari
pekerjaan, dan melihat bahwa mengemis adalah cara mudah mendapatkan uang, maka
jadilah mereka menjadi seorang yang menjual rasa malu mereka hanya untuk
sekedar mendapat uang. Saya jadi teringat akan sabda Rasulullah yang mengatakan
bahwa barang siapa meminta-minta untuk mengumpulkan kekayaan maka hartanya tadi
akan menjadi bara api dinerakanya kelak. Naudzubillah. Semoga mereka tidak
seperti itu.

 
Lain lagi ceritanya dengan seorang pengamen,
posisi mereka masih sedikit lebih terhormat daripada pengemis. Tapi kalau
pengamen otomatis lihat-lihat dulu, bagaimana cara dia mengamen.

“Pengamen dulu, dibayar karena suaranya..”,
ujar temanku di sebuah perempatan lampu merah.

“Kalau sekarang..??” tanyaku antusias.

“Kalau sekarang, pengamen dibayar untuk pergi.”,
jawabnya disambut gelak tawa kami.

Ya, barangkali saya yakin tidak semuanya.
Sebagaimana memang saya lihat dalam perjalanan bus Ponorogo-Malang.

Ada

banyak pengamen, dan banyak kok
yang bagus. Barangkali hanya beberapa yang memang saya lihat, kalau boleh
dibilang, “mengemis dengan cara halus”. Dengan modal seadanya, ecek-ecek, atau
tepuk tangan, dah gitu suaranya nggak merdu lagi. Mereka yang ini cenderung
bukan menghibur kita, tapi lebih pada menyentuh sisi kemanusiaan kita.

 
Barangkali itu pula yang menjadi pertimbangan
teman saya di Ilmu Komputer Unibraw, sebut saja si A, untuk tidak memberi pada
para pengemis tetap ini. Padahal yang saya tahu dia berasal dari keluarga kaya.
Bahkan sehari-hari dia sering membawa laptop ataupun mobil ke kampusnya. Namun
ketika kami berkumpul dan ada seorang pengemis, tak pernah sekalipun saya lihat
dia memberi. Saya tidak terlalu mempermasalahkan karena memang hal itu
tampaknya wajar di kampus kami. Terlebih si A ini adalah salah seorang yang
sering mengkompori teman-temannya untuk mulai bikin usaha sendiri. Istilahnya
bisnis kecil-kecilan.

 
Suatu waktu seusai perjalanan kembali ke kampus
dari makan siang,

“Menurutmu orang itu orang yang kerja apa pengemis..??”, tanya salah
temanku, si A tadi sambil melambatkan laju motornya.

Kulihat sepintas orang yang dimaksud temanku tadi, seorang wanita tua,
berjalan terbungkuk dengan sebuah gendongan karung besar di punggungnya.
Melihat karung itu, aku yakin ia bukan seorang pengemis, ia pasti seorang
pekerja.

”Sepertinya ya, lihat saja gendongannya”, jawabku singkat. Sempat kupikir temanku
ini hanya bertanya. Namun tak urung aku berupah pikiran ketika ia menghentikan
laju motornya.

 
Tak cukup disitu, dia pun mengeluarkan selembar lima ribuan dari dompetnya,
ia memutar balik laju motornya dan mengejar nenek tua tadi. Aku yang dibonceng
pun mau tak mau juga harus mengikuti.

 
Dari agak jauh aku hanya tersenyum ketika temanku yang dikenal konyol
dikelasnya ini mengejar dan memberikan uang kertas di tangannya. Kulihat nenek
tua tadi sempat terlihat kebingungan namun tak urung menerimanya juga. Segera
setelah menyerahkan uang itu, setengah berlari temanku tadi pun kembali

Saat dia kembali ia berkata, ”Saya itu lebih menghargai ma orang yang kerja,
daripada yang minta-minta.”, ujarnya sambil menstarter sepeda motornya.

”Yup, setuju, jarang loh orangyang seperti itu

 
Ya, dijaman sulit seperti ini, perjuangan seorang nenek tua untuk mau
mencari nafkah adalah sungguh patut diacungi jempol. Tidak menggantungkan pada
orang lain, apalagi dengan meminta-minta di pinggir jalan. Kontan aku juga
teringat pada seorang kakek tua di gerbang belakang kampus. Terkadang ketika
aku lewat disana, kulihat bapak renta itu sedang melayani orang yang membeli
gado-gado. Pernah aku membeli dari bapak ini, dan aku sadar bahwa pendengaran
bapak ini ternyata jauh berkurang. Tak sampai disitu, jalannya yang
tertatih-tatih di usianya yang kutaksir 70-an, sungguh membuatku semakin
kasihan. Apakah kakek ini tidak punya anak atau cucu yang merawatnya..???
tanyaku dalam hati.

 
Sungguh sebenarnya, barangkali para pengemis di kampusku seharusnya malu.
Mereka masih banyak yang jauh lebih muda dari nenek tadi, ataupun kakek penjual
gado-gado, para pengemis itu bahkan masih banyak yang jauh lebih kuat. Baik
kakek gado-gado ataupun nenek tadi sebenarnya lebih berhak untuk meminta-minta,
namun mereka memilih untuk tidak melakukannya.

 
Bagaimanapun juga, sama seperti halnya dengan temanku tadi, dan mungkin
kita semua, bahwa selayaknya kita mau menghargai lebih pada orang yang mau
berusaha. Bukannya saya mengajak Anda untuk tidak memberi sesuatu pada
pengemis, tidak seperti itu. Setidaknya berilah mereka. Dan berprasangkalah
yang baik bahwa mereka memang tidak mampu. Yah, itung-itung sedekah. Atau
bahkan jika bisa, marilah coba memberi mereka pekerjaan, setidaknya mereka pun
mampu bekerja, dan tentu saja, kita akan menghargai lebih pada mereka.

 
”Anak kecil yang ecek-ecek di
jalan itu ya, Aku sungguh lebih senang kalau mereka jualan koran”. Ujar Adam,
temanku lainnya di ilkomp. ”Mungkin hasilnya nggak seberapa tapi, itu bener jauh lebih baik daripada mengamen.”

Ya, menghargai sebuah karya memang bukan ditentukan pada hasilnya, namun
lebih pada bagaimana usaha seseorang tadi untuk meraih hasil yang diinginkan.

Kita menghargai usaha, dan bukan hanya hasil…..

Toni Tegar Sahidi

Rabu, 19 april 2006