dari BLog ini, masa depan ummat dan kesejahteraan mereka ditentukan..

Blog Saya Pindah


lama tak mengupdate blog ini, akhirnya aku pun mau tak mau menulis ini juga. Karena khawatir masih ada yang datang ke blog ini.

Kawan, blog saya sudah pindah. sekarang blog saya bisa diakses di http://www.tts.web.id

semoga barokah. Untuk kedepannya, blog ini tidak akan saya pakai lagi, selain hanya sebagai arsip.

Beasiswa Keinginan dan Beasiswa Kebutuhan


Beasiswa dan Kemewahan

Beberapa waktu lalu ada pemandangan yang cukup menarik perhatianku. Saat itu Senin sore, ketika aku sedang akan UTS matakuliah Riset Dasar Ilmu Komputer. Di sebelah ruang kelasku tampak berkerumun sekumpulan mahasiswa. Seperti biasa, paling sedang akan kuliah, begitu pikirku. Sedang menunggu dosen yang belum datang atau mungkin menunggu kelas yang masih dipakai. Biasa, pikirku.

Namun mau tak mau, aku pun jadi heran, ketika yang hadir tambah banyak, dan dari berbagai jurusan. Ada fisika, ada matematika, ada kimia, dan ilmu komputer juga. Tak pernah ada mata kuliah gabungan seheterogen ini di fakultasku. Maka aku pun coba bertanya ke salah seorang adik angkatanku, ”Ada apa akh, antum ada kuliah disini?”, karena dia dari ilmu komputer, aku pikir juga akan kuliah sore itu.

”Oh nggak ada, Ini akh, pembagian beasiswa”, jelasnya.

”Ooo.. ”, aku pun jadi manggut-manggut sendiri. Pantas saja, ada dari banyak jurusan yang berkumpul.

Aku tak sempat memperhatikan mereka lebih jauh, karena aku sambil mempersiapkan UTS, sedang baca-baca dari laptop, hingga akhirnya dosen pun masuk. Ujian tak berlangsung lama, karena memang bukan mata kuliah yang menuntut hafalan (saya paling susah menghafal), hanya pelajaran yang butuh banyak menulis dan ber-imajinasi, dan itu kesukaan saya.

Setelah presensi, dan menumpuk lembar ujian, aku pun keluar. Di sebelah kelasku, sekumpulan mahasiswa itu masih tampak berkerumun. Hanya saja bedanya kini mereka kebanyakan ada di dalam kelas, menunggu satu persatu dipanggil oleh Mas Heri, staf kemahasiswaan.

Aku tak ambil pusing, aku pun hanya berdiri di luar, sambil menunggu sahabatku yang tak terlalu suka menulis. Sesekali kulihat mahasiswa-mahasiswa itu, tampaknya tak ada yang memasang wajah sedih, semuanya tampak sumringah. Maklum, sore ini mereka ”gajian” pikirku.

Sambil menunggu, sayup-sayup aku mendengar suara itu, ”Kalau 500 ribu per bulan, ntar buat apa ya?”, aku hanya tersenyum mendengar itu. Aku coba mengintip ke dalam ruang kelas pembagian yang terbuka itu, barangkali saja ada sahabat yang memang kukenal agak kekurangan hadir disana. Namun yang kucari ternyata tak ada di dalam sana.

Saat itu, aku tak sempat berpikir lebih jauh karena sahabat yang ku tunggu akhirnya keluar. Kami pun segera beranjak, karena saat itu memang kami janjian akan mensetting komputer di warnet perpus untuk pelatihan esok hari.

Hingga pagi ini tadi aku merenung. Kini aku pun jadi berpikir, kira-kira apa yang akan mereka lakukan dari uang beasiswa mereka ya? Dengan nominal yang bervariasi, namun menurutku sepertinya minimal 250ribu per bulan, atau bahkan bisa jadi ada yang 500ribu per bulan. Tentu tergantung beasiswa apa yang beliau dapat.

Terlebih pembayaran beasiswa, biasanya tidaklah dibayarkan setiap bulan, melainkan langsung per-6 bulan. Sehingga jika seorang mahasiswa mendapatkan uang 250ribu/bulan, maka dia akan langsung menerima uang 1,5juta cash and carry. Jika beliau mendapat yang 500ribu/bulan, maka ia akan mendapatkan 3juta, cash and carry.

Kalau mereka dapat beasiswa kurang mampu, mungkin untuk kuliah, untuk makan dan keperluan sehari-hari, barangkali? Ah semoga saja memang mereka untuk itu. Kalau untuk beasiswa prestasi, aku memang tak terlalu memperdulikan, karena itu semacam kontraprestasi atas jerih payah prestasi mereka. Untuk peningkatan akademik, beli buku, atau langganan internet, mungkin masih wajar.

Namun melihat sebagian besar dari mereka, aku pun jadi berpikir, mereka kebanyakan bukan orang-orang yang ”kurang mampu”. Saya yakin sebagian diantara mereka, HPnya lebih bagus daripada HP saya, motornya lebih baru daripada motor saya, ataupun kosannya pun lebih mahal daripada kosan saya dahulu.

Saya pun yakin, orang-orang ini sehari-harinya tentulah tidak pernah kekurangan makan. Setidaknya tiga hari sekali itu sudah biasa. Ada memang dari mereka yang kekurangan, namun sebagian besar dari mereka? Tampaknya bukan sebagian besar. Semoga mereka bukan orang-orang yang men-tidak mampukan- diri agar mendapat beasiswa, seperti beberapa orang-orang menengah keatas berebut GAKIN agar bisa berobat gratis, atau berebut gelar miskin agar mendapat BLT, atau apalah.

Sudahlah, bagi saya kemudian yang terpenting adalah akan digunakan untuk apa uang mereka. Jadi teringat akan dua teman saya yang langsung beli HP begitu uang beasiswa itu turun. HP yang bagiku cukup mahal untuk ukuran beliau.

Bagiku mahal itu bukan pada berapa harganya, melainkan pada berapa harganya jika dibandingkan dengan FASILITAS/FITUR dan KEBUTUHANnya. HP saya 775ribu, bagi sebagian orang ini mahal, namun bagi saya saya memang membutuhkan fitur-fitur HP ini untuk mobilitas saya. Mulai dari kemampuan USB Storage, hingga GPRSnya.. Bagi sebagian orang, laptop itu mahal, namun bagi seorang ilmu komputer yang super mobile seperti saya, maka itu menjadi barang yang semi wajib.

Namun melihat kebijakan dua sahabat saya dengan uang beasiswanya, membuat saya jadi sedikit kecewa. Satu teman saya sayangkan karena membeli HP yang bagus (600ribuan) padahal kebutuhan utama beliau paling hanya untuk sms dan telepon. Namun yang ini setidaknya masih bisa saya maklumi, karena HP sebelumnya memang sudah sangat tidak layak pakai. Dalam artian ia memang benar-benar memerlukan HP.

Namun yang membuat saya tak kalah agak sedih lagi, pada teman saya yang satunya. Beliau sudah punya HP, namun kali ini membeli lagi untuk nomer satunya lagi. Jadilah ia punya 2 HP. Seandainya HP yang baru adalah HP CDMA, maka tak masalah, wajar karena beda teknologi, beda tarif, beda keperluan. Namun dua HP ini sama-sama GSM-nya, hanya saja untuk nomor GSM satunya, mengingat katanya partner utamanya kebanyakan pakai nomor operator tersebut.  Aku pun berpikir, apa ganti kartu ketika akan telepon menjadi begitu sulit?

Jika HP second, atau baru yang agak murah sih wajar menurutku, tapi ini tidak, ketika melihat HP beliau HP yang baru, dengan fitur-fitur yang saya yakin, beliau tidak terlalu membutuhkan selain untuk telepon dan SMS. Dan lengkaplah sudah kekecewaanku ketika melihat merk yang dibeli sang ikhwah adalah Nokia, Merk yang seharusnya diboikot karena menyumbangkan untuk Israel menjajah negeri Palestina. Padahal untuk kelas kebutuhan dan fitur yang sama, HP keluaran negeri Korea (macam LG, atau Samsung) tak kalah bagusnya, bahkan untuk harga yang lebih miring.

Entahlah, aku hanya berhusnudzon, tentulah beliau punya pertimbangan tersendiri untuk hal ini. Semoga bukan termasuk dalam kegiatan berlebih-lebihan. Mungkin beliau punya pertimbangan yang lebih matang untuk hal ini.

Jadi teringat bahwa ada seorang kader SKI yang sudah di perantauan, namun kiriman tak sampai 300ribu sebulan, Itu belum untuk membayar kost seharga 80ribu. Belum keperluan lainnya. Jadi ingat pula ada kader yang makan sehari sekali itu sudah biasa. Atau kalaupun makan, lauk telur itu sangat mewah, karena sehari-hari hanya nasi dengan krupuk satu, atau gorengan seribu. Jadi teringat pula ada seorang adik angkatan yang beli makan sambil memakai SARUNG dan berSEPATU hanya karena tak punya sandal, agar tetap bisa makan. Jadi teringat pula bahwa SKI sedang butuh komputer, butuh printer, jadi ingat pula … Ah…sudahlah, ana yakin beliau orang yang bijak, termasuk dalam hal ini. Ah, aku jadi malu pada diri ku sendiri…..

Aku memang tidak mengajukan beasiswa, baik prestasi ataupun tak mampu. Bagiku, berdiri diatas keringat sendiri lebih mulia daripada mereka yang menurunkan status menjadi tak mampu untuk uang 1-3 juta persemesternya. Terlebih masih banyak yang lebih berhak atas beasiswa-beasiswa itu daripada saya.

Kini aku hanya bisa berharap, semoga mereka yang baru saja mendapat beasiswa mampu menggunakannya untuk KEBUTUHAN yang lebih bijak, dan bukan semata-mata KEINGINAN mereka. Bagi yang menerima beasiswa prestasi, semoga dengan beasiswa itu lebih meningkatlah prestasi mereka. Dan bagi beasiswa yang kurang mampu, semoga digunakan untuk mencukupi kebutuhan mereka. Sehingga tak lagi perlu kuliah sambil berpikir bahwa uang di tangan tinggal 5ribu sementara kiriman tak akan datang.

Semoga…..

Malang, 12 November 2008 ,

Pagi, sebelum berangkat bekerja

Lemah….


Rabbi… ijinkan aku mengadu kepadaMu
Ampunilah hamba yang lemah dan lalai ini…
Aku pasrahkan semua urusan ini kepadaMu…
Berikan apa yang terbaik untuk ummat ini, lalu hamba….

Rabbi… sungguh hanya Engkaulah pemilik hati setiap makhlukmu….
Maka persatukan hati ini hanya kepada pejuang-pejuangMu
Kumpulkanlah kami semua dalam jalan dakwah dan jihad
dan BUKAN YANG LAIN….

Rabbi jangan biarkan hati ini bergetar dikala yang lain tegar
Jangan biarkan jiwa ini luruh ketika yang lain bergemuruh
Pertautkanlah jiwa ini dengan jiwa yang ikhlas mengharap ridhaMu,
Yang tak lelah menapaki jalanMu,
Yang tak berputus asa meski dunia tak ditangannya.

Sungguh Tiada daya upaya sedikitpun dari diri ini
Melainkan Engkau berkehendak atasnya
Rabbi, hamba pasrahkan semua urusan ini hanya kepadaMu
Hamba pasrahkan semua urusan ini hanya kepadaMu…

Rabbi beri ummat ini yang terbaik…
berikan dia yang terbaik…
berikan kami yang terbaik…
berikan hamba yang terbaik,

Jangan ijinkan air mata ini kan mengalir lagi…
Jangan biarkan kami terserak ketika yang lain bergerak
Rabbi, hamba serahkan urusan ini kepadaMu…
Berikan kami keputusan yang terbaik, dariMu…

dalam butiran bening dan bercahaya
Malang 29 Oktober 2008

Kembalikan Sahid Kepadaku!!! (bagian 3 - habis)


Kau, Kau, lalu AKU!!

***

Tertunduk aku di sebuah sudut senja yang manja, ada butir-butir sesak di dada, lalu benih-benih rindu yang kemudian menyeruak. Kerinduan tentang masa laluku, masa lalumu, masa lalu kita, dan masa-masa lalu siapapun.

Beberapa hari aku mengasingkan diri, dalam gua di rimba peradaban. Mencoba menggali-menggali dan terus menggali kembali harta karun yang telah sekian lama terkubur aktifitas luar biasa sibuknya. Hidup seolah sudah terasa layaknya mesin. Yang terus saja berputar meski tiada daya yang mendukungnya. Dan kini ia butuh sejenak berhenti.

Hingga sore itu pun aku terpaku, di sisi masjid megah namun lengang dari orang berjamaah. Ada suara-suara yang bergetar, ada suara-suara terisak. Desah nafas yang berat beserta wajah tertunduk. Mata sembab namun tiada sempat setetes pun tuk luruh turun basahi alur-alurnya.

Lalu tiba-tiba tangis itu pecah. Tak terdengar telinga manusia, namun hati siapapun yang peka, pastilah kan menutup telinga hatinya. Tak sekedar tangisan, namun juga jeritan, teriakan, layaknya yel-yel tanpa irama. Tanpa terasa, mata mulai lebih lembab dari biasanya. Nafas berat pun terulur naik. Ingin aku luapkan dalam denyut-denyut tangisan nyata, namun tak kunjung bisa. Entah kenapa, jiwa sedari tadi menangis, namun ada sebuah sekat membuntu antara jiwa dan air mata. Maka Sungguh, benteng kokoh itu kini telah tergetar.

Bukan karena musuh yang menyerang, namun karena aktifitasnya, karena suasananya yang memang tak lagi layak kita sebut sebagai benteng. Tak ada kenyamanan, tak ada keamanan, tak ada privacy.

Perenungan adalah sebuah telaga kekuatan bagi ku. Kekuatannya dahsyat bagai nuklir, karena memang itulah kekuatan inti bagi jiwaku. Ketika goyah, maka penjara pengasingan menjadi tempat perenungan yang mengasyikkan. Bukankah orang-orang besar dahulu melahirkan karya-karya besarnya dalam pengasingan?

Merenung.. Menangis..
Merenung.. Air Mata..
Isak tangis.. Merenung..

Bagai menyaksikan seluruh episode kehidupanku, kutatap lekat video dokumentasi itu. Tiba tiba aku seolah menemukan diriku kembali. dan tiba-tiba saja, layaknya kaset handycam yang jenuh merekam, semua-nya ter-reset ke titik nol.
Semangat itu kembali
Ruh itu Hidup Lagi..!!

***

Aku masih punya mimpi!
tentang negeri ini!
dan semesta
maka ijinkan AKU
HARI INI untuk KEMBALI!
untuk melanjutkan karya kita
MIPA,Indonesia,dan dunia!

***
Ada sebuah bingkai besar menunggu untuk kita lukisi dengan kuasan-kuasan pena kita. Untuk kita lukis dengan sejarah cerdas cerah nan bercahaya. Sejarah bernama peradaban madani.

Kita tak akan takut karena terik cahaya kan buat warnanya pudar, atau atap bocor rumah kita dikala hujan kan lunturkan warnanya. Karena kita melukisnya dengan warna-warni jiwa, yang tak kan lapuk dan tak kan lekang meski ribuan senjata terkokang mengacung kepadanya. Dengan tegar ia kan berkata! ”Aku hanya merindu Surga”.

Kami tahu bahwa kemarin telah tiada, bahwa masa tak bisa diputar sesuai kehendak kita. Hanya hari ini yang tersisa, untuk kita isi, gunakan, manfaatkan, lalu persiapkan untuk keesokan hari.

Dan biarkan arus masa yang deras menentukan dimana hilir kita. Akan kemana kita akan bermuara. aku hanya bisa mengayuh menyusuri aliran arus agar tak hempas karena batu, tak tumpah karena ceruk, ataupun tak berhenti karena telah sampai muara samudera

Ia tetap bergerak, meski yang lain diam. Dalam bentuk arus atau sekedar uap siklus, ia tetap bergerak. Adakalanya ketika cukup, jadilah riak itu menjadi gelombang. Gelombang yang menggerakkan, menggetarkan, dan menghempas kedzaliman.

Kini Ia Siap,

Saudaraku…
Maaf membuatmu menanti
Kini Aku Sudah Kembali…

Malang, 11 September 2008 – 05:34 pagi hari
Sahid REFURBISHED
seperti yang kau kenal dulu
Insya Allah..

Kembalikan Sahid kepadaku!! (bagian 2)


Ingatkah kau ketika jauh kau sebelum itu, kau tak lebih dari seorang pemuda lugu. Kau baik hati, tapi kau tak punya nyali. Ketika ditantang berkelahi, kau justru lebih banyak mundur. ”Saya tak mau kekerasan”, begitu caramu tutupi jiwamu yang pengecut kala itu.

Masa remaja-mu dahulu, Tanpa jiwa tanpa ruh kau bergerak. Seolah kau akan hidup selamanya, kau lupa pada akhiratmu, pada siapa penciptamu, pada siapa tuhanmu, ah bahkan kau pun mungkin lupa bahwa kelak kau akan mati? Kau boleh jadi pintar, cerdas, punya teman yang baik dan sholeh, tapi kau tak ubahnya seekor bebek. Ketika kau sendiri? Ah…

Dahulu ketika ibu-mu menyuruhmu untuk Sholat Fardhu, kau hanya berkata nanti-nanti, dan nanti. Tanpa ada sebait wujud nyata, dan tiba-tiba waktu itu sudah habis, dan tanpa penyesalan kau pun pergi bermain, sembunyi-sembunyi menghabiskan uang untuk Playstation. ke temanmu nonton VCD, atau entah kemana.

Hingga ingatkah kau ketika sebaris kalimat mendobrak benteng jahiliahmu? Membabat habis rasa malas-mu selama ini. Runtuh, jatuh, terbakar, dan berkobar. Lalu kau dapati kau kini ditengah reruntuhan.

Diantara puing-puing itu kau bertekad untuk berubah. Ya, itulah sebaris kalimat untukmu dari seseorang yang tak kau kenal. Dan itulah kunci titik balik kehidupanmu. Tiba-tiba kau menjadi sangat benci pada jahiliah. Tiba-tiba kau ingin untuk berubah. Tiba-tiba saja kau tinggalkan panggung teater masa lalumu, berpindah dari alam drama ke alam nyata. Lalu, inilah kau membangun istana diatas padang reruntuhan kejahiliahan.

Lalu di jenjang berikutnya kau pun memang benar-benar berubah. Kembalilah ia kepada fitrah yang bersih, yang suci, yang tenang. Kau tak lagi bergemuruh keruh, layaknya tsunami yang kau saksikan di Televisi.

Tak lama, datanglah tangan-tangan luar biasa itu menyentuhmu, membuat dirimu kian berarti. Dari seorang pemuda yang penakut, menjadi sosok pemberani. Dari seorang tak berkarakter kini mulai berbentuk, spesial. Maka menularlah ke-luar biasa-annya kepadamu.

Dan Umar baru itu pun lahir..
Sahabat, masih ingatkah kau?
Sahabat..??

***
Malang, 11 September 2008 - 00.57 pagi

Dulu kau tak lebih sebongkah batu tak berbentuk
Lalu datanglah tangan-tangan hidayah menyentuhmu
Mencetakmu  tuk jadikan pualam berkilau
Lalu datanglah tangan-tangan para arsitek dakwah
Menyusunmu tuk hiasi di dinding istana- nya
Tuk jadikan ia megah, bersama pualam di sekitarmu.

Lalu seiring jaman,angin, debu, dan badai
Secorak  pualam itu kini kusam berdebu
Ijinkanku, tuk kembalikan kemilaunya
Agar ia layak bersanding bersama kemilaumu
Hiasi istana dakwah kita bersama
Ijinkanku sejenak berhenti, bersihkan pualam itu

Kembalikan Sahid kepadaku!! (bagian 1)


Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:”";
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Masih
ingatkah kau sore itu, di depan staf-staf-mu, di hadapan kader-kader-mu, ada
sebuah senyum cerah.
Kata-kata
yang menggugah, membuat siapapun mau tak mau harus membalasnya dengan ramah. Meski
terkadang suara kerasmu membuat sebagian orang takut, namun karena memang itulah
karaktermu. Kau keras, kau tegas, kau tak ingin lembek dalam kebenaran.

 

Ah, kemana
pula malam-malam itu? Malam-malam dimana kau bangun, di tengah dinginnya air
wudhu kau sapu mukamu. Sholat malam, meski terkadang hanya 2 rakaat dan satu
witir. Lalu kau sambung dengan tilawah, dengan belajar, dan terkadang pula
merenung. Lalu kau lanjutkan subuh berjamaah. Di saat jalan-jalan sunyi dari
manusia. Ah, masih ingatkah kau ketika di rumah nenekmu, kau berebut tempat
dengan paman-pamanmu agar bisa shalat malam? Atau ketika kau qiyamul lail
bersama ikhwan-ikhwan itu di tengah dinginnya malam pegunungan Batu?

 

Atau ketika
disela-sela menunggu kuliah, kau buka mushaf-mu. Meski selembar dua lembar,
sambil menunggu kau baca ayat demi ayat. Satu persatu. Terkadang kau juga
menghafal beberapa diantaranya.

 

Dulu kau
sangat suka membaca. Buku-buku menjadi makananmu. Setiap bulan kau sempatkan
untuk sekedar membeli buku, meski terkadang ia hanya menumpuk di sudut rumahmu.
Tak segan kau membaca, bahkan meminjamkannya meski kau tahu kemungkinan besar
buku itu tak kan kembali. Setidaknya ia bermanfaat bagi ia, begitu katamu. Ah
tak perlu kiranya ku ingatkan betapa kau suka ke perpustakaan. Kau betah
berjam-jam disana.

 

Kau pun
orang yang sangat up to date. Meski tak ada TV, namun radio, dan internet
benar-benar membuatmu tahu tentang berita terbaru. Koran-pun kau baca, majalah
kau pun beli. Detik.com, MyQuran, eramuslim, arrahmah, ah bukankah itu
situs-situs kesukaanmu?
Bukan
Friendster dan Facebook.

 

Lalu di
majelis-majelis masjid, ada suara-suara tilawah, ceramah, meski kau sambil
terkantuk, atau tak konsentrasi karena sms-sms yang membanjir, atau bahkan
sedang teringat hal-hal kuliahmu yang tak teratur, namun setidaknya tubuh itu
hadir, datang, sambil sesekali melontarkan pertanyaan. Ada jiwa disana, ada
kekuatan disana, dan kau pun merasakan ukhuwah. Ah, perlukah aku ingatkan?
Betapa kau malam itu menyusuri jalan-jalan kampus yang gelap, terkadang
pikiran-pikiran konyol-mu melintas, ”Jangan-jangan nanti ketemu Hantu?”. Ah,
kau susuri jalan-jalan gelap itu, jalan kaki!! Ya, Jalan kaki!! Semata-mata
agar bisa ikut sebuah kajian.

Ah, kau saat itu
sangat aktif tuk meng-upgrade dirimu.

 

Sahabat, mungkin
kau masih ingat, ketika di tengah perjalanan bersama, aksi-aksi dijalan raya.
Atau sekedar diskusi-diskusi panas di rapat-rapat eksekutif, ketika kau
dihujat, didzalimi, hingga menangis, namun kau tetap mendoakan , ”Semoga Allah
membuka pintu hati mereka”. Disitu kau tetap ada, tetap berkarya, tetap tegak
tuk mengubah mudharat menjadi manfaat, tuk mengubah maksiat menjadi syariat,
dan kau pun tetap ada disana, meski beberapa saudaramu memandangmu sinis ”untuk
apa kau terjun di Sistem Politik itu?”. Ah perlukah aku ingatkan betapa kau
suka ikut dalam aksi-aksi itu? Bersama sebuah partai dakwah kau melenggang ke
gedung dewan. Kau berbaris bersama orang-orang yang memegang bendera
kebanggaan, sambil menyenandungkan nasyid-nasyid perjuangan. Sambil sesekali
kau pun teriak, ”Allahu Akbar!!”, dan aku suka wajahmu waktu itu. Meski wajah
letih, meski wajah penuh keringat, namun ada semangat cerah disana.

 

Atau bahkan ketika
sebagian saudaramu, rekan dakwahmu, tiba tiba berb
alik arah membelakangimu. Mereka yang dulu melangkah bersama, kemudian
berbalik menghambat langkah kita. Kau tetap lantang, kau tetap Tegar, kau tetap
mampu berkata, ”Haadza Sabiluna”. ”Ini jalan kami!”, dan kau pun ber-azzam akan menjalaninya meski sendiri,
meski sepi. Ah perlukah aku ingatkan betapa kuat azzam-mu waktu itu? Betapa
geram-nya kau waktu saudaramu menyampaikan fitnah-fitnahnya tentang gerakan-mu?

 

Ketika
syuro-syuro terkadang kau hadir lebih dulu. Karena kau tak ingin mendzalimi
saudaramu, begitu katamu. Di syuro pun kau sangat aktif, bahkan terkadang
terlalu aktif hingga mas’ul pun perlu menegurmu.
Satu syuro, dua syuro, tiga, atau berapa pun
kau tetap semangat. Tak peduli di dini hari yang cerah, atau berawan, disaat
mahasiswa-mahasiswa lain tengah memilih menarik kembali selimutnya, kau
berjalan ke kampus lebih pagi dari seorang tukang parkir. Atau terkadang kau datang
malam-malam dengan kantuk, bahkan tertidur diantara ikhwan-ikhwan yang –entah-
seolah tak punya kantuk.  Demi untuk
ummat, begitu katamu. Maka kau pun hadir, dan aktif.

 

Malam-malam jam
11 malam kau memasang pamflet untuk agenda ummat. Bahkan hingga jam 2 pagi kau
tetap memaksakan diri tuk pasang spanduk. Kau waktu itu begitu semangat, tak
ingin pulang hingga semua selesai, atau pulang bersama-sama.

 

Masih ingatkah
kau, ketika hingga tengah malam, kau dan ikhwan-ikhwan itu sibuk memasang rafia
untuk sholat Idul Adha esok hari. Dan waktu itu meski wajah-wajah lelah tampak
sangat, kau pun tetap memaksakan diri. Ah ingatkah kau momen-momen itu? Tak ada
kopi hangat, sekedar sebungkus gorengan pun andai kata tak ada, kau takkan
mengeluh.

 

Atau ketika sore
itu kau membonceng ustadz favoritmu, menuju sebuah perkampungan di bukit Malang
Selatan. Kau tak berhenti sekali-pun di dua jam perjalanan dengan motormu –
yang tak bisa cepat-. Hujan lebat pun tak kau pedulikan, asal ustadz sampai
ditempat di waktu yang tepat. Dan itu-lah kau, membonceng ustadz-mu, menembus
hujan lebat, dan tanpa jas hujan!! Atau ketika malam itu pula, kau harus
mengantar ustadz untuk pulang, jam 10 malam. Jam dimana warga lokal pun
khawatir keluar karena ada begal. Ah, lupakah kau ketika Ustadz memberimu
tausyiah tentang perjuangan ikhwah Aceh? Lalu kau pun tiba-tiba begitu
semangat, begitu tawakkal, meski pada akhirnya kau pun –lagi-lagi- basah kuyup kehujanan.

 

Ah, Sahabat,
tahukah kau? Aku benar-benar rindu padamu…

 

Aku Rindu pada
Sahid yang sebenarnya..

Aku Rindu pada
Sahid yang dulu..

Kembalikan
Sahid-ku…!! Kepada-ku…!! Sekarang!!

 

 

Malang, Ramadhan
2008

ketika Sahid masih di repair

Kembalikan Sahid Kepadaku!!!


Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Kembalikan
Sahid kepadaku!!

(bagian 1)

 

 

Masih
ingatkah kau sore itu, di depan staf-staf-mu, di hadapan kader-kader-mu, ada
sebuah senyum cerah.
Kata-kata
yang menggugah, membuat siapapun mau tak mau harus membalasnya dengan ramah. Meski
terkadang suara kerasmu membuat sebagian orang takut, namun karena memang itulah
karaktermu. Kau keras, kau tegas, kau tak ingin lembek dalam kebenaran.

 

Ah, kemana
pula malam-malam itu? Malam-malam dimana kau bangun, di tengah dinginnya air
wudhu kau sapu mukamu. Sholat malam, meski terkadang hanya 2 rakaat dan satu
witir. Lalu kau sambung dengan tilawah, dengan belajar, dan terkadang pula
merenung. Lalu kau lanjutkan subuh berjamaah. Di saat jalan-jalan sunyi dari
manusia. Ah, masih ingatkah kau ketika di rumah nenekmu, kau berebut tempat
dengan paman-pamanmu agar bisa shalat malam? Atau ketika kau qiyamul lail
bersama ikhwan-ikhwan itu di tengah dinginnya malam pegunungan Batu?

 

Atau ketika
disela-sela menunggu kuliah, kau buka mushaf-mu. Meski selembar dua lembar,
sambil menunggu kau baca ayat demi ayat. Satu persatu. Terkadang kau juga
menghafal beberapa diantaranya.

 

Dulu kau
sangat suka membaca. Buku-buku menjadi makananmu. Setiap bulan kau sempatkan
untuk sekedar membeli buku, meski terkadang ia hanya menumpuk di sudut rumahmu.
Tak segan kau membaca, bahkan meminjamkannya meski kau tahu kemungkinan besar
buku itu tak kan kembali. Setidaknya ia bermanfaat bagi ia, begitu katamu. Ah
tak perlu kiranya ku ingatkan betapa kau suka ke perpustakaan. Kau betah
berjam-jam disana.

 

Kau pun
orang yang sangat up to date. Meski tak ada TV, namun radio, dan internet
benar-benar membuatmu tahu tentang berita terbaru. Koran-pun kau baca, majalah
kau pun beli. Detik.com, MyQuran, eramuslim, arrahmah, ah bukankah itu
situs-situs kesukaanmu?
Bukan
Friendster dan Facebook.

 

Lalu di
majelis-majelis masjid, ada suara-suara tilawah, ceramah, meski kau sambil
terkantuk, atau tak konsentrasi karena sms-sms yang membanjir, atau bahkan
sedang teringat hal-hal kuliahmu yang tak teratur, namun setidaknya tubuh itu
hadir, datang, sambil sesekali melontarkan pertanyaan. Ada jiwa disana, ada
kekuatan disana, dan kau pun merasakan ukhuwah. Ah, perlukah aku ingatkan?
Betapa kau malam itu menyusuri jalan-jalan kampus yang gelap, terkadang
pikiran-pikiran konyol-mu melintas, ”Jangan-jangan nanti ketemu Hantu?”. Ah,
kau susuri jalan-jalan gelap itu, jalan kaki!! Ya, Jalan kaki!! Semata-mata
agar bisa ikut sebuah kajian.

Ah, kau saat itu
sangat aktif tuk meng-upgrade dirimu.

 

Sahabat, mungkin
kau masih ingat, ketika di tengah perjalanan bersama, aksi-aksi dijalan raya.
Atau sekedar diskusi-diskusi panas di rapat-rapat eksekutif, ketika kau
dihujat, didzalimi, hingga menangis, namun kau tetap mendoakan , ”Semoga Allah
membuka pintu hati mereka”. Disitu kau tetap ada, tetap berkarya, tetap tegak
tuk mengubah mudharat menjadi manfaat, tuk mengubah maksiat menjadi syariat,
dan kau pun tetap ada disana, meski beberapa saudaramu memandangmu sinis ”untuk
apa kau terjun di Sistem Politik itu?”. Ah perlukah aku ingatkan betapa kau
suka ikut dalam aksi-aksi itu? Bersama sebuah partai dakwah kau melenggang ke
gedung dewan. Kau berbaris bersama orang-orang yang memegang bendera
kebanggaan, sambil menyenandungkan nasyid-nasyid perjuangan. Sambil sesekali
kau pun teriak, ”Allahu Akbar!!”, dan aku suka wajahmu waktu itu. Meski wajah
letih, meski wajah penuh keringat, namun ada semangat cerah disana.

 

Atau bahkan ketika
sebagian saudaramu, rekan dakwahmu, tiba tiba berb
alik arah membelakangimu. Mereka yang dulu melangkah bersama, kemudian
berbalik menghambat langkah kita. Kau tetap lantang, kau tetap Tegar, kau tetap
mampu berkata, ”Haadza Sabiluna”. ”Ini jalan kami!”, dan kau pun ber-azzam akan menjalaninya meski sendiri,
meski sepi. Ah perlukah aku ingatkan betapa kuat azzam-mu waktu itu? Betapa
geram-nya kau waktu saudaramu menyampaikan fitnah-fitnahnya tentang gerakan-mu?

 

Ketika
syuro-syuro terkadang kau hadir lebih dulu. Karena kau tak ingin mendzalimi
saudaramu, begitu katamu. Di syuro pun kau sangat aktif, bahkan terkadang
terlalu aktif hingga mas’ul pun perlu menegurmu.
Satu syuro, dua syuro, tiga, atau berapa pun
kau tetap semangat. Tak peduli di dini hari yang cerah, atau berawan, disaat
mahasiswa-mahasiswa lain tengah memilih menarik kembali selimutnya, kau
berjalan ke kampus lebih pagi dari seorang tukang parkir. Atau terkadang kau datang
malam-malam dengan kantuk, bahkan tertidur diantara ikhwan-ikhwan yang –entah-
seolah tak punya kantuk.  Demi untuk
ummat, begitu katamu. Maka kau pun hadir, dan aktif.

 

Malam-malam jam
11 malam kau memasang pamflet untuk agenda ummat. Bahkan hingga jam 2 pagi kau
tetap memaksakan diri tuk pasang spanduk. Kau waktu itu begitu semangat, tak
ingin pulang hingga semua selesai, atau pulang bersama-sama.

 

Masih ingatkah
kau, ketika hingga tengah malam, kau dan ikhwan-ikhwan itu sibuk memasang rafia
untuk sholat Idul Adha esok hari. Dan waktu itu meski wajah-wajah lelah tampak
sangat, kau pun tetap memaksakan diri. Ah ingatkah kau momen-momen itu? Tak ada
kopi hangat, sekedar sebungkus gorengan pun andai kata tak ada, kau takkan
mengeluh.

 

Atau ketika sore
itu kau membonceng ustadz favoritmu, menuju sebuah perkampungan di bukit Malang
Selatan. Kau tak berhenti sekali-pun di dua jam perjalanan dengan motormu –
yang tak bisa cepat-. Hujan lebat pun tak kau pedulikan, asal ustadz sampai
ditempat di waktu yang tepat. Dan itu-lah kau, membonceng ustadz-mu, menembus
hujan lebat, dan tanpa jas hujan!! Atau ketika malam itu pula, kau harus
mengantar ustadz untuk pulang, jam 10 malam. Jam dimana warga lokal pun
khawatir keluar karena ada begal. Ah, lupakah kau ketika Ustadz memberimu
tausyiah tentang perjuangan ikhwah Aceh? Lalu kau pun tiba-tiba begitu
semangat, begitu tawakkal, meski pada akhirnya kau pun –lagi-lagi- basah kuyup kehujanan.

 

Ah, Sahabat,
tahukah kau? Aku benar-benar rindu padamu…

 

Aku Rindu pada
Sahid yang sebenarnya..

Aku Rindu pada
Sahid yang dulu..

Kembalikan
Sahid-ku…!! Kepada-ku…!! Sekarang!!

 

 

Malang, Ramadhan
2008

ketika Sahid masih di repair

Rejeki Mereka dan Rejeki Kita


Sudah 3 bulan terakhir ini -setidaknya- pembicaraan di sekitarku mulai mengalami evolusi. Mulai banyak beredar pembicaraan tentang nikah, tentang pasangan, tentang jodoh, dll. Wallahu’alam,  mungkin karena sedang musim orang nikah (emang mangga? Kok ada musimnya). Di rumah pun, Undangan walimah seolah mengalir tiada henti. Bacaan-bacaan pun lambat laun, mengalami intervensi. Buku-buku Fauzil Adhim dan Salim A Fillah mulai bercampur dengan buku-buku kuliah. Entah ada dari mana saja buku-buku itu muncul. Demikian pula ketika bertemu dengan orang-orang tertentu. Tak peduli seorang bapak-bapak, atau sopir travel yang baru kenal sekalipun, topiknya nikah terus.

Tak terkecuali ketika membuka blog seorang sahabat. Disana aku menemukan sebuah tulisan tentang Nikah Dini. Tulisannya sebenarnya tak jauh berbeda dengan tulisan-tulisan tentang nikah dini pada umumnya, tentang nikah dini itu lebih baik daripada pacaran tanpa status, dst. Namun yang menarik bagi saya adalah komentar-komentar miring tentang artikel tersebut. Kebanyakan masih mempermasalahkan mengenai rejeki, mensyaratkan kemapanan, dan hal-hal lain terkait materi. Intinya “Mapanlah dulu, pekerjaan tetap, kondisi enak, baru menikah”. Kurang lebih begitu.  Sempat terbersit sebuah dzon, komentar-komentar ini hanya untuk “membenarkan” tindakan orang-orang yang pacaran dan anti pernikahan dini. Wallahu’alam, Allah Maha mengetahui segala isi hati. Segera kuhapus dzon-dzon tersebut. Aku pun hanya tersenyum terhadap komentar-komentar tersebut. Wajar, pikirku. Aku pun dulu -sebelum mengenal Islam- juga akan berkata seperti itu. Ya, setidaknya, aku pernah mengalami pemikiran-pemikiran seperti itu ketika masih SMA dulu.

Mau tak mau, komentar-komentar tersebut, me-refresh kembali ingatanku waktu bertemu dengan seseorang. Sebut saja pak Toriq namanya. Malam itu, aku berkunjung ke rumahnya dengan maksud untuk mengembalikan pinjaman yang aku pakai untuk membeli laptop. Tanpa menghitung kembali uangnya, ia menerima saja.

“Gimana Sahid, kapan nyusul Adib?”, pertanyaan itu mulai membuka topik baru. Lagi-lagi nikah…. ya, Nikah. Maklum putranya, -Adib- sahabat dekatku, sudah menikah sekitar 2 bulan sebelumnya. Dan tanpa terasa, memang aku pun semakin termotivasi dengan beliau yang mendahuluiku. Terlebih di kelasku sendiri setidaknya sudah ada 5 orang yang sampai sekarang sudah menikah. tiga laki-laki dan dua perempuan.

“Segera pak, insya Allah mau proses”, begitu ujarku.

Beliau pun berbicara tentang beberapa hal terkait pernikahan, mulai jangan khawatir calon karena dia pun bersedia mencarikan, hingga tentang penyelenggaraan walimah. Subhanallah, masih ada orang seperti beliau. Tidak ada hubungan darah antara aku dan pak Toriq, namun beliau sangat baik kepada saya. Belumlah usai urusan pinjam meminjam uang untuk laptop, yang sudah tanpa surat perjanjian, ketika dikembalikan tak dihitung pula,  kini sudah diniatkan membantu saya untuk menikah. Subhanallah, Jazakallah Pak Toriq.

Beliau pun menyampaikan juga tentang rejeki, tentang bagaimana matematika menghidupi keluarga. Pada mulanya biasa, karena saya sudah sering diberitahu hal-hal seperti itu. Hingga beliau mengutarakan sesuatu prinsip yang menarik perhatianku.
“Kalau saya itu Hid, Prinsip saya itu begini Hid, “ ujarnya memulai pembicaraan. Aku hanya diam menunggu beliau berbicara.

“Kalau saya punya 4 orang tanggungan, maka saya tak perlu khawatir tentang rejeki mereka, karena toh rejeki-nya 4 orang ini, akan lewat saya”.
Aku yang sebelumnya biasa saja, kini mulai tertarik.Mimik serius pun aku pasang.

Beliau melanjutkan, “Kan setiap orang sudah punya jatah rejekinya masing-masing Hid?”, aku mengangguk mengiyakan,

“Nah semisal saya punya tanggungan, 1 istri dan 3 orang anak, maka rejeki-nya ke-empat orang itu sebelum sampai ke masing-masing, maka lewatnya, ya lewat saya dulu. Jadi jangan khawatir kalau masalah rejeki”. Beliau menutup statement-nya.

Anda masih bingung atau sudah terkesan? Jika Anda adalah seorang pemimpin keluarga, maka yang namanya rejeki-nya istri dan anak-anak Anda, lewatnya ya melalui Anda. Istilahkan, Anda-lah pintu gerbang dari rejeki mereka.

Jujur saat itu saya terkesan dengan cara pandang tentang rezeki yang seperti ini. Saya pernah mendengar hal ini, namun entah dimana dan kapan, saya sudah benar-benar lupa. Dan ketika momen-momen  pra-nikah dimana keraguan tentang rejeki terkadang muncul, sungguh apa yang beliau katakan, tak sekedar mengingatkan, namun juga benar-benar menguatkan saya.

Konsep tentang rejeki yang biasanya saya dapatkan dari buku-buku, adalah dari surat An Nur 32 “… jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya…”. Jika yang ini, sudah banyak pengalamannya. Tak perlu jauh-jauh, keluarga saya sendiri pun sudah merasakan hal ini. Secara matematis biasa, bagaimana mungkin seorang Ayah dengan gaji bersih yang tinggal 100ribu, bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 2 orang putra, dengan saya yang masih kuliah dan Ibu yang terkena stroke?

Atau ketika Idul Adha tahun lalu, di sela-sela acara qurban dan bakti sosial, ada seorang pemuda yang bolehlah kita katakan, hidupnya tak kenal agama, maklum dari kampung yang dikenal banyak premannya, penampilan pun layaknya kebanyakan anak jalanan. Hanya yang membedakan dengan anak jalanan lainnya, beliau sudah menikah. Beliau curhat pada sahabat saya, yang memang teman lama di kampung-nya, Di sela-sela curhat tersebut “Lah iya tir, ndhisik pas sik durung rabi, nek gak nduwe dhuwit, yo gak nduwe dhuwit tenan, tapi saiki mari wis rabi, enek ae rejeki ne.
(lah iya tir, dulu ketika masih belum nikah, kalau nggak punya uang, ya nggak punya uang beneran. Tapi sekarang setelah menikah, ada aja rejekinya.)”

Teringat saya tentang cerita sahabat, ada sebuah keluarga di Malang, ia memelihara anak-anak yatim di rumahnya. Semacam panti asuhan, tapi ini bukan yayasan, hanya keluarga saja. Hidupnya sederhana, pas-pasan bahkan. Secara logika matematis biasa, tak mungkin rasanya keluarga tersebut dengan penghasilannya sehari-hari akan bisa memenuhi kebutuhan anak-anak yatim tersebut. Tak hanya makan, namun juga termasuk biaya sekolahnya. Tapi nyatanya? Jangankan makan, anak-anak yatim itu sekolah semua, SPP-nya pun tak masalah. Subhanallah…

Saya rasa tak perlulah, saya ceritakan semuanya disini. Orang tua Anda pun bisa jadi sudah banyak pengalamannya. Dan agaknya benar juga apa kata orang-orang tua kita dulu, “banyak anak, banyak pula rejekinya,”, karena sekali lagi jangan khawatir, jika kita yang menanggung mereka, insya Allah rejeki mereka akan lewat melalui kita.

Jadi jangan percaya sama orang-orang KB yang menyarankan agar membatasi anak anda hanya 2 orang, karena selain itu program orang-orang Yahudi agar jumlah muslim tak berkembang pesat, toh  juga menyalahi sunnah dan anjuran Rasulullah untuk memperbanyak anak. Mengatur jarak kelahiran boleh-boleh saja, tapi jangan batasi jumlahnya hanya dua. Maka, semakin banyak Anda punya putra, maka semakin banyak pulalah calon-calon mujahid yang kelak memperbaiki negeri kita. Insya Allah.

Ah, pantas saja Ayah tak mensyaratkan saya sudah bekerja ketika saya meminta ijin untuk menikah. “Sudahlah, kalau masalah rejeki, Tegar jangan khawatir, yang penting bisa mengatur waktu antara rumah tangga dan kuliah.”

Dan memang kita tak perlu khawatir masalah rejeki, karena bukankah Allah sudah menjamin semuanya?Tinggal sekarang, saatnya kita jujur, apakah kita mau mempercayainya, atau berkelit dengan sejuta alasan?
Wallahu’alam, saya serahkan kepada Anda…

Malang, 28 Agustus 2008

Sahid Nikah…!!


Sahid Nikah…

“Ha..?? kabar darimana itu?” Aku terkejut ketika di sela-sela KKN ditelepon oleh seorang sahabat kemudian ditanya, “Hid, katanya kamu dah nikah ya?”
"Walah mas, kabar apa lagi ini? ana lho lagi KKN", jawabku/.
"dari akh ini", sahabat ini menyebut sebuah nama.

Wallahu’alam saya tak tahu darimana kabar tersebut berasal, namun begitu saya “turun gunung” dari rimba KKN, segera kabar tersebut saya telusuri. Alhamdulillah, sanad dari kabar tersebut sudah kemudian terdeteksi dan tertabayunkan segera. Ikhwan yang menyebarkan itu pun meminta maaf kepada saya.

Namun tetap saja tak urung, setiap bertemu dengan ikhwan-ikhwan itu, pertanyaan yang ditujukan kepadaku selalu saja tak lepas dari topik nikah. Bahkan ketika saya bertanya-tanya tentang kontrakan sekalipun (sahid memang sedang mencari kontrakan) pun dikaitkan dengan nikah pula, bahkan oleh seorang akhwat sekelas, malah langsung tunjuk, “sama itu ya?”. Wallahu’alam, memang karena selama 2 bulan terakhir memang saya broadcast kemana-mana tentang kontrakan, dan meminta tolong ke orang-orang yang saya pikir “tahu”. Dan orang yang ditunjuk sama ukhti tadi pun juga saya mintai tolong. Sama siapapun, saya sering minta, carikan kontrakan, termasuk kepada tukang jual lalapan, dan tukang sate ayam Ponorogo bahkan.

Terlebih, dengan ikhwan-ikhwan seperjuangan yang seamanah, atau pernah se-amanah, Ketika bertemu, ketika ngobrol, ketika apapun, asalkan beberapa lama tak ketemu, pertanyaannya “Antum mau nikah ya akh?”. Aku biasanya hanya menanggapinya dengan bercanda, “Lah mang antum gak mau?”. Sambil biasanya saya sambung, “Antum itu jangan ngomong thok, akh, yang konkrit gitu lho!!”. Dan kami pun tertawa bersama. Sudah beres, begitu pikirku.

Atau ketika saya mulai banyak bergaul dengan dunia sastra, mulai berbicara dengan memperbanyak rima, dan tata bahasa. Ada seorang ikhwan yang “nyeletuk” di milis, “Waduh mas sahid jadi pujangga, kayak orang lagi jatuh cinta saja”. Wallahu’alam, padahal puitis tidaknya saya, sebenarnya tidak terikat oleh hal ini. Dari dulu pun saya sudah suka dengan sastra. Puisi ataupun novel karya sastra lama. Meski tak dalam, namun setidaknya saya suka dengan sastra. Dan puncaknya ketika ada sebuah acara Ngopi Bareng TI (Taufik Ismail), mulailah bagian sastra saya tumbuh. Sehingga tak jarang mulai banyak berpuisi, meski kebanyakan memang hanya untuk konsumsi sendiri

Kata sahabat ana, “Hati-hati antum akh, banyak fitnah di masa-masa seperti ini”.
Dan memang ana rasakan ada banyak pandangan-pandangan dan kabar-kabar negatif di masa-masa seperti ini. Wallahu’alam. Apalagi ana terkenal punya track record yang dikatakan banyak masalah dalam hal ini. Dulu ketika di tahun kedua kuliah pun, ana sering disidang oleh MR terkait banyak isu yang beredar antara ana dan seorang akhwat. Padahal waktu itu memang urusan kuliah dengan kami banyak terjadi, karena memang satu kelompok dalam kuliah bersama dengan teman-teman lainnya. Belakangan pun terdeteksi lagi beberapa kabar, hingga diinterogasi oleh sahabat sendiri bahkan. Padahal hanya masalah HP.

Wallahu’alam… Ah Sahid memang bermasalah… :(

***

Seandainya pertanyaan-pertanyaan ini hanya beredar di satu fakultas pun saya tak masalah. Mengingat pernah saya menyampaikan dalam sebuah forum di sela-sela PILAR 2 Batu, tentang rencana saya yang memang berencana nikah semasa masih kuliah, Kurang lebih yaaa antara semester 3 hingga semester 7 (artinya semester ini terakhir), begitu saya memberi rentang waktu itu. Namun masalahnya adalah ikhwan-ikhwan fakultas lain, tak peduli teknik, atau bahkan fakultas ekonomi entah darimana juga tahu. Saya pun heran, selama dia orang yang kenal cukup dekat dengan saya, pertanyaannya mang berputar di masalah ini “Katanya mau nikah Hid?”. Terlebih di kawan-kawan satu halaqah, mengingat pernah dalam suatu forum, kami bergiliran ditanya oleh MR, “kapan antum mau nikah?”, dan ketika jawaban-jawaban akhi-akhi yang lain kebanyakan “setelah umur 24”, atau “ketika sudah lulus”, dan hal-hal semacamnya, jawaban ana yang paling berbeda, “ketika ana sudah ‘turun’ dari ketua umum Forkalam akh”. Dan ketika sekarang saya sudah benar-benar turun dari jabatan tersebut (Alhamdulillah), saya pun tak urung ditagih. Malah ada seorang akhi yang sudah pesan, “Akh, ana jadi kapelnya saja”. Gubraks!!!

Tapi ada suatu kejadian, yang ini lebih hebat lagi menurut saya. Jika ikhwan-ikhwan yang bertanya “katanya antum mau nikah ya?” bagi saya itu sudah biasa. Namun beberapa waktu yang lalu, saya sempat chat dengan salah seorang teman lama yang jarang kontak. Dia perempuan biasa, bukan seseorang yang biasa disebut “akhwat” karena seingatku-pun beliau belum menutup hijabnya dengan jilbab.

Beliau teman saya dulu seperjuangan di BEM MIPA selama periode 2005-2006. Dalam beberapa kepanitiaan ketika saya menjadi co.pubdekdok, biasanya beliau menjadi co yang lain. Dan memang selama satu tahun belakangan, semenjak BEM dipegang oleh presiden yang tak lagi amanah (maaf), dan semenjak saya di tunjuk oleh teman-teman untuk menerima amanah sebagai ketua umum Forkalam, kami pun jarang bertemu. Namun sungguh mengejutkan bagi saya ketika suatu saat, kebetulan saya Onlinde, dan beliau pun kemudian juga Online beliau bertanya, “Hid, katanya kamu mau nikah ya?”.

Allahu Akbar!!! saya pun heran sendiri, darimana kabar tentang ini begitu tersebar cepat.

***

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan saja beberapa hal. Sebelumnya ijinkan saya untuk sedikit bertutur. Ada banyak orang yang tertarik dengan orang lain. Istilahkan – jatuh cinta- atau semacamnya. Teman-teman saya di kelas ilkomp pun saya yakin juga ada perasaan seperti itu. Tak usahlah sampai ke mahasiswa, karena ketika saya KKN di Ngaglik Blitar beberapa waktu lalu –pun, beberapa anak SD pembicaraannya sudah ke arah ini.

Namun masalahnya, tak banyak yang kemudian memaknai cinta-nya dengan benar. Ada seseorang yang jatuh cinta, kemudian malah berlanjut untuk ke arah pacaran, bukan pernikahan seperti yang diajarkan oleh Islam. Kalau kata ikhwan se-kontrakan saya, kalau pacaran itu gak ada bangga-bangganya blas mas, anak kecil, anak SD saja lho juga bisa. Dan saya memang setuju dengan ikhwan tersebut, bahwa jika memang kau mengaku cinta pada seseorang, maka kau harus berani menikahinya.

Maka ijinkan saya agak berkata keras, bahwa saya akan berkata PENGECUT BESAR, kepada orang-orang yang berkata “aku jatuh cinta”, atau “i love you” atau kata-kata sejenis, namun ketika diminta menikahi, sejuta alasan ia beri. Allahu Akbar!! Berani berbuat, berani berkata, harus berani pula bertanggung jawab. Maka PENGECUT BESAR dengan hormat akan saya sematkan kepada orang-orang yang mengaku kagum, mengaku cinta, mengaku suka, namun tidak mau menikahi dengan sejuta alasan.

Tentang ini, saya sampai sekarang pun salut dengan sahabat sekelas saya di ilkomp. Meski saya tak sedikitpun salut dengan pacaran diawalnya, namun setidaknya keberanian beliau menikahi, membuat saya mau tak mau mengacungkan jempol –salut-.

Ketika diberitahu seorang sahabat, bahwa Sahid itu banyak yang nge-fans, dengan tegas saya katakan kepada beliau. Saya tidak butuh Fans. Fans cenderung parsial, menyukai seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak diluarnya, kelebihannya, dan bias saya istilahkan fans adalah orang yang ter-fanatik-kan. Bukan atas dasar pemahaman, dan penerimaan kelebihan dan kekurangan. Jadi kepada sahabat tersebut saya katakan, “saya tak butuh fans, tapi saya butuh istri”. Kurang lebih seperti itu.

Namun by the way, Memangnya Sahid sudah siap nikah? Hemm… gimana ya… Wallahu’alam, yang jelas orang tua sudah ACC untuk menikah waktu kuliah. Dan ini sudah menjadi urusan antara saya dengan MR saya sekarang.

Jadi jangan tanyakan kepada saya dengan siapa. Karena toh jodoh itu adalah hal yang ghoib bukan? Dan saatnya bagi saya dan Anda semua untuk tawakkal. Tentang ini jadi teringat ust anis matta, “kita tak butuh pasangan yang terbaik, tapi kita butuh pasangan yang tepat.” Duh kok jadi ngelantur ke mana-mana, intinya jangan Tanya saya “nikah ma siapa Hid?”, karena ya sekali lagi saya bilang, masih misteri, ghaib. Bisa jadi dengan seseorang un jauh di palestina sana, atau ternyata malah pembaca? 

Tapi ketika sampai pada level seperti hal kabar-kabar diatas, dimana desas-desus “Sahid nikah” sudah tersebar begitu luas, justru itu hal yang tidak saya suka. Saya tidak suka dibesar-besarkan karena toh tubuh saya sendiri pun sudah besar :) .Jadi afwan, bagi siapapun antum yang masih membicarakan hal-hal seperti diatas kepada temannya –tentang sahid mau nikah dll-, maka saya katakan, SAYA TIDAK SUKA. Sudahlah sahabatku, jangan dibesar-besarkan. Toh ini adalah perkara ghaib, kita hanya bisa berikhtiar. Selebihnya, serahkan semua urusan kita kepada Allah.

Jadi jika sampai ada dari pembaca yang setelah membaca ini kemudian bercerita kepada teman/saudaranya tentang hal diatas, maka saya katakan, hati-hati lho,  bahwa Anda –afwan- bisa jadi telah ber-GHIBAH. Ntar saja jika mang jadi nikah, baru tolong disebarluaskan. Tapi jika dalam proses –yang kata MR ana sangat amniyah- seperti ini, maka sekali lagi saya tak suka. So… buat kamu-kamu yang telah menjadi penyebar desas-desus, saya sudah mengatakan Anda untuk berhenti!!!

Daripada sibuk ngobrol sana sini tentang sahid nikah, sahid nikah, maka lebih baik, Persiapkanlah diri antum sendiri, so lebih aman dari ghibah. Semoga Antum diberi yang terbaik oleh Allah.
Amin…

Ohya, ngomong-ngomong,
Jika mungkin pembaca bertanya, kok tumben sahid nulis beginian, ada apa mang?
Yang jelas sih, saya hanya ingin agar kabar-kabar tak sedap (nggak pakai bumbu kaldu Royco sih) segera berhenti dimulai dari Anda para pembaca.
Selebihnya? Waduh saya pun juga bingung. Bahkan saya juga ingin ngomong ke Sahid,
“Ah sudahlah hid, postingan gak jelas gini kamu tulis, ngabis-ngabisin bandwith Brawijaya tuh!!”, begitu komentarku tentang tulisan yang barusan anda baca ini. Aneh juga ya, Anda kok ya mau-maunya membaca dari awal sampai akhir.
Bahkan saya pun yakin bahwa Anda yang kenal dengan saya, 90% ingin untuk sekedar menulis komentar tentang tulisan saya diatas.

Ah, tulisan gak jelas, maka komentar yang tak jelas pun tak masalah, apalagi oleh orang yang tak jelas pula :)

Selamat ber-tidak jelas-ria… karena saya juga bingung mau njawab apa…

Dalam ketidak jelasan…..
Kota Tidak jelas, tanggal tidak Jelas 2008

menanti ….


kan kunanti semesta bermandi cahaya
dalam negeri berjuta warna,
berjuta suara..
berjuta rasa..
berjuta asa..
dan trilyunan cahaya..

kan kunanti semesta bermandi cahaya
meski dalam raga penuh tekanan,
meski dalam jiwa penuh himpitan,
dan akal yang tak pernah diam..
kan kunanti dengan dua buah kata
harapan, dan perjuangan…

kan kunanti semesta bermandi cahaya
Lalu berjuta cahaya kan turun melingkupi
untuk ku, untuk kita, untuk negeri ini
bersama dengan alunan semilir pagi hari
karena ku ingin untuk tetap berarti…
kemarin, sekarang dan nanti…