dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Archive for February, 2006


Learn To Live

Learn to live

Dunia berputar dengan cepat…… secepat kita mengedipkan
mata……..secepat kita membalikkan telapak tangan…..

Wanderlei Luxemburgo palatih cerdas, ahli strategi, sangat disanjung pada
awal kedatangannya ke Real madrid……tak disangka-sangka enam bulan
kemudian dipecat dengan caci maki….. pulang ke Brasil hanya membawa
satu tas….baju kotor…. karena tak mampu bayar binatu di Madrid……

Titus…… Pangeran Romawi yang gagah berani, thn. 70 masehi dia hancurkan
kebudayaan yahudi…. enam bulan kemudian mati oleh sipilis karena
seleranya tak hanya pada wanita??……

John Barxton…… Akhirnya mengemis pada Bill Gates mohon pekerjaan bagi
anaknya……. Bill Gates orang yang dia pecat enam tahun lalu dari
perusahaannya saat Bill Gates tak sengaja menyenggol dengan tongkat mobil
dinasnya (Bill Gates saat itu memakai tongkat untuk berjalan) …..

Willy sangat berterimakasih pada Sarno, pagi tadi Sarno menyelamatkan nyawa
anaknya Caecil dengan membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi,
anaknya ditabrak lari sepeda motor saat akan menyebrang dekat TK tempatnya
bersekolah, saat itu Sarno kebetulan melintas dan segera menolongnya, jika
terlambat saja, maka Caecil akan lumpuh dan kehilangan daya ingatnya, atau
bahkan meninggal…… Sarno, mantan Office Boy di Kantor Willy, saat itu
sebagai Kepala Bagian Umum Willy meminta Sarno “keluar dengan Hormat”
karena Sarno menjalin kasih dengan Ully resepsionis pada kantor tersebut
dan berencana menikah, akhirnya Sarno dan Ully memutuskan untuk keluar dan
membangun usaha kecil-kecilan…. “No, apa yang bisa saya bantu untuk
membalas jasamu? engkau sudah bekerja?
dimana? bagaimana kabar Ully?’ demikian Willy mencecar Sarno dengan
pertanyaan…..
Sarno hanya tersenyum dan menitikkan airmata, ia tidak ingin menyakiti hati
Willy…… Saat ini, atas nama almahumah Ully yang meninggal saat
melahirkan, Sarno dan kedua anak kembarnya yang masih kecil adalah pemegang
93.5% saham perusahaan tempat Willy bekerja dan beberapa
grup perusahaan karena usaha kerasnya….. dan dia tetap tersenyum seperti
saat ia berpamitan dengan Willy enam tahun lalu………..

Manusia bisa berkehendak dan bertindak, tapi Tuhan punya rencanaNYA

Enam tahun? Enam bulan? Enam pekan? Enam hari? Enam Jam? Enam menit? Enam
detik? ……….. secepat apakah DIA akan membalikkan anda jika anda tak
tahu diri?

“Semoga kita termasuk orang - orang yang bersyukur atas nikmat yang
diberikanNya…..”

Harga Sebuah Istiqomah

 

Harga Sebuah Istiqomah

 

“Layang-layang
itu bisa terbang tinggi karena ia mampu menentang angin”

 

Beberapa waktu
lalu, saya mendapat kabar yang betul-betul mengejutkan. Salah seorang kawan SMA dulu, dikabarkan sudah
berbadan dua, alias hamil di luar nikah.

“Kurang tahu ya, sekarang katanya dia diterima kuliah di
Universitas X di Yogyakarta”, seorang teman memulai pembicaraan., “Tapi katanya
sekarang ia sudah dobel”.

Mendengar dobel,
pengganti kata hamil membuatku heran.

“Ah masak sih, trus…?”, tanyaku lanjut.

“Ya, maklum lah, sejak SMA saja pergaulannya saja
sudah kelihatan bebas. Pada awalnya aku juga nggak percaya, tapi setelah dengar
sendiri dari Si Anu, temen lengketnya dia, aku baru percaya..!!”, sambung
temanku dengan semangat.

Saya benar-benar tidak menyangka akan mendengar
hal ini pada awalnya. Begitu cepat manusia bisa berubah. Pantas saja,
belakangan ini ia kelihatan agak marah-marah di SMS-SMS nya, begitu gumamku
dalam hati. Sebenarnya tak masalah sih ia hamil saat kuliah, namun itu andaikata
ia punya suami yang sah disana. Suasana kehidupan bebas yang dijalaninya tak urung
membuatku “maklum” akan hal itu. Meski sebenarnya hal ini tak boleh menjadi
dalih atasnya.

 
Disela-sela
acara OSPEK yang padat, Mas Sukri, salah seorang aktivis BEM, bertutur kepada
kami, “Antum tahu nggak sih sebenarnya
apa hal yang paling membahagiakan bagi kita…??”

“Ketika kita
membantu orang lain..??”, jawab salah seorang peserta tak yakin akan
jawabannya.

“Ya, itu juga
benar, itu salah satunya, namun antum tahu nggak hal yang sungguh paling membahagiakan
kita..??”, Sukri berhenti sejenak, “Ketika kita bisa istiqomah dalam kebaikan.”

Istiqomah, bisa
diartikan untuk untuk tetap berada di jalan yang kita geluti sekarang. Untuk
bisa bertahan terbang tinggi di tengah terpaan angin yang kuat sekalipun. Untuk
memiliki sebuah laying-layang yang kokoh beserta talinya yang kuat. Hal yang
sulit ditemukan belakangan ini.

Perasaan baru
kemarin, seorang pejabat negara, berkata bahwa ia sebenarnya tak setuju dengan
demokrasi, namun saya pun tak urung menyayangkan saat seorang teman mengabarkan
bahwa pejabat tersebut tak lama ini berkata ia akan menegakkan Demokrasi di
Indonesia. Satu hal yang sangat disayangkan banyak kalangan.

Atau tak
perlulah kita jauh-jauh kesana, kasus teman saya yang sudah dobel di semester
pertama kuliahnya sudah cukup membuat saya banyak merenung. Memang teman
tersebut bukan tipikal aktivis, bahkan bisa dibilang seorang SO (Study
oriented). Prestasi akademisnya di SMA membuat ia banyak dikenal warga satu
sekolah. Ia memang bukan anak Rohis di sekolah kami, namun kerudung seolah tak
pernah lepas dari kepalanya. Satu-satunya hal yang membuat kami maklum,
hanyalah pergaulannya yang dirasakan agak bebas.

Peristiwa ini pun
sejenak membuat saya harus mengevaluasi kembali amal-amal selama ini, Mengapa
belakangan ini banyak Tahajud maupun amalan sunnah lain yang tertinggalkan. Dulu,
di awal-awal kuliah saja, bangun jam 3 untuk Tahajjud terasa sebagai hal yang
rutin, namun entah kenapa belakangan untuk Sholat subuh berjamaah pun seringkali
tertinggal. Ah, ingin rasanya masa itu datang kembali…., Ya Rabb, ampunilah
hamba-Mu yang lalai ini.

Begitu mahalkah istiqomah itu..??? wallahu ‘alam.
Yang jelas, Disinilah amal jama’i berperan menjaga kita. Begitulah tutur ustadz
kami.

 Ya Allah, wahai dzat yang membolak-balikkan hati
manusia, tetapkanlah hati-hati kami ini untuk tetap berada di jalanMu ya Allah.

 

 

Toni Tegar Sahidi, 08175404373

Malang, 3 Januari 2006,

Sebuah evaluasi dini di awal tahun.

 

Dokter Lima Ribuan - true ones

Dokter Lima Ribuan

“Satu Menit Tiga
Detik….!!!”

 

Tanya
saja pada orang-orang di kota Ponorogo, dari kaum menengah ke bawah hingga
jajaran top Pemerintah Daerah tentang sosok ini. Dokter Sunarno namanya, bisa
dibilang mulai dari tukang becak, tukang ojek, pegawai negeri, pedagang sayur, guru
bantu, hingga mahasiswa pun akan tahu dengan sosok satu ini. Dokter lima
ribuan, begitulah ia lebih sering dikenal.

Konon
dokter yang lumayan agamis ini dikenal karena tangan dinginnya dalam menangani
pasien-pasiennya.

Yen mboten mriki, mboten sumerap bu, ten
mriki kulo sampun cocok
*”, ujar salah seorang ibu tua kepada ibu saya.
Bahkan karena rumahnya bersebelahan dengan pemakaman umum, sering ia jadi bahan
candaan ibu-ibu, “Itu dokter apa dukun ya, kok manjur banget.”

Namun
bukan itu intinya, beliau menerapkan tarif flat alias tetap, semua sama 5000
perak. Dengan uang hanya segitu, apalagi di masa ekonomi masih belum
benar-benar pulih, membuat Dr. Narno betul-betul menjadi jujugan orang kecil
yang sedang sakit. Kalaupun ada biaya tambahan, itu biasanya hanya bagi mereka
yang pengin suntik. “sekedar ongkos ganti jarum suntiknya” begitu kata mereka.

Dengan
hanya berbekal lima ribu, mereka sudah mendapat obat satu pak kecil, entah obat
apa, karena konon obat-obat tersebut sudah disiapkan sebelum pak Dokter
menerima pasiennya. Begitu pasien datang, mereka ditanya sakitnya apa, lalu
tinggal dikasih obatnya, ataupun kalau tambah suntik, ya tinggal tambah ongkos
jarum suntuik. Meski terkesan aneh karena seperti tak ubahnya toko obat, namun
akhirnya bisa dimaklumi memang karena yang datang umumnya orang-orang kecil
dengan penyakit khas orang kecil, pusing, diare, batuk, pilek, demam, dan semacamnya.
Namun yang lebih aneh lagi, hanya dengan obat-obatan yang terkesan “asal”
begitu, hampir semua pasiennya sembuh, dan itulah kenapa mereka sering kembali
lagi apabila kelak mereka sakit. “Pengaruh sugesti”, demikian pikir saya.

“Saya
sudah cocok berobat di sini, kalau nggak kesini biasanya nggak sembuh-sembuh
bu, kalo kesini, satu dua hari lah kok ya sembuh..!!” tutur seorang remaja putri
menambahkan.

Pada
mulanya saya kurang percaya pada cerita ibu saya. Kebetulan ibu saya sudah
pernah berobat sekitar 4 tahun sebelumnya. Sebagai mahasiswa apalagi masih
mahasiswa baru, apalagi masih dalam kondisi kritis-kritisnya dong, atau lebih
tepatnya sok kritis, atau sok mahasiswa lah.

Akhirnya
mau tidak mau saya pun harus membuktikan sendiri kebenaran cerita tersebut.

Bermula
dari diri saya yang jatuh sakit sewaktu pulang kampung. Saat itu masih bulan
puasa, sekitar H minus 4, saya pulang. Entah kenapa di rumah saya langsung
jatuh sakit, sering buang air besar, dan itu pun dalam bentuk cair, istilahnya
diare. Hingga dalam sehari, terkadang saya bisa sekitar 4 hingga 5 kali,
padahal sebelum pulang saya sehat wal afiat.

“Tu
karena tahu mau pulang, di Malang nggak ada yang ngurusin kalo sakit, jadi
sakitnya ditahan sampai Ponorogo, he..he..he.. “ seloroh kakak saya.

“Nggak,
itu mungkin gara-gara kamu yang mudik malam-malam, pasti karena masuk angin
saat perjalanan.”, ibu saya coba membela.

Entah
apapun alasannya yang jelas akhirnya saya pun dibawa ke dokter Ani, dokter
langganan keluarga kami. Namun bukan dokter Narno ini, karena kebetulan saat
itu belum terpikir untuk membawa ke sana. Oleh dokter Ani, saya didakwa terkena
diare, sehingga oleh dokter dianjurkan untuk tidak melanjutkan puasa hingga
dirasa sembuh. Disayangkan memang, padahal sudah hampir lebaran, namun mau
dikata apa lagi, saat itu badan sudah benar-benar lemas.

Sekitar
dua hari kemudian, obat dari dokter Ani sudah habis, namun badan ternyata belum
sembuh benar, meskipun sudah agak mendingan. Pagi itu kami kembali lagi ke
dokter Ani, sekedar minta obat lagi, Namun apa dikata, di depan pagar,
terpampang kertas besar seukuran A3 bertulis, “Tutup, libur lebaran, buka lagi
tanggal 11 Nopember”. Rencana minta obat lagi akhirnya tidak jadi. Padahal
siang itu, kami sekeluarga harus pergi ke Surabaya, mudik ke tempat nenek dan
sanak saudara yang lain.

Namun
untungnya, saat tiba di rumah, ibu segera ingat, “Oh iya, ke dokter Narno saja,
waah kenapa nggak dari kemarin-kemarin ke dokter narno.., ayo ke sana..!!”.

Akhirnya,
jadilah, pagi itu masih sekitar jam setengah enam, kami berangkat lagi ketempat
praktek dokter Narno. “Ayo jangan siang-siang, ntar keburu ramai loh, moga-moga
aja dokternya nggak mudik”. Dan benar saja, jam di HP masih belum menunjukkan
pukul 6 namun suasana sudah ramai.

“Wah,
kok sudah ramai begini mi, ntar bisa-bisa lama nih..??”, tanyaku pada ibu saat
turun dari kendaraan.

“Ah
tenang saja, dokter ini, kalo menangani cepat kok, nggak sampai lima menit dah
selesai. Dah deh, kamu ntar pasti kaget saking cepetnya.”, Jawab ibuku yang
makin membuat saya semakin penasaran

Dari
perawakan, dan penampilan mereka yang datang, memang kelihatan kalau pada
umumnya mereka bisa dibilang bukan dari golongan orang yang mampu. Barangkali
hanya kami berdua dan seorang ibu-ibu yang berpakaian rapi di ruang tunggu.
Meskipun sudah ramai, namun dokter masih belum buka juga. “Masih nyiapkan
obat”, begitu kata pak tua berpeci hitam di antrian pertama.

Ruang
tunggu pasien itu terkesan sederhana, sekitar 4×4 meter. Tidak ada televisi
ataupun galon air minum seperti sebelum-sebelumnya saya ke dokter praktek,
apalagi suster atau petugas yang mendata pasien. Hanya kursi yang berjajar
melingkari ruang tersebut. Di tengah-tengahnya ada sebuah meja dengan beberapa
brosur iklan dan info-info dari produk obat tertentu diatasnya. Di dinding dan
jendelanya, tertempel stiker Pilkada. Ya, dokter ini juga pernah dicalonkan menjadi
wakil Bupati dalam Pilkada terakhir di kota kami, namun akhirnya hanya berhasil
memperoleh urutan ke 4. Kalah dengan calon yang sudah berpengalaman sebagai
“Mantan lurah”, begitu kata orang-orang.

“Kalau
dulu waktu mama kesini, waktu kakakmu masih SMA, disini masih lima ribuan,
nggak tahu kalau sekarang sudah naik, paling sekitar 10 ribu.”, ujar ibu saya
di ruang tunggu.

“Ya
mi, apalagi kan BBM juga dah beberapa kali naik, obat-obatan pun juga naik
tentu”, ujarku.

Sambil
menunggu, ibu saya ngobrol dengan seorang pasien di sebelahnya. Sementara saya
sendiri, namun karena malas bicara, apalagi masih ada sekitar 12 orang yang
antri, “Lama..”, pikirku, kubaca buku yang kubawa dari rumah. Tak sampai 15
menit, pintu sudah terbuka. Rambutnya yang sudah mulai kelihatan memutih
menunjukan sosok yang sudah berumur.

Bapak
berpeci hitam yang tadi kemudian masuk, “Nah, ini nih, lihat saja, nggak sampai
lima menit dia pasti sudah keluar”, kata ibu saya. Saya tidak terlalu
memperhatikan karena kurang begitu percaya. Ah masak sih secepat itu.

“Nah
tuh kan..”, kata ibu saya. Saya langsung tertegun karena tak sampai semenit,
orang tadi sudah keluar dengan sebungkus obat di tangannya. Kontan saya heran,
baru pertama kali ini, saya melihat orang berobat ke dokter sedemikian
cepatnya.

Dasar
sok mau tahu, saya pun coba-coba menghitung, berapa lama sih waktu seorang
pasien di dalam ruangan. Saat pasien ketiga masuk, Tit, saya jalankan stopwatch
di HP saya. Tit, saya hentikan stop watch saat pasien tadi sudah keluar. Saya
jadi tercengang melihat angka fantastis di layar HP, Satu Menit Tiga
Detik…!!!!. Pasien-pasien selanjutnya semakin membuatku takjub. Hanya dua
orang yang agak lama di dalam, karena pasien tersebut minta disuntik.

“Wah
kalau begini nggak sampai lama bisa selesai nih..”, ujarku pada ibu. Dan benar
saja, tak sampai lima belas menit kami pun sudah masuk di dalam. Di ruang
praktek dokter satu ini, tangan-tangannya cekatan, Beliau memasang tensimeter,
namun hanya dipompanya sebentar, saya yakin ia memang tidak mengukur tekanan
darah saya. Beliau lalu memijit lenganku, sambil bertanya, “Sakitnya apa
ini..??”.

“Sepertinya
diare dok, kemarin sudah ke dokter lain, tapi belum sembuh. Kalau disuntik gimana dok..??”, jawab ibu saya. Mendengar
kata-kata suntik, membuatku dag..dig..dug juga.

“Badannya
lemes, nggak baik kalau disuntik, ini obat saja.”, Jawab dokter kontan membuat
saya lega. Meski laki-laki, namun terkadang keder juga sih kalau membahas
masalah satu ini.

Setelah
meneyelesaikan pembayaran dan obat, kami pun keluar. Tak sampai lima menit
memang, dan di luar ruang praktek, saya hampir tertawa juga. Ada juga ya,
dokter seperti itu. Diagnosanya sangat simpel, bahkan menurut saya itu bukan
sebuah diagnosa. Apalagi kejadian tentang tensimeter tersebut, barangkali hanya
sekedar psikologis bagi pasien bahwa dia memang benar-benar diperiksa. Apalagi
psikologinya orang desa, kalau nggak begitu, belum ke dokter katanya. Ada-ada
saja.

Dokter
sunarno, bagi kota kami, barangkali lebih dari sekedar dokter. Benar dugaan ibu
saya, biayanya sekarang naik jadi 10.000, namun tetap saja, biaya tersebut
sudah tergolong murah, disaat banyak dokter umum lain, mematok tarif mahal,
Dokter praktek satu ini tetap dengan pendiriannya. Tarif inilah yang membuat
dokter ini tetap laris dan disukai rakyat kecil, namun juga ini pula barangkali
yang membuatnya terkadang diprotes rekan-rekan seprofesinya.

Namun
tak hanya itu, ditambah tangan dinginnya, yang konon katanya maksimal 2 hari
biasanya sudah sembuh. Entah benar tidaknya, namun obat dari Pak Dokter ini
belum sempat saya minum, namun saya memang benar-benar sudah sembuh. Terakhir
kali saya minum hanya sekali sekitar keesokan harinya di tempat nenek, di
surabaya. Saya jadi heran dan bertanya-tanya, ini apa gara-gara habisdari pak
Narno, ataukah dari obat Dokter Ani sebelumnya…?? wallahu ‘alam yang jelas
saya sembuh.

Tak
banyak memang dokter yang seperti beliau. Ketika di satu sisi, dokter seolah
menjadi label yang “waah”, hanya orang-orang berada saja yang mampu ke sana,
Dokter Narno telah mengabdikan dirinya sebagai Dokter Spesialis Rakyat Kecil.
Membuatnya disukai dan dicintai banyak kalangan, menjadi jujugan rakyat kecil
yang sakit. Andaikan saja semua dokter seperti beliau, barangkali Eko Prasetyo
tak perlu menulis buku “Orang Miskin Dilarang
Sakit”. Ummat bisa lebih sehat, termasuk juga kita berpikir sehat pula. Bahwa
uang bukanlah segalanya, Namun kebahagiaan lah karena bisa berbagi pada sesama.

Jika
orang berpikir mungkinkah sosok seperti Dokter Sunarno ini bisa kaya dengan
lima ribu per pasien, maka jawabnya adalah Ya. Beliau sudah naik haji, beliau
punya rumah yang meski sederhana namun bagus, beliau juga punya mobil kijang meski
tahun 90-an, terparkir di garasinya. Namun saya rasa bukan itu alasannya, andaikan
ia ingin lebih dari itu, saya rasa beliau pun mampu. Namun tentulah seberapa
besar uang tersebut, ia tidak akan mampu mengganikan kebahagiaan batin untuk
membantu mereka yang terpinggirkan. Kebahagiaan menghadapi rakyat kecil, untuk
membuat mereka mampu tersenyum puas dari sakitnya. Barangkali bukan karena
besarnya uang tersebut, namun karena berkah dari rizkinya.

Wallahu’alam,
Dalam hati saya berharap, semoga Allah memanjangkan umurnya, meridloi
pekerjaannya, memberkahi rezekinya. Dan semoga saja, akan banyak lagi muncul
dokter-dokter lain seperti beliau.

Dokter
Sunarno, tarifnya sudah naik menjadi Rp.10.000, namun entah kenapa kami masih
tetap lebih suka menyebutnya sebagai Dokter lima ribuan….

 

Ponorogo,
Penghujung akhir tahun 2005

-Ketika
diare itu muncul lagi-